NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sayap yang Mengejar Bayangan

Asap dari markas Lembah Gagak yang terbakar membumbung tinggi, menjadi sinyal peringatan bagi seluruh pos militer di wilayah utara. Song Yuan berlari menembus hutan pinus dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tubuhnya merendah, melompati akar-akar raksasa dengan teknik Langkah Ular yang membuatnya nyaris tidak menyentuh tanah.

Namun, indranya yang tajam menangkap suara yang berbeda dari desis angin.

Crik... Crik...

Suara kepakan sayap? Bukan. Itu adalah suara gesekan kuku besi di dahan pohon.

Wusss!

Sebuah anak panah dengan bulu elang hitam tertancap tepat di depan kaki Yuan, bergetar hebat. Jika ia melangkah satu senti saja lebih cepat, kakinya sudah bolong.

Yuan berhenti mendadak, berputar di udara dan mendarat dengan posisi jongkok. Matanya menyapu tajam ke arah tajuk pohon yang gelap. Di sana, di antara dahan-dahan tinggi, muncul lima bayangan manusia yang mengenakan jubah abu-abu dengan topeng berbentuk paruh elang.

"Unit Elang," desis Yuan. Suaranya dingin, namun ada sedikit rasa tegang di nadinya. Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi lawan yang memiliki keahlian yang hampir setara dengannya.

"Song Yuan, sisa-sisa pengkhianat klan Song," salah satu dari mereka berbicara, suaranya parau seperti suara burung gagak. "Letnan Feng mungkin ceroboh karena meremehkan racunmu, tapi kami tidak. Kami adalah mata kaisar yang tidak pernah berkedip."

Tanpa peringatan, kelima pemanah itu melepaskan serangan serentak. Lima anak panah meluncur dari sudut yang berbeda, mengunci posisi Yuan.

Yuan tidak menghindar ke samping. Ia melakukan gerakan ekstrem yang diajarkan Mo Chen: ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang, melenting seperti pegas, dan di tengah putaran itu, ia menarik tali busur besarnya.

Tring! Tring! Tring!

Tiga anak panah musuh ia tangkis di udara menggunakan busurnya sendiri, sementara dua lainnya melesat tipis di samping telinganya.

"Hanya segini?" tantang Yuan.

Ia langsung memanjat pohon pinus dengan kecepatan luar biasa, berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Pertarungan kini berpindah ke atas pohon—medan perang para pemanah.

Salah satu anggota Unit Elang mencoba membidik punggung Yuan, namun Yuan melakukan—menembak tanpa menoleh ke belakang, hanya mengandalkan getaran udara.

Jleb!

Anak panah Yuan menembus bahu pemanah itu, membuatnya jatuh dari ketinggian tiga puluh meter. Terdengar suara tulang patah yang renyah saat tubuhnya menghantam tanah.

"Satu," gumam Yuan.

Namun, pemimpin Unit Elang itu ternyata lebih licik. Ia tidak menyerah. Ia memberikan isyarat peluit yang melengking. Tiba-tiba, dari kegelapan hutan, muncul belasan burung elang yang sudah dilatih khusus. Burung-burung itu menukik tajam ke arah wajah Yuan, mencoba mencakar matanya.

"Sialan!" Yuan terpaksa menutupi wajahnya dengan lengan jubahnya yang tahan sayatan.

Dalam kekacauan itu, sebuah anak panah musuh berhasil mengenai paha kiri Yuan. Rasa panas menjalar seketika.

"Kau terkena racun Layu Akar, Bocah! Dalam sepuluh menit, kakimu tidak akan bisa digerakkan!" teriak si pemimpin Elang sambil tertawa kemenangan.

Yuan meringis kesakitan. Ia merogoh botol penawar dari Mo Chen, tapi ia tahu ia tidak punya waktu untuk meminumnya sekarang. Musuh sudah mengepungnya di atas pohon.

Tiba-tiba, ia teringat latihan "Bidikan Tanpa Mata" saat ia disiksa di dalam gua. Mo Chen pernah bilang: "Musuh paling berbahaya bukanlah mereka yang ada di depanmu, tapi rasa takutmu sendiri."

Yuan menutup matanya dengan sengaja. Ia mengabaikan rasa sakit di pahanya. Ia mengabaikan suara kepakan sayap elang yang mengganggu. Ia fokus pada suara napas keempat pemanah yang tersisa.

Satu di jam dua, dua di jam sepuluh, dan si pemimpin di atas kepalaku.

Yuan mengambil tiga Panah Tulang Jiwa dari kantongnya. Ini adalah saatnya menggunakan "harta" dari gurunya.

"Tuan... lihatlah penuai nyawa ciptaanmu," bisik Yuan.

Ia menarik tali busur sampai maksimal. Aura dingin dari panah tulang itu membuat embun di sekitarnya membeku menjadi kristal es.

Wusss! Wusss! Wusss!

Tiga panah itu melesat seperti kilat hitam. Mereka tidak bergerak lurus, melainkan melengkung di udara mengikuti aliran angin yang dimanipulasi oleh teknik pernapasan Yuan.

Argh! Argh! Argh!

Tiga pemanah Elang jatuh seketika dengan jantung yang berhenti berdetak sebelum mereka sempat menyentuh tanah. Racun di panah itu bekerja terlalu cepat.

Si pemimpin Elang gemetaran di atas dahan paling tinggi. Ia tidak pernah melihat teknik memanah sesadis ini. "Kau... kau bukan manusia! Kau iblis dari Hutan Hitam!"

Yuan membuka matanya. Mata kuningnya kini bersinar redup di kegelapan. Ia membidik tepat ke arah wajah si pemimpin.

"Sampaikan pada Gao Shuo," suara Yuan terdengar sangat tenang, "bahwa 'Hantu' tidak bisa dibunuh dua kali."

Jlebbb!

Panah terakhir menancap tepat di mulut si pemimpin Elang, menghentikan teriakannya selamanya.

Yuan jatuh terduduk di dahan pohon, napasnya memburu. Ia segera meminum penawar racun dan mengikat lukanya dengan robekan kain. Tubuhnya sangat lelah, tapi jiwanya terasa membara. Ia baru saja menghabisi unit elit paling ditakuti di Ibukota sendirian.

Namun, ia tahu ini baru permulaan. Gao Shuo pasti akan mengirim pasukan yang lebih besar setelah ini.

Yuan menatap lencana kayu di tangannya yang kini bersimbah darah musuh. "Belum cukup... ini masih belum cukup."

Di kejauhan, di balik kegelapan hutan, sesosok pria ular tersenyum puas sambil mengelus ular hitam di lehernya. "Kerja bagus, Cacing Kecil. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau menghadapi 'Badai yang Sesungguhnya' di Ibukota."

Yuan menatap lencana kayu di tangannya yang kini bersimbah darah musuh. Cairan merah itu perlahan terserap ke dalam pori-pori kayu tua tersebut, seolah-olah arwah ayahnya ikut haus akan pembalasan.

"Belum cukup... ini masih belum cukup."

Di kejauhan, di balik kegelapan hutan, Mo Chen tersenyum tipis—sebuah senyum yang lebih ngeri dari kutukan. Ia mengelus ular hitam di lehernya yang mendesis senang. "Kerja bagus, Cacing Kecil. Kau sudah belajar cara menggigit. Sekarang, mari kita lihat apakah kau cukup kuat untuk menelan Ibukota bulat-bulat."

Angin utara bertiup membawa aroma darah ke arah selatan, menjadi undangan kematian bagi Gao Shuo yang kini tengah berpesta di istana.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: sama sama,kak
total 5 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!