apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
...Happy Reading...
.......
.......
.......
.......
.......
tiba-tiba saja Revan masuk kedalam kamar saga dan melihat apa yangs Edang dilakukan oleh papanya.
Ternyata yang ia lihat adalah Rasya yang sedang menyusu dengan anteng di papanya.
"papa pilih kasih, Evan juga mau nen" ujar Revan karena ia iri dengan Rasya yang sedang menyusu anteng.
"Evan ngalah ya?" tanya saga dengan lembut namun di tolak keras oleh Revan yang kini memasang wajah memelas dihadapan papanya.
"uhmm iya deh sini, tapi jangan digigit yang anteng aja ya nen nya" ucap saga yang diangguki oleh Revan.
kini Revan naik ke kasur king size milik papanya lalu ia menyusu dengan anteng.
"punya anak udah besar kok masih nyusu apa ngga malu huh?" gumam saga dengan mengelus rambut kedua putranya.
"AWHH sakit Rasya jangan di gigit" desis saga dengan meremas rambut Rasya.
"um enwak pwapa" ujarnya dengan mulut tersumpal oleh sesuatu yang pastinya kalian tahu.
"iya iya jangan digigit, bungsu kok ngga keliatan kemana yah belum pulang" ucapnya namun tiba-tiba hp yang berada tak jauh dari dirinya berbunyi notif menandakan ada pesan masuk.
"langit nginep di sekolahan mau nyiapin perlengkapan kemah ternyata, kasian banget pasti capek" gumam saga lalu ikut terlelap menyusul kedua putranya yang sudah berlabuh ke alam mimpi.
Di sekolah
Langit sibuk menata banyak kayu untuk persiapan kemah besok lusa.
"ric yang lain pada nyiapin apa sih kok lama banget anjir" ujar langit bertanya kepada Rico yang sedang mengikat kayu.
"yang lain ambil beberapa tenda digudang belakang, beruntung lah kita cuman tugasnya ngiket kayu, digudang belakang tuh angkernya minta ampun" jawab Rico panjang lebar sambil terus fokus mengikat kayu.
"masa sih, gak percaya ah gw mah" ucapnya dengan nada bercanda.
"klo ngga percaya ikut kak Gilang sana ambil tenda, mumpung kak Gilang sendiri sambil temenin aja gapapa hehe" ucapnya sambil menunjuk ketua OSIS yang menata tenda di depan dan hendak menuju gudang belakang.
"okelah gw penasaran njir" ucap langit dan langsung menuju ke Gilang.
"kak mau ikut boleh ya" tanya nya kepada Gilang, tinggi langit itu hanya sebatas dada Gilang sehingga jika ia berbicara dengannya harus mendongakkan kepalanya sedikit.
"hm, jangan jauh-jauh dari gw klo lu takut" jawab Gilang dengan datar, ya memang kepribadian ketua OSIS itu sungguh datar dan irit bicara.
"oke kak" ucap langit dengan cengiran manisnya yang membuat Gilang salting namun ia sembunyikan agar tidak ada yang tau bahwa ketua OSIS yang mereka kenal dingin dan datar bisa tumbang oleh teman seangkatannya sendiri.
Ya memang dia seorang ketua OSIS dan seangkatan dengan langit namun sebagai tanda siswa menghormati ketua OSIS mereka memutuskan memanggil ketua OSIS dengan sebutan kakak.
Di pertengahan jalan langit merasakan bulu kuduknya berdiri karena jalanan disana sungguh sangat gelap sedangkan Gilang hanya membawa satu senter.
"kak.." cicit langit pelan sambil menarik ujung seragam Gilang
"kenapa?takut?sini" suruhnya untuk menggandeng tangannya, langit dengan sigap langsung menggandeng tangan gilang dengan erat.
"gelap banget sih" gumamnya yang masih didengar oleh Gilang, Gilang hanya bisa tersenyum melihat tingkah teman seangkatannya itu.
"dah nyampe,mau ikut ke dalem atau nunggu diluar hm?" tanya Gilang memastikan agar langit nyaman.
"nunggu sini aja" ujarnya dan diangguki oleh Gilang, Gilang masuk kedalam sendiri untuk mengambil satu tenda lipat lagi yang masih kurang.
sedangkan di luar langit sudah merinding tak karuan karena hanya ada satu lampu yaitu di atas pintu gudang itu saja, namun lampu itu juga keadaannya redup mungkin sebentar lagi akan mati dan tiba-tiba....
"AKKHHHH KAK GILANG HUAAAA"