Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 27.
Ibu Larasati dan Aurora kembali ke ruang tv yang mana Gama dan anggota keluarga yang lain berkumpul di sana, ibu Larasati duduk di samping Gama ia memandang Gama dengan mata berkaca kaca tangannya mengelus rambut Gama dengan lembut.
Gama menatap ibu Larasati bingung agak kaget dengan sikap ibu Larasati yang tiba-tiba, Gama melirik Aurora bermaksud memberi isyarat. Tapi, Aurora pura-pura tidak menyadarinya ia malah beradu argumen dengan Arkan adiknya.
Suasana di dalam rumah itu terasa tenang dan hangat, seperti ada sesuatu yang perlahan membuat hati Gama jadi lebih ringan.
Ibu Larasati menatapnya dengan lembut, lalu tangannya pelan-pelan mengelus rambut Gama kembali, tanpa terburu-buru, tanpa ragu. Seperti sudah menganggapnya bagian dari rumah itu sendiri.
"Nak… sayang, kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan ya, ke sini aja," ucapnya santai tapi penuh perhatian. Ia tersenyum tipis, lalu menambahkan, "anggap aja ibu ini ibu kedua kamu."
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa terasa sampai ke hati. Gama hanya diam sejenak, menunduk pelan. Ada rasa hangat yang asing, tapi nyaman, seperti baru pertama kali benar-benar diterima tanpa syarat.
Ia tidak langsung menjawab, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang pelan-pelan mulai luluh.
Gama hanya diam, tapi pikirannya jauh ke mana mana.
Perhatian Ibu Larasati tadi masih terasa hangat di kepalanya—cara beliau mengelus rambutnya, suara lembutnya, sampai kalimat sederhana yang entah kenapa justru bikin dada Gama terasa aneh.
Tanpa sadar, Gama teringat ibunya sendiri. Bukan kenangan yang hangat, tapi lebih ke hal-hal yang kosong. Hal-hal yang seharusnya ada, tapi selama ini tidak pernah ia dapatkan. Tidak ada perhatian kecil, tidak ada kata lembut, semuanya terasa jauh.
Tapi sejak mengenal Aurora, hidupnya memang mulai sedikit berbeda. Seperti ada celah kecil yang akhirnya terbuka, dan dari situ dia mulai melihat hal-hal yang dulu tidak pernah ia kenal.
Sekarang, dari Ibu Larasati, Gama lagi-lagi merasakannya. Perhatian seorang ibu yang tulus, sederhana, tapi hangat sekali.
Gama menghela napas pelan, matanya menunduk. Ada rasa hangat yang susah dijelaskan, campur aduk dengan perasaan yang selama ini dia simpan sendiri. Dan untuk pertama kalinya, dia cuma diam… tapi hatinya pelan-pelan mulai menerima.
"Yaudah kalian ngobrol aja ibu mau ke dalem ada kerjaan yang belum beres, ayo yah." Ibu Larasati memberi isyarat kepada ayah Damar, awalnya ayah Damar tidak menyadari kode dari istrinya. Tapi, setelah melihat pelototan istrinya akhirnya ia menyadarinya.
"Eh—iya ayah juga ada kerjaan yang lain."
Kedua orang tua Aurora pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tv, Arkan sudah sedari tadi pergi ke kamarnya sendiri. Aurora menyadari bahwa kedua orang tuanya sengaja pergi meninggalkan mereka berdua, keheningan melanda mereka tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Makasih." Gama memandang Aurora dengan dalam tidak mengalihkan pandangannya.
Aurora menatap bingung Gama kenapa ia mengucapkan kata terima kasih kepadanya.
"Gue tau lo ceritain kejadian tadi kan sama nyokap lo." Pernyataan Gama membuat Aurora diam, apakah memang seharuskan Aurora tidak menceritakannya.
"Maaf kak, aku ceritain kejadian tadi sama ibu."
"Nggak apa apa, berkat lo gue bisa ngerasain kasih sayang dan perhatian seorang ibu dengan tulus tanpa imbalan apapun."
Gama menghela napas pelan memandang ke langit langit rumah Aurora, flashback waktu Gama masih kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ibu, bahkan elusan tangan yang lembut di kepalanya tidak pernah Gama rasakan.
Gama duduk diam, tapi pikirannya terasa jauh dari ruangan itu.
Selama ini, rumah bukan tempat yang hangat baginya. Yang ia ingat bukan tawa, bukan obrolan santai, apalagi pelukan hangat. Yang sering ia dengar justru suara bentakan, pertengkaran yang tak pernah selesai, dan suasana yang selalu tegang tanpa alasan yang jelas.
Kalau pun ada kebersamaan, rasanya lebih seperti kebetulan yang singkat, bukan sesuatu yang benar-benar bisa disebut keluarga.
Ia punya keluarga lengkap di atas kertas, tapi tidak pernah benar-benar merasakan arti “lengkap” itu sendiri. Yang ada hanya jarak, dingin, dan kebiasaan untuk diam agar tidak memperkeruh keadaan.
Gama menunduk pelan. Bagi orang lain, rumah mungkin tempat paling nyaman untuk pulang. Tapi baginya, rumah lebih sering jadi tempat untuk bertahan.
Dan entah kenapa, malam ini di tengah keheningan itu, semua hal yang selama ini ia pendam terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Aurora tersenyum kecil mengangguk dan keheningan kembali melanda mereka.
"Mau jajan keluar?." Tanya Gama.
"Kemana?." Tanya Aurora.
"Lo mau kemana?." Gama malah balik bertanya.
"Loh kok malah balik nanya."
"Kan lo yang mau jajannya."
"ak—" belum selesai Aurora menjawab ada seseorang yang menyelanya siapa lagi kalau bukan adik kurang ajarnya, Aurora mendelik sinis menatap Arkan yang terlihat bodo amat.
"Martabak." Sela Arkan.
Gama mengalihkan pandangannya menatap Arkan yang sudah berdiri di belakang Gama.
"Apa sih lo, main minta aja."
"Biarin."
Aurora ingin membalas kembali, tapi di halangi Gama.
"Yaudah lo mau martabak? yaudah lo ikut sama kita." Tukas Gama.
"Enggak, enggak apaan dia pasti banyak maunya itu." Protes Aurora tidak terima, Aurora yang sudah tahu tabiat adiknya dia pasti akan meminta yang lainnya bukan cuman martabak saja.
"Nggak apa apa." Memang benar Gama tidak masalah kalau Arkan meminta yang lainnya selagi Gama bisa membelinya, toh pasti harganya juga masih bisa Gama bayar.
"Tuh bang Gama juga nggak masalah, kok lo yang sewotnya." Ejek Arkan.
Aurora merengut kesal memalingkan wajah kesal.
"Yaudah sekarang pamit dulu sama ibu dan ayah." Ujar Gama.
Arkan memanggil Ibu Larasati dan Ayah Gama untuk memberitahu mereka bahwa kami akan pergi jajan keluar.
Setelah mendapatkan izin, mereka akhirnya benar-benar berangkat.
Mobil Gama melaju pelan membelah jalan malam yang mulai ramai oleh lampu-lampu jalan dan suara kendaraan yang lalu-lalang. Di dalam mobil itu, suasananya tidak terlalu bising, tapi juga tidak sepenuhnya hening.
Aurora duduk di kursi depan, di samping Gama. Sesekali ia menoleh ke luar jendela, memperhatikan deretan lampu warung dan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Ada rasa hangat yang perlahan tumbuh di dadanya—sederhana, tapi menenangkan.
Sementara itu, Arkan duduk di belakang dengan santai, bersandar sambil sesekali melihat ponselnya. Sesekali ia ikut mengamati jalan, lalu kembali diam tanpa banyak bicara.
"Ramai juga ya malam ini," gumam Aurora pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Gama yang fokus menyetir hanya tersenyum tipis. "Iya. Biasanya kalau malam begini, banyak yang jualan di pinggir jalan."
Mobil itu terus melaju, semakin mendekati area yang mereka tuju. Dari kejauhan, sudah terlihat cahaya-cahaya hangat warung tenda, asap makanan yang mengepul, dan suara riuh orang-orang yang sedang menikmati malam.
Semakin dekat, suasana di dalam mobil terasa ikut berubah—lebih hidup, lebih ringan, seolah malam ini akan menjadi jeda kecil yang menyenangkan dari semua hal yang melelahkan sebelumnya.