Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30
Shila dan Gibran tersenyum samar melihat orang-orang itu terekam di layar. Kini mereka tahu tempat persembunyian Rainal.
Namun, Shila juga terkejut saat melihat Riska memiliki hubungan spesial dengan Prof Teguh.
“Pantesan waktu kita ketemu dengan Dewi dan Om Hendro, keberadaan Tante Riska tidak ada… ternyata dia lebih memilih hidup dengan Prof Teguh,” ucap Shila sambil berbisik di telinga suaminya.
“Karena hidupnya akan aman kalau bersama Prof Teguh, sayang,” jawab Gibran pelan.
Shila mengangguk tipis, meski dalam hatinya masih penuh tanda tanya.
“Kalian istirahat saja di kamar,” suruh Shila.
April dan Airin pun menurut. Mereka berjalan menuju kamar untuk beristirahat sejenak. Kondisi mereka benar-benar lelah, dan mereka butuh tenaga agar bisa bertahan… bahkan mungkin melarikan diri dari tempat itu.
Setelah April dan Airin masuk ke dalam kamar, suasana ruang tamu menjadi lebih tenang.
Gibran langsung merebahkan tubuhnya dan tidur di pangkuan sang istri. Shila mengusap lembut kepala suaminya, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
“Sayang, kita jangan percaya sama siapa pun… apalagi Tante Riska dan kedua gadis itu,” bisik Gibran pelan.
“Tentu, sayang… kita juga tidak kenal dengan mereka,” jawab Shila.
Di zaman seperti sekarang, mereka memang harus pandai memilih siapa yang bisa dipercaya. Kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.
Sebenarnya, Shila tidak sepenuhnya percaya pada April maupun Riska. Entah kenapa, firasatnya terasa tidak enak sejak pertama kali bertemu mereka.
Sementara itu…
Riska kini sudah kembali sendiri di unit apartemennya. Ketiga laki-laki itu sudah pergi dari sana.
Ia berdiri diam beberapa saat, memastikan keadaan benar-benar aman.
Setelah itu, Riska memberanikan diri keluar dan berjalan menuju unit sebelah—tempat Shila dan yang lainnya berada.
Ceklek…
Pintu terbuka.
“Apa Tante mau diam di sini terus dan percaya dengan Prof Teguh?” tanya Shila langsung saat melihat Riska datang.
Riska menghela napas panjang, lalu duduk lemas di sofa.
“Jujur… Tante juga bingung, Shila.”
Belum sempat suasana mereda
Ceklek.
Pintu kamar terbuka.
Aira keluar dengan mata sembab. Wajahnya jelas habis menangis setelah melihat barang-barang peninggalan orang tuanya.
Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat sosok di ruang tamu.
“Loh, Tante Riska ternyata ada di sini, toh… Dewinya mana?” tanya Aira heran.
Riska langsung berdiri dan memeluk Aira erat.
“Aira… kamu juga selamat, sayang. Syukurlah…”
Aira sedikit bingung, tapi membalas pelukan itu.
“Dewi mana, Tante?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
Raut wajah Riska langsung berubah sendu.
“Dewi sudah tidak ada, sayang… Dia dan papanya berubah jadi zombie,” ucap Riska pelan, lalu menceritakan apa yang ia lihat saat menuju kota ini.
“Astaghfirullah… Dewi…” lirih Aira, tubuhnya langsung melemas.
Kesedihan kembali menyelimuti ruangan itu.
Namun Shila segera memecah suasana.
“Mending sekarang kita pergi dari sini, mumpung para zombie itu tidak ada di apartemen ini,” ajaknya tegas.
Aira langsung menoleh ke Riska.
“Tante ikut kami, ya,” ajaknya penuh harap.
Riska menggeleng pelan.
“Tante nggak bisa… maaf,” tolaknya.
Shila langsung menatap tajam.
“Tante percaya sama Prof Teguh itu? Anaknya saja dia buat jadi zombie, Tante.”
Ucapan itu membuat Riska terdiam.
Tangannya mengepal pelan.
Di satu sisi… ia tahu itu benar.
Namun di sisi lain…ada sesuatu yang menahannya untuk pergi. Dan itulah yang justru membuat Shila semakin yakin—
Riska menyimpan sesuatu yang belum mereka ketahui.
_____
Suasana di dalam unit itu semakin terasa tegang.
Ucapan Shila masih menggantung di udara, membuat Riskanterdiam tanpa jawaban. Sementara Aira hanya bisa menatap bergantian, bingung harus berpihak ke siapa.
Tiba-tiba Pintu kamar terbuka pelan.
April keluar dengan wajah masih lelah, diikuti Airin yang menggenggam ujung bajunya.
“Ada apa?” tanya April pelan, merasa suasana tidak seperti sebelumnya.
Tak ada yang langsung menjawab. Namun tatapan mereka sudah cukup menjelaskan.
“Kita mau pergi dari sini sekarang,” ucap Gibran akhirnya.
April langsung menegang.
“Sekarang?”
“Iya,” sahut Shila tegas. “Ini kesempatan kita. Zombie lagi keluar semua.”
April terdiam beberapa detik, lalu matanya beralih ke Riska.
“Tante ikut, kan?” tanyanya pelan.
Riska menunduk.
“Tante nggak bisa…” Jawaban itu membuat April langsung menggeleng cepat.
“Kalau Tante nggak ikut… gue juga nggak mau ikut,” ucapnya tiba-tiba. Semua terkejut.
“April, ini bukan main-main,” kata Gibran serius.
April menatap mereka satu per satu, lalu menggenggam tangan Airin lebih erat.
“Kami nggak punya siapa-siapa lagi di sini… cuma Tante Riska.”
Airin mengangguk kecil, matanya mulai berkaca-kaca.
“Kami ikut Tante…”
Suasana mendadak hening. Shila menghela napas, jelas mulai kesal.
“Kalau kalian tetap di sini, itu sama saja nunggu mati.”
“Tapi kalau kami pergi tanpa Tante…” suara April bergetar, “itu juga sama saja.”
Ucapan itu membuat Riska menutup matanya sejenak. Hatinya semakin tertekan.
“Astaga…” gumam Aira pelan.
Gibran menatap Riska tajam.
“Sekarang keputusan ada di Tante.”
Semua mata tertuju padanya.
Riska terlihat bimbang. Antara tetap bertahan dengan ‘perlindungan’ dari Prof Teguh …
atau pergi bersama mereka, mempertaruhkan nyawa di luar sana.
Beberapa detik berlalu. Namun tidak ada jawaban. Dan justru itu yang membuat keadaan semakin tidak pasti.Di tengah kebimbangan itu mulai sadar satu hal.
Kalau mereka terus menunggu…
kesempatan untuk keluar bisa hilang kapan saja.
Keheningan itu terasa menyesakkan.
Tatapan Shila berubah dingin. Ia menatap Riska, lalu beralih ke April dan Airin
“Kalau itu keputusan kalian… ya sudah,” ucapnya tegas.
“Shila…” lirih Aira, masih ragu.
Namun Shila menggeleng pelan.
“Kita nggak punya waktu buat nunggu orang yang nggak mau diselamatkan.” Kata-katanya terdengar keras, tapi penuh kepastian.
Gibran yang sejak tadi diam akhirnya mengangguk.
“Shila benar. Kita sudah kasih pilihan.”
Ia menatap Riska sebentar.
“Kalau Tante berubah pikiran… jangan terlambat.”
Riska hanya terdiam. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.
April memeluk Airin lebih erat, matanya berkaca-kaca, tapi tetap tidak bergerak dari tempatnya.
Aira menatap mereka semua, hatinya terasa berat.
“Tante… April… Airin…” suaranya pelan, hampir tidak terdengar.
Namun tidak ada yang menjawab.
Keputusan sudah diambil. Aira menunduk sebentar, lalu menarik napas dalam.
“Ayo…” ucapnya lirih.
Tanpa menoleh lagi, Shila berbalik menuju pintu.
Ceklek.
Pintu dibuka.
Gibran mengikuti di belakangnya, sementara Aira berjalan paling akhir. Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi.
Tatapannya bertemu dengan Riska.
Namun kali ini tidak ada kata-kata.Hanya perasaan yang tertinggal. Aira akhirnya memalingkan wajah dan melangkah keluar.
Brak.
Pintu tertutup. Lorong kembali sunyi.
Hanya tersisa Riska, April, dan Airin di dalam unit itu.
Langkah kaki Shila, Gibran, dan Aira perlahan
menjauh… hingga benar-benar menghilang.
Di sisi lain Shila berjalan cepat tanpa ragu.“Kita nggak boleh berhenti,” ucapnya dingin.
Gibran menatap ke depan dengan fokus.
“Iya. Sekarang cuma kita bertiga.”
Aira menggenggam tangannya sendiri, mencoba menguatkan hati.
“Mereka… bakal baik-baik saja, kan?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka semua tahu di tempat seperti itu…bertahan bukan soal keberuntungan…
tapi soal pilihan.
"entah lah aira tapi ini juga kan atas kemauan mereka jadi kalau ada apa-apa kita tidak merasa bersalah.. toh kita udah ajak mereka tapi tidak mau" shila sedikit kesal dengan mereka.