NovelToon NovelToon
Zayn'S Obsession

Zayn'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ValerieKalea

Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Hari Minggu

Minggu pagi datang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada suara langkah terburu-buru di lorong rumah, tidak ada suara panggilan pekerjaan dari ruang kerja, bahkan rumah besar milik Zayn terasa hampir terlalu sunyi. Setelah Sabtu yang ramai dan melelahkan, pagi itu semua orang tampaknya memilih menikmati waktu istirahat mereka masing-masing.

Aurora membuka mata perlahan sambil mengerjap bingung.

Cahaya matahari sudah masuk cukup terang melalui celah tirai kamar.

Aurora langsung melirik jam di meja samping ranjang. Dan matanya langsung membesar, “Jam sebelas?!”

Aurora buru-buru bangkit duduk sambil memeluk boneka kucingnya, “Kok sepi banget…”

Biasanya pagi hari rumah itu sudah cukup ramai.

Aurora turun dari ranjang lalu membuka pintu kamar pelan.

Lorong lantai dua benar-benar sunyi.

Aurora berjalan keluar sambil masih setengah mengantuk. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan sweater tidurnya masih kebesaran seperti biasa.

Begitu sampai di lantai bawah, Aurora akhirnya melihat Zayn duduk santai di ruang tengah sambil membaca sesuatu di tabletnya.

Aurora langsung berjalan mendekat, “Yang lain mana?”

Zayn mengangkat pandangan sekilas, “Rakha sama Evan ke markas.”

“Nelly?”

“Ke laundry.”

Aurora langsung mengangguk kecil.

Pantas rumah itu terasa kosong.

Aurora akhirnya duduk di sofa seberang sambil memeluk boneka kucingnya lagi.

Beberapa detik suasana hening. Lalu Aurora berkata pelan, “Aku lapar…”

Zayn langsung meletakkan tabletnya di meja, “Sarapan dulu.”

Tak lama kemudian Aurora sudah duduk di meja makan sambil menghabiskan sarapannya dengan wajah masih setengah ngantuk.

Sedangkan Zayn duduk tidak jauh darinya sambil sesekali memperhatikan Aurora diam-diam.

Aurora baru saja menghabiskan jusnya ketika Zayn tiba-tiba berkata santai, “Habis ini mandi.”

Aurora langsung mengangkat kepala, “Iya aku tau”

“Siap-siap.”

Aurora mengernyit bingung, “Mau ke mana?”

Zayn menatapnya datar beberapa detik sebelum menjawab singkat, “Keluar.”

Aurora langsung membeku.

Beberapa detik kemudian matanya langsung berbinar penuh semangat, “SERIUS?!”

“Kalau nggak jadi sekarang.”

Aurora langsung bangkit panik, “JADI! Aku mandi sekarang!”

Aurora buru-buru lari ke lantai atas sampai suara langkah kakinya menggema di rumah besar itu.

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Zayn naik tipis samar.

Satu jam kemudian Aurora akhirnya turun ke lantai bawah dengan penampilan jauh lebih rapi.

Ia memakai blouse cream lembut dipadukan rok putih simpel dan cardigan tipis berwarna senada.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan poni yang sudah dirapikan.

Aurora langsung berjalan mendekat sambil tersenyum kecil, “Aku siap.”

Tatapan Zayn sempat berhenti beberapa detik pada Aurora.

Lalu tanpa banyak komentar ia berdiri pelan sambil mengambil kunci mobil, “Jalan.”

Aurora langsung mengikuti cepat di belakangnya seperti anak kecil diajak liburan.

Sepanjang perjalanan Aurora tidak berhenti melihat keluar jendela mobil, “Udah lama banget aku nggak keluar santai kayak gini…”

Zayn melirik sekilas, “Baru sehari.”

“Rasanya kayak setahun.”

Zayn hampir menghela napas kecil mendengarnya.

Tak lama kemudian mobil mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan besar.

Aurora langsung menoleh cepat, “Mall?”

“Kamu butuh baju.”

Aurora berkedip bingung, “Hah?”

“Baju kamu di rumah cuma sedikit.”

Aurora langsung terdiam beberapa detik, “Perasaan ada tuh lebih dari tiga puluh” batinnya.

Ia sendiri sebenarnya sadar. Karena datang mendadak dan tinggal lebih lama dari rencana, pakaian yang dibawanya memang tidak banyak.

Namun mendengar Zayn memperhatikan hal sekecil itu tetap membuat Aurora sedikit salah tingkah.

Aurora akhirnya tertawa kecil, “Aku nggak nyadar…”

“Makanya lihat lemari sendiri.”

Aurora langsung mendengus kecil, “Nyebelin.”

Namun diam-diam pipinya sedikit memanas.

Beberapa jam berikutnya berjalan jauh lebih menyenangkan dari yang Aurora kira.

Awalnya Aurora hanya berniat melihat-lihat pakaian biasa.

Tapi ternyata mall itu penuh toko lucu yang menjual barang random.

Mulai dari gantungan kunci berbentuk roti, boneka kecil, tempat pensil lucu, sampai lampu tidur berbentuk bebek.

“Pak lihat ini!”

Aurora mengangkat boneka kecil berbentuk capybara dengan mata berbinar.

Zayn hanya melirik sekilas, “Mirip Rakha.”

Aurora langsung ngakak keras.

Dan tanpa sadar suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Aurora terus berjalan dari satu toko ke toko lain sambil sesekali menunjukkan barang lucu pada Zayn.

Sedangkan Zayn hanya mengikuti dari belakang sambil membawa paper bag belanjaan yang semakin lama semakin banyak.

“Pak, ini lucu nggak?”

“Normal.”

“Kalau ini?”

“Masih aneh.”

Aurora langsung manyun kecil.

Namun beberapa menit kemudian Zayn diam-diam tetap membayar barang yang tadi Aurora pegang.

Sampai akhirnya, Aurora hilang.

Zayn baru sadar beberapa detik setelah menoleh dan tidak menemukan Aurora di sampingnya lagi.

Tatapannya langsung berubah dingin.

Pria itu berjalan cepat menyusuri lorong mall sambil mencari ke sekitar.

Dan beberapa meter dari sana, Aurora ternyata sedang berdiri di depan toko kecil berisi aksesoris lucu sambil serius memilih gantungan kunci.

Aurora bahkan tidak sadar dirinya ditinggal.

Sampai tiba-tiba sebuah tangan menarik pelan pergelangan tangannya.

Aurora langsung menoleh kaget.

Zayn berdiri di belakangnya dengan ekspresi datar.

Namun tatapannya jelas tidak suka.

Aurora langsung salah tingkah, “Ehehe…”

“Kamu kalau jalan bilang.”

“Aku cuma liat bentar…”

“Kamu hilang.”

Aurora langsung menunduk kecil seperti anak ketahuan nakal.

Beberapa detik kemudian Zayn menghela napas pendek.

Lalu tanpa banyak bicara, pria itu langsung menggenggam tangan Aurora begitu saja.

Aurora langsung membeku, “Pak?”

“Biar nggak hilang lagi.”

Aurora langsung gagal memproses beberapa detik.

Tangannya otomatis ikut menggenggam balik tanpa sadar.

Dan sejak itu Zayn benar-benar tidak melepas tangan Aurora lagi sepanjang mereka berjalan.

Aurora bahkan jadi salah tingkah sendiri tiap kali ada orang lewat.

Karena entah kenapa rasanya terlalu mirip pasangan sungguhan.

Malam datang perlahan ketika mereka akhirnya kembali ke rumah.

Begitu pintu depan terbuka, suara Rakha langsung terdengar dari ruang tengah.

“WOOO akhirnya pulang juga.”

Aurora langsung refleks melepaskan tangannya dari Zayn cepat.

Rakha yang melihat paper bag di tangan Zayn langsung menyeringai lebar, “Buset. Belanja berdua.”

Evan ikut melirik dari sofa sambil menahan senyum.

Aurora langsung malu sendiri, “Biasa aja kali…”

Rakha malah makin heboh, “Cie cie cie.”

“DIEM.”

Zayn tetap berjalan santai melewati mereka sambil membawa semua paper bag sendiri.

Rakha langsung menatap Aurora tidak percaya, “Anjir. Temen gue udah kayak suami nemenin belanja.”

Aurora langsung merah total, “RAKHA!”

Rumah itu kembali dipenuhi suara tawa kecil. Dan anehnya, Zayn tidak membantah sama sekali.

Aurora buru-buru masuk ke kamar sambil masih malu karena diledek Rakha tadi, “Malu banget sih…” gumamnya pelan sambil menutup wajah sebentar.

Namun langkahnya langsung berhenti begitu melihat beberapa lipatan pakaian rapi di atas ranjang.

Aurora mengerjap bingung.

Beberapa blouse, sweater, dan rok miliknya sudah tersusun rapi di sana.

Tepat saat itu Zayn masuk dari belakang sambil membawa beberapa paper bag terakhir.

Pria itu berjalan santai lalu menaruh paper bag di dekat sofa.

Aurora langsung menoleh ke arahnya, “Ini siapa yang rapihin?”

Zayn melirik sekilas ke arah ranjang, “Nelly.”

“Oh…”

Aurora berjalan mendekat lalu menyentuh salah satu bajunya pelan.

“Dia nyuci semua?”

“Laundry.”

Aurora langsung menoleh cepat, “HAH?”

Zayn terlihat biasa saja, “Baju kamu nggak banyak.”

Aurora langsung diam beberapa detik. Dan anehnya kalimat sederhana itu malah bikin dadanya terasa hangat.

Karena artinya Zayn benar-benar memperhatikan hal kecil tentang dirinya.

Aurora langsung duduk pelan di pinggir ranjang sambil memeluk salah satu hoodie miliknya, “Aku jadi nggak enak numpang terus…”

Zayn terdiam sebentar. Lalu berkata pelan, “Nggak ada yang keberatan kamu di sini.”

Aurora masih duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan baju-bajunya yang sudah dilipat rapi.

Suasana kamar terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa menit lalu saat Rakha heboh mengejek mereka di bawah.

Zayn sendiri sedang merapikan beberapa paper bag terakhir di dekat sofa tanpa banyak bicara.

Aurora diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Makasih…”

Zayn menoleh sebentar, “Bilang ke Nelly.”

Aurora langsung mendecakkan bibir kecil, “Bapak emang nggak bisa jawab manis ya.”

Zayn tidak menanggapi. Namun beberapa detik kemudian pria itu justru berkata santai, “Sekarang mandi.”

Aurora langsung berkedip bingung, “Hah?”

“Bersihin muka dulu terus tidur.”

Aurora langsung menatap tidak percaya, “Pak…”

“Kamu dari tadi keliling mall.”

“Aku tau mandi…”

“Bagus.”

Aurora langsung mendengus kecil sambil berdiri dari ranjang, “Nyuruh terus kerjanya.”

Zayn akhirnya duduk santai di sofa sambil membuka kembali laptopnya, “Daripada kamu sakit lagi.”

Aurora yang tadinya ingin protes malah langsung diam sendiri.

Dan lagi-lagi, kalimat sederhana itu sukses bikin jantungnya aneh.

Tak lama kemudian Aurora keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya pelan memakai handuk kecil.

Aroma sabun hangat langsung memenuhi kamar.

Namun langkahnya tiba-tiba berhenti, “Loh?”

Aurora mengerjap bingung melihat ranjangnya yang tadi penuh lipatan pakaian sekarang sudah kosong.

Ia langsung menoleh cepat ke arah sekitar kamar, “Bajuku mana?”

Zayn yang sedang duduk di sofa sambil membuka laptop menjawab santai tanpa mengangkat kepala, “Udah masuk lemari.”

Aurora langsung membeku, “…Hah?”

Kali ini Zayn baru melirik sekilas, “Nelly udah laundryin. Saya masukin aja sekalian.”

Aurora langsung menatap pria itu tidak percaya. Beberapa detik ia cuma diam sambil memegang ujung handuk kecilnya sendiri.

“Pak…”

“Hm?”

“Bapak beneran masukin bajuku ke lemari?”

“Kalau ditaruh di ranjang terus nanti berantakan lagi.”

Aurora langsung kehilangan kata-kata

Karena cara Zayn melakukannya terlalu santai. Seolah itu hal normal. Padahal jantung Aurora sendiri tiba-tiba jadi aneh.

Aurora masih berdiri di dekat lemari sambil memegang handuk kecilnya.

Entah kenapa suasana kamar tiba-tiba terasa terlalu hangat.

Sedangkan Zayn kembali fokus beberapa detik pada layar laptopnya sebelum akhirnya menutup benda itu pelan.

Pria itu berdiri dari sofa lalu berjalan melewati Aurora menuju pintu kamar, “Tidur.”

Aurora langsung menoleh cepat, “Hah? Tapi belanjaannya belum aku rapihin-”

“Besok aja.”

“Tapi-”

“Flora.”

Aurora langsung diam.

Zayn membuka pintu kamar perlahan sebelum kembali berkata santai, “Jangan dipikirin terus.”

Aurora masih berdiri sambil memegang handuk kecilnya.

Sedangkan Zayn sudah setengah keluar kamar.

“Pak, aku bisa rapihin seka-”

Namun sebelum Aurora selesai bicara, Zayn sudah lebih dulu menutup pintu kamar pelan.

Aurora langsung melongo tidak percaya beberapa detik.

“Ih nyebelin.”

Tapi anehnya, sudut bibir Aurora malah naik kecil.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamar itu terasa jauh lebih nyaman dari biasanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!