Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Naya
“Bali?” tanya mama ketika sarapan.
Pagi itu terasa seperti pagi-pagi lain di rumah kami, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang menggantung di udara. Mungkin karena obrolan yang belum terjadi, atau keputusan besar yang diam-diam sudah mengendap sejak semalam.
Ruang makan kami tidak besar, tapi selalu terasa hangat. Meja kayu persegi panjang yang sudah sedikit pudar warnanya itu berada tepat di dekat jendela. Cahaya matahari pagi masuk dengan lembut, menembus tirai tipis warna krem yang sedikit bergoyang tertiup angin. Di sudut ruangan, ada rak kecil berisi toples kerupuk dan beberapa bumbu dapur. Bau nasi goreng buatan mama menyebar seperti pelukan—hangat, gurih, dan familiar.
Mama berdiri di dekat meja, masih mengenakan celemek bermotif bunga yang sedikit kusam. Rambutnya disanggul seadanya, beberapa helai jatuh ke sisi wajahnya yang mulai dipenuhi garis halus. Di atas meja sudah tersaji nasi goreng dengan irisan timun dan tomat, lengkap dengan telur dadar yang dipotong kotak-kotak.
Sementara itu, papa berdiri di dekat dapur kecil, menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi hitamnya. Aroma kopi langsung bercampur dengan wangi nasi goreng, menciptakan kombinasi yang terasa seperti definisi “rumah”.
“Papa mau ke Bali. Papa belum pernah ke Bali,” kata papa sambil mengaduk kopinya. Suaranya ringan, tapi matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan ide petualangan.
“Nggak. Jangan di Bali!” mama langsung protes, bahkan sebelum papa sempat duduk.
“Nggak apa-apa, Ma. Mama juga belum pernah kan naik pesawat?” papa duduk, mengambil sendok, dan mulai makan dengan santai. Nada suaranya penuh semangat, seperti sedang menjual mimpi.
“Tapi nanti nenek uwak nggak bisa ikut dong. Kan susah naik pesawat!” mama menyilangkan tangan di dada, wajahnya mulai menunjukkan kekhawatiran yang nyata.
“Bisa lah. Dia juga pasti pengen ke Bali,” papa menatapku sambil tersenyum lebar, seolah aku adalah sekutunya. “Jadi kita ke Bali kapan?”
Aku yang dari tadi hanya memandangi mereka berdua seperti menonton pertandingan ping pong, kanan, kiri, kanan, kiri, cuma bisa menghela napas panjang. Sendok di tanganku berhenti di udara.
“Nggak. Aku nggak mau nikah di Bali. Mahal!” kataku akhirnya.
“Setuju!” teriak mama dengan cepat, seperti menemukan teman seperjuangan.
“Ah, kan Bima yang nawarin. Biar mahal juga, dia mah bisa aja, kan?” papa cemberut, wajahnya berubah seperti anak kecil yang idenya ditolak.
“Nggak! Mama nggak mau nikah ke Bali!”
“Bukan mama yang nikah, Naya!” papa membalas cepat.
Aku menunduk, menatap nasi goreng di piringku. Uapnya masih naik pelan, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa hambar. Suasana yang tadi hangat berubah jadi sedikit tegang, seperti ada kabel tipis yang mulai ditarik terlalu kuat.
Di kepalaku, semalam masih terngiang-ngiang.
Video call grup dengan Shanaz dan Risa. Layar ponselku penuh wajah mereka berdua. Shanaz hampir melompat kegirangan saat aku bilang soal Bali. Matanya berbinar, bahkan lebih terang dari papa pagi ini.
“BALI?! GILA SIH NAY, INI DREAM WEDDING!” teriaknya waktu itu.
Sementara Risa… dia hanya menghela napas panjang.
“Nay, realistis aja. Kalau di Bali, gue nggak bisa jadi WO lo,” katanya pelan, tapi penuh arti.
Dan itu langsung membuat hatiku goyah.
Kembali ke pagi ini, suara papa dan mama yang masih berdebat membuat pikiranku kembali ke kenyataan.
Aku meremas sendokku pelan.
Aku harusnya nggak cerita soal menikah di Bali. Langsung aja mutusin sendiri. Tapi sekarang semuanya sudah terlanjur… dan jadi seperti ini.
“Udah, udah!” kataku akhirnya, sedikit lebih keras dari biasanya. “Yang penting sekarang acara lamaran dulu aja.”
Keduanya langsung diam.
“Betul. Jadinya di mana?” tanya mama, nada suaranya kembali lebih tenang.
“Di rumah Bima. Cuma acara keluarga inti aja. Nggak usah ngundang uwak, om!” kataku cepat, seperti sudah memikirkan ini berkali-kali.
“Kenapa?” tanya mama, alisnya mengernyit.
“Kan mereka dateng pas lamaran sama Alfian. Kalau yang sekarang juga dateng, nanti mereka ngomongin, kenapa Alfian putus? Kenapa ini, kenapa itu. Aku nggak mau.”
Nama itu seperti batu kecil yang jatuh ke dalam air. Riaknya terasa, walaupun tak ada yang benar-benar membahasnya.
“Ya nggak apa-apa. Daripada tiba-tiba nama mempelainya beda. Malah makin diomongin,” kata mama, bibirnya manyun.
“Nggak. Pokoknya nggak. Keluarga inti aja.”
“Masa kita dateng bertiga doang, tapi mereka keluarganya banyak!” sahut mama lagi.
“Udah, ajak keluarganya om Deni aja,” kata papa, mencoba menengahi.
Aku menghela napas, lalu mengangguk pelan. “Ya udah.”
Dalam hati, aku tahu… ini baru awal dari banyak kompromi.
—
Hari itu, panas seperti tidak punya ampun.
Aku dan Risa berdiri di tengah taman bunga di Cibubur yang luas. Hamparan bunga warna-warni terbentang sejauh mata memandang—merah, kuning, ungu, dan putih—seperti karpet hidup yang cantik, tapi terasa menyengat di bawah matahari siang.
Langit biru terang tanpa awan, matahari tepat di atas kepala, dan udara terasa berat. Bahkan angin pun malas bergerak.
Fotografer kami hanya satu orang, dan dia terlihat kewalahan mengatur pasangan klien yang terus berkeringat.
“Mas, senyumnya lebih natural ya!” teriakku sambil menutup mata sebentar karena silau.
Di sampingku, Risa memegang clipboard, wajahnya sudah memerah karena panas.
“Natural gimana, Nay, kalau mereka udah kayak ayam bakar begini,” gumamnya.
Aku hampir tertawa, tapi menahan diri.
Sesi foto berlangsung lama. Terlalu lama.
Ketika akhirnya selesai, rasanya seperti keluar dari oven raksasa.
“Kita makan bakso, yuk,” kata Risa.
Aku langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali.
—
Warung bakso yang kami datangi sederhana sekali. Hanya bangunan semi permanen dengan atap seng dan beberapa meja plastik. Kursinya tidak semuanya sama, ada yang dari kayu, ada yang dari plastik yang sudah agak melengkung.
Di sudut, ada gerobak bakso dengan kaca sedikit buram. Di dalamnya, bola-bola bakso tersusun rapi, mengapung di kuah panas yang terus mengepul.
Kami duduk di meja dekat kipas angin kecil yang berputar malas.
Semangkuk bakso panas di depanku terasa seperti hadiah dari surga.
“Kata aku sih, udah nikah di sini aja. Kalau kamu mau ke Bali, honeymoon aja,” Risa nyeletuk sambil meniup kuah baksonya.
Aku yang sedang menyuap bakso langsung keselek.
“Uhuk! Uhuk!”
“Cie, udah kebayang honeymoon ya? Sampe keselek segala!” Risa melempar tisu ke arahku.
“Gila, aku nggak kepikiran malah, Kak!” kataku sambil mengelap mulutku.
“Tapi pengen kan?” godanya.
Aku terdiam sebentar.
“Nggak tau ah!” jawabku akhirnya, tapi senyumku tidak bisa disembunyikan.
“Mimpi apa temen gue, nikah sama artis.”
“Lah, mimpi apa aku, tiba-tiba nikah sama artis!”
Kami berdua tertawa, suara kami bercampur dengan suara sendok yang beradu dengan mangkuk dan obrolan pengunjung lain.
Untuk sesaat, semuanya terasa ringan.
—
Setelah makan, kami berdiri di pinggir jalan, menunggu taksi online. Panas masih terasa, tapi tidak sekejam tadi.
Aku membuka ponsel, scrolling tanpa tujuan.
Lalu… mataku berhenti.
“Kak!” kataku bersamaan dengan Risa yang juga menoleh ke arahku.
“Nggak jelas banget sih, si Mutia ini. Pansos, anjir!” kata Risa, matanya menatap layar dengan tajam.
Ternyata kami melihat hal yang sama.
Berita gosip di X.
@gosipsyalala : [Foto aku dan Bima keluar dari warung makan.] Ketahuan, Bima memang benar-benar lagi merenacanakan pernikahan. Dia meeting sama perempuan yang kerja di sebuah wedding organizer!
Balasan pertamanya adalah dari
@mutiakyutitutipruti : Itu bukan orang WO, itu dia pelakor Bima dari aku!
Lantas ribuan akun mengomentari cuitan Mutia. Sebagian besar buruk. Sebagian besar tentang aku yang dikira pelakor.
“Apa lagi sih ini?” aku mengeluh, suara mulai gemetar.
“Abaikan!” kata Risa cepat.
“Tapi…” aku menatap layar lagi. Nama Bima disebut-sebut. Namaku dihina.
“Gosip melulu. Belum juga jadi apa-apa, udah kena gosip dua kali, Kak!” kataku, kesal, lalu menghentakkan kaki ke tanah.