AUDREY DIRA ADIWANGSA, terlahir dari keluarga cemara yang memiliki sifat berani dan spontan.
Gadis itu dijodohkan oleh Papanya, Adiwangsa, dengan putra dari seorang Konglomerat yang bernama Wira Aldrian Bimasena. Namun ternyata keluarga calon suami nya itu Toxic, jauh berbeda sekali dengan kehidupan yang dijalani Audrey bersama keluarganya.
Akankah Audrey mampu menghadapi mereka ataukah Audrey akan kalah dan menyerah lalu kembali pada kehidupan nyamannya bersama keluarga besar Adiwangsa ??
Happy Reading...
Enjoy guys 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 25
Diruang meeting suasana terasa mencekam. Sejak di mulai nya meeting, Wira sudah menunjukkan taring nya. Berkali-kali dia merevisi hasil laporan keuangan dari kepala divisi. Belum lagi tiba-tiba Wira minta dilakukan Audit besar-besaran ke seluruh divisi selama tiga hari kedepan.
"Laporkan hasil Audit langsung ke saya! Meeting selesai, silahkan kembali bekerja."
Wira meninggalkan ruang meeting dengan hawa panas yang tertinggal diruangan. Staf-staf saling berbisik, bertanya ada apa dengan Pemimpin perusahaan mereka hari ini. Tapi tidak ada jawaban karena Hendra sebagai asistennya pun tidak tau kenapa.
Hendra dan Nadia mengekor Wira di belakang.
"Nadia, catat siapa saja yang tadi terlambat memberikan laporan bulanan. Laporkan hari ini juga, nama beserta divisi mereka."
"Ba-baik, Pak." Kata Nadia, si sekretaris Wira.
"Hendra, apa tiket keberangkatan kita sudah kau pesan ?" tanya Wira tanpa menghentikan langkah panjangnya menuju ruangan.
Nadia dengan stiletto nya harus berusaha keras menyeimbangkan langkah Wira.
"Su-sudah, Bos. Penerbangan terakhir pukul 10 malam, Bos."
"Bagus." Ucap Wira yang berbanding terbalik dengan perasaannya.
Nadia bertanya pada Hendra ada apa dengan Wira hari ini, tapi tentu tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya. Hendra mengangkat kedua bahu sambil menggelang tanda dia juga tidak tau.
Wira dan Hendra terus berjalan ke arah ruangan, sementara Nadia berhenti di depan ruangan Wira dimana meja kerjanya berada.
Ketika tangan Wira mendorong pintu ruangan dan pintu itu terbuka, langkahnya langsung berhenti dengan sorot mata yang langsung terkunci pada satu sosok yang tengah berdiri membelakangi kaca.
Hampir saja hendra menubruk punggung Wira kalau saja dia tidak punya reflek yang bagus untuk berhenti mendadak.
Karena Wira berdiri tepat di ambang pintu, Hendra harus berjinjit untuk melongok, demi mencari tau sesuatu apa yang sampai membuat Bosnya mematung seperti itu.
"O..." Mulut Hendra reflek membentuk huruf O besar ketika melihat sosok siapa yang ada di ruangan Wira. Hendra mundur teratur kemudian berjalan ke meja Nadia.
"Kenapa ?" tanya Nadia tanpa suara.
"Ssstt...Kita aman, pawangnya udah dateng." Ucap Hendra sambil berbisik.
Nadia mengerutkan keningnya, tak mengerti tapi tak juga mencari tau lebih lanjut karena Hendra lansung kembali ke ruangannya.
"Ka-kamu ?!" Wira nampak terkejut dengan kehadiran Audrey di dalam ruangannya. Kemudian Wira pun menutup pintu kembali sambil berusaha menahan gejolak aneh di dadanya.
Audrey menatap Wira cukup lama, lalu saat Wira berbalik lagi....
Grep!
Audrey berlari, memeluk tubuh Wira hingga Wira sampai mundur selangkah karena tidak siap ketika gadis itu mendadak menabrakkan tubuh mungilnya.
Wira membeku. Tapi pelukan Audrey malah semakin erat seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Wira.
"Kak.." Suara parau Audrey menyadarkan lamunan Wira.
"Hum ?" Jawab Wira, suaranya hampir bergetar kalau saja dia tidak pandai menyembunyikan nya.
"Kenapa lama sekali meetingnya, aku udah nunggu hampir sejam tau!" Omel Audrey dengan nada manja tanpa melepaskan pelukan.
Wira tersenyum, matanya berkaca-kaca. Kedua tangannya yang semula berada di samping tubuh, pelan-pelan terangkat, membalas pelukan sang istri.
Audrey memejamkan mata, merasakan rasa aman yang jauh berbeda dibandingkan yang biasa Audrey dapatkan dari Ayah dan Kakaknya.
"Tadi aku kerumah Mama, katanya kamu sudah pergi duluan di antar Vincent. Maaf, aku terlambat."
Audrey menggeleng, "Nggak. Kakak nggak terlambat. Aku memang sengaja ngehindar dari kakak."
"Kenapa ?"
Audrey merenggangkan pelukan tapi tidak sampai melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Wira.
Gadis itu mendongak, menatap Wira dari bawah.
"Karena kakak nggak pernah jujur."
Wira mengerutkan dahi hingga kedua alisnya nyaris bertaut.
"Jujur soal apa ?"
"Semuanya."
Wira masih belum paham arah pembicaraan itu,
"Sekarang aku tau alasan nya kenapa kakak nggak pernah berani tidur bersama ku."
Audrey langsung to the point, membuat jantung Wira hampir copot dibuatnya.
"Kita menikah sudah mau dua bulan, tapi setiap malam kakak selalu menghindar dan memilih tidur terpisah dari aku. Aku marah, marah sama diriku sendiri. Aku ngerasa nggak pantes buat jadi istri kakak." Kristal bening sudah menggenang dipelupuk mata Audrey.
Wira menggeleng cepat, tidak suka Audrey berkata seperti itu.
"Kak, kalau boleh jujur, aku juga nggak siap dengan perjodohan kita. Aku masih muda, kuliahku saja belum lulus. Tapi aku mau mencoba. Kalau ternyata Kakak nggak berusaha melakukan hal yang sama, aku bisa apa ?! Mungkin pernikahan kita memang sebuah kesalahan. Dan aku akan bicara langsung pada Papa dan Ayah kalau kita nggak bisa melanjutkan lagi pernikahan ini."
"Kenapa kamu bicara begitu, hum ?" Wira menangkup wajah Audrey, tatapan nya berubah sayu.
Untuk pertama kali nya Wira mengaku kalah. Kalah pada cara berpikir Audrey yang dewasa.
"Kamu mau aku melakukan apa ? Akan aku lakukan untukmu tapi jangan pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan kita!"
Audrey menadahkan tangan membuat Wira menatap bingung.
"Pertama berikan aku nafkah. Kata Mama, Nafkah itu wajib diberikan suami pada istri nya. Sejak menikah sampai detik ini kakak belum memberikan hak nafkah lahir padaku."
Mulut Wira terkatup rapat, benar, dia belum memberikan serupiah pun pada Audrey. Buru-buru Wira merogoh saku jasnya, mengambil dompet berbahan kulit premium yang harganya berkisar dua sampai empat jutaan. Harga yang sepadan untuk simbol kemewahan.
Wira menarik satu kartu sakti yang bertuliskan AMEX.
Mata Audrey melotot ketika Wira menyodorkan kartu hitam itu padanya.
"Pakai! Beli apapun yang kamu mau!" Ucap Wira membuat bulu kuduk Audrey meremang seketika.
Dengan tangan gemetar Audrey mengambil kartu dari tangan Wira.
"Selanjutnya ?" tanya Wira dengan tanpa beban padahal baru saja dia memberikan kartu yang tidak semua orang kaya miliki.
"Se-sebentar, aku pikir dulu.." Otak encer Audrey tiba-tiba jadi ngeblank, padahal sambil menunggu Wira rapat tadi Audrey sudah memikirkan segala kemungkinan serta apa-apa saja yang harus dia minta pada sang suami.
Wira tersenyum sambil mencubit gemas pipi Audrey, "Sambil kamu berpikir, kita pergi dari sini." Wira menggenggam tangan Audrey, mengajak nya keluar dari ruangan.
Audrey menahan tangan Wira,
"Kenapa ?"
"Tas aku." Audrey melirik ke meja kerja Wira dimana tas bahu nya dia taruh tadi.
Wira menyambar tas itu dengan cepat. Alih-alih memberikan tas tersebut pada pemiliknya, Wira justru menjinjing tas berlogo LV di tangan yang lain.
Mereka pun keluar sambil berpegangan tangan dengan Audrey yang berjalan di belakang Wira. Nadia reflek berdiri, menunduk hormat saat Wira dan Audrey melewati meja kerjanya.
Sebelum Wira mengajak Audrey masuk ke dalam lift dengan pintu emas, pria itu membawa Audrey ke depan ruangan Hendra.
Wira mendorong pintu, menyembulkan kepala dari balik pintu.
"Batalkan tiket pesawat! Kita tidak jadi pergi!"
Klik.
Pintu kembali di tutup.
Hendra yang ada di dalam hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.