Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : Tidak Menyangka
Keesokan harinya...
Dara terbangun bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi. Matanya langsung terbuka, beberapa detik ia menatap langit-langit kamar kosnya. Lalu ingatannya kembali pada kartu nama yang kini tersimpan rapi di atas meja.
Jantung Dara kembali berdebar. Semalam ia hampir tidak bisa tidur. Karena terlalu gugup dan terlalu banyak berpikir.
Bagaimana kalau ternyata Aldi hanya basa-basi? Bagaimana kalau ia datang dan malah ditolak lagi? Bagaimana kalau semua ini hanya kesalahpahaman?
Namun di sisi lain, ia tidak punya pilihan. Ini mungkin satu-satunya kesempatan yang tersisa. Dara segera bangun, ia membuka laptop tuanya dan memperbaiki CV hingga larut malam tadi.
Setiap kata diperiksa ulang dan pengalaman kerja ditata lebih rapi. Ia bahkan mencetak ulang CV menggunakan uang terakhir yang ia miliki.
Hari ini, ia harus memberikan kesan terbaik. Pukul delapan pagi. Dara sudah berdiri di depan gedung PT Dirgantara Group, dan seketika ia terpaku. Gedung itu menjulang tinggi dengan dinding kaca yang berkilau terkena sinar matahari.
Di depannya terdapat air mancur besar dan area parkir yang dipenuhi mobil-mobil mewah. Orang-orang yang keluar masuk gedung terlihat rapi dan profesional.
Dara tanpa sadar merapikan kemejanya. Ia tiba-tiba merasa sangat kecil. "Dara bisa..." gumamnya pelan. "Kamu harus bisa."
Dengan menarik napas panjang, ia melangkah masuk. Begitu memasuki lobby, Dara kembali dibuat kagum. Lantainya mengkilap, lampu gantung besar menghiasi langit-langit.
Di belakang meja resepsionis terpampang logo perusahaan berwarna emas.
Dara berjalan mendekat. "Selamat pagi."
Resepsionis tersenyum ramah. "Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa dibantu?"
Dara mengeluarkan kartu nama Aldi. "Saya... saya diminta datang oleh Pak Aldi."
Resepsionis menerima kartu itu. Begitu melihat nama yang tertera, ekspresinya langsung berubah sedikit lebih serius.
"Sebentar ya, Kak."
Ia segera mengetik sesuatu di komputer. Beberapa detik kemudian matanya membesar.
Lalu ia berdiri. "Silakan tunggu sebentar."
Dara mengangguk bingung. Tak sampai satu menit kemudian, seorang pria berjas datang tergesa-gesa.
"Selamat pagi, Nona Dara?"
Dara terkejut. "Iya."
"Silakan ikut saya."
Dara semakin bingung. Ia mengikuti pria itu menuju lift khusus. Dan yang membuatnya semakin gugup, pria itu bersikap sangat sopan. Seolah-olah dirinya adalah tamu penting.
Lift bergerak naik. Lantai 10, 15, 20, 25. Hingga akhirnya berhenti di lantai paling atas. Pintu lift terbuka. Dara langsung menelan ludah. Lantai itu jauh lebih mewah dibanding area bawah.
Karpet tebal membentang di sepanjang koridor. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan mahal. Pria berjas itu berhenti di depan sebuah pintu besar.
Kemudian mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
"Pak Aldi, Nona Dara sudah datang."
Dari dalam terdengar suara yang sangat dikenalnya. "Suruh dia masuk."
Jantung Dara langsung berdebar lebih cepat. Pria berjas itu membuka pintu. "Silahkan."
Dara melangkah masuk perlahan. Dan langsung membeku, ruangan itu sangat luas. Di salah satu sisi terdapat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu hitam. Dan di belakang meja itu... Aldi sedang duduk.
Namun hari ini ia sangat berbeda. Tidak ada lagi kemeja santai yang digulung. Kini ia mengenakan setelan jas gelap yang rapi. Tatapannya tegas, wibawanya begitu kuat.
Benar-benar seperti seorang petinggi perusahaan besar. Aldi mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang dibaca. Kemudian tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin.
"Nah." Ia menutup map di depannya. "Kamu akhirnya datang juga."
Dara berdiri kaku. Entah kenapa lututnya terasa lemas. "Selamat pagi, Pak..."
Aldi mengangkat alis. "Pak?"
Dara langsung salah tingkah.
Aldi tertawa kecil. "Sepertinya saya lebih menyeramkan pakai jas ya?"
Kini Dara tersenyum gugup dan menunduk malu. "Bukan gitu, Pak... eh, Aldi maksud saya."
Aldi tertawa kecil. "Nah, itu lebih baik."
Ia menunjuk kursi di depan mejanya. "Duduk."
"Terima kasih."
Dara segera duduk dengan punggung tegak. Tangannya tanpa sadar menggenggam map CV yang dibawanya erat-erat.
Aldi memperhatikan gerakan itu sekilas. "Gugup?"
"Sedikit."
"Sedikit atau banyak?"
Dara menghela napas. "Banyak."
Aldi kembali tertawa pelan. Entah kenapa, melihat Aldi tertawa membuat suasana menjadi tidak terlalu menegangkan. "Tenang aja. Saya nggak gigit."
"Itu yang kemarin juga bilang begitu sebelum nolak saya."
Aldi sampai menggeleng sambil tersenyum. "Oh ya."
Kemudian ia mengulurkan tangan. "CV-nya boleh saya lihat?"
"Oh iya ini." Dara buru-buru menyerahkan map yang sudah ia siapkan semalaman.
Aldi menerimanya lalu mulai membuka halaman demi halaman. Ruangan mendadak hening, hanya suara lembaran kertas yang dibalik. Dara menunggu dengan jantung berdebar kencang. Sesekali Aldi mengangguk kecil, sesekali dahinya berkerut.
Lalu beberapa menit kemudian ia menutup CV tersebut. "Pengalaman tiga tahun di administrasi."
"Iya."
"Menguasai pengolahan data, arsip, laporan bulanan, dan sistem inventaris."
"Iya."
"Pernah jadi koordinator tim kecil." Aldi mengangguk pelan. "Bagus."
Mata Dara langsung membesar. "Bagus?"
"Iya."
"Tapi perusahaan lain nggak bilang begitu."
"Itu perusahaan lain bukan saya."
Dara terdiam.
Aldi lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur aja ya."
Dara langsung tegang. "Maksudnya..."
"Saya suka orang yang jujur."
Dara berkedip bingung. "Hah?"
"Kemarin waktu saya kasih bakso, kamu nolak."
Dara langsung salah tingkah. "Itu karena..."
"Karena kamu nggak suka dikasihani."
Dara terdiam.
Aldi melanjutkan. "Banyak orang kalau ada kesempatan langsung memanfaatkannya. Tapi kamu berbeda, kamu tetap memiliki harga diri meskipun sedang susah."
Dara tidak tahu harus menjawab apa. Sudah lama sekali tidak ada yang melihat sisi dirinya seperti itu. Selama ini yang orang lihat hanya kegagalannya, bukan perjuangannya.
Aldi kemudian membuka laci meja. Mengambil sebuah berkas, lalu meletakkannya di depan Dara.
Dara menatap berkas itu bingung. "Ini apa?"
"Surat penerimaan kerja."
Dara membeku. "Apa?"
Aldi tersenyum tipis. "Saya menerima kamu bekerja di PT Dirgantara Group."
Dunia Dara seakan berhenti sesaat. Ia menatap Aldi, lalu menatap berkas itu. Seperti otaknya belum mampu memproses apa yang baru saja didengar.
"Tunggu..." Suara Dara bergetar. "Tapi saya belum interview."
"Sudah."
"Kapan?"
"Kemarin."
"Hah?"
Aldi melipat tangannya di depan dada. "Saat kamu cerita soal pekerjaanmu."
Dara masih terlihat linglung.
"Saat kamu menjelaskan pengalaman kerjamu."
"Tapi..."
"Saat saya melihat bagaimana kamu menghadapi kesulitan."
Dara benar-benar tidak bisa berkata-kata. Air matanya mulai menggenang.
Aldi yang melihat itu langsung panik. "Eh."
Dara menunduk cepat. "Maaf..."
"Kenapa malah nangis?"
Dara tertawa kecil di tengah air matanya. "Saya..." Suaranya pecah. "Saya cuma nggak nyangka."
Sudah berhari-hari ia berjuang, ditolak berkali-kali. Pulang dengan harapan yang hancur setiap malam. Dan sekarang, di saat ia hampir menyerah. Kesempatan itu datang, begitu saja.
Aldi mendorong kotak tisu ke arahnya. "Nih."
Dara tertawa sambil menerima tisu itu. "Terima kasih."
"Jadi..." Aldi menunjuk berkas di atas meja. "Mau bergabung dengan kami?"
Dara menggenggam surat itu dengan kedua tangannya. Lalu mengangguk kuat-kuat. "Iya."
Kini Senyum Dara terlihat benar-benar tulus. Dan jauh di dalam hatinya, ia tahu. Hari ini bukan hanya hari ia mendapatkan pekerjaan. Tapi juga hari ketika hidupnya mulai berubah.