NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10 : Paling Nerkam

Malam itu...

Jam kerja sudah berakhir hampir tiga puluh menit yang lalu. Sebagian besar karyawan PT Dirgantara Group sudah pulang. Lobby yang tadi ramai kini mulai lengang.

Di depan gedung perusahaan, Dara berdiri sambil memegang ponselnya. Matanya menatap layar aplikasi ojek online dengan wajah pasrah.

"Astaga..." gumamnya.

Masih belum ada pengemudi yang menerima pesanannya.

Dara menghela napas panjang. "Kok lama banget sih..."

Biasanya tidak sampai lima menit sudah ada yang mengambil pesanan. Tapi malam ini entah kenapa sepi sekali. Ia kembali memperbarui aplikasi, masih sama.

Dara menggigit bibir pelan. "Kalau naik taksi online uangnya sayang banget..."

Gajinya memang jauh lebih baik dibanding pekerjaan sebelumnya. Tetapi Dara masih berusaha berhemat. Pikirannya langsung melayang pada seseorang.

Mama... sudah hampir seminggu terakhir ia sibuk bekerja hingga jarang punya waktu menemani ibunya di rumah sakit.

Untung sekarang ia sudah bekerja lagi. Setidaknya biaya perawatan Ibunya sudah tidak terlalu membuatnya panik seperti dulu.

Dara tersenyum tipis. "Aku harus lebih rajin lagi."

Ia kembali menatap layar ponsel, masih belum ada.

"Aduh..."

Sementara itu...

Beberapa meter dari sana, pintu utama gedung terbuka. Alexander keluar bersama asisten keamanan pribadinya. Pria itu baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan tambahan sebelum pulang.

Namun langkahnya perlahan melambat ketika melihat sosok yang berdiri di dekat gerbang. Dara... wanita itu masih memegang ponsel sambil sesekali melihat jalan.

Alexander memperhatikannya beberapa detik. Kenapa belum pulang? Tatapan matanya menyipit sedikit. Dara terlihat seperti sedang menunggu sesuatu.

Alexander sempat hendak melangkah ke arahnya. Namun sebelum sempat mendekat, seseorang lebih dulu muncul.

"Astaga."

Alexander langsung mengenali suara itu.

Aldi... Direktur operasional itu berjalan santai menuju Dara sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Masih di sini?"

Dara menoleh. "Iya, Pak Aldi."

"Aldi."

"Iya, Aldi."

Aldi tertawa kecil. "Kamu ngapain berdiri sendirian di depan kantor malam-malam begini?"

Dara menunjukkan layar ponselnya. "Saya sedang pesan ojek."

Aldi melihat layar itu, lalu mengangkat alis.

"Belum dapat?"

"Belum."

"Sejak kapan?"

"Hampir dua puluh menit."

Aldi langsung meringis. "Waduh."

"Iya." Dara menghela napas. "Kalau naik taksi online mahal."

Aldi tertawa kecil. "Kamu ini ya."

Dara hanya tersenyum malu.

Dari kejauhan, Alexander masih berdiri memperhatikan. Entah kenapa ia tidak langsung pergi. Tatapannya berpindah dari Dara ke Aldi.

Sementara itu Aldi kembali bertanya. "Rumah kamu jauh?"

"Nggak terlalu."

"Kalau begitu kenapa nggak minta dijemput keluarga?"

Senyum Dara perlahan memudar. "Mamaku lagi di rumah sakit."

Aldi langsung terdiam, wajahnya berubah serius. "Rumah sakit?"

Dara mengangguk pelan. "Iya."

Aldi yang biasanya selalu santai mendadak tidak tahu harus berkata apa.

Dara menunduk melihat layar ponselnya lagi. "Mudah-mudahan cepat dapat."

Namun tepat saat itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti perlahan di depan mereka. Aldi langsung mengenali mobil tersebut, begitu juga Dara.

Karena mobil itu milik satu-satunya orang yang semua karyawan kenal. Kaca mobil perlahan turun, memperlihatkan wajah dingin Alexander W. Dirgantara.

Dara langsung menegang. "Tu-Tuan?"

Alexander menatap keduanya. Lalu berkata singkat. "Masuk."

Dara berkedip. "Hah?"

Aldi langsung memejamkan mata. Waduh...

Alexander mengangkat sebelah alis.

Dara buru-buru menutup mulutnya. "Maaf, Tuan."

Alexander menatap layar ponsel di tangannya. "Ojekmu belum dapat."

Dara membeku. Beliau tahu?

Alexander melanjutkan dengan nada tenang. "Sudah malam."

"Tapi..."

"Masuk."

Tidak ada ruang untuk membantah. Aldi yang berdiri di samping Dara mulai menahan senyum. Sementara Dara justru panik setengah mati. Naik mobil CEO? Berdua? Ya Tuhan. Dara masih berdiri kaku di samping mobil.

Sementara Alexander menunggunya dengan ekspresi datar dari balik jendela yang terbuka.

"Masuk."

Hanya satu kata, tapi entah kenapa rasanya seperti perintah yang tidak bisa ditolak. Dara melirik Aldi dengan panik.

Aldi yang melihat ekspresi itu langsung tertawa. "Hahaha!"

"Kenapa malah ketawa?" bisik Dara.

Aldi menunjuk mobil Alexander. "Udah sana masuk."

"Tapi..."

"Bos baik kok."

Dara masih ragu.

Aldi lalu menambahkan dengan wajah serius. "Dia nggak akan gigit kamu."

Dara sedikit lega. Namun sedetik kemudian Aldi melanjutkan. "Paling nerkam."

"Hah!"

Aldi langsung tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha!"

Wajah Dara langsung pucat. Sementara dari dalam mobil, Alexander memejamkan mata sesaat. Kesabarannya mulai diuji.

"Aldi." Suaranya terdengar dingin.

Aldi langsung batuk kecil. "Eh..."

Alexander menatap sahabatnya tajam.

Aldi mengangkat kedua tangan menyerah. "Iya Bos, iya."

Kemudian ia menoleh ke Dara. "Pokoknya aman."

Dara masih terlihat tidak percaya.

Alexander akhirnya membuka pintu mobil dari dalam. "Kau mau pulang malam ini atau besok pagi?"

Dara langsung tersentak. "I-iya, Tuan!"

Ia buru-buru masuk ke dalam mobil.

Bruk.

Pintu tertutup.

Alexander menatap Aldi yang masih berdiri diluar. "Sebaiknya kau pulang. Jangan terlalu sering mengganggu orang."

"Siapa yang mengganggu?" jawab Aldi santai.

Alexander mulai kehilangan kesabaran. Namun sebelum CEO itu sempat membalas, Aldi sudah melangkah mundur beberapa langkah.

"Siap Bos!"

Kemudian ia menambahkan dengan suara keras. "Hati-hati di jalan!"

Alexander tidak menjawab.

Aldi masih tersenyum lebar. "Takut jatuh cinta! Hahahaha!"

Dara yang mendengar itu langsung membelalak. "Pak Aldi!"

Alexander menatap sahabatnya tanpa ekspresi.

Aldi langsung sadar dirinya sudah berada di ambang bahaya. "Oke! Saya pergi! Saya nggak ngomong apa-apa lagi! Hahaha!"

Sebelum Alexander benar-benar turun dari mobil dan mencekiknya, Aldi sudah lebih dulu berlari menuju parkiran sambil tertawa. Meninggalkan suasana canggung yang luar biasa di dalam mobil. Kini hanya ada Dara dan Alexander.

Dara menatap lurus ke depan. Alexander juga diam, beberapa detik, Dara mulai panik. Ya Tuhan... kenapa jadi canggung begini?

Lalu tiba-tiba... Alexander menyalakan mesin mobil. "Jangan dengarkan Aldi."

Dara berkedip. "Iya, Tuan."

"Dia memang tidak normal."

Dara spontan menoleh, ia melihat sudut bibir Alexander terangkat tipis. Membuat Dara membeku beberapa detik. Karena entah kenapa, CEO yang selama ini terlihat dingin dan menakutkan itu justru terlihat jauh lebih tampan saat tersenyum.

Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan area PT Dirgantara Group. Di dalam mobil, suasana masih terasa canggung. Dara duduk tegak di kursi penumpang. Tangannya bertumpu di atas tas sambil berusaha terlihat tenang. Sayangnya jantungnya tidak bekerja sama. Ya Tuhan... Aku lagi satu mobil sama CEO.

Alexander memegang setir dengan santai. Tatapannya fokus ke jalan. Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Sampai akhirnya...

"Di mana rumahmu?" Suara Alexander memecah keheningan.

Dara langsung tersentak. "Eh." Ia menoleh. "Saya..." Kalimatnya terhenti.

Alexander melirik sekilas. "Kenapa?"

Dara terlihat ragu beberapa detik. "Sebenarnya saya tidak ingin langsung pulang ke rumah. Saya ingin ke rumah sakit."

Keheningan sejenak memenuhi mobil. "Rumah sakit?" tanya Alexander.

"Iya, Tuan."

"Karena ibumu?"

Dara membelalak. Beliau ingat? Alexander tetap fokus mengemudi. Tentu saja ia ingat. Beberapa jam lalu ia mendengar sendiri percakapan Dara dan Aldi.

"Iya." Suara Dara terdengar lebih pelan. "Saya biasanya ke sana dulu sebelum pulang."

Alexander mengangguk kecil. "Kondisinya bagaimana?"

Dara tersenyum tipis. "Sudah lebih baik dibanding sebelumnya."

"Tapi?" Dara menunduk. "Tapi masih harus menjalani perawatan."

Alexander tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu tidak semua orang nyaman membicarakan masalah pribadi.

Beberapa saat kemudian Dara kembali bicara. "Sebenarnya saya jarang cerita soal ini."

"Hm."

"Karena saya tidak ingin orang merasa kasihan."

Alexander meliriknya sekilas. "Kasihan dan peduli itu berbeda."

Dara terdiam. Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.

Lima belas menit kemudian...

Mobil memasuki area sebuah rumah sakit swasta. Alexander memarkir mobil di dekat lobi utama.

Dara langsung menoleh. "Tuan, terima kasih."

"Hm."

"Saya bisa lanjut sendiri dari sini."

Alexander mengangguk.

Dara hendak membuka pintu. Namun sebelum keluar, ia kembali menoleh. "Terima kasih sudah mengantar saya."

Alexander menatapnya beberapa detik. "Lain kali kalau pulang terlalu malam, jangan menunggu sendirian di depan kantor."

Dara berkedip. "Hah?"

Alexander menghela napas pelan. "Hah lagi."

Wajah Dara langsung merah. "Maksud saya..."

Alexander melanjutkan. "Hubungi bagian keamanan atau staf operasional."

"Iya, Tuan."

"Jangan berdiri sendirian hampir setengah jam."

Dara membeku. Beliau tahu aku nunggu selama itu Alexander sudah mengalihkan pandangannya ke depan. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun Dara diam-diam tersenyum.b"Baik, Tuan."

Lalu ia turun dari mobil. Pintu tertutup perlahan. Alexander memperhatikannya dari dalam mobil. Dilihatnya Dara berjalan cepat menuju pintu rumah sakit sambil memeluk tasnya.

Namun baru beberapa langkah... Wanita itu tiba-tiba berhenti, kemudian berbalik. Alexander mengangkat alis. Dara berlari kecil kembali ke arah mobil.

Tok... tok...

Ia mengetuk kaca jendela.

Alexander menurunkannya. "Ada apa lagi?"

Dara tersenyum malu. "Saya hampir lupa."

"Hm?"

"Selamat malam, Tuan."

Alexander terdiam sesaat. Lalu untuk kedua kalinya malam itu, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Selamat malam, Dara."

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!