NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Lembaran kertas memo itu seolah menjelma menjadi es yang membekukan seluruh aliran darah Hani. Jemarinya bergetar hebat, membuat kertas tipis di genggamannya berkerisik pelan di tengah kesunyian lorong restoran.

Sepasang matanya terpaku pada sosok pria ketiga yang dilingkari tinta merah di foto tua itu. Wajahnya tidak terlalu jelas karena sudut pengambilan gambar yang agak buram, namun siluet tubuh dan rahang tegas itu terasa begitu familier di ingatannya.

"Hani?"

Sebuah suara bariton yang berat mendadak memecah keheningan, membuat Hani tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan amplop di tangannya. Ia dengan panik langsung melipat kertas memo dan foto itu, lalu menyelipkannya ke dalam tas kerjanya dengan gerakan secepat kilat sebelum berbalik badan.

Reza berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, menatapnya dengan sepasang alis yang bertaut heran. Pria itu menyadari perubahan ekspresi Hani yang mendadak pucat pasi.

"Kamu kenapa? Lama sekali di lorong?" tanya Reza penuh perhatian, melangkah mendekat sambil mengamati wajah Hani yang tampak tegang. "Dan kenapa tanganmu gemetar begitu? Siapa yang menelepon tadi?"

Hani menelan ludah dengan susah payah, berusaha sekuat tenaga untuk menstabilkan detak jantungnya yang berpacu liar. Senyuman penuh perhatian dari Reza yang biasanya membuat hatinya menghangat, kini justru memicu debaran aneh yang dipenuhi rasa sangsi.

Masih ada di dekatmu. Kalimat teror itu mendengung berulang kali di dalam kepalanya laksana tawon yang mengamuk.

"Ah... tidak apa-apa, Pak," jawab Hani, suaranya agak serak. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis agar tidak mengundang kecurigaan lebih lanjut.

"Siska hanya memberi tahu bahwa ada beberapa berkas yang harus segera saya periksa kembali di kantor. Saya agak terkejut karena mengira ada masalah besar."

Reza menatap Hani lekat-lekat, menyelidiki matanya seolah tahu ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh wanita itu. Namun, melihat Hani yang tampak tidak ingin membahasnya, Reza akhirnya mengembuskan napas pendek dan mengusap pundak Hani dengan lembut.

"Jangan terlalu memaksakan diri di hari pertama, Hani. Ayahmu pasti tidak akan senang melihatmu kelelahan seperti ini. Ayo, Papah sudah menunggu di mobil."

Hani mengangguk kaku. Sepanjang perjalanan kembali ke kantor pusat Baskara Group, Hani hanya diam membisu di kursi belakang mobil mewah milik Narendra. Di sebelahnya, Reza sibuk berdiskusi dengan ayahnya mengenai rencana restrukturisasi perusahaan pasca penangkapan Hendra Baskara.

Hani menatap keluar jendela kaca mobil, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang bergerak mundur. Namun, fokus pikirannya sepenuhnya tertuju pada tas kerja di pangkuannya. Di dalam tas itu, sebuah bom waktu psikologis baru saja aktif.

Begitu tiba kembali di kantor, Hani langsung mengunci diri di dalam ruang kerja barunya. Ia mengabaikan tumpukan berkas anggaran yang sebelumnya menjadi prioritas utamanya.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengeluarkan kembali foto tua dan memo misterius itu dari dalam tas, lalu menggelarnya di atas meja kayu jati yang luas.

Hani menyalakan lampu meja kerjanya, mengarahkan pendar cahayanya tepat ke arah pria ketiga yang wajahnya dilingkari tinta merah.

"Siapa sebenarnya kamu?" bisik Hani pada keheningan ruangan.

Jika kalimat di memo itu benar, bahwa Hendra Baskara hanyalah bidak catur yang dikorbankan artinya konspirasi delapan tahun lalu jauh lebih besar dan lebih kelam dari yang selama ini ia ketahui.

Selama ini, ia mengira membersihkan nama ayahnya dan menjebloskan Hendra ke penjara adalah akhir dari penderitaannya. Namun kini, kenyataan pahit itu kembali menamparnya. Dalang sejati yang mengayunkan pisau pembunuh masih bebas berkeliaran, bahkan berada di lingkaran terdekatnya.

Siapa si pengirim gelap ini? Dan apa tujuannya memberikan informasi ini sekarang?

Hani memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Rasa paranoid mulai merayap masuk, meracuni pikirannya. Setiap kali ia mengingat kebaikan Narendra yang mendadak memulihkan nama baik ayahnya dan memberinya jabatan tinggi, sebuah pertanyaan mengerikan muncul.

Apakah itu semua dilakukan atas dasar ketulusan, atau justru sebagai taktik untuk membungkamnya agar tidak menyelidik lebih dalam?

Tok... Tok...

Suara ketukan di pintu kaca mengagetkan Hani untuk kedua kalinya hari ini. Dengan sigap, ia langsung menyembunyikan foto dan memo tersebut di balik tumpukan map laporan keuangan sebelum berseru, "Masuk."

Siska melangkah masuk dengan membawa sebuah tablet digital. "Bu Hani, ini adalah daftar arsip digital perusahaan dari delapan tahun lalu yang Ibu minta tadi pagi sebelum makan siang. Aksesnya sudah dibuka oleh divisi IT atas izin dari sekretariat direksi utama."

Hani tersentak kecil. Ia sempat lupa bahwa ia memang sempat meminta arsip tersebut untuk mempelajari struktur organisasi lama divisi administrasi. Namun sekarang, arsip itu memiliki fungsi yang jauh lebih krusial baginya.

"Terima kasih, Siska. Tolong tinggalkan tabletnya di sini. Dan untuk sisa sore ini, tolong jangan biarkan siapa pun masuk ke ruangan saya, termasuk Pak Reza. Katakan saja saya sedang melakukan audit mendalam yang membutuhkan konsentrasi penuh," perintah Hani dengan nada tegas yang tidak biasa.

Siska tampak sedikit terkejut dengan perubahan sikap atasannya yang mendadak dingin dan serius, namun ia tetap mengangguk patuh. "Baik, Bu Hani. Saya akan pastikan tidak ada yang mengganggu."

Setelah pintu kembali tertutup, Hani langsung meraih tablet tersebut. Jarinya bergerak cepat di atas layar sentuh, membuka folder arsip kepegawaian dan dokumentasi kegiatan korporat Baskara Group pada tahun terjadinya kasus fitnah terhadap ayahnya.

Ia mencari daftar hadir, foto-foto dokumentasi rapat direksi, hingga laporan proyek bersama yang melibatkan Hendra Baskara pada masa itu. Hani membandingkan postur tubuh, gaya berpakaian, dan struktur wajah orang-orang di dalam arsip dengan pria ketiga misterius yang ada di foto cetak tuanya.

Jam dinding terus berdetak, melewati angka tiga, empat, hingga akhirnya pendar matahari sore mulai meredup di balik jendela kaca besar lantai lima. Hani mengabaikan rasa lapar dan lelahnya. Matanya mulai memerah akibat menatap layar tablet dan foto tua itu secara bergantian selama berjam-jam.

Hingga akhirnya, pada sebuah dokumen laporan pertanggungjawaban proyek pengadaan lahan delapan tahun lalu, jari Hani mendadak berhenti bergerak.

Di dalam dokumen digital tersebut, terdapat sebuah foto peresmian kerja sama yang tidak pernah dipublikasikan ke media massa. Di dalam foto itu, Hendra Baskara berdiri di samping seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas formal mahal.

Postur tubuhnya, cara pria itu menyilangkan tangan di depan dada, hingga struktur rahangnya yang tegas... sangat identik dengan pria ketiga yang dilingkari tinta merah di foto tua miliknya.

Hani menahan napasnya saat membaca keterangan nama yang tertulis di bawah foto digital tersebut.

Jantung Hani rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Nama yang tertera di sana bukanlah nama Narendra, bukan pula nama seseorang yang asing baginya. Pria itu adalah salah satu pemegang saham rahasia Baskara Group yang memiliki hubungan bisnis yang sangat kuat dengan keluarga Adiguna yaitu keluarga Rachel.

Sebuah pemahaman baru yang mengerikan mulai terbentuk di kepala Hani. Kasus fitnah ayahnya, keserakahan Hendra Baskara, bahkan perjodohan paksa antara Reza dan Rachel... semuanya tampak saling terhubung dalam satu jaring laba-laba konspirasi yang sama.

Tiba-tiba, ponsel Hani di atas meja kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal yang langsung membuat bulu kuduk Hani berdiri tegap.

“Kamu sudah melihat fotonya, Hani? Selamat datang di permainan yang sesungguhnya. Jangan percayai siapa pun di gedung itu, karena duri yang paling beracun sering kali tumbuh di tempat yang paling indah.”

Hani mencengkeram tepi meja kerjanya dengan erat, menatap keluar pintu kacanya yang memperlihatkan lorong kantor yang mulai sepi karena jam pulang kantor telah tiba.

Di bawah temaram lampu koridor, Hani menyadari bahwa posisinya sebagai Kepala Divisi Administrasi yang baru bukanlah sebuah akhir dari perjuangan, melainkan sebuah awal dari masuknya ia ke dalam sarang serigala yang sesungguhnya.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!