kiano nama nya, orang-orang seakan melihat seorang pangeran kejam dan dingin pada dirinya dan sifat nya tidak jauh melenceng dari tanggapan mereka.
ia hidup dengan banyaknya penghianat sisinya, membuat kepribadiannya berubah, apalagi masa lalu kelam yang ia rasakan.
semua yang ia lakukan selalu salah Dimata orang lain, orang bilang dendam yang kau simpan itu tidak ada gunanya, Dengan balas dendam apa akan membuat kau lega?, pertanyaan dari orang yang tidak pernah berada di sisi korban.
mereka hanya bisa berkata luka orang lain tidak ada apa-apanya dengan luka mereka, seakan mereka tau yang ia rasakan.
#bromance
#kejam
#dendam
#benci
#family
#luka
#penghianat
#no romance
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsun_09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4.let's play
DEG
"Hai adik manis apa kau sekarang mengingatku"ucap pria itu dengan seringaian yang Tampak mengerikan diwajah tampannya.
"K-kenapa kau..."kiano pemuda itu menatap pria yang didepannya dengan bibir dan bola matanya yang bergetar.
Entah apa yang pernah terjadi tapi terlihat jelas Dimata kiano terdapat emosi dan kebencian yang tak dapat dijelaskan.
___________________________
Walaupun setengah wajahnya tertutup oleh topeng tapi kiano dia Masih mampu hanya untuk sekedar mengetahui siapa sosok dibalik topeng itu.
salah satu bawahan seseorang pria yang ia kenal berhati iblis..
"Hei adik manis, berhentilah menatap ku seperti itu, bagaimana jika kita sedikit berbincang untuk melepas rasa rindu"ujar pria itu dengan senyum kecil yang terbit bibirnya, senyum kecil namun penuh makna.
"Apa kau kaget kenapa aku Masi hidup adik"tanya pemuda itu bernama callareze delvion yang biasa dipanggil tuan vion,dengan dagu yang diangkat sombongdan anggkuh.
"Kenapa bajingan gila sepertimu Masih hidup?"tanya kiano dengan tatapan datar dan aura membunuh yang menyelimutinya.
"Jika aku kejam,lalu kau apa?sadis,begitu adik"ucap pria itu terkekeh kecil.
"Hei,tenanglah,aku ingin mengajakmu bekerja sama kembali, bagaimana"ucapnya kembali ketika merasakan aura membunuh yang lebih pekat dari beberapa tahun lalu.
"Apa otakmu menyusut tuan delvion, sehingga mengajak target mu untuk bekerja sama,atau kau sudah tidak memiliki kekuasaan untuk kembali menghancurkanku"balas kiano menyeringai menyeramkan.
Entah sejak kapan remaja itu sudah berada dibelakang tuan delvion dengan tangan kanannya yang sibuk memutar mutar belati hitam kesayangannya.
"Lepas kan saya sialan!!"maki pria itu dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
"Lo takut pak tua"ucap kiano dengan alis yang terang satu melihat pria itu mengeram marah.
"Jika waktu itu kami gagal tapi sepertinya gue sendiri yang bakal ngantar Lo ke neraka"ucap kembali kiano.
Dapat terlihat mata bak elang remaja itu kini dipenuhi nafsu membunuh, seolah olah orang yang sedang berada digenggaman nya sekarang adalah suatu mainan yang akan menghiburnya kembali, ya kembali....
"Tidak akan menyenangkan jika kau mati sekarang,karena itu aku akan melepaskan mu hari ini"ujar kiano datar.
Delvion yang mendengarnya dibuat kebingungan walaupun sebenarnya dihatinya ada rasa lega walaupun hanya sedikit,entah kenapa aura remaja itu lebih mengerikan dari pertemuan berdarah mereka dulu.
"Gue gak bakal sendirian,kau tau itu maka berlarilah sejauhnya hingga waktu berdarah ronde dua akan dimulai"ucap kiano dingin ketika menyadari kebingungan pria itu.
Kiano remaja itu mengeluarkan bom asap lalu berlari menjauh dari dalam ruangan tadi yang membuat para bodyguard yang berada disana lumpuh seketika.
Ia sudah mengetahui rencana pak tua itu, walaupun hanya mampu menyewa 5 bodyguard paling banyak,mungkin pria itu benar benar bangkrut sekarang,itulah pikiran kiano.
Masi didepan gedung tadi kiano remaja itu mengeluarkan handphone nya menghungi seseorang yang entah siapa.
"Dia Masi hidup"ucap kiano dingin pada orang diseberang telpon.
"......."
"Paka tua itu harus menemani dia agar tak kesepian bukan"balas kiano pada orang diseberang telpon.
"......."
"Let's play a new game"ucap kiano tersenyum misterius lalu mematikan sambungan telponnya.
kaki nya melangkah meninggalkan gedung itu dengan wajah yang diselimuti kengerian.
Sementara orang diseberang sana terdiam beberapa detik sebelum beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut