NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Gaun Zamrud dan Riuh Dunia Luar

Hari yang dinantikan itu akhirnya tiba.

Atmosfer di dalam kamar utama Arumi terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya sejak pukul enam pagi. Lemari pakaian besar yang biasanya hanya diisi oleh pakaian-pakaian kasual sederhana, kini menampilkan sebuah gaun brokat modern berwarna emerald green—hijau zamrud—yang tergantung anggun di bagian paling depan.

Gaun yang beberapa waktu lalu dipilihkan oleh Renard dengan alasan kaku sebagai 'biaya operasional pernikahan kontrak' mereka.

Arumi berdiri di depan cermin, perlahan menarik ritsleting gaun tersebut ke atas.

Begitu kain sutra premium dan brokat halus itu melekat sempurna di tubuhnya, Arumi tertegun sejenak.

Potongan leher tinggi yang elegan serta siluet yang pas di pinggang membuat penampilannya malam ini benar-benar berubah. Warna hijau tua itu berpadu kontras dengan kulitnya yang bersih, memancarkan aura dewasa, bersahaja, namun tetap terlihat berkelas.

Sembari mematut diri di depan cermin, Arumi memulas lipstik berwarna salem tipis di bibirnya.

Pikirannya mendadak melayang kembali pada kejadian di butik tempo hari.

Ia tersenyum geli mengingat bagaimana kedua daun telinga Renard berubah merah padam hanya karena sebuah godaan kecil. Pria itu selalu menggunakan topeng arogansi dan dalih reputasi Wijaya Group untuk menutupi perhatian-perhatian kecil yang sebenarnya sangat tulus.

Tok, tok, tok.

"Nyonya Arumi, Tuan Muda sudah menunggu di lobi bawah. Mobilnya juga sudah siap," suara Bi Sumi terdengar dari balik pintu, membuyarkan lamunan Arumi.

"Iya, Bi. Saya segera turun," sahut Arumi sembari mengambil tas genggam kecil berwarna hitam yang senada dengan sepatu hak tingginya.

Ia menarik napas dalam-dalam, menata debaran aneh di dadanya yang belakangan ini kian sering muncul setiap kali ia akan berhadapan dengan suaminya.

Hari ini adalah acara yudisium sekaligus pertemuan formal dengan beberapa relasi penting universitas dan kolega bisnis Wijaya Group yang menyokong dana yayasan kampus.

Ini bukan lagi sekadar makan malam keluarga yang tertutup; ini adalah panggung publik pertama di mana Arumi harus berdiri tegak sebagai Nyonya Besar Wijaya di hadapan dunia luar.

Di lantai bawah, Renard Wijaya sedang berdiri gelisah di dekat pintu kaca besar yang menghadap ke halaman depan.

Pria itu tampak luar biasa gagah dengan setelan jas formal abu-abu gelap yang dipadukan dengan kemeja hitam di dalamnya.

Tangannya sesekali merapikan jam tangan kronograf mewah di pergelangan tangan kirinya, sementara kaki panjangnya melangkah bolak-balik di atas lantai marmer.

Mendengar suara ketukan halus sepatu hak tinggi yang menuruni anak tangga, Renard menghentikan langkahnya.

Ia menoleh perlahan.

Untuk kesekian kalinya dalam hidupnya, Renard merasa logikanya mendadak mogok bekerja selama beberapa detik.

Arumi berjalan turun dengan sangat anggun.

Gaun hijau zamrud yang ia pilihkan tempo hari tampak jauh lebih memukau saat melekat langsung di tubuh perempuan itu.

Rambut hitam Arumi ditata dengan gaya half-updo yang simpel, menyisakan sebagian rambutnya jatuh bergelombang di bahu. Tidak ada perhiasan berlian yang berlebihan, namun kesederhanaan itu justru memancarkan kelas tersendiri yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Renard mematung, matanya terkunci pada sosok Arumi yang kian mendekat.

Ada denyut aneh yang menghantam dadanya—sebuah perasaan bangga sekaligus debaran protektif yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, begitu jarak mereka hanya tersisa tiga langkah, Renard buru-buru berdeham keras, berusaha mati-matian merekatkan kembali topeng esnya yang hampir retak.

Ia memalingkan wajah ke arah pintu luar, meskipun rona merah tipis di ujung telinganya sama sekali tidak bisa berkompromi dengan perintah otaknya.

"Kamu terlambat lima menit," ketus Renard, mencoba mengembalikan wibawanya yang mendadak goyah. "Tapi... setidaknya kamu mendengarkan ucapanku. Gaun itu pas di tubuhmu. Tidak memalukan untuk dibawa ke acara formal."

Arumi tidak bisa menahan senyum tipisnya melihat tingkah laku pria di hadapannya.

Ia melangkah maju satu tapak lagi, menipiskan jarak aman mereka, lalu menatap Renard dengan pandangan jenaka yang penuh arti.

"Terima kasih atas pujian terselubungnya, Tuan Renard. Saya tahu Anda memiliki selera yang sangat baik, meskipun cara menyampaikannya selalu saja... unik," goda Arumi setengah berbisik, menekankan kata 'unik' dengan nada manis yang sengaja menggantung.

Renard tersentak kecil, langsung merapikan kerah jasnya yang sebenarnya sudah sangat rapi demi mengalihkan rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Jangan banyak bicara yang tidak penting. Ingat, di luar sana, banyak mata yang akan menilai kita. Jaga sikapmu."

Pria itu kemudian menekuk lengan kirinya, memberikan ruang bagi Arumi untuk melingkarkan tangannya di sana.

Arumi tersenyum patuh, lalu dengan perlahan menyelipkan jemarinya di sela lengan kokoh Renard.

Sentuhan fisik yang kini terasa semakin familier itu mengirimkan kehangatan instan yang membuat keduanya sempat terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya melangkah keluar menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu.

Gedung pertemuan hotel bintang lima di pusat kota malam itu tampak dipadati oleh mobil-mobil mewah.

Alunan musik klasik bergenre jazz mengalun lembut dari ruang auditorium utama, menyambut kedatangan para tamu undangan penting, rektorat, serta para pebisnis papan atas Jakarta.

Begitu mobil Renard berhenti di depan lobi utama, petugas valet dengan sigap membukakan pintu.

Renard turun terlebih dahulu, mengancingkan satu kancing jasnya dengan gerakan penuh wibawa, lalu berbalik untuk mengulurkan tangannya pada Arumi.

Arumi menyambut uluran tangan besar yang hangat itu, melangkah keluar dari mobil dengan dagu terangkat tegas namun tetap memulas senyum ramah.

Saat mereka melangkah memasuki ruang utama, riuh rendah suara obrolan mendadak menyurut di sekitar area pintu masuk.

Kehadiran seorang Renard Wijaya—CEO muda yang terkenal bertangan dingin dan jarang sekali menghadiri acara semi-akademis seperti ini—tentu saja langsung menjadi magnet perhatian.

Namun, yang jauh lebih mengejutkan bagi semua orang di ruangan itu adalah sosok wanita anggun bergaun hijau zamrud yang berjalan dengan tenang di sampingnya, menggamit lengannya dengan penuh rasa percaya diri.

"Astaga, itu Renard Wijaya? Dia benar-benar datang?" bisik salah seorang wanita sosialita di sudut ruangan.

"Siapa wanita di sebelahnya? Cantik sekali, auranya sangat tenang. Apakah itu istri yang selama ini dirumorkan?" sahut yang lain dengan nada penasaran yang kental.

Renard mengabaikan semua bisikan itu dengan wajah sedingin es.

Ia menuntun Arumi menuju barisan kursi depan yang telah disediakan khusus untuk para tamu VVIP dan donatur utama yayasan.

Sepanjang langkah mereka, Renard bisa merasakan bagaimana jemari Arumi sedikit mempererat genggamannya di lengannya—sebuah tanda kecil bahwa perempuan itu sebenarnya sedang merasa gugup di tengah lautan manusia yang menatap mereka dengan pandangan menilai.

Secara refleks, tanpa sadar dan tanpa ada di dalam skenario kontrak mereka, Renard meletakkan telapak tangan kanannya di atas punggung tangan Arumi yang berada di lengannya, memberikan remasan lembut yang menenangkan.

Arumi menoleh terkejut ke arah Renard.

Pria itu tidak menatapnya; ia tetap menatap lurus ke depan dengan rahang tegas yang mengeras.

Namun, tindakan spontan itu sudah lebih dari cukup untuk mengirimkan gelombang rasa aman yang luar biasa ke dalam hati Arumi.

Dinding es yang dibangun Renard perlahan-lahan memperlihatkan fungsi aslinya malam ini, bukan untuk menjauhkan Arumi, melainkan untuk menjadi perisai kokoh yang melindunginya dari dunia luar yang kejam.

"Tetaplah di sampingku," bisik Renard sangat rendah, nyaris tenggelam oleh suara musik, namun terdengar begitu mutlak di indra pendengaran Arumi.

"Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun malam ini. Biarkan aku yang menghadapi mereka."

Arumi mengangguk pelan, senyum tulusnya mengembang tanpa bisa ditahan lagi.

Di balik riuh dan dinginnya dunia luar, di tempat yang paling tidak terduga ini, Arumi menyadari satu hal yang pasti.

Hubungan yang awalnya mereka mulai di atas selembar kertas kontrak, kini perlahan-lahan telah mengakar dan menumbuhkan sesuatu yang jauh lebih nyata daripada apa yang tertulis di dalamnya.

Dan untuk pertama kalinya, baik Renard maupun Arumi, tidak ada lagi yang berniat untuk melarikan diri dari perasaan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!