Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Lani menatap Alex dengan mata penuh harap. Setelah beberapa saat diselimuti keheningan, ia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan, memecah kecanggungan di meja makan pagi itu.
“Mas, bagaimana perasaanmu hari ini? Aku sudah coba buat yang terbaik,” ucap Lani.
Alex menoleh, menatap wajah Lani yang tampak begitu tulus.
Ia memaksakan sebuah senyum kecil, meski hatinya masih terasa sangat berat oleh bayangan percakapan teleponnya dengan Mira semalam.
“Terima kasih, Lan. Sarapannya enak. Aku sangat menghargai usahamu,” jawab Alex.
Lani menggeser duduknya, lalu menggenggam jemari Alex di atas meja.
“Aku tahu kita sedang berada di masa yang susah, Mas. Tapi aku percaya kita bisa melewati semua ini bersama-sama. Kita masih punya harapan.”
Alex menatap tangan Lani yang mengapit jemarinya, merasakan kehangatan yang perlahan mulai mencoba mengisi kekosongan di dalam dadanya. Namun, keraguan kelam itu belum sepenuhnya enyah.
“Aku ingin begitu, Lan. Tapi aku juga bingung harus bagaimana menghadapi semuanya,” ucapnya pelan.
Lani mengangguk cepat, berusaha memahami beban suaminya.
"Kita hadapi semuanya bersama, Mas. Jangan menyerah sekarang.”
Alex menarik napas dalam-dalam. Perlahan, dinding pertahanannya yang sempat terkikis oleh hasutan Mira dan keluarganya mulai goyah oleh ketulusan sang istri.
Hatinya mulai terbuka kembali. “Baiklah, kita coba lagi, Lan. Untuk pernikahan kita.”
Lani tersenyum bahagia, merasakan secercah harapan yang sempat padam kini mulai menyala kembali di dalam dadanya.
Ia mempererat genggaman tangannya, lalu menatap Alex dengan binar mata yang cerah.
“Mas, kita bulan madu yuk? Semoga saja bulan madu kita kali ini bisa menghasilkan si kecil,” ujar Lani.
Alex tertegun sejenak, namun kemudian menganggukkan kepala bersama seulas senyum hangat.
“Aku, Setuju. Aku yang akan atur semuanya nanti. Kebetulan saat tanggal merah tiga hari besok, aku akan mengajakmu pergi ke Bali.”
Mendengar hal itu, Lani merasa hatinya menghangat dan dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa.
Pikiran tentang liburan berdua dan kesempatan baru untuk menata ulang pernikahan mereka membuatnya semakin bersemangat menghadapi hari-hari ke depan.
Pagi yang cerah menyambut Alex saat ia melangkah masuk ke area kantor.
Suasana kantor yang ramai dengan hiruk-pikuk karyawan yang sibuk sejenak membuat pikiran Alex sedikit teralihkan dari masalah pribadi yang membebaninya.
Namun, ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya begitu ia tiba di kubikel kerja.
Mira rupanya sudah berdiri menunggu di depan meja kerjanya dengan senyuman cerah yang merekah.
“Alex!” sapa Mira dengan penuh semangat.
“Besok kan libur panjang. Bagaimana kalau kita pergi liburan bersama? Pasti seru, kan? Kita bisa refreshing sejenak dari penatnya rutinitas kantor.”
Alex tersenyum tipis, berusaha menjaga sikapnya tetap profesional dan ramah sebagai rekan kerja.
Namun di dalam hati, kegelisahan mendadak menyergapnya karena ia telah menetapkan pilihan lain.
“Maaf, Mira,” jawab Alex dengan suara setenang mungkin.
“Aku sudah punya rencana liburan dengan Lani. Besok, aku dan Lani mau pergi ke Bali waktu libur panjang nanti.”
Wajah Mira yang tadinya cerah seketika berubah mendung dan menyiratkan kekecewaan yang kentara. Namun, sebagai wanita yang cerdik, ia dengan cepat menguasai diri dan kembali memaksakan senyum tipis.
“Oh, begitu ya. Ke Bali? Baguslah kalau begitu. Semoga kalian berdua bisa menikmati waktu kalian di sana,” ucap Mira.
Mita merasakan kecemburuan saat mendengar perkataan dari Alex.
Alex menatap lekat ke arah Mira, menyelusupkan rasa bersalah di dalam hatinya.
Ia tahu Mira menyimpan perasaan lebih padanya setelah kejadian malam itu, tetapi komitmen pagi laginya bersama Lani menuntutnya untuk tetap setia pada janji baru yang mereka bangun.
“Terima kasih, Mira. Aku harap kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu,” ucap Alex.
Mira hanya mengangguk pelan, berusaha menerima kenyataan pahit itu meski ego dan hatinya terluka.
Hari itu, Alex melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran yang sesekali bercabang.
Ia berusaha fokus pada dokumen di layar, tetapi rencana bulan madunya dengan Lani terus memenuhi benak—menjadi pengingat kuat akan janji dan harapan baru yang ingin ia perjuangkan kembali.
Detik demi detik berganti dan jam pulang kantor pun tiba.
Alex segera melajukan motornya menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah mereka berdua mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan bulan madu mereka ke Pulau Dewata.
Lani dengan riang mengemas pakaian-pakaian terbaiknya ke dalam koper, memilih gaun-gaun musim panas dan baju santai yang cocok untuk liburan di pantai.
Ia juga tidak lupa membawa perlengkapan mandi favorit suaminya dan menyiapkan beberapa kejutan kecil di dalam koper.
Senyum bahagia tak pernah sedetik pun lepas dari wajah cantiknya, membayangkan momen-momen romantis yang akan mereka rajut berdua tanpa gangguan siapa pun.
Di sisi lain, Alex mengurus hal-hal praktis dengan cekatan.
Ia memesan tiket pesawat terbaik, memastikan akomodasi vila yang nyaman dan privat, serta merencanakan beberapa destinasi wisata romantis yang ingin mereka kunjungi.
Meskipun terkadang bayangan masa lalu dan tekanan keluarganya sempat melintas, Alex berusaha keras fokus pada kesempatan emas ini untuk mempererat kembali hubungan mereka yang merenggang.
Di sela-sela kesibukan persiapan, mereka saling bertukar cerita dan tawa riang di ruang tengah, seolah kembali menemukan percikan kebahagiaan yang sempat hilang tertimbun konflik.
Lani bahkan memasak makanan favorit Alex sebagai bentuk perayaan kecil malam sebelum keberangkatan mereka.
Ketika malam tiba, mereka duduk bersama di sofa ruang tamu, membicarakan rencana perjalanan dengan penuh antusias sembari menatap brosur wisata.
Mereka membayangkan pantai berpasir putih, matahari terbenam yang magis, dan waktu tenang berdua yang sakral.
“Ini akan jadi kesempatan kita untuk mulai lagi dari awal, Mas,” kata Lani dengan penuh keyakinan, menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
“Aku percaya, bulan madu ini akan membawa berkah dan mukjizat bagi kita.”
Alex menggenggam tangan Lani erat-erat, merasakan kehangatan murni dan ketulusan istrinya meresap ke dalam pori-pori kulitnya.
Rasa cinta yang sempat memudar kini mulai bertunas kembali.
“Aku juga berharap begitu, Lan. Kita jalani semuanya bersama-sama.”
Persiapan matang mereka menjadi simbol dari tekad dan cinta yang tidak mudah pudar, meski badai masalah pernah nyaris menenggelamkan mereka.
Bulan madu ini bukan lagi sekadar pelesiran biasa, melainkan sebuah perjalanan hati menuju masa depan yang lebih baik.
Pagi-pagi sekali, Alex dan Lani sudah bersiap dengan binar semangat yang terpancar jelas di wajah mereka.
Tas dan koper telah terkemas rapi di bagasi, tiket dan dokumen perjalanan sudah di tangan, siap untuk memulai petualangan baru.
Di bandara, suasana di antara mereka terasa sangat berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.
Mereka berjalan berdampingan membelah lorong keberangkatan, saling menggenggam tangan tanpa ada keraguan, seolah melupakan sejenak segala beban berat yang selama ini menekan dada.
Senyum dan tawa kecil kembali mekar di bibir keduanya, membawa kembali kehangatan cinta yang dulu pernah menyatukan mereka.