Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan turun perlahan, membasahi tanah yang sunyi di pagi hari.
Di balik jendela kamar yang berembun, Lani duduk memeluk lututnya.
Sepi menggema di dalam dadanya, terasa lebih dingin dan menusuk daripada cuaca di luar.
"Bagaimana hasilnya? Apakah kamu hamil?" tanya Alex sambil menatap wajah istrinya.
Alex duduk di tepi ranjang, tangan menggenggam lututnya sendiri yang tampak bergetar.
Tatapannya tertuju lurus pada Lani yang berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi, menggenggam sebatang test pack dengan kedua tangan.
Lani tak langsung menjawabnya sampai air matanya basah.
Ia menggeleng pelan, bahkan merasa terlalu lelah hanya untuk menangis.
"Negatif lagi," bisiknya telanjur parau.
Alex menghela napas panjang, sebuah embusan kecewa yang berat.
Ia berdiri lalu berjalan ke arah jendela, membelakangi Lani.
Hujan di luar baru saja lebat, menambah sunyi yang kian membentang di antara mereka.
Sudah lima tahun mereka menanti buah hati mereka.
Mereka selalu berharap, berdoa, dan mencoba segala cara, namun jawaban yang datang selalu saja sama: kosong.
Lani ingin berkata sesuatu kepada suaminya untuk tetap percaya dan tidak menyerah, tetapi lidahnya mendadak kelu.
Hanya suara detak jam dinding yang terdengar saling menyusul, seolah sengaja mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, namun rahim Lani masih bergeming, tak kunjung memberi tanda kehidupan.
Alex akhirnya membuka suara tanpa membalikkan badan.
"Mungkin, kita perlu mempertimbangkan opsi lain." ucap Alex.
Lani menoleh cepat, raut wajahnya penuh tanya sekaligus cemas.
"Maksud, Mas Alex?" tanya Lani.
"Adopsi Atau mungkin, aku harus menikah lagi," jawab Alex dingin sambil menatap lurus ke kaca jendela yang basah.
Perkataan yang diucapkan oleh suaminya laksana pisau belati yang menghunjam tepat di dada Lani.
Ia tidak marah, melainkan hancur tak bersisa. Mungkin, ini adalah awal dari akhir yang selama ini paling ia takutkan dalam pernikahan mereka.
Lani memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan aliran air mata yang kini tak terbendung lagi.
Dalam hatinya yang terluka, Lani tersadar bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup jika yang satu terus berharap, sementara yang lain mulai menyerah.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Lani menatap Alex dengan mata memohon.
"Mas, kita pergi ke rumah sakit lagi, ya? Kita tanya dokter. Mungkin..."
Ia menggantungkan harapan pada kalimat yang belum selesai itu.
Mungkin ada jalan keluar dan masih ada cara Tuhan untuk menjawab doa mereka, meski terlambat.
Alex menoleh perlahan, menatap wajah Lani yang pucat namun menyiratkan keyakinan yang rapuh.
Ada sesuatu dalam tatapan istrinya yang sempat membuat hati Alex goyah, bimbang antara ingin terus bertahan atau memilih menyerah sekarang juga.
"Apa kamu masih kuat, Lan?" tanya Alex yang sudah lelah dengan semuanya.
Lani mengangguk cepat, menggenggam jemari Alex.
"Aku kuat, Mas. Asal kamu masih mau berjuang sama-sama." ucap Lani.
Alex tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar.
Di dalam lubuk hatinya, Alex tahu Lani belum menyerah.
Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri dimana hatinya sudah tidak sepenuhnya berada di kamar ini. Dan di sudut batinnya yang terdalam, ada satu nama lain yang mulai tumbuh diam-diam. Seseorang yang selama ini dekat atau terlalu dekat dengan kehidupan mereka.
“Aku berangkat kerja dulu. Nanti, Mas kabarin bisa atau tidaknya ke rumah sakit,” ucap Alex dingin sambil meraih jaketnya.
Lani hanya mengangguk lemah, menatap punggung suaminya yang berjalan gontai menuju pintu depan.
Kali ini, Alex keluar rumah tanpa mencium kening istrinya seperti ritual yang biasa ia lakukan.
Hanya suara pintu yang terdengar saat lelaki itu menutupnya rapat, meninggalkan ruang hampa yang kian mencekik Lani dalam kesendirian.
Lani berdiri terpaku, merasakan dinginnya penolakan terselubung yang makin menyiksa.
Hatinya penuh dengan pertanyaan, tetapi ia tahu satu hal bahwa hari ini bukan lagi hari yang biasa bagi pernikahan mereka.
Alex melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju rumah ibunya.
Pagi itu udara kota terasa sejuk setelah diguyur hujan, tetapi hati Alex justru diselimuti rasa enggan yang pekat.
Ia mendadak malas jika harus menyantap nasi goreng buatan Lani pagi ini.
Bukan karena masakan istrinya ya g tidak, melainkan karena suasana di rumah mereka belakangan ini terasa begitu berat, penuh dengan keheningan intimidatif yang membuatnya jengah.
Sesampainya di rumah sang ibu, aroma masakan yang hangat dan familier langsung menyambut indra penciumannya.
Alex duduk di meja makan tanpa semangat, membiarkan pikirannya melayang jauh.
Ia tahu, pagi ini bukan sekadar kunjungan sarapan biasa.
Ada keputusan besar yang harus segera ia ambil dari pernikahannya bersama Lani.
Baru saja Alex mendaratkan dirinya di kursi, ibu Narti masuk dari arah dapur membawa piring berisi nasi hangat dan lauk sederhana.
Wanita paruh baya itu menatap Alex dengan sorot mata yang tajam, seolah sudah bisa membaca beban yang bergelayut di pundak anak laki-lakinya.
“Alex, kamu nggak makan di rumah? Istri kamu nggak masak ya?” tanya Ibu Narti dengan nada menyindir Lani sambil menaruh piring di depan Alex.
Alex mengalihkan pandangan ke sembarang arah, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang bergejolak.
Ia memang sengaja datang pagi-pagi ke sini demi menghindari ketegangan dengan Lani.
“Iya, Bu. Aku ke sini sekalian mau sarapan,” jawab Alex singkat.
Ibu Narti menghela napas panjang, lalu mendengus sinis.
“Sudah nggak bisa hamil, malas masak pula. Itu semua karena kamu keras kepala nikah sama Lani dulu. Dari awal, Ibu memang nggak pernah suka sama dia.”
Alex menundukkan kepalanya sambil mendengarkan perkataan ibunya yang selalu menusuk tepat di bagian yang paling rapuh, terlebih di saat hatinya sedang goyah seperti sekarang.
Tak lama kemudian, Dimas, adik laki-laki Alex, ikut bergabung di meja makan.
Ia melirik ke arah kakaknya sambil menyunggingkan senyum sinis yang mengancam.
“Mas, kalau kamu sudah bosan sama masakan Lani yang itu-itu aja, aku bisa cariin juru masak lain yang jauh lebih segar, loh,” goda Dimas sambil tertawa kecil, penuh arti.
Ibu Narti terkekeh mendengar ucapan Dimas. Beliau memang selalu memihak anak-anak kandungnya dan diam-diam menyimpan sesal mendalam atas pernikahan Alex dan Lani.
Alex menatap bergantian wajah ibu dan adiknya, merasa semakin terasing di tengah keluarga sendiri.
Ia tahu sikap sinis mereka bukan tanpa alasan, tetapi tekanan ini justru membuat jurang pemisah antara dirinya dan Lani semakin lebar.
Ia kembali teringat wajah Lani yang sedih tadi pagi.
Istrinya yang terus berharap dan berusaha, tetapi seolah-olah apa pun yang dilakukan Lani tidak akan pernah cukup di mata keluarganya.
Alex mengusap wajah dengan kedua tangan, mencoba menghalau perasaan bersalah yang berkejaran dengan ego.
“Aku cuma ingin semuanya bisa lebih baik,” bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Setelah sarapan pagi yang diselimuti keheningan yang canggung, raut wajah Dimas berubah serius.
Ia menatap kakaknya dengan pandangan menuntut, tidak ada lagi nada bercanda di suaranya.
“Mas, jujur saja ya. Aku pikir kamu harus segera menceraikan Lani,” ucap Dimas pelan namun terdengar begitu tegas di telinga Alex.
“Kamu itu butuh anak, Mas. Dia sudah jelas-jelas mandul, dan tidak bisa memberikan kamu anak!”
Alex mendongakkan kepalanya sambil menatap Dimas dengan kilat tidak percaya.
Ucapan sang adik menusuk lebih dalam dari yang bisa ia antisipasi.
“Dimas, kamu nggak tahu apa-apa soal perjuangan Lani,” jawab Alex dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi.
"Dia sudah berusaha, dan aku juga—”
“Aku cuma bicara berdasarkan fakta yang aku lihat, Mas,” potong Dimas tanpa ragu sedikit pun.
“Kalau kamu terus bertahan sama dia, kamu hanya akan rugi waktu dan keturunan. Lagipula, sahabatnya Lani juga sudah menunggumu, kan? Dia jauh lebih jelas dan bisa memberikan apa yang kamu butuhkan.”
Alex kembali menundukkan kepalanya dengan perasaan campur aduk kini berkecamuk hebat di dalam dadanya; antara sisa-sisa cinta, rasa bersalah atas pengkhianatan yang mulai ia rintis, dan beban keluarga yang tak kunjung mereda.
Namun, Dimas belum mau berhenti untuk menghasut Alex.
“Ingat, Mas. Hidup itu pilihan. Kamu harus pilih yang terbaik buat masa depanmu sendiri, bukan buat orang lain.”
Alex hanya terdiam membisu, sementara di benaknya, bayangan masa depan yang rumit dan pahit mulai terlukis satu per satu.
Sisil, kakak perempuan Alex yang sejak tadi duduk membaca majalah tidak jauh dari meja makan, tiba-tiba ikut angkat suara dengan nada yang tidak kalah dingin.
“Benar apa kata Dimas,” ujarnya pelan, namun setiap katanya terasa mutlak.
“Kalau sudah menyangkut soal penerus keluarga, itu bukan perkara kecil yang bisa kamu sepelekan, Alex. Lani, sudah diberi waktu lima tahun, dan dia gagal menunjukkan kemampuannya sebagai seorang istri. Aku juga setuju, kamu harus segera melepaskan dia.”
Alex menatap Sisil dengan mata penuh kekecewaan.
Ia tidak menyangka bahwa darah dagingnya sendiri bisa berbicara sekejam itu tentang wanita yang masih berstatus istrinya.
“Kalian Tidak pernah tahu bagaimana hancurnya Lani setiap bulan,” balas Alex dengan suara berat dan parau.
“Tapi kalian malah menghakimi dia hanya dari apa yang belum bisa dia berikan.”
Sisil hanya mengangkat bahu acuh tak acuh, sama sekali tidak peduli dengan pembelaan lemah Alex.
“Ini demi kebaikan semua orang, Alex. Terutama demi kebaikanmu. Kamu juga berhak bahagia dan menimang anak. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam pernikahan mati yang tidak menghasilkan apa-apa.”
Alex menggenggam erat jemarinya di atas meja hingga memutih, berusaha meredam badai emosi yang berkecamuk di dalam dada.
Di satu sisi, nuraninya mendesak untuk membela Lani. Namun di sisi lain, tembok tekanan dari ibu dan saudara-saudaranya terasa terlalu tinggi dan kokoh untuk ia runtuhkan sendiri.