【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Sesampainya di sekolah, Tina tidak langsung mengambil sapu bulu atau kemoceng bulu ayam seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi. Alih-alih membersihkan debu-debu yang menempel di jendela atau merapikan buku-buku di rak dalam kelas, ia justru duduk terpaku di bangku panjang teras sekolah. Tatapannya lurus memandangi halaman PAUD yang sepi, namun pikirannya terbang jauh, tersangkut pada kaleng celengan yang kosong melompong di dalam lemarinya semalam. Keadaan jiwanya yang hancur membuat tubuhnya seolah kehilangan seluruh daya untuk bergerak.
Lamunan panjang yang menyiksa itu baru berakhir ketika sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya, disusul oleh suara cempreng yang sangat familier. Sosok itu adalah Ibu Guru Santi, rekan sejawatnya dalam mengajar di PAUD desa tersebut. Perempuan berusia 28 tahun itu berdiri di hadapan Tina dengan tas jinjing rajutnya, menatap Tina dengan dahi berkerut heran.
"Tina... Tina!" Panggil Santi, sedikit mengeraskan suaranya karena menyadari sang rekan tidak berkedip sejak tadi.
"A... ah, iya, Bu Santi," sahut Tina gelagapan, mengerjapkan matanya berulang kali untuk mengumpulkan kembali kesadarannya yang berceceran.
"Kamu kenapa, Tin? Masih pagi begini sudah melamun jauh sekali. Anak-anak sebentar lagi datang, lho. Kunci kelas mana? Biar kita buka pintu kelasnya, " tanya Santi sambil mengulurkan tangan.
Tina yang baru sadar sepenuhnya dari lamunan langsung dirayapi rasa panik. "Oh, iya, kunci... tunggu sebentar, Bu," jawabnya dengan suara serak. Jemarinya merogoh bagian dalam tas kainnya dengan tergesa-gesa, hingga beberapa lembar kertas draf yang diberikan Andry kemarin malam hampir ikut tertarik keluar. Setelah beberapa detik meraba-raba dengan cemas, barulah anak kunci kuningan itu berhasil ia temukan dan diserahkan kepada Santi.
Santi yang melihat tingkah aneh rekan mudanya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa bertanya lebih lanjut, ia memutar kunci, mendorong pintu kayu hingga berderit terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam kelas untuk mulai menyapu lantai.
Melihat Santi sudah mulai sibuk, rasa sungkan seketika menyergap dada Tina. Ia langsung berdiri, merapikan letak jilbabnya, dan bergegas masuk menyusul ke dalam ruangan kelas yang masih terasa agak dingin oleh sisa embun pagi.
"Santi..." panggil Tina lirih, menghampiri rekannya yang sedang mengayunkan sapu dengan penuh semangat.
"Iya, ada apa, Tin?" Sahut Santi tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Itu... tumben sekali kamu datang-datang langsung membersihkan kelas? Biasanya kan kamu paling anti menyapu pagi-pagi," tanya Tina, mencoba mencairkan suasana sekaligus mengalihkan rasa bersalahnya.
Santi menghentikan sabetan sapunya sejenak, lalu mendelik jenaka ke arah Tina. "Diam saja, rajinku lagi datang hari ini. Sudah, kamu rapikan meja yang di sebelah sana saja."
Tina tidak pernah tahu bahwa di balik semangat menggebu Santi pagi ini, ada alasan lain yang tersembunyi. Santi sengaja datang lebih awal karena sejak sore kemarin kupingnya sudah panas mendengar gosip dari ibu-ibu wali siswa. Kabar tentang seorang pria kota yang tampan, gagah, dan mengendarai mobil SUV hitam mewah yang datang menemui Tina di sekolah telah menyebar seperti api di atas rumput kering. Rasa penasaran Santi sudah membubung tinggi ke langit, dan ia tidak sabar untuk mengorek informasi langsung dari sumbernya.
Sembari pura-pura sibuk menata krayon di atas meja, Santi akhirnya membuka kartu. "Ah, Tina... kemarin katanya ada pria dari kota yang datang ke sekolah ini, ya? Itu siapa, sih? Ada urusan apa dia ke sini?"
*Deg.*
Pertanyaan Santi bagai hantaman palu yang mendarat tepat di atas kepala Tina. Kesadarannya mendadak pulih seratus persen, berkejaran dengan rasa panik yang kembali mencuat. "Oh, itu... dia datang buat..." Kalimat Tina menggantung di udara. Ingatannya mendadak berputar pada kejadian malam tadi, tentang hilangnya uang tabungannya, tangisan Ali, dan amarah Rika.
"Astaghfirullahal'adzim! Aku lupa tanya Abah semalam!" Jerit Tina pelan dalam hati, wajahnya seketika memucat. Ia baru menyadari bahwa karena kekacauan yang dibuat Fandi di rumah, ia sampai sepenuhnya lupa mendiskusikan draf kontrak dari Andry yang seharusnya diputuskan bersama.
"Tanya apa, Tin? Kok malah beristighfar begitu?" Tanya Santi makin penasaran, ia meletakkan sapunya dan berjalan mendekati meja Tina.
Tina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Itu... tentang tawaran Pak Andry yang datang kemarin, Bu. Beliau itu perwakilan dari sebuah yayasan besar di kota. Dia menawarkan bantuan yang sangat besar untuk sekolah kita, San. Dia mau merenovasi total gedung PAUD ini, mengganti semua atap yang bocor, dan membelikan alat peraga edukatif yang baru untuk anak-anak."
Mata Santi seketika berbinar mendengar kata 'renovasi total'. "Ya ampun, serius, Tin?! Wah, itu kan bagus sekali! Lalu, apa masalahnya sampai kamu kelihatan bingung begitu?"
"Masalahnya, ada syarat administratif yang mengikat, San," tutur Tina dengan nada berat. "Pihak yayasan meminta perwakilan guru dari sekolah kita untuk mengikuti pelatihan intensif di kota kabupaten selama satu bulan penuh terlebih dahulu. Dan aku... aku tidak bisa mengikutinya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kondisi ibuku dan urusan di rumahku sekarang? Semalam aku mau minta saran lebih lanjut dari Abah, tapi rumah sedang ada masalah besar, jadi aku lupa membicarakannya lagi."
Tina menjeda kalimatnya sejenak, memikirkan jalan keluar terbaik yang logis agar kesempatan emas untuk sekolah ini tidak lenyap begitu saja. "Dan rencananya... aku juga mau melaporkan hal ini ke Pakde selaku Kepala Desa sekaligus pembina PAUD kita. Kebetulan sekali kamu datang pagi hari ini, jadi pulang sekolah nanti, bagaimana kalau kita bersama-sama menghadap ke Pakde di kantor desa? Biar Pakde yang memberikan keputusan terbaik."
Santi langsung mengangguk setuju dengan mata yang masih berbinar penuh harap. "Setuju, Tin! Jangan sampai bantuan besar begini melayang begitu saja cuma karena kita bingung sendiri. Nanti siang kita langsung ke kantor desa!"
Siang harinya, atmosfer di dalam ruangan Kepala Desa terasa begitu formal namun hangat. Bau harum kopi hitam menyengat indra penciuman begitu Tina dan Santi dipersilakan duduk di kursi busa di depan meja kerja besar milik Pakde—panggilan akrab sang Kepala Desa. Di atas meja kerja yang rapi itu, Tina telah menggelar lembaran draf dokumen kontrak kerja yang sebelumnya diberikan oleh Andry.
"Jadi begitu, Pakde..." Tina memulai penjelasannya setelah menceritakan kronologi kedatangan Andry secara mendetail. "Pria itu namanya Pak Andry, perwakilan resmi dari Yayasan Nirwana Utama. Beliau menawarkan tentang perbaikan total sekolah desa kita. Mulai dari bangunan sampai fasilitas dalam kelas. Tapi, ada syarat yang sangat berat bagi saya pribadi... pihak mereka menuntut saya untuk mengikuti pelatihan di kota selama satu bulan penuh, dan saya benar-benar tidak bisa meninggalkannya, Pakde."
Pakde mendengarkan dengan saksama sembari membetulkan letak kacamata bacanya. Ia menatap lembaran draf kertas di hadapannya, membaca poin demi poin hak dan kewajiban yang tertera di sana dengan jeli. Pandangan matanya kemudian beralih, melirik ke arah Santi yang duduk tegang di samping Tina, lalu kembali menatap Tina.
Sebuah senyum bijaksana terukir di wajah paruh baya sang Kepala Desa. "Tina... kalau masalahnya hanya terletak pada pelatihan satu bulan di kota, sebenarnya solusinya tidak sesulit itu. Kan ada Santi di sini. Kalau kamu memang tidak bisa mengikuti kegiatan itu karena urusan keluarga di rumah, kenapa tidak Santi saja yang pergi menggantikanmu?"
Mendengar ucapan Pakde, Santi yang berada di samping Tina langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya berbinar cerah, dan ia langsung mengangguk-angguk setuju dengan cepat. "Ah, iya, Tina! Benar kata Pakde. Biar aku saja yang pergi ke kota untuk ikut pelatihan itu! Kebetulan aku kan belum berkeluarga dan tidak ada beban apa-apa di rumah. Aku bersedia sekali!"
Pakde kembali mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, menatap Tina dengan pandangan yang dalam. "Begini, Tina... kalau kita menolak mentah-mentah tawaran dari pria kota itu hanya karena masalah teknis pelatihan, dari mana lagi kita bisa menemukan dana yang sebesar ini untuk memperbaiki sekolah desa kita? Kamu tahu sendiri, kan, anggaran dari kabupaten untuk sektor PAUD tahun ini sangat terbatas. Kita tidak boleh egois membiarkan anak-anak desa belajar di bawah atap yang bocor setiap kali hujan turun."
Pakde menarik draf dokumen tersebut mendekat ke arahnya, lalu menyodorkan sebuah pulpen hitam ke dekat tangan Santi. "Jadi, mana dokumennya? Sini."
"Ini, Pakde," ucap Tina, menyerahkan lembar draf yang membutuhkan tanda tangan persetujuan mitra pengajar.
"Nah, Santi... tulis namamu di kolom perwakilan pengajar ini, dan bubuhkan tanda tanganmu di atas meterai," perintah Pakde dengan nada tegas yang mutlak. "Selain karena alasan keluarga Tina, secara aturan, kamu memang lebih senior darinya di PAUD ini, Santi. Jadi sudah sewajarnya kamu yang mengambil tanggung jawab untuk pengembangan kualifikasi ini ke kota."
Santi dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa senang yang membuncah segera menerima pulpen tersebut, menuliskan nama lengkapnya dengan rapi, dan membubuhkan tanda tangan yang sah di atas kertas dokumen milik yayasan Andry.
Melihat proses itu berjalan dengan cepat, Tina hanya bisa terdiam. Ada setitik rasa sesak yang aneh di dadanya saat melihat nama Santi kini resmi tertulis di sana, namun logika dan akal sehatnya segera menepis perasaan itu jauh-jauh. Ia melirik Pakde yang kini sedang menatapnya dengan binar mata seorang ayah yang penuh kasih sayang.
"Iya, Pakde... Tina mengerti," tutur Tina lembut, menganggukkan kepalanya dengan tulus.
Pakde tersenyum hangat, "Kamu jangan bersedih ya, Nak. Bapak bertindak begini bukan karena pilih kasih atau tidak menghargai kerjamu selama ini. Bapak sangat tahu bagaimana dedikasimu pada anak-anak desa kita. Tapi, Bapak juga tahu persis kondisi rumahmu sekarang... Bapak tahu kalau kamu pasti tidak akan bisa menerima ketenangan jika dipaksa pergi pelatihan sejauh itu dan meninggalkan orang tuamu sendirian. Ini adalah jalan keluar terbaik untuk kita semua."
Pembicaraan di dalam kantor desa itu pun akhirnya selesai dengan kesepakatan bulat. Begitu melangkah keluar dari gedung kantor desa menuju jalanan siang yang terik, Tina menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam dua hari ini, seulas senyum kelegaan yang tulus akhirnya kembali terbit di wajah kuyunya.
Hatinya kini bisa merasa sedikit lega. Ia tidak perlu lagi mencemaskan tentang keharusan pergi ke kota yang sempat mengunci kebebasannya, dan di saat yang sama, dana besar untuk perbaikan sekolah PAUD yang dicintainya pun tidak jadi melayang. Beban berat tentang Andry seolah-olah telah luruh dari pundaknya, meskipun Tina sama sekali tidak menyadari, bahwa perubahan nama di atas kertas kontrak itu justru akan membawa babak baru yang jauh lebih tak terduga bagi kehidupan mereka ke depan.