Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan di Ujung Keputusasaan
Hujan deras yang sedari tadi mengamuk perlahan mereda, hingga akhirnya butiran air terakhir jatuh menyentuh tanah yang becek. Langit mulai sedikit terang, meski awan kelabu masih menggantung tebal. Udara dingin sisa hujan menusuk hingga ke tulang, membuat suasana malam itu terasa makin sunyi dan sepi.
Syafa sudah terlelap pulas di dalam pelukan Aini. Napas anak kecil itu teratur, meski sesekali tubuh kecilnya masih menggigil halus sisa rasa dingin dan ketakutan tadi. Aini mengusap rambut putrinya yang basah kuyup, lalu memandang ke sekeliling dengan tatapan bingung dan cemas.
"Aku harus kemana...? Bisik hatinya.
"Uangku tak tak cukup untuk menyewa penginapan. Untuk makanpun hanya bisa bertahan beberapa hari saja."
Ia benar-benar tak tahu harus ke mana. Pikirannya kacau, di antara rasa lelah luar biasa karena mengandung 8 bulan, rasa sakit di pinggang, dan rasa takut akan masa depan yang tak pasti.
"Ke mana aku harus pergi? Bagaimana jika Dimas menemukanku? Apakah aku salah sudah lari dari rumah?"
Digigitnya bibir bawah sedikit kuat....sakit! Susah payah menahan air mata yang hampir menetes.
Aini menoleh kaget ketika terdengar langkah kaki cepat berlari mendekat ke arah halte. Sesosok tubuh melompat masuk ke bawah atap reyot itu, napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berjalan jauh, menghindari hujan yang sisa-sisanya masih turun rintik-rintik.
Di punggungnya tergantung sebuah keranjang besar yang sudah hitam kusam, berisi botol-botol plastik bekas, kardus, dan barang rongsokan lainnya. Tangan dan kakinya kotor terkena lumpur, pakaiannya sederhana dan tambal sulam. Ia adalah seorang pemulung.
Orang itu menoleh, dan matanya yang tajam namun ramah langsung menangkap sosok Aini yang duduk memeluk anaknya di sudut halte. Ia tertegun sejenak, lalu perlahan mendekat. Di bawah cahaya lampu jalan yang remang, Aini bisa melihat wajah wanita itu.....wanita paruh baya, keriput di sudut mata, tapi sorot matanya hangat dan tidak menakutkan. Wajah itu memancarkan ketulusan yang jarang ditemui orang di jalanan.
Wanita itu meletakkan keranjang beratnya ke lantai halte, lalu mengusap keringat di dahinya yang bercampur air hujan. Ia menatap lekat-lekat perut besar Aini, lalu ke arah Syafa yang tidur pulas.
"Lho... Nak, kok ada di sini sendirian malam-malam begini? Hujan-hujanan pula," suaranya terdengar ramah dan penuh rasa ingin tahu, tapi ada nada khawatir di sana.
Aini menundukkan wajah, menyembunyikan kebingungannya. "Iya, Bu... saya... kebetulan lewat. Terjebak hujan."
Wanita paruh baya itu menggeleng pelan, jelas tidak percaya sepenuhnya. Ia duduk agak mendekat, namun tetap memberi jarak sopan.
"Jangan bohong sama Ibu, ya. Nama saya Lilis, biasa dipanggil Bu Lilis sama orang sekitar sini. Kamu hamil besar begini, jalan kaki bawa anak kecil, bajunya basah kuyup, dan bawa tas seolah mau pindah. Ada masalah, ya?"
Pertanyaan sederhana itu langsung menusuk hati Aini. Ada sesuatu yang pecah di dadanya. Di hadapan orang asing ini, ia merasa tak perlu berpura-pura lagi. Rasa lelah, sedih, dan takut yang dipendamnya sedari tadi akhirnya menemukan celah untuk keluar.
Aini mengangguk pelan, air matanya akhirnya tumpah juga.
"Iya, Bu... Saya... lari dari rumah. Suami saya..."
Suaranya tercekat, sulit untuk melanjutkan. Sulit untuk menceritakan betapa kejamnya suaminya, betapa hancurnya hatinya karena anak sendiri mau dijual.
Bu Lilis tidak mendesak. Ia hanya mengelus punggung tangan Aini dengan lembut.
"Sudah, Nak... sudah, jangan dipaksa kalau berat. Ibu mengerti, pasti ada alasan berat sampai ibu hamil besar begini berani keluar rumah malam-malam begini. Dunia ini memang keras, tapi Tuhan tidak tidur."
Ia menatap langit yang mulai bersih, lalu kembali menatap Aini.
"Begini saja. Di sini berbahaya kalau kamu menginap. Banyak orang jahat lewat, apalagi melihat kondisi kamu yang lemah begini. Rumah Ibu tidak jauh dari sini, cuma gubuk kecil di pinggir kali, tidak mewah, cukup seadanya saja. Tapi kering, aman, dan ada atapnya. Kalau kamu mau, ikut Ibu saja ya? Istirahat di sana dulu sampai keadaan aman atau kamu punya rencana lain. Anggap saja Ibu punya anak perempuan lagi."
Tawaran itu begitu tulus, begitu sederhana, namun bagi Aini itu bagaikan cahaya di ujung kegelapan. Ia bingung, ragu, tapi ia sadar..... ia tak punya pilihan lain. Di jalanan ini, sendirian dengan kondisi seperti ini, bahaya bisa datang kapan saja. Dan entah mengapa, naluri Aini berkata bahwa Bu Lilis adalah orang baik, satu-satunya orang yang bisa ia percaya saat ini.
Aini mengusap air matanya, lalu menatap Bu Lilis dengan pandangan berterima kasih.
"Benarkah, Bu? Ibu mau menampung saya? Padahal Ibu baru kenal saya."
Bu Lilis tersenyum lebar, menampakkan giginya yang tinggal sedikit.
"Orang baik itu dilihat dari hatinya, bukan dari lamanya kenalan. Sudah, ayo berangkat. Sebentar lagi jalanan makin sepi dan gelap. Pegang erat anakmu, biar Ibu yang bawa tas berat ini."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Bu Lilis mengangkat tas besar milik Aini yang basah dan berat itu, lalu memanggul keranjang rongsokannya kembali.
Aini bangkit perlahan, memeluk Syafa yang masih tidur makin erat. Ia menatap ke arah jalanan yang gelap, ke arah tempat di mana rumah kontrakan dan Dimas berada. Hati kecilnya sedikit ragu, tapi ia menguatkan tekadnya kembali.
"Terima kasih banyak, Bu... Terima kasih," ucap Aini lirih.
Pelan tapi pasti, mereka berjalan beriringan menjauhi halte. Di belakang mereka, halte reyot itu kembali kosong dan sepi. Di depan sana, di ujung jalan setapak yang berlumpur, ada seberkas cahaya lampu minyak yang redup......gubuk Bu Lilis, tempat di mana Aini berharap bisa menemukan perlindungan sementara, dan mungkin, awal dari perjuangan baru untuk menyelamatkan nyawa anaknya yang sedang diincar banyak orang.
******
Malam makin larut, angin malam berhembus dingin menyusup lewat celah-celah papan dinding rumah kontrakan itu. Suara langkah kaki berat terdengar mendekat, diikuti bunyi kunci yang diputar kasar. Pintu depan terbuka keras hingga menabrak dinding, membuat gemboknya bergetar nyaris copot. Dimas masuk dengan napas memburu, wajahnya yang tadinya berseri-seri penuh harap kini berubah tegang.
Ia berniat tidur di rumah malam itu. Di kepalanya sudah terbayang uang tunai ratusan juta lagi yang akan diterimanya begitu bayi laki-laki itu berpindah tangan. Baginya, semuanya sudah beres, semua sudah diatur rapi. Aini wanita penurut, pasti ia akan menurut saja seperti biasa.
"Aini! Aini! aku pulang !" teriak Dimas keras-keras, suaranya menggema di ruang tengah yang sempit.
Hening. Tak ada jawaban. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar menjawab.
Dimas mengerutkan kening. Perasaannya mulai tak enak. Ia berjalan cepat ke dapur, melongok ke belakang rumah.
"Syafa... Aini...kalian dimana, hah?!" panggilnya lagi, nadanya mulai meninggi dan tak sabaran.
Masih sunyi.
Rumah itu terasa kosong dan dingin, berbeda dari biasanya, meski sederhana namun selalu ada suara langkah kaki Aini atau celoteh Syafa. Jantung Dimas mulai berdebar...aneh. Ia bergegas menuju pintu kamar tidur mereka yang terbuka sedikit.
"Aini? Tidur ya?" tanyanya pelan sambil menyingkap tirai pintu.
Kamar itu kosong. Tempat tidur yang beralaskan kasar busa tipis itu tersusun rapi, tak ada bekas orang tidur di sana. Dimas masuk perlahan , matanya liar meneliti setiap sudut ruangan. Pandangannya jatuh pada lemari kayu tua yang sudah lapuk, catnya mengelupas di sana-sini......satu-satunya tempat penyimpanan baju milik keluarga itu.
Dengan tangan yang mulai gemetar, Dimas menarik pintu lemari itu hingga terbuka lebar.
Kosong....!!!!!
Hampir seluruh bagian dalam lemari itu kosong melompong. Baju-baju sederhana milik Aini yang biasa tergantung rapi di sisi kiri, hilang. Kumpulan baju kecil dan celana warna-warni milik Syafa yang biasanya menumpuk di bawah, tak ada lagi yang tersisa selain dua potong baju lusuh yang sudah tak layak pakai. Bahkan kain selendang besar kesayangan Aini yang selalu dipakainya saat pergi ke mana-mana, juga lenyap.
Darah Dimas serasa mendidih sekaligus berhenti mengalir. Kakinya lemas, ia terpaku di depan lemari terbuka itu.
"Lari!!!!......Dia lari!!!!"
Kalimat itu berputar kencang di otaknya. Wanita lembut yang selalu menundukkan kepala, yang selalu menurut pada setiap kata-katanya, wanita yang ia kira tak berani melawan sedikit pun... berani meninggalkannya. Berani mengambil anaknya dan pergi tanpa sepengetahuannya.
Kenyataan itu menghantam egonya sekeras-kerasnya. Rasa kaget berubah menjadi kemarahan buta yang meledak tak bisa lagi dibendung. Wajah Dimas merah padam, urat lehernya menonjol menahan amarah.
"KURANG AJAR!!"
Teriaknya sekuat tenaga, suara raungannya memecah keheningan malam.
Tanpa pikir panjang, tangan kanannya menyambar toples kaca berisi gula di atas meja rias sederhana. Dengan penuh kekuatan, ia bantingkan toples itu ke lantai hingga pecah berantakan, gula putih berserakan bercampur pecahan kaca. Ia menginjak-injak sisa pecahan itu seolah-olah itu adalah tubuh istrinya sendiri.
"BERANI KAU PERGI! BERANI KAU AMBIL ANAK ITU DARI AKU!"
Dimas mengamuk tak terkendali. Ia menyambar bantal dan selimut di kasur, melemparnya ke seberang ruangan. Ia menendang bangku kayu kecil hingga roboh dan patah kakinya. Semua benda yang ada di kamar kecil itu menjadi sasaran kemarahannya. Gelas, piring, sisa makanan di meja, semuanya ia lempar, ia banting, ia hancurkan. Suara benturan dan pecahan benda terdengar bertubi-tubi, seolah ada perang di dalam rumah reyot itu.
Pikirannya kacau balau. Bukan karena rasa kehilangan istri atau rasa sayang pada anak, tapi karena rasa takut kehilangan uang besar yang sudah ada di depan mata. Dua ratus juta yang sudah masuk, dan dua ratus lima puluh juta lagi yang akan cair setelah penyerahan. Semuanya terancam hilang lenyap bersama perginya Aini dan perut besarnya.
"Kau pikir kau bisa lari dariku?! Kau pikir kau bisa sembunyi?!"
Dimas mencabik-cabik selembar kain di gantungan baju, napasnya tersengal berat, matanya melotot penuh kebencian.
"Kau bawa anak itu pergi... kau bawa hartaku pergi... Awas kau kalau ketahuan! Awas kau, Aini!"
Ia berjalan terhuyung-huyung di antara puing-puing barang yang hancur, lalu berhenti di depan lemari kosong itu lagi. Ia memegang pinggiran kayu lapuk itu dengan tangan gemetar......kali ini bukan karena marah, tapi karena panik luar biasa.
Ia ingat janjinya pada si pembeli tadi sore. Ia ingat ucapan di telepon.
"Besok sore kami tunggu penyerahan barang yang lengkap dan sehat."
Kalau Aini tak ditemukan besok... kalau bayi laki-laki itu tak ada di tangannya... ia bukan hanya rugi besar, tapi ia bisa celaka. Orang-orang yang berurusan dengannya bukanlah orang sembarangan. Mereka orang berkuasa, punya uang, dan tak segan bertindak kasar jika dirugikan.
Dimas menyisir rambutnya dengan kasar, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya yang tadinya angkuh kini berubah pucat pasi. Ia menatap kegelapan di luar jendela, ke arah jalanan yang sepi dan becek sisa hujan.
"Ke mana kau pergi, wanita bodoh..."
bisiknya dengan suara serak dan mengerikan.
"Kau kira kau bisa selamat? Kau kira kau bisa bawa anak itu pergi jauh? Aku akan cari kau sampai ke ujung dunia. Dan kalau sudah kutemukan... akan kuajarkan kau arti durhaka yang sesungguhnya."
Dimas berbalik arah, melangkah keluar dari kamar yang kini berantakan. Ia harus bergerak malam ini juga. Ia harus bertanya ke tetangga, ke jalanan, ke mana saja. Waktunya tinggal sedikit, dan nyawanya pun kini taruhannya.
*******