Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Adimas yang menyukai Nayyara.
"Kamu mau makan apa malam ini sayang?" Pria itu sengaja memanggil Nayyara sayang dengan keras dan mesra di eskalator mall, di belakang mereka banyak orang orang berjenis pria yang terus menatap Nayyara dengan penuh minat.
"Pakai maskermu... Ayo cepat" Arkanendra menoleh ke belakang sebentar dengan jutek, lalu memakaikan masker di wajah Nayyara sampai dia yang tadi sibuk menatap ponsel barunya kaget.
"Kamu mau makan apa hm?" Arka bertanya lagi setelah puas wajah wanitanya akhirnya tertutup masker. "Makan apa saja aku suka kok mas" jawab Nayyara datar, karena risih bahunya di peluk terus oleh Arka.
"Sungguh? Ah, bagaimana jika makan steak sirloin dan iga? Aku tahu restoran yang bagus di sini" Nayyara mengangguk pelan lalu ikut saja setelah Arka menarik tangannya, dia tak ingin lama berada di tangga itu Karena banyak pria di belakang mereka yang terus menatap Nayyara sejak tadi, sampai Arka cemburu dan kesal.
"Mata mereka sepertinya menganggur, tak lihat aku di sebelahmu menggandeng tanganmu ya? Aku hampir mencongkel mata orang baju biru itu, dia terus menatapmu seperti orang lapar.....dasar pak tua gila!"
Nayyara tertawa karena gerutuan panjang pacarnya itu setelah terlepas dari orang-orang gila tadi, dan Nayyara baru tahu jika pria itu sangat posesif, dia sadar sejak tadi dia di pandangi kumpulan pria di belakangnya yang juga saling berbisik ricuh.
"Mas terus dimana letak restoran steak yang kamu bilang tadi?" Nayyara tak menanggapi keluhan Arka tadi.
"Di lantai dasar, kita turun lagi dengan lift saja. Aku sudah reservasi tadi, ah aku sudah lapar sekali......" Kekeh Nayyara.
"Kamu lapar karena terus mengomel sejak tadi" Arka balas terkekeh sambil memijit dahinya. Memang karena lelah sejak tadi belanja, keliling mal luas ini untuk membeli apapun yang menurut dia pantas Nayyara pakai, dia jadi kelaparan. Tadi Arka memang hanya membeli dua dasi dan satu kemeja kerja karena dia merasa pakaian nya di lemari apartemen sudah sangat banyak.
"Dia Nayyara? Aku takkan salah lihat? Kok, dia bisa ada di sini sama siapa dia? Di galeri dan Sanggar gak pernah kelihatan?" Seorang pria dengan tubuh cukup berisi yang tadi berdiri tak jauh dari posisi gadis itu.
Pak Dewo memang tak terlalu kenal akrab dengan gadis itu, tapi keponakannya yang seorang pengacara terkenal sangat menyukai Nayyara, dan gadis itu juga berteman dekat dengan Shela anak dari om Dewo ini, dia om dari Adimas.
"Dengan siapa dia tadi? Aku harus menghubungi Adimas, dia harus tahu aku melihat Nayyara di mall ini sama laki-laki" Batin pria paruh baya itu.
"Om, serius tadi liat Nayyara!!"
"Ah Adimas, syukurlah kamu cepet datang juga!" Pria dengan tubuh berisi berumur sekitar 58 tahun itu mendesah lega ketika keponakannya, tepatnya anak dari kakak sulungnya Adimas akhirnya datang ke mall ini, setelah hampir lima belas menit lalu di menghubungi keponakannya itu.
"Om seriusan tadi melihat Nayyara di sini?"
"Iya, karena itu aku buru-buru menelponmu setelah melihat gadis itu"
"Aish dia kemana saja sebenarnya? Apa tak tahu aku cemas sekali dia nggak ada dirumahnya, mana di galeri dan Sanggar juga gak pernah datang, apa dia nggak tau di luar sana bisa-bisa dia di intai siluman atau vampir, bagaimana jika dia sampai celaka dan jadi santapan vampir, aish dasar masih saja nggak tahu bocah itu, kalo aku sering kuatir padanya"
Om Dewo hanya tersenyum menanggapi Omelan Adimas. "Aku juga kaget waktu melihatnya di sini, tadi aku tak bisa mengikuti dia karena di sekeliling kami ramai sekali, tapi karena posisinya dekat aku bisa melacak keberadaannya"
"Syukurlah, ayo kita temui dia" Adimas hampir berjalan duluan sebelum om Dewo kemudian mengingatkan.
"Dim tunggu!! Nayyara tadi bersama seorang pria, hati-hati lah aku takut kalau yang bersamanya tadi itu pacarnya, mereka terlihat mesra sekali tadi"
"Hah? Sungguh om?" Adimas terkejut dan melotot lebar, dia langsung cemburu dan kesal.
"Apa mungkin dia sudah punya pacar? Kok aku gak tau...." Pria itu mengusap tengkuknya kaget, baru kali ini dia mendengar Nayyara punya pacar setelah hampir lima tahun dia mengenal gadis itu sejak dia masih SMA dan sudah berteman dengan Shela.
Sebenarnya Nayyara tak pernah terlihat Sama sekali punya pacar. Adimas sudah lama menyukai Nayyara, sejak gadis itu SMA lalu berkuliah di di jurusan seni rupa dan satu fakultas dengan adik sepupunya, Adimas sudah menyukainya. Nayyara sekarang yang baru berumur 23 tahun Agustus lalu itu, benar-benar menguras habis semua atensi Adimas.
Dengan segenap tenaga selama ini Adimas sebenarnya juga selalu melindungi Nayyara diam-diam, dari makhluk jahat manapun, yang dia tahu pasti mengincar gadis itu sejak dua tahun lalu.
Sebenarnya Adimas bisa saja menghisap juga energi murni dari gadis itu agar dia menjadi siluman Wolf yang sempurna dan tak terkalahkan oleh siapapun, hanya saja Adimas tak mau melakukannya, dia takkan sudi membunuh gadis yang dia cintai, apalagi menghisap energinya.
Semua perlindungan dan pengawasan untuk Nayyara selama ini, Adimas lakukan karena cinta, meski perasaan nya tak pernah di balas sama sekali oleh Nayyara yang hanya menganggapnya sosok kakak saja.
"Aku takut kamu ribut dengan pacarnya jika kita datang tiba-tiba, hati-hatilah, sepertinya aku juga mencium bau yang aneh dari pria yang bersama Nayyara itu" Adimas melotot kaget.
"Aish apa om, apa dia siluman atau Vampir?! Kenapa Nayyara bisa semudah itu berhubungan dengan orang asing?"
"Bukan sih, aku yakin pria itu bukan siluman, apalagi vampir, dari bau darahnya menunjukkan dia bukan siluman, tapi hati-hatilah siapa tahu dia monster yang menyamar atau Jangan-jangan ~"
"Aish menyebalkan!" Adimas ngeloyor pergi sebelum pak Dewo menjelaskan lagi.
"Yak Adimas tungguin om!" Keponakannya itu malah sudah pergi duluan.
"Siapa sih memangnya dia itu? Mau siluman atau dewa aku tak mau Nayyara punya pacar selain aku" Pak Dewo hanya menggeleng kesal lalu mengikuti Adimas yang berjalan duluan di depan. Mereka akan mencari Nayyara yang katanya sudah pak Dewo temukan posisinya saat ini.
Setelah makan malam berdua dan puas berbelanja Arka membawa Nayyara pulang ke apartemen lagi, dia juga tak terlalu tenang dan was-was jika membawa gadis itu keluyuran di luar terlalu lama sampai malam, sementara lebih aman jika mereka berada di apartemen.
Dengan santai Arka mengemudikan mobilnya melalui jalanan ibukota yang malam ini masih terlihat ramai karena memang baru jam sembilan malam.
Sesekali dia menoleh pada gadis itu yang terlihat antusias terus melihati ponsel barunya sembari sesekali menyedot kopinya, dia juga memakan kentang goreng yang ada di pangkuannya, benda canggih itu memang baru Arka belikan di mall tadi.
"Seperti nya ponselmu itu lebih menarik ya daripada pacarmu?" Arka mengeluh meski Nayyara terkekeh lalu menyodorkan kopi vanilla lattenya pada pria itu. Dengan senang hati Arka meminum juga kopi itu.
"Aku belum pernah punya ponsel sebagus ini, kamu harus maklum jika aku antusias mas, makasih ya"
"Iya baiklah, lihat saja sepuasnya aku takkan protes lagi" Pria itu memajukan bibirnya dan terlihat imut sekali, sampai Nayyara baru sadar jika pak Jaksa itu ternyata manja dan suka ngambek.
"Ya ampun mas, masa kamu cemburu dengan HP ku? Terima kasih karena sudah membelikannya tadi" Gadis itu tersenyum dan mengusap rahang tegas Arka yang masih memajukan bibirnya, tiba tiba Arka menambah kecepatan mobilnya dan menyetir sedikit kasar dan ugal ugalan sampai Nayyara kaget, ada apa ini kenapa tiba-tiba pacarnya seperti panik.