NovelToon NovelToon
ARCHEON : THE LAST SIGIL

ARCHEON : THE LAST SIGIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Kenken77

Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

​Di barat Archeon kini terbuka dimensi yang seperti luka robek.

​Dahulu, pesisir Azure Coast adalah tempat di mana matahari tenggelam dengan megah di cakrawala, meninggalkan jejak cahaya jingga di atas ombak yang tenang. Namun sekarang, air laut telah berubah menjadi kental dan berwarna keunguan, membusuk dengan aroma belerang yang menusuk hidung. Di tengah laut, pilar cahaya hitam yang dilihat Kael dari jauh kini berdiri tegak menantang langit—sebuah pusaran energi yang dikenal dalam teks-teks kuno terlarang sebagai Gerbang Abisal.

​Jatuhnya Benua Celestia ke bumi bukan hanya sebuah peristiwa geofisika. Berat dari benua suci itu telah menekan kerak bumi sedemikian rupa hingga memecahkan segel-segel primordial yang diletakkan oleh para Pencipta di Era Pertama. Segel itu berfungsi untuk mengunci Legiun Abisal, entitas-entitas yang ada sebelum cahaya dan kegelapan dipisahkan.

​Kael tiba di pesisir Onyx Bay saat senja perak mulai memudar. Pemandangan di depannya adalah neraka yang nyata. Desa nelayan yang tadinya damai telah rata dengan tanah. Namun, bangunan-bangunan itu tidak hancur karena api atau ledakan, mereka tampak seperti dicerna oleh asam raksasa. Kayu-kayunya melunak dan meleleh, sementara jasad manusia yang tertinggal telah berubah menjadi patung kristal hitam yang mengerikan.

​Dari balik kabut laut yang berbau kematian, sosok-sosok mulai bermunculan.

​Mereka tidak memiliki kulit. Tubuh mereka terdiri dari otot-otot yang terekspos dan tulang-tulang yang tumbuh di luar seperti zirah alami. Mata mereka tidak memiliki pupil, hanya lubang kosong yang memancarkan uap hitam. Mereka adalah Abyssal Ravagers, prajurit garis depan dari kedalaman terdalam.

​"Indah, bukan?" Umbra muncul di samping Kael, bayangannya tampak lebih solid di tempat yang penuh energi negatif ini. "Mereka adalah sepupumu, Kael. Makhluk yang lahir dari ketiadaan murni. Mereka tidak lapar akan mana... mereka lapar akan keberadaan."

​"Mereka adalah kekacauan yang tidak terkendali," jawab Kael dingin. Ia mengepalkan tangan kirinya. Sigil di punggung tangannya merespons dengan getaran yang menyakitkan. Keenam garis itu menyala dengan warna ungu yang sangat pekat, hampir mendekati hitam.

​Salah satu Ravager menyadari kehadiran Kael. Makhluk itu mengeluarkan suara melengking yang merobek frekuensi udara dan melesat maju dengan kecepatan yang mengerikan. Tangan makhluk itu berubah menjadi bilah tulang tajam yang mengarah tepat ke leher Kael.

​Kael bahkan tidak menoleh.

​"VOID BINDING."

​Seketika, bayangan dari reruntuhan di sekitar Kael melonjak seperti tentakel, menangkap makhluk itu di tengah udara. Tekanan gravitasi yang dihasilkan Kael begitu kuat hingga tulang-tulang luar Ravager itu mulai retak. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Bukannya hancur dan lenyap seperti musuh-musuh Kael sebelumnya, makhluk itu justru tertawa—sebuah suara seperti gesekan batu makam.

​Tubuh Ravager itu mulai menyerap energi Void milik Kael.

​"Apa?" Kael menyipitkan matanya.

​"Sudah kubilang, Kael..." Umbra terkekeh. "Kau tidak bisa membunuh ketiadaan dengan kehampaan. Mereka adalah bagian dari substansi yang sama denganmu. Kau memberinya makan."

​Kael menyadari kesalahannya. Selama ini, ia menang karena kekuatannya berada di puncak hierarki energi Archeon. Namun, Legiun Abisal bukan berasal dari sistem energi yang sama. Mereka adalah anti-materi.

​Ravager itu meledakkan diri dari ikatan bayangan Kael, kini ukurannya bertambah besar karena telah menyerap mana Void. Ia menyerang kembali dengan kekuatan ganda.

​Kael menarik napas panjang. Jika ia tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan, ia harus menggunakannya untuk memanipulasi. Ia mengingat sensasi saat ia membuka Garis Ketujuh—Genesis. Kemampuan untuk mengubah struktur realitas.

​Kael tidak melepaskan mana hitam. Sebaliknya, ia menarik semua energi di sekitarnya masuk ke dalam dirinya, menciptakan sebuah vakum mutlak.

​"VOID COLLAPSE: SINGULAR POINT."

​Saat Ravager itu mendekat, ia tidak menabrak perisai, melainkan menabrak sebuah titik di mana ruang tidak lagi ada. Makhluk itu tidak hancur; ia terlipat ke dalam dirinya sendiri, menghilang dari dimensi ini karena Kael telah menghapus "koordinat" tempat makhluk itu berada.

​Namun, itu baru satu. Di belakangnya, ratusan, bahkan ribuan Ravager lain mulai merangkak keluar dari laut. Dan di tengah pusaran cahaya hitam di cakrawala, sebuah sosok raksasa mulai muncul.

​Udara mendadak menjadi sangat dingin hingga es mulai terbentuk di permukaan laut yang membusuk. Sesosok entitas setinggi sepuluh meter melangkah keluar dari air. Ia memiliki empat sayap yang tampak seperti robekan kain kafan dan memegang sabit raksasa yang terbuat dari tulang dewa yang telah lama mati.

​"Kael... Ravenhart..." entitas itu berbicara. Suaranya bukan berasal dari mulut, melainkan bergema langsung di dalam pikiran Kael. "Pembuka gerbang... penghancur langit... kami datang untuk berterima kasih."

​"Aku tidak membuka gerbang ini untukmu, Malphas," balas Kael. Ia mengenal nama itu dari ingatan purba Sigil. Malphas adalah salah satu dari tiga penguasa Abisal yang pernah berperang melawan para Pencipta.

​"Pilihanmu tidak relevan," Malphas mengangkat sabitnya. "Dunia ini telah lama merindukan keheningan yang sejati. Cahaya matahari perakmu adalah polusi yang harus dibersihkan. Kami akan mengembalikan Archeon menjadi debu bintang yang sunyi."

​Malphas mengayunkan sabitnya. Sebuah gelombang kejut berwarna kelabu menyapu pantai. Segala sesuatu yang disentuhnya—batu, sisa bangunan, pasir—langsung berubah menjadi debu halus tanpa suara.

​Kael melompat tinggi ke udara. Ia menyadari bahwa jika ia bertarung secara langsung, pantai ini akan menjadi kuburannya. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat. Ia butuh menghubungkan kembali enam garisnya dengan esensi matahari perak di langit.

​"Liora, kuharap kau mendengarku," bisik Kael.

​Jauh di Convergence City, Liora Ashveil yang sedang memimpin evakuasi tiba-tiba merasakan dadanya hangat. Ia menatap matahari perak di langit. Sebagai mantan penyihir api suci dan orang yang membantu Kael menciptakan matahari itu, ia masih memiliki ikatan emosional dengan sumber cahaya tersebut.

​"Kael sedang dalam masalah," Liora menyadari. Ia segera duduk bersila di tengah kekacauan pengungsian, memejamkan mata, dan merentangkan tangannya. "Ambil apa yang kau butuhkan, Kael. Ambil semuanya."

​Di pantai Barat, Kael merasakan aliran energi hangat turun dari langit. Matahari perak di atas sana mulai bersinar lebih terang, mengirimkan seberkas cahaya murni langsung ke tubuh Kael.

​Seketika, aura Kael berubah. Kabut hitam yang biasanya menyelimutinya kini bercampur dengan api perak yang dingin. Ini adalah bentuk energi baru: Celestial Void.

​Sigil di tangan Kael tidak lagi berwarna ungu atau hitam, melainkan berubah menjadi putih-perak yang menyilaukan.

​"Apa ini?!" Malphas meraung, menutup matanya yang sensitif terhadap cahaya baru tersebut. "Cahaya dan Kehampaan tidak bisa menyatu! Itu adalah anomali!"

​"Itulah yang kalian lewatkan," Kael mendarat di atas permukaan laut yang hitam, kini air di bawah kakinya memutih dan memurnikan diri. "Dunia ini bukan lagi tentang satu sisi. Ini adalah tentang keseimbangan yang dipaksakan."

​Kael melesat maju. Kali ini kecepatannya melampaui batas cahaya. Ia muncul di depan Malphas dan menghantamkan tinjunya yang diselimuti api perak ke dada sang raksasa.

​"CELESTIAL VOID: NOVA."

​Ledakan yang terjadi tidak berwarna hitam. Itu adalah ledakan cahaya putih yang di dalamnya terdapat inti gravitasi hitam. Serangan itu merobek struktur atom Malphas. Sang Panglima Abisal itu menjerit saat tubuhnya mulai memudar, bukan terhisap ke dalam kehampaan, melainkan "dibatalkan" dari realitas.

​"Ini belum berakhir, Ravenhart..." Malphas menghilang menjadi partikel cahaya perak yang jatuh ke laut. "Gerbangnya... sudah terbuka sepenuhnya..."

​Setelah Malphas lenyap, ribuan Ravager lainnya mundur kembali ke dalam laut, ketakutan oleh energi baru Kael. Pilar cahaya hitam di tengah samudera sedikit meredup, namun tidak tertutup.

​Kael berlutut di pantai, napasnya tersengal parah. Menggunakan energi matahari perak dan menyatukannya dengan Void telah menguras stamina fisiknya. Rambut hitamnya kini memiliki beberapa helai warna putih perak, dan matanya kembali ke warna manusia, namun tampak sangat lelah.

​"Kau bermain dengan api, Kael," Umbra muncul, kali ini ekspresinya tampak cemas. "Menyatukan dua kutub itu... kau sedang menghancurkan wadahmu sendiri. Jika kau melakukannya lagi, tubuh manusiamu akan hancur menjadi energi murni."

​"Jika itu yang dibutuhkan untuk menjaga mereka tetap aman, biarlah," jawab Kael lemah.

​Tiba-tiba, dari arah laut, sebuah botol kaca terdampar di dekat kaki Kael. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan perkamen yang memancarkan aura kuno. Kael mengambilnya dan membukanya.

​Isinya adalah sebuah peta menuju Deepest Trench, tempat di mana jantung dari Gerbang Abisal berada. Dan di bawah peta itu ada tulisan singkat dalam bahasa yang hanya Kael pahami:

​"Keseimbangan membutuhkan pengorbanan. Sang Pencipta menantimu di dasar dunia."

​Kael berdiri, menatap matahari perak yang mulai tenggelam. Ia tahu bahwa pertempuran tadi hanyalah sebuah peringatan. Legiun Abisal tidak akan berhenti sampai Archeon kembali ke ketiadaan.

​Ia harus pergi ke dasar laut. Ia harus menghadapi apa pun yang ada di balik gerbang itu sebelum Legiun tersebut sepenuhnya keluar ke dunianya.

​Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa melakukannya sendirian. Energi Celestial Void tadi membuktikan bahwa ia membutuhkan Liora. Ia membutuhkan "jangkar" manusianya agar tidak tersesat di dalam kegelapan yang tak berujung.

​Kael berbalik, meninggalkan pantai yang kini sunyi. Ia akan kembali ke Convergence City. Ia akan mengumpulkan sisa-sisa pahlawan dunia—mereka yang pernah ia kalahkan, mereka yang membencinya, dan mereka yang ia cintai.

​"Vorgas, bangunlah," perintah Kael melalui ikatan batinnya.

​Jauh di Valley of Convergence, patung obsidian Vorgas mulai retak. Sang Jenderal bangkit kembali, matanya menyala dengan api ungu.

​"Dunia butuh pasukannya kembali," ucap Kael pada angin malam. "Tapi kali ini, kita tidak berperang untuk menaklukkan. Kita berperang agar besok pagi matahari perak itu masih bisa terbit."

​Kael Ravenhart mulai berjalan, bayangannya memanjang di bawah sinar bulan yang baru. Ia adalah Sang Kaisar, Sang Penghancur, dan kini... Sang Pelindung. Dan di dalam hatinya, ia tahu bahwa babak paling berdarah dalam sejarah Archeon baru saja dimulai.

1
Prety Chiky
semangat terus tor
Ivah Maria ulpah
Mc yg jdi villain hhmmm boleh juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!