Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suasana di warung lalapan itu terasa semakin akrab.
Bunyi gesekan sendi di atas piring tanah liat dan suara bising kendaraan yang lewat di jalan raya seolah menjadi musik latar yang sempurna bagi mereka malam ini.
Jati menyuap nasi dengan tangan, tampak sangat menikmati setiap kunyahan.
Wajahnya yang semula tenang kini terlihat sangat antusias.
"Ini enak sekali, Tryas. Beneran enak," ucap Jati dengan nada tulus, matanya berbinar menatap sambal yang tersisa di piringnya.
"Aku tidak menyangka kamu tahu tempat tersembunyi seperti ini."
Gayuh tersenyum bangga, ada kepuasan tersendiri melihat pria di depannya tidak menjaga imej sama sekali.
"Bener aku, kan? Lalapan di sini memang juara. Sambalnya itu yang bikin nagih."
Jati terkekeh, lalu ia memanggil penjual lalapan yang sibuk di balik kepulan asap penggorengan.
"Mas, tambah nasi satu porsi lagi dan ayam gorengnya satu ya!"
Setelah pesanan tambahannya datang, Jati menoleh ke arah Gayuh yang sudah hampir menyelesaikan makannya.
"Sudah, ayo kita makan lagi. Jangan biarkan nasi ini kesepian," canda Jati sambil menyodorkan piring barunya.
Gayuh tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu di telinga Jati.
ia memperhatikan bagaimana seorang pria yang "katanya" hanya tukang ojol ini bisa bersikap begitu luwes dan lahap.
Tidak ada kesan kaku atau membosankan seperti yang dituduhkan Tryas.
Di bawah lampu neon warung yang sedikit berkedip, Gayuh diam-diam mengamati garis wajah Jati.
Ada wibawa yang terpancar meski Jati hanya mengenakan pakaian sederhana.
Hati Gayuh berdesir; ia mulai merasa terjebak dalam permainannya sendiri. Bagaimana mungkin pria sehebat ini disia-siakan oleh Tryas?
"Kenapa melihatku begitu? Apa ada sambal di pipiku?" tanya Jati sambil meraba wajahnya, membuat Gayuh tersentak dari lamunannya.
"Eh, tidak ada," jawab Gayuh cepat, wajahnya merona merah.
"Hanya senang saja melihatmu makan selahap itu."
Jati hanya tersenyum simpul, kembali melanjutkan makannya.
Ia tidak tahu bahwa wanita yang menemaninya malam ini bukanlah sang pewaris kaya yang angkuh, melainkan seorang penulis sederhana yang perlahan mulai jatuh hati pada kesederhanaannya.
Malam yang terasa singkat itu akhirnya harus berakhir.
Setelah menghabiskan sepiring penuh lalapan dan tawa yang tak terduga, Gayuh melirik jam tangannya.
Ia harus segera mengakhiri sandiwara ini sebelum ia tenggelam terlalu jauh dalam pesona Jati.
"Sudah malam, aku pamit pulang dulu ya, Jat," ucap Gayuh sambil merapikan tasnya.
Jati segera ikut berdiri, ia membersihkan tangannya dengan tisu.
"Aku antar pulang ya? Sudah tidak aman bagi wanita keluyuran malam-malam sendirian."
Gayuh seketika menegang. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.
Jika ia mengiyakan tawaran itu, Jati pasti akan mengantarnya ke alamat rumah keluarga Adiguna—rumah mewah milik Tryas. Penyamarannya akan terbongkar dalam sekejap jika ia tidak tahu di mana gerbang rumah itu berada.
Gayuh menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Jat. Terima kasih banyak. Aku masih ada acara lain setelah ini," ucap Gayuh mencoba mencari alasan paling masuk akal bagi seorang sosialita seperti Tryas.
"Acara jam segini?" tanya Jati, keningnya sedikit berkerut heran.
"Iya, temanku ada yang ulang tahun di daerah selatan. Aku sudah janji. Itu, taksinya sudah datang!" seru Gayuh saat melihat sebuah taksi kosong melintas.
Ia segera melambaikan tangan dengan terburu-buru.
"Hati-hati, Tryas. Kabari aku kalau sudah sampai," teriak Jati pelan sambil menatap taksi yang membawa Gayuh pergi.
Ia berdiri diam di samping motor tuanya, tersenyum tipis sambil memegang ponsel yang kini menyimpan nomor wanita yang menurutnya sangat luar biasa itu.
Sementara itu, di sebuah klub malam yang bising dengan dentuman musik EDM dan lampu neon yang menyilaukan, Tryas sedang menyesap minumannya dengan gaya elegan.
Di sekelilingnya, teman-teman sosialitanya sedang asyik berdansa, namun pikiran Tryas tertuju pada hal lain.
Ia meletakkan gelas kristalnya di meja, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat sinis.
"Gayuh, Gayuh... sahabatku yang bodoh," gumam Tryas pelan, hampir tenggelam oleh suara musik.
Ia membayangkan wajah melas Gayuh yang harus duduk di warung pinggir jalan atau berboncengan motor dengan pria yang ia anggap "kuno".
"Mungkin sekarang ia sedang menderita di pinggir jalan, menahan mual karena bau knalpot dan jijik melihat si Jati itu," lanjutnya sambil menggelengkan kepala.
"Setidaknya, dengan cara ini Papa tidak akan menggangguku lagi kalau Gayuh berhasil membuat Jati kapok. Kasihan sekali kamu, Gayuh, harus jadi tameng untukku."
Tryas kembali mengangkat gelasnya, bersulang untuk dirinya sendiri, tanpa menyadari bahwa "permata" yang ia buang dengan hina justru sedang dipoles dengan penuh kasih sayang oleh pria yang ia remehkan.
Malam yang hangat di warung lalapan itu berakhir saat taksi yang membawa Gayuh menghilang di balik tikungan jalan.
Jati masih berdiri di sana, menatap aspal jalanan dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Kesederhanaan "Tryas" benar-benar telah mencuri perhatiannya.
Tak lama kemudian, sebuah sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di belakang motor tua Jati.
Seorang pria paruh baya dengan setelan rapi turun dari mobil tersebut dan menghampirinya dengan sikap sangat hormat.
"Tuan Jati," sapa Pak Gunawan, asisten pribadinya.
Jati menyerahkan helm dan kunci motor tuanya kepada pria itu.
"Bawa motornya kembali ke kediaman, Pak Gun. Aku akan pergi ke apartemenku malam ini."
Pak Gunawan menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Ia kemudian menyerahkan sebuah kunci mobil berlogo merk ternama.
Di seberang jalan, sebuah mobil sport mewah yang harganya mencapai miliaran rupiah telah terparkir, berkilau di bawah lampu jalanan.
Mobil itu adalah kendaraan asli sang CEO yang selama ini disembunyikan dari publik.
Jati masuk ke dalam mobil sport-nya, menyandarkan punggung di kursi kulit yang nyaman.
Ia terdiam sejenak, memutar kembali memori makan malam tadi di kepalanya.
"Tryas, kamu cantik sekali malam ini, dan sangat sederhana," gumam Jati pelan.
Pikirannya melayang pada kejadian di depan toko bunga tadi.
Ia ingat betul bagaimana wajah wanita itu saat menolak buket uang yang nilainya fantastis.
Bukannya rakus, wanita itu justru memilih bunga anggrek dan memberikan uangnya kepada pengemis.
"Aku tidak mau pertemuan pertama kita hancur karena uang," Jati mengulang kalimat Gayuh dalam hati.
Kalimat itu terus terngiang, membuat Jati merasa bahwa perjodohan yang awalnya ia anggap sebagai beban amanah, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri.
Ia merasa telah menemukan wanita langka yang tidak silau oleh harta—wanita yang mencintainya bahkan saat ia hanya terlihat sebagai seorang tukang ojol.
Tanpa Jati sadari, ia sedang jatuh cinta pada orang yang salah, sementara di belahan kota lain, Tryas yang asli masih sibuk menertawakan "pria purba" yang baru saja ia buang.