NovelToon NovelToon
CEO Vs DUKUN

CEO Vs DUKUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:31.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”

Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.

Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.

Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.

Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.

Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?

Dan apakah Ryu akan melepaskannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Seroja

Bu Dhe melipat tangan nenek Winarsih di dada. Ia mengusap air matanya dengan lengan bajunya sebelum akhirnya menatap Ryu.

"Nak, Ryu--

"Bu Dhe. Tolong, Bu."

Suara dari luar yang terdengar panik memotong perkataan Bu Dhe. Wanita itu bergegas keluar diikuti Ryu dan Jordi.

Seorang pria paruh baya nampak berdiri gelisah di tengah ruang tamu.

"Ada apa, Pak Nurdin?" tanya Bu Dhe.

Pak Nurdin menghampirinya. "Itu...Seroja meminta saya nyari ambulance. Tapi ternyata mogok."

Ryu dan Jordi saling lirik.

Pak Nurdin mengalihkan pandangannya ke arah pekarangan rumah itu. "Itu ada mobil. Punya siapa? Saya mau pinjam."

Bu Dhe menatap Ryu.

Namun sebelum Bu Dhe membuka mulut, Ryu berkata dengan suara datar, "Nggak apa-apa kok, kalau mau pinjam mobil saya."

"Terima kasih," ucap Bu Dhe.

Ia melirik ke arah kamar tempat Winarsih terbaring, lalu mengembuskan napas pelan.

"Yang sedang melahirkan masih butuh pertolongan. Bu Dhe akan mengurus yang di sini."

Ia menggenggam tangan Ryu. "Kalau Seroja sudah selesai membantu melahirkan," katanya lirih, "tolong sampaikan padanya soal neneknya."

"Baik, Bu," sahut Ryu.

"Ya sudah," kata Pak Nurdin. "kalau begitu mari ke rumah saya." ia menoleh ke Bu Dhe. "Terima kasih Bu Dhe."

Bu Dhe hanya mengangguk, memandang pria itu keluar bersama Ryu dan Jordi.

 

Di dalam mobil, Pak Nurdin menunjukkan jalan, tapi ekspresi wajahnya jelas menunjukkan ketidaksabaran, ingin segera tiba di rumah.

"Jadi kita langsung ke rumah sakit nih, Pak?" tanya Jordi melirik Pak Nurdin sekilas.

"Enggak, Nak," sahut Pak Nurdin yang duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.

Jordi mengernyit. "Lhaa...lalu buat apa nyari mobil, Pak?"

"Buat jaga-jaga saja," sahut Pak Nurdin. "..kalau Seroja gak bisa menangani, baru dibawa ke rumah sakit."

"Memangnya di desa ini gak ada bidan, Pak?" tanya Ryu dari kursi belakang.

Pak Nurdin tersenyum pahit. “Nak, orang kampung seperti kami ini nggak punya banyak uang,” ujarnya jujur.

“Melahirkan di bidan desa biayanya paling sedikit sejuta. Itu pun tetap harus bawa paraji, karena biasanya bidan nggak memandikan bayinya. Jadi kalau ke bidan, kami harus bayar bidan sekaligus paraji.”

"Paraji itu apa, Pak?" tanya Jordi dengan alis bertaut. "Kok saya gak pernah denger ya."

"Paraji?" ulang Pak Nurdin. "Itu adalah sebutan untuk dukun beranak. Biasanya bantu orang melahirkan, mijat ibu hamil dan balita."

"Apa ngasih obat tradisional juga, Pak?" tanya Jordi lagi.

"Nggak semua, Nak. Kalau ngerti pengobatan, biasanya memang ngasih jamu atau ramuan tradisional buat memulihkan kondisi ibu yang baru melahirkan."

"Kalau di bidan bayar dobel..." kata Ryu. "...kenapa gak langsung di bawa ke rumah sakit saja, Pak?"

Pak Nurdin menghela napas pelan sebelum menjawab, “Kalau dibawa ke rumah sakit lebih mahal lagi, Nak. Minimal harus siap uang dua juta atau lebih. Belum biaya kontrol jahitan, obat, dan lain-lain kalau harus jahit atau di caesar. Sekali melahirkan di rumah sakit, biayanya hampir bisa buat beli motor baru.”

Pak Nurdin tersenyum pahit. “Bukannya kami tega ambil risiko, Nak. Ini soal dua nyawa. Tapi kantong orang kampung kayak kami terlalu cetek.” Ia menggeleng pelan. “Makanya banyak warga sini lebih memilih minta tolong sama Seroja.”

Sesaat ia terdiam, lalu menambahkan, “Lagipula, Seroja nggak asal nekat. Kalau memang merasa nggak sanggup menangani, pasti langsung disuruh ke rumah sakit.”

Jordi dan Ryu terdiam. Akhirnya mereka mengerti. Ini bukan hanya soal nyawa, tapi kepercayaan pada kemampuan Seroja dan faktor ekonomi.

Jordi kembali fokus mengemudi. Sedangkan Ryu?

Pemuda itu membayangkan bagaimana sosok Seroja, wanita yang dijodohkan dengannya.

Dalam bayangannya, Seroja hampir mirip dengan Bu Dhe. Pakai jarik dan kebaya. Rambut disanggul, kulit gelap kena matahari, pakai sandal jepit dan... tidak paham dunia modern. Tidak berpendidikan.

Ryu memijat pelipisnya. “Apa kata relasi bisnis kalau tahu istriku dukun kampung?” gumamnya nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. Jelas frustrasi.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang setengah dinding bagian bawahnya tembok dan setengah bagian atas anyaman bambu.

Mereka langsung disambut suara seorang wanita yang berteriak kesakitan di dalam rumah.

Sementara itu, di teras rumah, seorang pria mondar-mandir dengan rokok yang sejak tadi hanya habis terbakar tanpa benar-benar dihisap.

Pak Nurdin melangkah masuk bersama Ryu dan Jordi.

“Roja belum keluar?” tanya Pak Nurdin penuh kecemasan.

“Masih bantu menantu kita ngejan," sahut Bu Rumi.Ia berdiri gelisah sambil terus melirik pintu yang tertutup rapat.

Ryu dan Jordi refleks menoleh ketika seorang gadis keluar dari kamar dengan lengan baju yang tergulung sampai siku.

Keringat membasahi pelipisnya. Rambut hitamnya disanggul sederhana, meski beberapa helai terlepas karena aktivitasnya. Celana kain yang dikenakannya sedikit basah di bagian lutut.

“Air hangatnya mana?” tanyanya cepat.

“Ini, Roja.”

Seorang wanita setengah baya menyodorkan baskom air hangat dengan gugup.

“Daun yang tadi sudah direbus?” tanya Seroja sambil menerima baskom.

“Sudah," sahut seorang wanita muda cepat.

"Mobilnya sudah ada?" tanya Seroja, beralih menatap Pak Nurdin.

"Sudah," sahut Pak Nurdin sambil mengusap keringat di dahinya.

Padahal meski tanpa AC rumah itu tidak panas. Bahkan Pak Nurdin baru saja turun dari mobil Ryu yang ber-AC.

"Kalau lima belas menit lagi belum lahir, segera bersiap ke rumah sakit," tegas Seroja.

"Baik," kata Pak Nurdin patuh.

Gadis itu mengangguk singkat lalu kembali masuk tanpa sempat memerhatikan Ryu dan Jordi.

Namun sebelum pintu tertutup, suara tenangnya terdengar jelas dari dalam.

“Bu, jangan panik. Bayinya sudah turun. Tarik napas dulu pelan.”

Entah kenapa, Ryu yang sejak tadi penuh prasangka justru terdiam. Seroja yang baru saja ia lihat tidak terkesan menyeramkan seperti yang ia bayangkan tentang seorang dukun.

Gadis itu… terlalu normal.

Jordi mengikut lengan Ryu. "Bos," bisiknya. "Itu gadisnya? Meski sedikit berantakan, cantik alami tanpa polesan."

Ryu tak menanggapi, apalagi membantah, karena yang dikatakan Jordi memang benar.

Jordi memerhatikan sekelilingnya. Suasana rumah itu dipenuhi ketegangan. Seorang ibu tampak komat-kamit berdoa sambil meremas ujung kerudungnya.

Bulu kuduk Ryu berdiri setiap kali suara erangan terdengar dari dalam kamar. Ia melihat semua orang langsung menoleh dengan napas tertahan dan tanpa sadar ia juga melakukannya.

Tak ada yang benar-benar tenang menunggu proses persalinan itu selesai.

"Kenapa aku berharap dia bisa menyelamatkan nyawa ibu dan anak itu?" batin Ryu.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kadang seseorang tidak perlu terlihat hebat untuk dipercaya. Cukup tenang saat semua orang panik.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
abimasta
kamu sendiri aja yang menyelidikinya ryu
Puji Hastuti
seneng liat mereka akur 🤭
Anonim
Ryu berangkat ke kantor, Seroja mengantar hingga ke mobil.

Seroja mengganti celanya dengan celana jins dan mengenakan jaket kulit.

Seroja beneran naik motor sport, Muji berdecak kagum melihatnya.

Itu Nenek tahu kalau Seroja bukan gadis sesederhana yang mereka lihat atau pikirkan. Dan harus bersiap dengan kejutan-kejutan dari Seroja.

Jordi mendapat tugas penting dari Ryu - untuk menyelidiki istrinya.
Anonim
Ryu mendengar Seroja mengatakan kalau Tony yang mengajari naik motor sport, cemburu pastinya.



Dipikirannya bebas menafsirkan bagaimana Tony yang sedang mengajari Seroja naik motor sport.

Nenek melihat reaksi Ryu setelah mendengar itu.

Seroja menjawab pertanyaan dari Nenek. Tony, temannya.

Tony bisa dibilang teman dekat. Begitu penuturan Seroja.
Sri Hendrayani
lanjut
mery harwati
Jordi tolong terima kopi online ku ya, biar otakmu tetep waras disaat bosmu mulai oleng gegara Seroja 🤣💪
mery harwati
Jadi inget sama Vexia & Rayno dalam novel Istriku Badas 🤣
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Anonim
Perbincangan pagi di meja makan - lutut Nenek rasanya tidak terlalu sakit lagi. Terima kasih untuk Seroja dari Nenek yang telah diterapi.

Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.

Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.

Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.

Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.

Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
Siti Jumiati
penasaran kelanjutannya...
lanjut kak nana... 💪🙏
Siti Jumiati
lanjut kak... 🙏
Anonim
Paginya Seroja merasa gulingnya berbeda. Gulingnya terasa lebih keras dan wangi gulingnya tidak seperti wangi gulingnya.

Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.

Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.

Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Anonim
Ryu dan Seroja tidur seranjang.

Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.

Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.

Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.

Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.

Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Dew666
💃💃💃
Anitha Ramto
Ryuh mulai Protektif suruh nyelidiki Seroja,,
Dek Sri
lanjut
Hanima
Kerennn Seroja👍
partini
aku kira di ryu menunggu Seroja pergi dengan motor sport nya, semoga pas pulang nanti side by side pas di lampu merah brrummmm
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Wahhh Bahaya nih! bisa berantem nih nanti mereka! 😁😁😁🙏
Diana Dwiari
ahirrrr cemburu ya ryu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!