NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 9: PENYESALAN YANG MENDALAM DAN K

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 9: PENYESALAN YANG MENDALAM DAN KEHADIRAN RIA

Suasana hening sejenak menyelimuti tempat itu, hanya terdengar suara hembusan napas berat dari ketiga pemuda itu. Di dada mereka, rasa sesal dan bersalah berkecamuk hebat, menyadari betapa besar kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini terhadap adik kandung mereka sendiri, satu-satunya saudara perempuan yang seharusnya menjadi bunga kebanggaan keluarga.

"Kita harus berterus terang sama dia, Dik... Kita harus bilang kalau kita sudah sadar dan mengakui semua kesalahan kita, kalau kita sebenarnya sangat sayang sama dia, dan kita berjanji sepenuh hati kalau tidak akan pernah lagi menyakiti hati atau mengabaikannya sedikit pun mulai dari sekarang. Dia berhak tahu semuanya, dia berhak tahu betapa dalam rasa penyesalan kami, dan dia berhak mendapatkan kasih sayang yang selama ini dia rindukan," ucap Bang Arefin pelan namun tegas, matanya menatap tajam ke depan seolah sedang bicara pada dirinya sendiri.

"Tapi... bagaimana nanti kalau dia malah jadi takut dan menjauh dari kita? Bagaimana kalau dia masih terus teringat betapa jahat dan kejamnya sikap kita kepadanya selama dua tahun belakangan ini?" tanya Bang Ardiansyah dengan suara yang terdengar penuh keraguan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia takut segala usaha dan niat baik mereka nanti malah jadi sia-sia belaka, ia sangat takut luka di hati adiknya itu sudah terlalu dalam dan terlalu perih untuk bisa disembuhkan atau ditutup kembali hanya dengan kata-kata saja.

Bang Hamza yang sedari tadi diam mendengarkan, kini perlahan mengangkat tangannya lalu menepuk-nepuk bahu adiknya itu dengan lembut dan penuh pengertian, seolah ingin menyalurkan kekuatan hati lewat sentuhan itu.

"Kalau pun dia masih merasa takut, ragu, atau bahkan masih merasa benci, itu semua memang murni salah kita, Dik. Itu semua adalah akibat dari perbuatan kita sendiri yang selama ini sangat menyakiti hatinya," jawab Bang Hamza dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan. "Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja, kita harus tetap mencoba dan berusaha semampu kita. Ingat, bukti kasih sayang itu tidak cukup hanya diucapkan lewat kata-kata manis saja, tapi harus kita tunjukkan lewat perbuatan nyata dan sikap kita sehari-hari. Kita akan buktikan padanya, mulai detik ini juga, mulai saat ini kita berdiri di sini, bahwa kita adalah abang-abang yang sangat menyayangi, menghargai, dan akan selalu melindunginya dengan sekuat tenaga, apa pun risikonya."

Tak lama kemudian, di kejauhan, terlihatlah sosok kecil yang berjalan melangkah pelan dan gontai mendekat ke arah mereka. Itu adalah Ria. Tubuhnya yang mungil dan kurus kering itu tampak begitu lelah dan letih, seolah seluruh tenaganya sudah habis terpakai untuk bekerja seharian. Bajunya yang sederhana itu pun terlihat agak kotor terkena debu dan noda tanah, tanda bahwa ia baru saja pulang dari bekerja keras di kebun atau ladang. Namun, di kedua tangannya yang kecil dan lemah itu, ia masih memegang erat dan berhati-hati seikat sayuran hijau yang segar, yang ia petik sendiri dengan susah payah, dan berniat membawakannya pulang untuk dimasak menjadi lauk makan malam nanti bagi seluruh keluarga.

Wajahnya yang cantik dan polos itu tampak begitu tenang dan datar, seolah-olah ia sudah terbiasa dan sudah bertahun-tahun menanggung beban berat kehidupan sendirian tanpa ada yang membantu, tanpa ada yang peduli, dan tanpa ada yang bertanya apa pun keadaannya. Di matanya yang bening itu, tak lagi terlihat kilauan kegembiraan atau harapan, hanya ada ketabahan yang luar biasa besar di balik kesederhanaannya. Ia berjalan melewati ketiga abangnya itu dengan kepala sedikit tertunduk, tak berani menatap wajah mereka, seolah-olah ia hanyalah orang asing yang lewat begitu saja, meski di dalam hatinya sebenarnya ia sangat berharap sekadar disapa atau dilihat sedikit saja oleh mereka.

Melihat pemandangan itu, hati ketiga pemuda itu kembali terasa disayat-sayat rasa sakit yang luar biasa. "Ya Allah... betapa tabahnya dia, betapa sabarnya dia menanggung semua ini sendirian..." batin mereka serentak, semakin menyadari betapa jahatnya mereka selama ini membiarkan bunga kecil mereka menderita sendirian di tengah hutan yang keras ini.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!