Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Degup Jantungku
"Ya Ampun! Kenapa dia datang sih?! Sembunyi! Cepat sembunyi, Matcha!"
Matcha tidak bergerak. Wajahnya membatu, tapi matanya memancarkan aura gelap yang mencekam.
"Sembunyi? Untuk apa?! Aku tuan di sini! Aku ingin melihat mata jahat macam apa yang berani mengganggu waktu istirahatmu!"
"Bukan! Nanti dia kaget liat kamu! Orang normal nggak bakal bisa terima kalau tahu ada hantu!" Dori berusaha mendorong tubuh Matcha paksa masuk ke dalam layar, tapi berat sekali.
"Orang normal? Dia terlihat tidak normal bagiku! Baunya arogan!" desis Matcha tajam.
Akhirnya, dengan terpaksa dan napas panjang, Dori membuka pintu sedikit.
Muncullah sosok pemuda tampan, tinggi, dan berpakaian rapi. Itu Rio, teman sekelas yang terkenal ramah dan populer.
"Makasih ya Dori, aku nggak sempat kirim lewat grup," senyum Rio lebar, lalu ia melongokkan kepala masuk ke dalam kamar.
"Wah, lagi makan ya? Wangi banget."
Dori berdiri di depan pintu, menghalangi pandangan sekuat tenaga. "Iya nih, lagi makan. Masuknya nggak usah dalem-dalem, lagi berantakan kok!"
Ia takut kalau Rio melihat Matcha melayang-layang, atau melihat barang-barang yang bergerak sendiri.
Tapi Rio tidak peduli. Ia melangkah masuk dengan santai, melewati Dori.
"Ah biasa lah kamar cewek, pasti rapi kok. Eh, itu laptopnya nyala terus ya? Rajin banget sih kamu."
Rio berjalan mendekati meja kerja.
Dan tepat di sana, di udara tepat di belakang kursi ... Matcha berdiri dengan tatapan mematikan.
Wajahnya sangat jelek. Alis terangkat rendah, mata menyipit penuh kebencian, dan tangannya menggenggam kuas dengan sangat kuat.
"Siapa dia?! Kenapa dia bisa masuk seenaknya?! Wilayahku! Ini wilayahku!" batin Matcha meledak, tapi mulutnya terkunci rapat karena sadar manusia biasa tidak bisa melihatnya.
Rio menatap layar, lalu menoleh ke Dori. "Tulisan kamu makin bagus ya Dori, gaya bahasanya berubah jadi lebih ... dalam gitu."
"Itu ... itu karena aku banyak belajar kok," jawab Dori gugup, matanya melirik ketakutan ke arah Matcha.
Matcha melayang mengelilingi Rio perlahan, memeriksa dari atas sampai bawah seperti inspektur pajak.
"Hmph. Penampilan oke, baju bagus ... tapi auranya lemah. Tidak punya wibawa sama sekali," komentar Matcha dengan nada sinis yang hanya bisa didengar Dori.
Dori mengucek pelipis. "Sialan, jangan cari masalah dulu dong!"
"Eh Dori, kamu demam ya kemarin? Suara masih serak gitu," tanya Rio perhatian, lalu ia dengan santai mengulurkan tangan mau menyentuh dahi Dori.
"Biarpun cuma temen, aku khawatir lho."
Itu gerakan biasa, sopan, dan perhatian.
Tapi bagi sosok yang melihat itu ... itu adalah tindakan pemberontakan tingkat tinggi.
BRAAK!
Tiba-tiba jendela yang tertutup rapat terbuka sendiri dengan keras karena hembusan angin kencang. Guguran daun kering masuk berterbangan. Suhu ruangan langsung drop drastis.
Rio terlonjak kaget, mundur selangkah. "Waduh! Anginnya kencang banget tiba-tiba!"
Dori tahu persis siapa pelakunya. Ia menoleh tajam. Matcha berdiri di belakang Rio, wajahnya merah padam menahan amarah, matanya melotot nyalang.
"SIAPA YANG BOLEH PEGANG DIA HAH?! BERANI SEKALI KAU PRIA TAK TAU DIRI!" teriaknya dalam hati.
"Itu ... angin lalu doang kok. Hahaha..." Dori pura-pura tertawa kering, tapi keringat dinginnya mengalir di punggung.
Ia bisa merasakan dendam membara di belakang punggung Rio. Kalau dibiarkan, bisa-bisa si Rio dihantui beneran malam ini.
"Udah deh Rio, makasih tugasnya. Kamu balik aja ya, aku mau lanjut nulis," Dori mulai mendorong pelan tubuh Rio ke arah pintu.
"Lah kok buru-buru? Nemenin dulu dong, kita ngobrol bentar," goda Rio, tidak sadar nyawanya sedang di ujung tanduk.
"NGGAK BOLEH! DIA MILIKKU! PERGI KAU! SEKARANG JUGAAAAA!"
Suara gemuruh halus terdengar dari dalam dinding, lampu berkedip-kedip cepat seperti lampu disko.
Rio akhirnya sadar ada yang aneh. Ia merinding mendadak, bulu kuduknya berdiri semua tanpa sebab.
"Waduh ... kok serem ya rasanya di sini. Oke oke, aku balik dulu ya Dori!"
Rio buru-buru pamit dan lari cepat tunggang langgang, seakan ada yang ngejar.
Pintu tertutup rapat.
Seketika, angin mereda, lampu normal kembali. Tapi suasana di dalam kamar ... masih sangat, sangat mencekam. Matcha berdiri tegak di tengah ruangan, napasnya memburu, wajahnya garang sekali.
"Berani-beraninya dia menyentuhmu! Berani-beraninya dia tersenyum seenaknya!"
Dori menatapnya tak percaya. "Kamu ... kamu cemburu buta ya tadi? Sampai bikin angin topan gitu?!"
Matcha menoleh tajam, lalu berjalan mendekat sangat dekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti.
"Cemburu? Aku hanya ... tidak suka ada kotoran yang masuk ke wilayahku!"
Tapi matanya tidak berani menatap lurus. Dan tangannya ... erat sekali mencengkeram ujung lengan baju Dori.
"Dengar baik-baik ya, Dori. Kau adalah asetku. Tubuhmu, waktumu, senyummu ... semuanya milikku! Jangan biarkan pria lain menyentuhmu. Kalau sampai kejadian lagi ... aku tidak akan jamin keselamatan mereka."
Dori terpaku. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara takut dan ... berbunga-bunga.