NovelToon NovelToon
Kembar Beda Sifat

Kembar Beda Sifat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / CEO
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ropha M.P

Eliza Mahendra adalah seorang gadis dengan julukan "Gadis Berhati Dingin" atau "Kulkas Berjalan" di sekolah elitnya, SMA Nusa Bangsa. Sebagai Ketua OSIS, ia menjalankan tugasnya dengan kedisiplinan tanpa kompromi, dihormati sekaligus ditakuti karena sifatnya yang misterius, irit bicara, dan tatapan tajamnya. Kehidupannya yang teratur dan dingin berbanding terbalik dengan kembarannya, Elzia, yang dua jam lebih muda. Meskipun memiliki wajah yang serupa, Elzia memancarkan kehangatan dan dikenal sebagai gadis yang lebih "bar-bar" dari gadis seusianya, bahkan diam-diam menyandang gelar "Queen Racing" di dunia balap.

Cerita ini mengandung unsur kekerasan, konflik mafia, dan ****** ******. Harap bijak dalam membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropha M.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang membeku

Pagi yang cerah menyambut seorang gadis cantik yang tengah bersiap dengan seragam sekolahnya. Hari ini adalah hari Senin, yang berarti upacara bendera wajib dilaksanakan. Setelah selesai bersiap, ia segera menyambar kunci motor dan turun ke lantai bawah. Di meja makan, terlihat seorang pria paruh baya dan seorang gadis yang lebih muda darinya.

"Aku berangkat," ucap Eliza datar kepada ayahnya.

"Hm," gumam Bara singkat.

"Aku juga berangkat, Yah," ucap Elzia, kembaran Eliza. Elzia lebih muda dua jam dari kakaknya.

Bara hanya berdehem menanggapi. Eliza dan Elzia kini menuju motor masing-masing di garasi.

"Kak, aku duluan," ucap Elzia yang hanya dibalas deheman oleh Eliza. Keduanya pun melajukan motor menuju sekolah yang berbeda. Eliza bersekolah di SMA Nusa Bangsa, sedangkan Elzia di SMA Pelita Bangsa.

* * *

Setibanya di sekolah, Eliza langsung memarkirkan motornya dan segera berjaga di depan gerbang untuk menertibkan siswa yang terlambat. Eliza adalah Ketua OSIS di SMA Nusa Bangsa. Banyak murid yang merasa ciut setiap kali berpapasan dengannya; mereka sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan "mata elang" milik Eliza. Di sekolah, ia dijuluki sebagai Gadis Berhati Dingin. Julukan yang sangat pas untuk sosok kaku yang sangat irit bicara itu.

Eliza melangkah menuju ruang pusat informasi. Di sana terdapat mikrofon yang terhubung ke seluruh penjuru sekolah.

Tuk.. Tuk.. Tuk..

Ia mengetuk mikrofon pelan sebelum mulai berbicara.

"Seluruh siswa-siswi diharapkan segera berkumpul di lapangan karena upacara akan dimulai dalam hitungan sepuluh. Semuanya harus sudah di tempat," ucapnya dengan nada datar namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.

Mendengar suara itu, para murid berlari tunggang-langgang menuju lapangan. Mereka lebih memilih lelah berlari daripada harus berurusan dengan hukuman sang Ketua OSIS.

Upacara pun berakhir. Kini saatnya Eliza melakukan pemeriksaan atribut sekolah.

"Kenapa kau tidak memakai dasi?" tanya Eliza dengan suara datarnya yang dingin.

"I-itu Kak... tadi aku terburu-buru berangkat, jadinya dasiku ketinggalan," jawab Siska, siswi kelas sebelas, dengan gemetar.

"Tidak ada alasan. Sekarang pergi menuju kumpulan siswa-siswi yang melanggar," perintah Eliza tanpa ekspresi, lalu beranjak pergi.

Siska mengelus dadanya, bernapas lega setelah Eliza menjauh. "Huft... untung saja dia sudah pergi. Kalau terus-terusan bicara dengannya, jantungku bisa copot karena takut salah bicara," gumam Siska sebelum akhirnya pasrah bergabung dengan barisan pelanggar.

Eliza memasuki ruangan Kepala Sekolah. Di sana telah menunggu Pak Handoko.

"Silakan duduk, Za," sambut Pak Handoko. Eliza hanya mengangguk dan menarik kursi di hadapan beliau.

"Ada apa Bapak memanggil saya ke sini?" tanya Eliza langsung pada intinya.

"Begini, Za. Kita akan mengikuti perlombaan antar sekolah, dan bapak merasa hanya kamu yang bisa diandalkan. Namun, perlombaan tahun ini mewajibkan adanya partner," jelas Pak Handoko. Eliza mengangguk paham. "Siapa yang akan menjadi partnermu?"

"Saya akan membawa Bima, karena dia adalah calon Ketua OSIS selanjutnya," jawab Eliza tenang.

"Baiklah. Kalian berdua persiapkan diri karena perlombaan akan dilaksanakan minggu depan, dan kita akan berangkat hari Jumat," pungkas Pak Handoko.

Eliza berjalan menyusuri koridor kelas dua belas. Sepanjang jalan, ia mendengar bisik-bisik mengenai murid baru, namun ia tetap melangkah dengan muka datar, sama sekali tidak tertarik. Ia pun sampai di depan kelas XI IPA 2 dan langsung masuk menuju meja seseorang.

"Persiapkan dirimu. Minggu depan kita akan mengikuti perlombaan antar sekolah," ucap Eliza datar.

Bima, yang sedang asyik mengobrol dengan temannya, menoleh. "Kapan kita berangkat?" tanya Bima. Hanya Bima yang berani berbicara sedikit santai kepada Eliza.

"Jumat," jawab Eliza singkat, lalu langsung berbalik pergi tanpa menunggu balasan.

"Wow, beruntung lo, Bro, bisa berduaan sama si 'Kulkas'," ledek Deka, teman Bima.

"Iya, cantik-cantik tapi dinginnya ngalahin Tembok China. Ngomongnya cuma panjang kalau ada yang penting doang," tambah Adit.

Bima hanya diam menanggapi celotehan teman-temannya, lalu bangkit berdiri. "Mau ke mana lo?" tanya Deka.

"Kantin," jawab Bima pendek.

Sementara itu, Eliza sedang duduk santai di ruang pribadi khusus Ketua OSIS. Tiba-tiba ponselnya bergetar.

"Za, hari Jum'at nanti akan ada murid baru," lapor suara di seberang telepon.

"Aku membutuhkan bantuan mu untuk mengurus mereka, karena aku harus pergi ke bandung untuk perlombaan," ucap Eliza datar, lalu langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

"Ck, bisa tidak tunggu jawabanku dulu? Dasar Kulkas!" gerutu Ranti, Wakil Ketua OSIS, di ujung sana.

*  *  *  *

Hari Jumat tiba. Eliza dan Bima sudah bersiap sejak pukul lima pagi karena mereka harus berangkat pukul setengah tujuh.

"Apa ada barang yang tertinggal?" tanya Pak Handoko sebelum mereka berangkat.

"Sudah tidak ada, Pak," jawab Bima, sementara Eliza hanya diam. Mereka pun berangkat menggunakan mobil sekolah.

Tak lama setelah keberangkatan mereka, lima motor sport berwarna hitam memasuki area parkir SMA Nusa Bangsa. Saat para pengendaranya membuka helm, suasana parkiran mendadak heboh.

"Anjir, ganteng semua!" "Astaga, yang satunya cool banget, woy!" "Mas, aku padamu!"

Teriakan para siswi memenuhi udara, sampai sebuah suara lantang menginterupsi.

"KENAPA MASIH DI LUAR? CEPAT MASUK!"

Teriakan itu mengejutkan semua orang, termasuk kelima pemuda tersebut.

"Anjir, suaranya itu nyaring bener," ucap Dimas sambil mengelus dada.

Ranti, sang Wakil Ketua OSIS, menghampiri mereka. "Kenapa kalian berlima masih di luar?"

"Kami murid baru," jawab Dimas.

"Baiklah, ikut gue." Ranti membawa mereka ke ruangan Wakil Kepala Sekolah, Pak Tono. Setelah perkenalan singkat, diketahui nama mereka adalah Dimas, Dava, Deon, Rayan, dan Arkana. Mereka ditempatkan di kelas XII IPA 2.

"Lo Ketua OSIS, ya?" tanya Dimas saat mereka berjalan di koridor.

"Bukan, gue Wakil Ketua OSIS," jawab Ranti.

"Terus Ketua lo mana? Kenapa lo sendiri yang ngurusin semuanya?" tanya Dava penasaran.

"Dia ada kegiatan perlombaan, mungkin seminggu lagi baru balik. Oh ya, gue peringatin, jangan sering buat masalah. Dia nggak bakal kasih ampun kalau sudah menghukum, apalagi soal bolos," tegas Ranti.

"Emang dia separah itu kalau menghukum orang?" tanya Rayan.

"Ya, begitulah. Intinya jangan cari masalah sama dia," ucap Ranti yang hanya dibalas anggukan oleh mereka.

Tempat lain..

Di kediaman Mahendra, suasana tampak sepi. Eliza sedang di Bandung, Elzia sedang bersama sahabatnya, dan Bara berada di kantor. Bara duduk termenung di kursinya.

"Mungkin aku akan memberitahu mereka berdua di waktu yang tepat," gumam Bara rahasia.

***

Di Bandung, Eliza dan Bima tengah menjalani pelatihan intensif seperti memanah, basket, dan voli. Meskipun Eliza sudah menguasai semuanya, ia tetap melakukannya untuk mengisi waktu.

Malam harinya di hotel, Eliza sedang berkutat dengan laptopnya saat ponselnya bergetar. Nama Jasper tertera di layar.

"Ada apa?" tanya Eliza to the point.

"Maaf Nona, apakah Anda sibuk? Kami sudah menangkap pelaku pembunuhan para gadis. Apa yang harus kami lakukan?" tanya Jasper.

"Kurung dia. Siksa dia, tapi jangan sampai mati," perintah Eliza dengan suara dingin yang mematikan.

Sementara itu, di tempat lain, Elzia sedang berkumpul dengan teman-temannya, Fitri dan Kiara.

"Lo serius mau pindah sekolah?" tanya Fitri.

"Gue bakal pindah ke SMA Nusa," jawab Elzia.

"Gimana kalau kita bertiga pindah bareng-bareng?" usul Fitri.

"Ide bagus!" sambung Kiara.

"Terserah kalian saja. Mungkin hari Rabu kita pindah," ucap Elzia tenang.

"Eh, katanya ada balapan nanti malam. Kalian mau ikut nggak?" tanya Kiara.

"Gue ikut. Lagian bosan di rumah nggak ada siapa-siapa," jawab Elzia. Di dunia luar, Elzia dikenal dengan julukan Queen Racing, sangat berbeda dengan citra Eliza yang misterius. Mereka pun sepakat untuk bertemu di arena balap pukul delapan malam nanti.

1
Salwa Blora
kak lanjut semangat terus kak 😁😁
Ropha M.P: terimakasih kak telah menyempatkan diri membaca cerita aku, jangan lupa di like ya kak biar makin semangat nih buat cerita nya😍
total 1 replies
anggita
like👍 iklan☝, tiap bab cukup panjang juga🤔.👌oke lah😊.
Ropha M.P: hehe Terima kasih Kak, jangan lupa like ya kak biar makin semangat aku Update😍🙏
total 1 replies
Evi 060989
up lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!