Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. Ucapan Terima Kasih
Vampir itu berjalan tenang melewati puing - puing api yang masih membara. Langkah kakinya nyaris tak bersuara, kontras dengan kekacauan yang baru saja di perbuat oleh para bandit di tambah kekacauan yang dibuat oleh dirinya sendiri. Ia berhenti tepat di depan Khiya menyisakan jarak satu langkah.
Khiya masih mematung, menatap rumah - rumah yang hancur, sesekali menatap mayat para bandit dan warga desa, Khiya masih belum percaya desanya kini hancur oleh para bandit. Sang vampir tidak langsung berbicara, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Khiya dan menatap mata Khiya. "Sudah ku habisi semua bandit yang menyerang desamu, "Dimana rumahmu?" tanya vampir
Mata vampir itu mengikuti arah telunjuk Khiya. Kobaran api menari - nari liar disana, melahap kayu - kayu rumah tua itu hingga mengeluarkan suara retakan. "Nenek??? Seru Khiya sangat pelan dengan wajah yang panik ketika mengingat neneknya yang ada di dalam rumah. Tanpa perintah vampir itu bergerak.
Gerakannya begitu cepat hingga terlihat seperti bayangan hitam yang menerobos kumpulan asap yang tebal dan api yang menari - nari. Ia menerjang masuk kedalam bangunan yang sewaktu - waktu bisa runtuh, tanpa memperdulikan panas yang dihasilkan oleh besarnya kobaran api. Setelah beberapa saat yang mencekam berlalu. Belun juga muncul tanda - tanda vampir beranjak dari rumah itu.
Khiya menahan nafas, berharap keajaiban yang mustahil, neneknya bisa selamat dari serangan bandit dan kobaran api. Tiba - tiba atap depan rumah itu ambruk memercikan bara api ke segala arah. Dari balik api dan tebalnya asap, sosok tinggi itu muncul kembali. Di lengannya, ia menggendong wanita tua yang sudah tak berdaya dengan api yang masih menyala di pakaiannya.
Sesampainya di hadapan Khiya, dengan hati - hati vampir menurunkan wanita tua itu ke tanah yang aman, jauh dari jangkauan api. Vampir itu tau, wanita tua yang digendongnya sudah tidak bernyawa lagi, namun tetap dia memilih untuk membawanya agar Khiya bisa melihat neneknya untuk yang terahir kali.
Khiya memeriksa kondisi neneknya,, melihat dari ujung kaki perlahan naik sampai kepala sembari mulut tipisnya bergumam "nenek,, nenek,,, nenek". Seketika suasana pecah oleh jeritan memilukan Khiya "nenek..!!!!!" saat menyentuh tangan neneknya yang sudah dingin dan tak berdenyut, ia sadar bahwa maut telah menjemput neneknya. Tangisnya meledak melebihi tangisan warga desa yang masih selamat dan suara deru api.
Namun, ditengah duka yang menghancurkan itu, muncul kesadaran dibenak Khiya, ia melihat warga desa lainya yang masih terikat di tengah jalan. Dengan napas tersengal dan wajah yang basah oleh air mata, Khiya berdiri. Ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan lebih lama. "Aku harus kuat, masih ada harapan". Gumam Khiya pelan". Diambilnya sebuah belati milik salah satu bandit yang tergeletak di dekatnya. Khiya berjalan pelan menghampiri satu per satu warga yang masih selamat, ikatan tali warga ia potong. Tangannya gemetar, namun sorot matanya menunjukkan keteguhan yang baru.
Warga yang bebas ada yang ikut membantu Khiya membebaskan satu per satu warga yang masih terikat dan ada juga warga yang langsung lari memeluk keluarga mereka. Khiya masih sibuk membebaskan warga sedangkan vampir itu tetap berdiri di samping jasad nenek Khiya, seolah sedang menjaga kehormatan wanita tua itu. Ia memperhatikan Khiya yang dengan berani mengabaikan rasa sedihnya demi orang lain.
"Kau memiliki hati yang lebih kuat dari yang kuduga," gumam vampir itu pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun. Setelah Khiya berhasil membebaskan para warga tiba - tiba Khiya ambruk ketanah. Selama ini Khiya memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri karena memiliki tekad yang sangat kuat. Beberapa warga yang melihat Khiya ambruk langsung berlari ke arah Khiya dan mengangkat mengangkat tubuh Khiya lalu dibawanya ke arah vampir.
"Terima kasih Tuan telah menolong kami, " ucap salah satu warga yang tadi ikut mengakat tubuh Khiya. "Simpan ucapan terima kasihmu untuk gadis ini nanti, karena tanpa perjuangan gadis ini saya tidak tau nasib kalian. " balas vampir itu sembari menerima tubuh Khiya. " Apa kalian masih punya cukup tenaga membuat gubuk untuk gadis ini?" Tanya vampir itu ke pada para warga yang sudah mulai berkumpul. "Masih Tuan, kami segera membuatkan tempat untuk Khiya" jawab salah satu pemuda.
"Ayo cepat kita buat tempat untuk Khiya beristirhat." seru pemuda yang masih bersemangat. Warga bahu membahu berkerja sama untuk membuat tempat untuk Khiya. Sementara itu Vampir terus menatap kearah wajah Khiya yang ada di gendonganya, dengan ekspresi wajah berfikir kenapa vampir itu terasa tidak asing dengan Khiya. Sesekali jari telunjuk vampir itu menyentuh lembut wajah Khiya membersihkan debu yang menempel diwajah Khiya.
"Tuan,,, tempatnya sudah jadi..." Teriak pemuda yang tadi, mendengar teriakkan tersebut vampir berjalan kearah tempat yang sudah warga buat. Sesampainya ditempat itu tubuh Khiya yang ada di gendongan depannya diletakan pelan ke tempat yang layak. Vampir itu melihat satu per satu dari para warga, dengan ekspresi wajah yang sedang bersiap untuk berteriak memberi perintah selanjutnya .
"Untuk para laki - laki bagi dua kelompok, kelompok pertama buat lubang untuk pemakaman warga yang meninggal, kalau sudah cape gantian kelompok kedua, kelompok pertama istirahat, untuk para wanita, tolong jaga Khiya disini!!." Perintah selanjutnya dari vampir. Melihat para warga membagi kelompok vampir bergegas sendiri mengumpulkan mayat - mayat warga yang tergeletak dimana - mana.
Belum selesai vampir mengumpulkan mayat korban dari keganasan bandit terdengar teriakan perempuan, sambil berlari ke arah vampir, "tuan,,, Khiya sudah sadar, tuan Khiya sudah sadar," dengan suara yang berat. Belum sempat perempuan itu menghampiri vampir, vampir itu sudah berada di depan Khiya melewati perempuan yang berlari tadi, dengan kecepat kilat.
Khiya tersenyum melihat wajah vampir yang sudah ada dihadapnya. "Tuan" ucap Khiya. Vampir hanya membalas dengan anggukan kepala, tanpa keluar satupun ucapan. Khiya beranjak dari tematnya, duduk dan memperhatikan suasana disekitar, "terima kasih Khiya, kamu sudah berjuang untuk menolong kami." ucap salah satu perempuan di samping Khiya, di susul ucapan dari warga lainya "terima kasih", "terima kasih", "terima kasih", "terima kasih", "terima kasih", ucapan itu terus terdengar bergantian.
"Saya hanya berusaha lari dari kejaran bandit yang mengejar saya, dan tanpa sengaja saya bertemu dengan tuan" ucap Khiya sembari menengok ke arah vampir. "Apa kalian sudah berterima kasih dengan tuan ini?" Tanya Khiya kepada warga. warga pun berterima kasih kepada vampir itu. "Ayo lanjutkan pekerjaan kalian sebelum malam datang dan kumpulkan makanan dan minuman!!!" Perintah vampir.
Khiya, vampir, dan para warga telah selesai melakukan pemakaman masal untuk para korban dari bandit. Makananpun sudah berhasil dikumpulkan oleh para perempuan. "Tuan, ini makanan yang kami kumpulkan dari sisa - sisa rumah yang belum sepenuhnya terbakar, tidak banyak tuan." seru salah satu perempuan sambil menunjuk ke arah makanan. "Khiya, atur makanan dan bagi rata, pastikan semua warga mendapatkan makanan!" Perintah vampir. "Baik tuan" jawab Khiya.
Setelah selsai membagikan makanan kepada warga, Khiya berjalan membawa satu roti kecil, dan membagi dua roti itu untuk di bagi bersama vampir, "Tuan, makanlah dulu!" ucap Khiya sembari menyodorkan sepotong roti ke arah vampir yang sedang duduk. " Tidak Khiya, saya tidak makan roti, makanlah semua roti itu, dan duduk disampingku sini!. Seru vampir.
Khiya duduk dan memakan habis roti yang tadi di bawanya. Setelah itu Khiya menyodorkan lehernya ke pada vampir, seolah - olah sudah tau persis kalo darah lah yang dibutuhan oleh vampir, bukan sepotong roti kecil. Vampir pun menoleh dan tanpa basa - basi menghisap sedikit darah Khiya. Belum lepas gigitan vampir di leher Khiya, "Siapa nama tuan?" Tanya Khiya, vampir pun melepaskan gigitannya dan menjawab "Kurza".
Bersambung. . . .