Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pintu otomatis itu menutup perlahan di belakang mereka. Udara dingin khas rumah sakit langsung terasa menusuk, sedingin keterkejutan Naya dengan pengakuan kecil yang tiba-tiba keluar dari mulut adinda begitu saja.
Naya langsung menoleh. “Kamu kenapa?”
Adinda menggeleng cepat, meski napasnya mulai tidak teratur. “Gak tahu… tapi tempat ini… aku kayak pernah—”
Ia tidak melanjutkan, karena rasa itu datang lagi, tidak cukup jelas, bahkan hanya potongan saja. Tapi cukup membuat dadanya sesak.
Naya tidak memaksa. Ia justru menggenggam pergelangan tangan Adinda pelan. “Kita pelan-pelan aja.”
Adinda mengangguk. Mereka melangkah menuju meja informasi. Naya langsung menunjukkan beberapa data yang ia bawa, berbicara singkat dengan petugas. Setelah beberapa menit, mereka diarahkan ke bagian arsip lama.
Lorong menuju ruang itu lebih sepi, lampunya tidak seterang di depan, langkah mereka terdengar pelan sangat hati-hati. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan kecil dengan pintu setengah terbuka.
Di dalamnya, seorang wanita paruh baya sedang duduk di balik meja, memeriksa beberapa berkas.
Rambutnya sudah mulai beruban, wajahnya tenang tapi ada sesuatu yang terlihat lelah.
Naya mengetuk pelan.
“Permisi…”
Wanita itu mengangkat wajahnya. “Iya?” jawabnya singkat.
Naya melangkah masuk lebih dulu. “Kami dari bagian akses data. Kemarin sudah ada konfirmasi untuk melihat arsip lima tahun lalu.”
Wanita itu mengangguk pelan, lalu meraih kacamata di meja dan memakainya. “Nama pasien?”
Naya membuka map. “Belum pasti. Tapi ada data operasi darurat… pasien perempuan, kondisi kritis.”
Wanita itu terlihat lebih serius tangannya mulai mengetik mencari sesuatu di komputer lama di depannya.
Sementara itu— Adinda masih berdiri di dekat pintu. Tatapannya tertuju ke dalam sebuah ruangan, dan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat.
Sementara perawat itu mengetik beberapa saat… lalu berhenti. Matanya menyipit sedikit.
“Hmm…” gumamnya pelan.
“Kenapa, Bu?” tanya Naya.
Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh. Dan saat itulah, tatapannya bertemu dengan Adinda.
Detik itu juga ekspresi wajahnya berubah, kaget seolah tidak percaya dengan sosok yang berdiri di samping Naya. Tangannya tadi memegang mouse langsung berhenti begitu saja.
“Kamu…” suaranya nyaris tidak terdengar.
Adinda sedikit tersentak. “Saya?”
Wanita itu berdiri perlahan. Matanya tidak lepas dari wajah Adinda langkahnya maju satu langkah.
“Kamu…” ulangnya lagi, kali ini lebih jelas.
Naya langsung memperhatikan. “Ibu kenal dia?”
Wanita itu tidak menjawab. Ia justru semakin mendekat, tatapannya menyapu lebih wajah Adinda… seperti memastikan sesuatu.
Adinda mulai merasa tidak nyaman. “Ada apa, Bu?” tanyanya pelan.
Beberapa detik udara terasa diam. Lalu wanita itu menghela napas pelan. Dan berkata dengan suara yang berubah, lebih dalam.
“Kamu… masih hidup?” tanyanya dengan nada yang begitu berat.
Deg.
Kalimat itu menghantam begitu saja, bagaikan tamparan yang menyakitkan Adinda membeku, jantungnya berdetak lebih kencang dari yang seharusnya.
“Apa maksud Ibu?” suaranya langsung melemah.
Naya pun langsung menegang. “Bu, tolong jelaskan.”
Wanita itu menutup mulutnya sejenak, seolah baru sadar dengan apa yang ia katakan barusan. Ia mundur sedikit seolah ingin menelan kembali perkataannya tadi.
“Maaf… saya…” ucapnya gugup.
Tapi tatapannya masih tidak lepas dari Adinda. Seolah ia sedang melihat seseorang yang… seharusnya tidak ada di sini.
"Bu, jangan ketakutan seperti itu," sahut Naya seolah memenangkan. "Kita gak akan gimana-gimana sama Ibu, yang penting Ibu tenang, kalau ada sesuatu yang janggal keluarkan saja," lanjut Naya hati-hati.
Naya mulai mendekat seolah ingin menyemangati perawat itu agar mau berbicara.
Perawat itu masih terdiam ia sedikit sok, tapi di dalam hatinya seperti ada dorongan yang begitu kuat hingga akhirnya ....
“Kamu pasien itu…” lanjutnya pelan. “Yang waktu itu… kondisinya—”
Ia berhenti, ragu. Namun Adinda justru melangkah mendekat.
“Lanjutkan, Bu,” ucapnya pelan, tapi tegas. “Apa yang terjadi sama saya?”
Wanita itu menelan ludah tangannya sedikit gemetar.
“Saya… saya yang jaga malam itu,” katanya akhirnya. “Operasi darurat… kondisi kamu kritis.”
Napas Adinda mulai memburu. Gambaran samar itu muncul lagi. Lampu terang, suara alat, dan, tangisan bayi.
“Terus?” bisik Adinda.
Wanita itu menatapnya lama seolah menimbang lalu berkata pelan.
“Waktu itu… kondisimu kritis dokter bilang selamatkan ibu dan bayi, tapi pasca operasi keadaanmu semakin memburuk, lalu ..."
Air mata langsung menggenang di mata Adinda, meskipun cerita barusan belum lanjut namun adinda sudah bisa menafsirkan sendiri jika ada seseorang yang secara tidak langsung meniadakan statusnya.
Naya mengepalkan tangannya. “Tapi dia selamat.”
Wanita itu mengangguk pelan. “Iya… tapi itu bukan bagian yang aneh.”
“Terus apa?” tanya Naya cepat.
Wanita itu terdiam sejenak lalu berjalan ke meja mengambil satu map tua dari laci bawah. Map itu tampak sudah lama. Sudutnya sedikit rusak kemudian ia membukanya perlahan.
“Yang aneh…” ucapnya pelan dan tatapannya kembali ke Adinda.
“…data kamu hilang setelah itu.”
Naya langsung maju. “Hilang gimana?”
“Dihapus,” jawab wanita itu singkat. “Seolah kamu gak pernah dirawat di sini.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Adinda menatap kosong, keringat mulai membasahi tubuhnya.
“Terus… bayi itu?” tanyanya lirih, hampir tidak terdengar.
Wanita itu menggeleng pelan tatapannya berubah ketakutan. Dan untuk pertama kalinya. Ia terlihat benar-benar ragu.
“Bayi?” ulangnya pelan.
Adinda mengangguk. Tangannya bergetar. “Aku dengar… ada bayi." tuturnya jelas.
Hening memekik di udara. Wanita itu menutup map itu perlahan, lalu menggeleng kecil.
“Saya…” ucapnya pelan. “…tidak boleh membahas itu.”
Naya langsung menatap tajam. “Bu, ini penting.”
Perawat itu menatap mereka secara bergantian, di sisi lain, ia tidak mau ikut terjun terlalu dalam karena ini menyangkut pekerjaan dan masa depannya. Tapi di sisi lain hatinya benar-benar tidak mau diam.
Wanita itu menelan pelan. Tatapannya kembali jatuh pada Adinda. Kali ini tidak sekadar menilai tapi seperti melihat luka yang selama ini tersembunyi.
“Yang saya ingat cuma satu…”
Ia berhenti sejenak. “…malam itu bukan cuma operasi biasa.”
Adinda menahan napas, seperti menunggu sesuatu yang begitu berat.
Perawat itu melanjutkan. “Ada orang penting datang.” Dan kalimat terakhirnya…jatuh seperti bom yang belum meledak.
“Dan sejak itu… semua data berubah.”
Adinda langsung tercekat, ia ingin berbicara. ingin mendesak agar perawat itu tidak setengah-setengah dalam memberikan informasi.
Naya yang sadar dengan tatapan Adinda perempuan itu mengelus bahunya pelan. "Sabar ... kita tidak bisa secara langsung menemukan informasinya," ucapnya pelan.
Adinda mengangguk sedikit tersadarkan, meskipun ia tidak dapat semua info akan tetapi informasi itu mulai terlihat sedikit demi sedikit.
Dan justru itu membuat Naya semakin tertantang untuk terus menggali lebih dalam lagi.
Bersambung ....
Selamat pagi semoga suka ya.