"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 1 Sengkala
Air langit tumpah ruah, menghujam bumi bersama lecutan petir yang membelah kegelapan.
Daun-daun jatuh berguguran tersentuh sapuan angin yang tak bersahabat. Terbang--berhamburan.
Malam ini, Sukma memeluk sunyi. Hamdan--kakak satu-satunya yang dimiliki mendekam di balik jeruji besi karena melakukan perbuatan asusila. Melecehkan seorang mahasiswi dan hampir merenggut kesucian.
Sialnya, mahasiswi itu adalah Aluna, adik bungsu Xavier--ketua Geng Bima Sakti yang tak kenal ampun.
Bi Jayanti, asisten rumah tangga yang sudah mengabdi puluhan tahun, tadi pagi pulang ke desa karena kerabatnya meninggal dunia.
Sukma duduk termenung di sofa. Meringkuk sambil mendekap boneka beruang pemberian seseorang yang dulu teramat dipujanya. Menatap sendu pemandangan di luar jendela.
Sayang, ia terlupa mengunci pintu. Kelalaian fatal yang menjadi awal kehancuran.
"Kak Hamdan, kenapa kakak ngelakuin perbuatan hina itu?" gumamnya lirih. Setetes kristal bening jatuh melintasi pipi, lalu meresap ke dalam pelukan boneka kesayangan.
Sukma masih tak percaya, kakak yang teramat ia hormati melakukan perbuatan tercela hanya karena 'obsesi cinta'.
Terdengar suara ketukan pintu.
Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.
Sukma terhenyak. Jemarinya bergerak gusar menyeka wajahnya yang basah.
Takut, tapi rasa penasaran memaksanya untuk segera beranjak dan melihat siapa yang berdiri di luar sana dari balik kaca jendela.
"Kak... Vier..." Sukma menutup mulutnya dengan telapak tangan. Boneka yang semula berada dalam dekapan jatuh ke lantai, lalu menggelinding di bawah meja.
Murka, itu yang terlihat dari ekspresi wajah Xavier.
Rahang mengeras, tatapannya dingin saat tanpa sengaja mata mereka saling beradu.
Pintu rumah terbuka perlahan, memperlihatkan sosok tinggi gagah yang sudah berdiri di ambang dengan seringai mengerikan.
Sukma membeku. Jantungnya berdegup tak beraturan saat Xavier membawa langkah kakinya mendekat.
"Kak Vier, ke... kenapa kamu datang ke sini?" Kalimat itu pecah di bibir Sukma yang bergetar.
Alih-alih memberi jawaban, Xavier justru kian memangkas jarak.
Hembusan napas Xavier menyapu wajah Sukma--terasa dingin dan menguarkan aroma alkohol yang tajam, seolah setiap napasnya adalah ancaman yang merayap di kulit.
Sukma merangsek mundur. Kakinya diseret tak beraturan hingga punggungnya membentur dinding dengan keras.
Kini ruang geraknya habis. Terjebak di antara kokohnya tembok dan tatapan tajam Xavier.
"Ka... kamu ma... mau apa?" Lirih dan terbata, Sukma bertanya. Nyaris tak terdengar--tertelan nyanyian hujan, berpadu dengan gelegar guntur.
Xavier tersenyum miring. Satu tangannya bertumpu pada dinding--mengunci ruang gerak Sukma dan tangan lainnya merengkuh dahi gadis itu, memaksa mata mereka bertemu.
“Malam ini lo hancur! Biar kakak lo paham ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue," bisiknya pelan, namun penuh intimidasi dan menghujam, membuat tubuh Sukma gemetar.
"Kak Vi-er... ja--" Xavier membungkam bibir Sukma. Melumat rakus. Melampiaskan amarah dan dendam yang mengalahkan akal sehat.
Air mata Sukma lolos tanpa suara. Batinnya meneriakkan sumpah serapah yang tak mampu terucap.
Puas melumat bibir, Xavier menyeret gadis malang itu masuk ke dalam kamar, lalu menghempasnya hingga rebah di atas ranjang. Membiarkannya tenggelam dalam seprai berwarna putih dan didekap rasa takut yang kian pekat.
"Kak... Vi-er aku mohon, jangan lakuin ini..." pinta Sukma--parau. Mengiba belas kasih dengan air mata yang mengalir deras. Namun Xavier enggan mengindahkan dan seolah tak mendengar. Ia menjelma menjadi iblis. Menghukum gadis yang sama sekali tidak bersalah.
Sukma hanya bisa terbaring pasrah, tubuhnya yang gemetar mendadak lunglai, benar-benar tak berdaya di bawah kungkungan Xavier yang mengunci setiap geraknya.
Sebelum kembali melanjutkan aksi bejatnya, Xavier menaruh kamera di atas nakas. Merekam adegan hina yang ingin ditunjukkan pada Hamdan.
Guntur kembali menggelegar, mengiringi ritual terlarang di atas ranjang.
"Vier..." Sukma berteriak, meringis--perih saat Xavier menghujamkan bagian tubuhnya.
Di telinga Xavier, suara teriakan Sukma laksana nada-nada merdu yang membuatnya kian menjadi dan enggan mengakhiri.
Marwah ternoda. Rasa cinta yang dijaga dalam diam seketika mati. Tergantikan amarah, kecewa, dan benci.
Lesap sudah kekagumannya pada Xavier.
Dunia Sukma runtuh dalam semalam.
Bukan hanya merenggut kesucian, Xavier juga membisikkan ancaman.
"Simpan suara lo! Satu kata aja keluar, gue bakal hancurin hidup lo lebih dari ini!"
Sukma mengumpulkan keberanian. Ia menatap getir mata Xavier--netra yang dulu tampak indah dan teduh, namun kini telah bermetamorfosa menjadi sorot iblis yang paling ia benci.
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" ujarnya penuh luapan amarah.
Xavier tertawa remeh.
Baginya, ucapan Sukma hanya angin lalu. Berhembus sesaat, lalu menghilang. Tak perlu didengar, apalagi diacuhkan.
Selepas Xavier pergi, Sukma memeluk selimut yang membalut tubuhnya.
Air mata kembali mengalir, tanpa isakan atau suara ratapan.
Pandangannya kosong. Hatinya remuk redam.
Sungguh ia tidak pernah mengira, kesuciannya direnggut paksa oleh lelaki yang dicintainya dalam diam--Xavier Narendra Aditama.
"Vier, kenapa kamu tega? Kamu berubah. Kamu... bukan Xavier-ku yang dulu. Kamu iblis..."
Tangis Sukma pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Fondasi dunianya dihancurkan tanpa ampun oleh lelaki yang dulu sangat ia puja.
Di matanya, Xavier yang hangat telah mati, digantikan iblis berwujud manusia.
.
.
Rumah bukan lagi tujuan Xavier. Ia berbalik arah, memilih basecamp Geng Bima Sakti sebagai tempat pelariannya malam ini.
Edo menyambut kedatangan sang ketua geng dengan tawa kemenangan yang dibungkus kepulan asap va-pe beraroma macchiato.
Di balik tawanya itu, ia merayakan keberhasilannya.
Tujuan jahat tercapai hanya dengan hasutan murahan. Xavier yang menganggap dirinya sebagai The Unbeatable, kalah telak.
Dia tak terkalahkan oleh musuh, tapi berhasil dihancurkan oleh orang dalam--Edo Malviano Sengkala, Wakil Jenderal Geng Bima Sakti.
Sungguh miris.
Xavier mungkin adalah sang 'Narendra'--sosok ketua geng yang kuat. Namun, dia lupa bahwa di belakangnya berdiri Edo Malviano Sengkala. Pria yang dari namanya saja sudah berarti bencana, sang pembawa malapetaka yang kini tengah tertawa merayakan kehancuran pemimpinnya sendiri.
"Gimana, lo udah ngehancurin Sukma?" Pertanyaan itu terlontar ringan dari bibir Edo.
Xavier tersenyum tipis. Ia menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kayu. Meraih botol kaca berisi minuman beraroma menyengat, lalu meneguknya hingga tersisa separuh.
"Udah." Hanya satu kata. Tapi, jawaban itu membuat Edo puas dan jemawa, mengukuhkan dirinya sebagai The Unbeatable yang sesungguhnya.
"Kita bersulang buat kemenangan lo, Vier..." Edo mengangkat sebotol whisky yang disambut langsung oleh Xavier.
Di bawah lampu neon yang temaram mereka bersulang merayakan kemenangan, sekaligus kekalahan dan kehancuran seorang pemimpin geng yang terlalu bangga pada pamornya.
Di detik ini, Xavier belum menyadari makna tatapan mata Edo. Ia terlalu percaya pada sang wakil jenderal, hingga terlupa bahwa 'sahabat dekatnya itu' adalah musuh yang sesungguhnya, bagian dari Geng Black Shadow.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier