NovelToon NovelToon
Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Suamiku Ternyata Bos Mafia Yang Disegani Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.

Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Lencana Sayap yang Tersembunyi

Setelah kejadian penculikan itu, Arkan merasa lebih waspada dari sebelumnya. Ia tidak lagi hanya mengandalkan keamanan biasa, dan ia menyadari bahwa perlindungan yang mereka miliki jauh lebih kuat dan rahasia daripada yang ia bayangkan.

Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya, sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya tumbuh perlahan tapi pasti.

Suatu sore, saat Arkan sedang berjalan menyusuri koridor gedung utama menuju ruang kerjanya, matanya secara tidak sengaja menangkap sesuatu di dada Damar.

Teman lamanya itu berjalan di sebelahnya, wajahnya tetap tenang dan berwibawa, namun kali ini Arkan melihat jelas sebuah benda kecil yang disematkan rapi di atas dada kiri jas seragam keamanannya.

Itu adalah sebuah lencana kecil berbentuk sayap elang yang terbuat dari logam berwarna perak bersih, dengan garis-garis yang sangat halus dan presisi.

Arkan tertegun sejenak, karena ia tahu betul bahwa lencana ini bukan milik organisasi Arkan Group.

Lambang perusahaan mereka adalah bentuk peta dunia yang melingkar, atau huruf A yang melambangkan Arkan. Tapi lencana di dada Damar ini sama sekali berbeda.

Tanpa terasa, langkah Arkan terhenti. Ia menatap lencana itu dengan tatapan yang semakin dalam.

Kemudian, tanpa sadar, matanya berpindah ke arah dua pengawal pribadinya yang selalu berdiri di pintu ruang kerja Liora.

Kedua orang itu juga mengenakan lencana yang persis sama. Bentuknya sama, ukurannya sama, bahannya sama, dan bahkan cara penyematannya pun sama rapinya.

 Arkan menelan ludah pelan. Rasa penasaran dan sedikit rasa curiga mulai menghimpit hatinya.

"Mulai kapan ini?" gumam Arkan dalam hati.

 "Sejak kapan Damar dan pengawalku memakai lambang yang tidak pernah aku lihat sebelumnya? Dan mengapa bentuknya sangat mirip dengan legenda yang dulu pernah kudengar di masa lalu?"

Arkan ingat benar, dulu saat ia masih memimpin organisasi lama, ada cerita tentang pasukan rahasia bernama Unit Falcon.

Cerita itu hanya terdengar sebagai mitos, cerita rakyat yang dikisahkan oleh orang tua sebagai pasukan tentara elit yang sangat kuat, yang tidak pernah kalah dalam pertempuran, dan yang dipimpin oleh seseorang yang kekuatannya setara dengan raja perang.

Saat itu Arkan hanya menganggapnya dongeng belaka. Tapi sekarang, melihat lencana itu, ia mulai meragukan anggapannya sendiri.

Hal lain yang membuat pikiran Arkan semakin bingung dan curiga adalah tentang senjata yang kini digunakan oleh seluruh pasukan keamanan Arkan Group.

Selama beberapa bulan terakhir, ia memperhatikan bahwa semua pengawal, petugas keamanan, bahkan tim penjaga di setiap cabang dan wilayah baru yang mereka buka, kini membawa senjata api tipe N.

Arkan tahu betul senjata ini.

Tipe N7 bukan senjata standar yang digunakan oleh kepolisian atau tentara biasa. Ini adalah senjata khusus yang hanya diproduksi untuk pasukan elit militer, memiliki akurasi luar biasa, jangkauan tembak yang jauh, dan ketahanan yang tidak tertandingi.

Tidak ada perusahaan keamanan biasa, tidak ada organisasi bisnis, dan tidak ada kelompok swasta yang memiliki hak untuk menggunakan senjata jenis ini.

"Siapa yang memberikan senjata ini pada kita?" tanya Arkan pada Damar suatu hari saat mereka sedang beristirahat.

Damar hanya tersenyum tenang, menatap lantai sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati.

"Itu perintah khusus dari Nyonya Liora, Tuan Arkan.

"Dia yang mengatur semua persediaan dan peralatan terbaru untuk menjamin keamanan kita sepenuhnya."

"Dia ingin kita memiliki perlengkapan terbaik yang ada di dunia ini, agar tidak ada yang berani mencoba apa pun lagi."

Jawaban itu masuk akal di permukaan. Namun rasa curiga Arkan tidak hilang. Justru semakin hari semakin kuat.

Ia memperhatikan bahwa sejak Liora mengambil alih pengurusan keamanan dan perlindungan, segala sesuatu berubah menjadi sempurna.

Tidak ada celah, tidak ada kesalahan, tidak ada ancaman yang bisa masuk. Segala sesuatu berjalan dengan presisi seperti mesin yang dibuat oleh tangan-tangan ahli militer sejati, bukan oleh perencana bisnis biasa.

Suatu malam, saat seluruh rumah sudah sunyi dan Arkan tidak bisa tidur karena pikirannya yang penuh tanda tanya, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.

Ia mengambil buku catatan kecil yang berisi catatan sejarah organisasi lama, dan mulai membaca kembali tentang cerita Unit Falcon yang dulu hanya dianggap mitos.

Ia membaca tentang pasukan yang dipimpin oleh seorang komandan wanita yang legendaris, yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan ribuan prajurit elit hanya dengan satu perintah.

Ia membaca tentang lambang sayap elang yang menjadi tanda kebanggaan mereka, dan tentang cara mereka bertugas yang selalu dilakukan dalam diam, tanpa jejak, dan tanpa nama.

Saat membaca bagian itu, tangan Arkan mulai gemetar pelan. Ia teringat pada Liora.

Ia teringat pada kecerdasannya yang luar biasa, pada ketenangannya yang tidak pernah goyah dalam situasi apa pun, dan pada kekuatan tak terlihat yang selalu melindungi mereka.

"Apakah mungkin..." bisik Arkan pelan, matanya melebar penuh keterkejutan.

 "Apakah mungkin Liora bukan hanya sekadar istri biasa, bukan hanya sekadar wanita pintar yang mengatur bisnis kita? Apakah mungkin dia adalah Komandan dari Unit Falcon itu sendiri?"

Pikiran itu terdengar gila, terlalu besar dan terlalu mengagumkan untuk dibayangkan.

Tapi semakin ia pikirkan, semakin semua potongan teka-teki itu saling cocok.

Lambang yang sama yang dipakai Damar dan pengawalnya.

Senjata N7 yang hanya untuk pasukan khusus.

Keamanan yang sempurna tanpa celah.

Kekuatan yang tidak terlihat namun mematikan.

Dan wanita di sampingnya yang menjadi jantung dari semuanya.

Arkan menutup buku itu, lalu menoleh ke arah pintu kamar tidur. Ia ingat bagaimana Liora selalu bisa menyelesaikan segala masalah, bagaimana ia selalu tahu apa yang harus dilakukan sebelum masalah itu muncul, dan bagaimana ia selalu melindunginya tanpa pernah mengungkapkan caranya.

"Mungkin aku sudah tahu jawabannya," gumam Arkan dengan suara rendah.

"Dan mungkin aku hanya belum siap untuk mendengarnya secara langsung."

Namun rasa ingin tahunya tidak bisa ditahan lagi.

Ia memutuskan untuk bertanya langsung pada Damar, orang yang paling ia percaya setelah Liora sendiri.

Keesokan harinya, saat mereka berdua berjalan sendirian di taman belakang kediaman,

Arkan berhenti dan menatap mata Damar dengan tatapan yang serius dan tajam.

"Damar," panggil Arkan."

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu dengan jujur."

"Dan aku ingin kau menjawabku dengan jujur juga."

Damar berhenti berjalan, wajahnya tetap tenang namun ia tahu bahwa hari ini pertanyaan besar akan datang.

 "Silakan, Tuan Arkan. Saya akan menjawab apa pun yang Tuan tanyakan."

Arkan menunjuk ke arah dadanya sendiri.

 "Lencana yang kau pakai ini... lambang apa ini? Dari mana asalnya? Dan kenapa dua pengawalku juga memakai hal yang sama?"

Damar terdiam sejenak.

 Ia tahu hari ini akhirnya waktunya untuk mengakui sedikit rahasianya pada Arkan, tapi ia juga tahu bahwa Liora memintanya untuk menyimpannya selama mungkin.

Namun melihat tatapan tulus dan serius dari pemimpinnya, Damar menyadari bahwa waktunya sudah tiba.

"Ini adalah lambang Unit Falcon, Tuan Arkan," jawab Damar pelan tapi jelas.

"Pasukan elit yang dulu hanya terdengar sebagai cerita legenda.

"Dan saya, serta teman-teman yang lain, sekarang adalah anggota dari pasukan itu."

Arkan menarik napas panjang, dadanya terasa berdebar kencang.

"Jadi... itu benar? Unit Falcon itu nyata? Dan kau... dan mereka semua adalah anggotanya?"

"Benar, Tuan Arkan," lanjut Damar.

"Dan yang lebih penting lagi... Komandan dari Unit Falcon ini adalah orang yang paling kau cintai dan hormati."

 "Istrimu sendiri, Nyonya Liora."

Kata-kata itu terasa seperti petir yang menyambar di kepala Arkan.

Namun bukannya merasa kaget atau takut, Arkan justru merasa hatinya menjadi sangat tenang dan bangga.

Semua teka-teki yang selama ini mengganggu pikirannya akhirnya terjawab dengan sempurna.

Jadi Liora bukan sekadar istri, bukan sekadar mitra bisnis.

Dia adalah pemimpin dari kekuatan terbesar dan paling dihormati di dunia ini.

Dia adalah pelindung yang nyata, yang telah melindungi dia dan seluruh keluarganya selama ini tanpa pernah mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.

"Selama ini..." Arkan tersenyum tipis, matanya berisi rasa haru dan kekaguman yang luar biasa.

"Selama ini dia yang menjaga kita semua. Dia yang menyediakan senjata terbaik, dia yang mengatur keamanan, dan dia yang memimpin pasukan yang membuat seluruh dunia gemetar."

Damar mengangguk hormat. "Nyonya Liora melakukan semua itu hanya demi keselamatan Tuan Arkan dan kebahagiaan keluarga kita.

"Dia meninggalkan masa lalunya yang penuh pertempuran hanya untuk hidup damai bersamamu."

"Tapi jika ada yang berani menyakiti kalian, dia akan kembali menjadi Komandan yang paling ditakuti oleh siapa pun."

Arkan menepuk bahu Damar dengan penuh rasa bangga. Ia tidak lagi merasa bingung atau curiga. Sebaliknya, ia merasa paling beruntung di seluruh dunia.

"Aku mengerti sekarang, Damar," ucap Arkan dengan suara yang penuh emosi.

"Terima kasih sudah memberitahuku. Dan tolong katakan pada Liora... aku bangga padanya. Lebih dari apa pun yang bisa aku katakan dengan kata-kata."

Malam itu, saat Liora sedang duduk membaca di ruang tamu, Arkan mendekatinya dan duduk di sebelahnya.

 Ia tidak bertanya lagi, karena ia sudah tahu jawabannya. Ia hanya memegang tangan istrinya, menatapnya dengan mata yang penuh cinta dan rasa hormat yang baru.

"Aku tahu semuanya sekarang, Liora," bisik Arkan pelan.

"Aku tahu siapa kau sebenarnya. Dan aku bangga menjadi orang yang dicintai oleh wanita sehebat dan sekuat kau."

Liora tersenyum lembut, menekan kepalanya ke bahu Arkan. Ia tidak perlu menjelaskan apa pun lagi.

Karena bagi mereka berdua, rahasia itu sudah tidak lagi menjadi beban. Dan sekarang, ikatan mereka menjadi lebih kuat, lebih dalam, dan tidak akan pernah terpisahkan selamanya.

Unit Falcon tetap terbang tinggi, menjaga mereka dari bayang-bayang, dan Arkan kini tahu bahwa tidak ada tempat di bumi ini yang lebih aman daripada di samping wanita yang menjadi Ratu dan Pelindung mereka semua.

1
Dhatu Lukita
aku kasih ⭐ 5 y biar semangat
Tri Wahyuni: Terimakasih
total 1 replies
Dhatu Lukita
halo thor, ceritanya menarik yaa😍.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!