NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: KEBENARAN DI UJUNG LUKA

​Hujan badai di kawasan hutan pinus Subang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Angin bertiup kencang, merintih di sela-sela dahan pohon raksasa seolah menyuarakan kepedihan dua anak manusia yang sedang berpacu dengan maut.

​Aaliyah Humaira menggertakkan giginya menahan rasa sakit di lututnya yang terluka. Ia dan pria tua misterius itu—yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Ki Darma—tengah memapah tubuh Zayn Al-Fatih yang sepenuhnya tidak sadarkan diri. Tubuh Zayn terasa sangat berat, seperti bongkahan batu besar yang ditarik menembus lumpur licin dan semak berduri. Setiap langkah menuju bukit terasa seperti siksaan neraka.

​Ya Allah... berikanlah kekuatan pada pundak hamba. Tubuh Zayn membara karena demam, namun tangannya sedingin es. Napasnya semakin pendek dan putus-putus. Jika kami tidak segera mencapai tempat yang kering, infeksi ini akan membunuhnya sebelum peluru Sultan sempat menyentuhnya. Bertahanlah, Zayn... kuatkan dirimu. Jangan biarkan kisah kita berakhir di tanah yang basah ini.

​"Sedikit lagi, Nak. Gubuk Bapak ada di balik gundukan batu itu," ucap Ki Darma dengan napas tersengal. Pria tua itu tampak sangat tangguh meskipun usianya mungkin sudah menginjak kepala tujuh.

​Setelah sepuluh menit perjuangan yang menguras sisa tenaga terakhir mereka, sebuah gubuk kayu kecil beratap rumbia muncul di balik pepohonan tebal. Gubuk itu sangat tersembunyi, nyaris menyatu dengan kontur tebing di belakangnya, sehingga tidak mungkin terlihat dari udara maupun dari jalan setapak di bawah sana.

​Ki Darma mendorong pintu kayu yang berderit pelan. Mereka membawa Zayn masuk dan membaringkannya di atas sebuah balai-balai bambu yang dialasi tikar pandan yang bersih.

​Gubuk itu sangat sederhana, namun terasa hangat berkat perapian kecil yang menyala di sudut ruangan. Udara di dalam dipenuhi aroma kayu bakar dan daun-daun herbal yang dikeringkan. Aaliyah jatuh terduduk di lantai tanah yang dipadatkan. Seluruh tubuhnya gemetar hebat akibat kelelahan ekstrem dan hipotermia yang mulai menyerang.

​"Buka jas dan kemejanya yang basah, Nak. Bapak akan meracik daun binahong dan sambiloto untuk menghentikan pendarahan dan racun infeksi di lengannya," Ki Darma bergerak cepat menuju rak kayunya, mengambil lesung batu kecil dan mulai menumbuk dedaunan.

​Aaliyah menelan ludahnya yang terasa kering. Tangannya yang berlumuran lumpur dan darah perlahan membuka kancing kemeja Zayn. Ia berusaha menepis rasa canggungnya; ini adalah situasi darurat medis, bukan waktunya memikirkan batasan. Saat kemeja itu terbuka, Aaliyah memejamkan mata sesaat melihat memar ungu kehitaman di dada Zayn akibat benturan ledakan tadi. Luka jahitannya di lengan kanan telah robek dan tampak membengkak mengerikan.

​Lihatlah tubuhnya... hancur karena menjadi tameng bagiku. Pria yang menguasai bursa saham Asia ini, kini terkapar tanpa daya di atas tikar pandan yang kasar. Zayn... jika saja aku tidak pernah masuk ke dalam hidupmu, kau mungkin masih duduk di kursi kebesaranmu dengan segelas kopi panas. Aku telah membawa badai kehancuran ke dalam duniamu.

​Ki Darma mendekat membawa ramuan daun yang sudah dihaluskan. Ia menempelkannya pada luka terbuka di lengan dan pelipis Zayn, lalu membalutnya dengan kain katun bersih yang ia robek dari simpanannya.

​"Ini akan terasa sangat perih, tapi ini satu-satunya cara menghentikan pembusukan jaringan sebelum dia mendapat antibiotik medis," jelas Ki Darma.

​Benar saja, meskipun dalam keadaan pingsan, tubuh Zayn tersentak hebat saat ramuan itu menyentuh lukanya. Ia mengerang keras, wajahnya berkerut menahan penderitaan yang luar biasa. Aaliyah secara refleks menggenggam tangan kiri Zayn, menempelkannya ke pipinya sendiri yang basah oleh air mata.

​"Zayn... aku di sini. Tahanlah sebentar... kumohon, bertahanlah," bisik Aaliyah tiada henti, mengusap keringat dingin di dahi pria itu.

​Setelah luka-luka itu terbalut, Zayn kembali tenang, meskipun napasnya masih berat. Ki Darma memberikan secangkir air jahe panas kepada Aaliyah.

​"Minumlah, Nak. Kau juga bisa mati kedinginan jika tidak menghangatkan tubuhmu," ucap Ki Darma lembut.

​Aaliyah menerima cangkir itu dengan kedua tangannya yang bergetar. Ia menyesapnya pelan. Kehangatan jahe itu mengalir ke perutnya, memberikan sedikit kenyamanan di tengah kekacauan logikanya. Saat ia meletakkan cangkir itu, tatapannya langsung mengunci pada mata keriput Ki Darma.

​Waktunya telah tiba. Aaliyah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Rasa penasaran yang menyiksanya lebih menyakitkan daripada luka di kakinya.

​"Bapak... di sungai tadi, Bapak menyebut nama ibu saya. Bapak mengenali kalung ini," Aaliyah mengeluarkan kalung berliontin "A" dari balik sisa jilbabnya yang robek. "Tolong katakan pada saya, apa yang Bapak ketahui tentang malam pesantren kami dibakar dua puluh tahun lalu? Apakah benar... keluarga Al-Ghifari yang melakukannya?"

​Ki Darma menarik napas panjang yang terdengar sangat rapuh. Ia duduk bersila di dekat perapian, menatap kobaran api seolah melihat masa lalu yang menari-nari di sana.

​"Tidak, Nak. Tuan Besar Al-Ghifari bukan pembakarnya," kalimat pertama Ki Darma seketika meruntuhkan beban seberat gunung di pundak Aaliyah. "Beliau justru adalah pria yang masuk ke dalam api untuk menyelamatkan ibumu."

​Dunia Aaliyah seakan berhenti berputar. Matanya membelalak. Zayn... ayah angkat Zayn mencoba menyelamatkan ibuku?

​"Dua puluh tahun yang lalu," Ki Darma mulai bercerita, suaranya parau membawa kepedihan. "Bapak adalah seorang mandor kasar yang bekerja untuk perusahaan konstruksi milik Sutan Al-Fahri Senior—ayah dari pemuda bernama Sultan. Perusahaan itu di ambang kebangkrutan karena Sutan Senior menggelapkan dana proyeknya sendiri untuk berjudi. Ia butuh uang asuransi, dan ia butuh tanah pesantren ayahmu yang letaknya sangat strategis untuk proyek baru demi menyelamatkan perusahaannya."

​Aaliyah mendengarkan tanpa berkedip. Setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu merangkai kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini berantakan.

​"Sutan Senior mencuri uang lima miliar dari brankas mitranya, Tuan Besar Al-Ghifari, dan menggunakan uang itu untuk menyewa sekelompok preman—termasuk memaksa Bapak dan pekerja lain yang sedang kelaparan—untuk membakar pesantren itu di tengah malam," air mata Ki Darma menetes, jatuh ke atas pangkuannya. "Bapak masih ingat... Bapak disuruh menyiramkan bensin ke aula utama. Bapak butuh uang untuk biaya rumah sakit anak Bapak... Bapak melakukan dosa terbesar dalam hidup Bapak."

​Ya Allah... jadi uang lima miliar yang keluar dari rekening ayah Zayn itu bukan untuk mendanai pembakaran, melainkan dicuri oleh ayah Sultan?

​"Lalu... apa hubungan Tuan Besar Al-Ghifari dengan semua ini?" tanya Aaliyah, suaranya bergetar menahan isak tangis.

​"Tuan Besar Al-Ghifari mengetahui pencurian itu tiga hari kemudian," lanjut Ki Darma. "Beliau melacak Sutan Senior dan menemukan rencana pembakaran tersebut pada malam yang sama. Beliau mengemudi sendirian menembus badai menuju pesantren untuk menghentikan kegilaan mitranya. Tapi beliau terlambat... api sudah membesar."

​Ki Darma menatap mata Aaliyah dengan penyesalan yang tak terhingga.

​"Saat kami semua lari ketakutan melihat api, Bapak melihat mobil Tuan Al-Ghifari datang. Beliau tanpa ragu menerobos masuk ke dalam asrama perempuan yang sedang runtuh karena mendengar teriakan ibumu, Nyonya Halimah. Beliau mencoba menolong ibumu yang terjebak di bawah reruntuhan kayu yang terbakar. Tapi sebuah balok atap jatuh... Tuan Al-Ghifari hanya berhasil meraih kalung yang putus dari leher ibumu sebelum api memisahkan mereka. Beliau keluar dengan luka bakar parah di punggungnya, menangis histeris karena gagal menyelamatkan nyawa seorang wanita yang tak berdosa."

​Tangis Aaliyah pecah seketika. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakannya menggema di gubuk sempit itu.

​Ayah Zayn bukan pembunuh... beliau adalah pahlawan yang gagal! Beliau masuk ke dalam api demi menyelamatkan ibuku! Dan kalung ini... beliau menyimpannya di brankas bukan sebagai piala kemenangan, melainkan sebagai pengingat akan rasa bersalah dan kegagalannya menyelamatkan nyawa! Ya Allah, betapa kejinya fitnah yang Sultan bangun! Dia memutarbalikkan fakta untuk membuatku membenci satu-satunya keluarga yang selalu mencoba melindungiku!

​Aaliyah menoleh ke arah Zayn yang masih terlelap. Tiba-tiba, ia merasa cintanya pada pria itu berlipat ganda hingga rasanya dadanya mau meledak. Luka masa lalu yang tadinya tampak seperti jurang pemisah, kini berubah menjadi jembatan baja yang menyatukan takdir mereka. Zayn dan Aaliyah adalah dua anak yang dibesarkan di atas tragedi yang sama, dikhianati oleh dalang yang sama.

​"Setelah kejadian itu, Sutan Senior ketakutan karena Tuan Al-Ghifari akan melaporkannya ke polisi bersama Kyai Abdullah yang memiliki bukti korupsinya. Sutan Senior memilih bunuh diri," Ki Darma mengakhiri ceritanya. "Bapak hidup dalam pelarian dan rasa bersalah di hutan ini selama dua puluh tahun. Saat Bapak melihat kalung itu di lehermu tadi... Bapak tahu bahwa Allah akhirnya mengirimkan anak dari wanita yang Bapak bunuh, agar Bapak bisa menebus dosa sebelum mati."

​Aaliyah perlahan beringsut mendekati Ki Darma. Pria tua itu menunduk, siap menerima kemarahan, caci maki, atau bahkan pukulan dari Aaliyah.

​Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aaliyah menyentuh tangan pria tua itu dengan lembut.

​"Bapak hanyalah alat dari sebuah keserakahan," ucap Aaliyah di sela isak tangisnya. "Ibu saya mengajarkan bahwa dendam adalah api yang akan membakar diri kita sendiri. Jika Allah mengizinkan saya dan Zayn selamat sampai ke gubuk ini untuk mendengar kebenaran dari mulut Bapak, maka itu artinya Allah sudah merencanakan pengampunan ini. Saya memaafkan Bapak."

​Ki Darma menangis sejadi-jadinya, bersujud di lantai tanah itu. Beban dua puluh tahun yang menggerogoti jiwanya akhirnya terangkat oleh kebesaran hati seorang Hafizah.

​Suasana haru itu berlangsung beberapa saat, sebelum tiba-tiba terpecah oleh sebuah erangan dari balai-balai bambu.

​Zayn menggerakkan kepalanya. Kelopak matanya bergetar pelan, lalu terbuka dengan susah payah. Pandangannya kabur, namun ia bisa melihat siluet Aaliyah yang sedang duduk di dekatnya.

​"A-Aaliyah..." suara Zayn sangat lemah, namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

​Aaliyah segera menghambur ke sisi ranjang. Ia meraih wajah Zayn dengan kedua tangannya, tidak lagi peduli pada jarak atau status. "Zayn! Kau sadar? Alhamdulillah... jangan banyak bergerak, lukamu baru saja diobati."

​Zayn mencoba tersenyum, sebuah senyuman tipis yang sangat dipaksakan. Matanya yang sayu menatap wajah Aaliyah yang dipenuhi air mata dan noda lumpur, namun bagi Zayn, wanita ini tidak pernah terlihat lebih cantik dari saat ini.

​"Kau menangis... apakah aku akan mati?" bisik Zayn mencoba bercanda, meski napasnya masih tersengal.

​"Jangan bicara bodoh!" Aaliyah menggeleng kuat, air matanya menetes mengenai pipi Zayn. "Kau tidak boleh mati, Zayn Al-Fatih. Kau tidak boleh mati sebelum mengetahui bahwa ayahmu adalah seorang pahlawan. Ayahmu mencoba menyelamatkan ibuku."

​Mata Zayn yang setengah tertutup tiba-tiba terbuka sedikit lebih lebar. "Apa maksudmu...?"

​"Sultan berbohong, Zayn. Keluargamu dijebak. Nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi sekarang kau harus fokus untuk tetap bernapas," Aaliyah mengusap peluh di dahi Zayn dengan penuh kasih sayang.

​Batin Zayn: Ayahku bukan pembunuh? Keluargaku tidak menghancurkan keluarganya? Beban ini... beban kutukan ini akhirnya hancur. Aaliyah tidak akan meninggalkanku karena masa lalu. Ya Tuhan, jika Engkau mengambil nyawaku detik ini pun, aku sudah merasa sangat tenang.

​Zayn mengangkat tangan kirinya yang gemetar. Ia menyentuh jari manis Aaliyah, tepat di tempat cincin lamarannya melingkar indah meskipun berlumuran lumpur.

​"Jika kita keluar dari hutan ini hidup-hidup..." napas Zayn tersendat sesaat. "Kita langsung ke KUA. Aku tidak mau menunggu lagi."

​Aaliyah tertawa di sela tangisnya, sebuah tawa kebahagiaan yang tulus. "Dasar pemaksa. Sembuhkan dulu lukamu, baru kau boleh bicara tentang pernikahan."

​Momen magis dan emosional itu terasa begitu sempurna, seolah dunia di luar sana berhenti berputar.

​Namun, kedamaian itu dihancurkan secara brutal dalam hitungan detik.

​BRAT-TAT-TAT-TAT-TAT!

​Suara rentetan tembakan senapan otomatis memecah udara hutan yang sunyi, merobek dinding kayu gubuk Ki Darma hingga hancur berlubang-lubang. Serpihan kayu berterbangan dengan ganas ke segala arah.

​Aaliyah secara naluriah melemparkan tubuhnya menutupi tubuh Zayn di atas balai-balai bambu, melindungi pria yang terluka itu dari peluru nyasar.

​"Mereka menemukan kita!" teriak Ki Darma panik. Pria tua itu segera merayap mengambil senapan angin tuanya di sudut ruangan.

​Di luar gubuk, suara baling-baling drone pemindai panas berdesing di atas atap rumbia. Cahaya lampu sorot merah menembus lubang-lubang peluru di dinding gubuk, menyinari wajah pucat Aaliyah dan Zayn.

​Sultan tidak menggunakan anjing pelacak; ia menggunakan teknologi drone thermal militer yang disuplai oleh Rian untuk menyisir hutan dari udara. Dan kini, eksekutor mematikan Sultan telah mengepung gubuk reot itu dari segala penjuru.

​Tidak ada mobil evakuasi, tidak ada firewall digital, tidak ada ruang negosiasi.

​Mereka berdua terjebak di sebuah gubuk yang siap menjadi peti mati terakhir mereka.

1
Erni Yustriyanti
Keren bgt
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!