NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Nikah Kontrak
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — JEBAKAN DI ATAS MEJA PERANG

Pagi itu tidak terasa seperti pagi.

Langit cerah, matahari bersinar, tapi suasana di ruang rapat Arkavera terasa seperti badai yang tertahan.

Semua orang diam.

Menunggu.

Dan di tengah meja panjang itu—

Aku duduk dengan tenang.

Sementara di seberangku, Arkan menatap tanpa berkedip.

Tidak ada lagi keterkejutan seperti kemarin.

Hari ini… dia siap.

Bagus.

Akhirnya permainan ini jadi menarik.

Langkah Balasan Arkan

“Rapat dimulai.”

Suaranya datar, tapi kali ini lebih tajam.

Lebih waspada.

Aku bisa merasakannya.

Dia sudah menghabiskan semalam penuh untuk memikirkan langkahku.

Dan sekarang…

Giliran dia.

“Agenda hari ini,” lanjutnya, “evaluasi proyek wilayah selatan.”

Aku tersenyum tipis.

Oh, dia langsung menyerang.

Tanpa basa-basi.

Salah satu direksi mulai berbicara, menjelaskan data, angka, dan proyeksi.

Aku mendengarkan.

Tenang.

Seolah tidak peduli.

Padahal setiap kata… sudah kuketahui sebelumnya.

“Seperti yang kita lihat,” kata direksi itu, “proyek ini masih dalam tahap aman.”

Aman?

Aku hampir tertawa.

Tapi aku menahan diri.

Biarkan mereka selesai dulu.

Serangan Halus

“Pendapat Anda, Nona Alena?”

Akhirnya.

Dia memanggilku.

Nada suaranya formal.

Jauh.

Seolah kami tidak pernah saling mengenal.

Aku mengangkat kepala.

Menatap semua orang di ruangan itu.

Lalu…

Aku tersenyum.

“Kalau saya jujur…?”

Beberapa orang langsung tegang.

“Silakan.”

Aku menyandarkan tubuh.

Santai.

“Proyek ini… bom waktu.”

Sunyi.

Tidak ada yang bergerak.

Aku melanjutkan.

“Dan yang paling menarik… semua orang di ruangan ini tahu itu.”

Salah satu direksi terlihat gelisah.

“Itu tuduhan serius—”

“Bukan tuduhan,” potongku ringan. “Fakta.”

Aku menggeser satu dokumen ke tengah meja.

“Masalah izin tanah. Sengketa yang belum selesai. Dan—”

Aku berhenti sejenak.

Menatap Arkan.

“—dokumen yang sengaja disembunyikan.”

Jebakan Pertama Terbuka

Arkan tidak langsung bereaksi.

Dia hanya menatapku.

Lama.

Lalu—

Dia tersenyum.

Dan itu…

Tidak aku duga.

“Menarik,” katanya pelan.

Aku sedikit mengernyit.

“Aku juga punya sesuatu untukmu.”

Dia memberi isyarat pada asistennya.

Sebuah layar besar di ruangan itu menyala.

Dan dalam hitungan detik—

Sebuah dokumen muncul.

Bukan milikku.

Tapi…

Dokumen transaksi.

Atas namaku.

Aku langsung menyipitkan mata.

Apa ini?

“Sepertinya,” kata Arkan tenang, “pemegang saham baru kita… tidak sebersih yang dia tunjukkan.”

Ruangan langsung gaduh.

Aku tetap diam.

Menatap layar.

Transaksi besar.

Transfer dana.

Perusahaan luar negeri.

Nama yang…

aku kenal.

Leon.

Serangan Balik yang Tepat Sasaran

Aku perlahan berdiri.

Tidak panik.

Tidak marah.

Hanya… tertarik.

“Kamu cepat belajar,” kataku pelan.

Arkan menatapku tanpa senyum.

“Aku tidak pernah lambat.”

Aku berjalan mendekati layar.

Menatap data itu.

“Jadi kamu menyelidiki aku?”

“Wajar untuk seseorang yang tiba-tiba muncul dan mencoba mengambil alih perusahaan.”

Aku tertawa kecil.

“Dan kamu pikir ini cukup untuk menjatuhkanku?”

Dia tidak menjawab.

Tapi tatapannya mengatakan cukup banyak.

Permainan Dua Arah

Aku menoleh ke semua orang.

“Baiklah. Karena kita sudah main terbuka…”

Aku mengambil remote.

Klik.

Layar berubah.

Sekarang…

dokumenku muncul.

Lebih lengkap.

Lebih detail.

Dan jauh lebih berbahaya.

“Aku tidak keberatan kalian melihat ini,” kataku santai.

“Karena yang kalian lihat di sana…” aku menunjuk layar milik Arkan, “hanya setengah cerita.”

Aku menekan lagi.

Klik.

Beberapa halaman tambahan muncul.

Dan kali ini—

Wajah beberapa direksi berubah pucat.

“Dana itu bukan untukku,” lanjutku. “Tapi untuk menyelamatkan sesuatu yang hampir runtuh.”

Aku menatap Arkan.

“Perusahaan ini.”

Sunyi.

Total.

Retakan yang Mulai Terlihat

Arkan tidak langsung bicara.

Dan untuk pertama kalinya—

Aku melihat keraguan kecil di matanya.

Hanya sepersekian detik.

Tapi cukup.

Dia tidak tahu semua.

Bagus.

Jebakan Kedua

“Kalau kita lanjutkan ini,” kataku pelan, “aku yakin banyak hal yang akan terbongkar.”

Aku menatap satu per satu orang di ruangan itu.

“Termasuk hal-hal yang… seharusnya tidak pernah keluar.”

Salah satu direksi langsung menunduk.

Yang lain saling pandang.

Panik mulai menyebar.

Dan di situlah aku tahu—

Aku menang satu langkah.

Pertemuan Berakhir… Tapi Perang Dimulai

Rapat berakhir lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada keputusan jelas.

Tidak ada kesimpulan.

Hanya ketegangan yang menggantung.

Aku keluar dari ruangan itu dengan tenang.

Tapi sebelum aku sempat melangkah jauh—

“Alena.”

Aku berhenti.

Tidak langsung menoleh.

Langkah kaki mendekat.

Dan dia berdiri di sampingku.

Percakapan yang Lebih Berbahaya

“Kamu pikir kamu menang?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum.

“Bukan soal menang.”

Aku akhirnya menoleh.

“Ini soal siapa yang bertahan lebih lama.”

Dia menatapku tajam.

“Kamu bermain dengan api.”

Aku mendekat sedikit.

Cukup untuk membuat suasana berubah.

“Dan kamu… dulu yang pertama kali membakarku.”

Sunyi.

Hanya kami berdua.

Dan masa lalu yang belum selesai.

Ancaman yang Tidak Main-main

“Aku akan cari tahu semuanya,” katanya.

Nada suaranya lebih rendah.

Lebih serius.

“Aku harap kamu siap.”

Aku tersenyum.

Pelan.

“Sudah lima tahun aku siap.”

Aku melangkah mundur.

“Pertanyaannya… kamu siap tidak?”

Jebakan yang Sebenarnya

Saat aku berjalan pergi—

Ponselku bergetar.

Pesan masuk.

Dari Leon.

“Kamu sengaja, kan?”

Aku membalas singkat.

“Iya.”

Dia membalas lagi.

“Dia sudah mulai menggali.”

Aku tersenyum tipis.

Tepat seperti yang aku mau.

Karena yang Arkan tidak tahu—

Semua ini…

Adalah bagian dari jebakan yang lebih besar.

Aku sengaja membiarkan dia menemukan sebagian kebenaran.

Agar dia terus mencari.

Terus masuk lebih dalam.

Sampai akhirnya—

Dia menemukan sesuatu yang tidak akan bisa dia terima.

Aku berhenti di depan lift.

Menatap pantulan diriku.

Tenang.

Terkendali.

Berbahaya.

“Sedikit lagi…” bisikku pelan.

“Masuk lebih dalam, Arkan.”

Pintu lift terbuka.

Aku melangkah masuk.

Dan sebelum pintu tertutup—

Aku tersenyum.

Karena kali ini…

bukan aku yang terjebak.

Tapi dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!