NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4: Sepertinya Kita Bisa Berteman

^^^Rabu, 15 Agustus^^^

Pagi hari di kelas XII IPS 2 terasa berbeda.

Azril tiba lebih awal—kebiasaan baru yang mulai ia bangun sejak beberapa hari terakhir. Sepeda tuanya terparkir rapi di rak sepeda yang kini mulai terisi, dan langkah kakinya terasa lebih ringan saat memasuki gerbang sekolah. Pak Dani, satpam pagi itu, sempat melambai dan Azril membalasnya dengan senyum kecil. Hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil.

Bima sudah menunggu di depan kelas, bersandar di kusen pintu dengan senyum khasnya. "Wah, Zril! Lo makin pagi aja sekarang. Jangan-jangan lo mau ngambil alih rekor gue sebagai siswa paling rajin?"

Azril mendekat, ikut bersandar di samping Bima. "Rekor lo aman, Bim. Gue masih belum bisa serajin lo."

"Waduh, sindiran ya itu?" Bima tertawa, lalu menepuk pundak Azril. "Yuk masuk, sekalian bantu Faris bersihin kelas. Dari tadi dia udah di dalam sendirian."

Azril mengernyit. "Sendirian? Piket kelas hari ini siapa aja?"

"Yang piket anak-anak cowok. Tapi kayaknya cuma Faris yang dateng duluan. Yang lain pada telat kayak biasa." Bima menghela napas. "Kasihan juga, dia bersihin sendiri dari tadi."

Mereka masuk ke kelas. Faris sedang berdiri di dekat papan tulis, tangannya memegang penghapus, berusaha menjangkau coretan kapur di bagian atas papan. Tingginya yang kurang membuat ujung jarinya hanya menyentuh setengah dari tulisan itu. Ia berjinjit, tubuhnya sedikit goyah, dan penghapus di tangannya nyaris terjatuh.

"Ris, tunggu!" Bima cepat melangkah, mengambil penghapus dari tangan Faris sebelum benda itu benar-benar meluncur ke lantai. "Lo mau bersihin tulisan yang atas? Bilang dong sama gue."

Faris tersentak, mundur selangkah. Tangannya yang kosong langsung mencari notebook yang ia letakkan di atas meja. Begitu jari-jarinya menyentuh sampulnya, ia terlihat sedikit tenang. Ia menulis cepat di halaman kosong, lalu menunjukkan pada Bima:

[Gue bisa sendiri. Lo gak usah repot-repot.]

Bima membaca, lalu mendengus. "Lo tuh, Ris. Bantuin teman kok repot. Sini, gue aja yang bersihin." Tanpa menunggu jawaban, ia mulai menghapus coretan kapur di papan dengan gerakan lebar dan efisien. Tingginya yang lebih dari cukup membuat tugas itu terasa mudah.

Azril ikut bergerak. Ia mengambil kain pel yang tergeletak di pojok kelas, mulai membersihkan lantai di barisan depan. Gerakannya lambat tapi teliti, memastikan tidak ada debu yang tersisa di sela-sela lantai keramik.

Faris memperhatikan mereka berdua. Tangannya masih memegang notebook, tapi gemetarnya mulai berkurang. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya, ketika ia piket sendirian seperti ini, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Tapi sekarang...

Ia menulis lagi.

[Makasih.]

Satu kata. Tapi kali ini tulisannya rapi. Tidak berantakan.

Bima menoleh dari papan tulis, tersenyum lebar. "Sama-sama, Ris. Besok kalo lo piket, kabarin gue atau Azril. Kita bantuin."

Azril yang sedang mengepel di dekat meja guru mengangkat kepala. "Iya, Ris. Sekalian kita bisa belajar bareng habis piket."

Faris menunduk, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia kembali ke mejanya di pojok depan, duduk, dan membuka buku sketsa. Bukan untuk menggambar-hanya untuk memastikan benda itu ada di tangannya. Di belakangnya, ia mendengar Bima tertawa kecil karena coretan kapur yang susah dihapus, dan suara Azril yang menawarkan diri mengganti kain pel yang sudah kotor.

Suara-suara itu tidak membuatnya panik.

Aneh.

...~•~•~•~...

Bel istirahat berbunyi. Suasana kelas yang tadinya riuh perlahan meredup saat siswa-siswi berhamburan ke kantin atau ke luar kelas. Di bangku pojok belakang dekat jendela, Azril sedang merapikan buku catatannya-kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan meskipun istirahat telah tiba.

Bima muncul di sampingnya dengan langkah tergesa. "Zril, yuk ke kantin! Gue laper banget, tadi pagi cuma makan roti doang."

"Lo mah laper mulu, Bim," Azril terkekeh, tapi ia tetap berdiri dan mengikuti.

Bima melangkah ke depan, mendekati bangku Faris di pojok depan. Faris sedang membuka bekalnya-nasi kotak sederhana dengan lauk telur dadar dan sayur-ketika Bima tiba-tiba berdiri di samping mejanya.

"Ris, lo gak ke kantin?"

Faris mendongak. Matanya bergerak cepat antara Bima, Azril di belakang, dan pintu kelas yang mulai sepi. Tangannya bergerak ke notebook.

[Aku bawa bekal.]

"Ya udah, kita temenin makan di kantin aja! Sekalian kenalan sama kantin sekolah, lumayan banyak pilihan kok." Bima tidak menunggu jawaban. Ia mengambil kotak bekal Faris dengan hati-hati, lalu mengulurkannya ke Faris. "Ayo, Ris."

Faris ragu. Kantin berarti ramai. Banyak orang. Banyak suara. Banyak tatapan. Tangannya mulai gemetar lagi.

Azril melihat itu. Ia melangkah maju, berdiri di sisi lain Faris. Suaranya pelan, tidak memaksa. "Kita cari tempat yang sepi, Ris. Di pojok. Gue juga kurang suka tempat rame."

Faris menatap Azril. Di balik kacamata bulat itu, ada sesuatu yang familiar. Bukan iba, bukan kasihan-tapi pengertian. Seperti seseorang yang juga paham bagaimana rasanya ingin menghilang di tengah keramaian.

Faris mengangguk. Perlahan, ia berdiri.

Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Bima di depan dengan langkah lebar, sesekali menoleh ke belakang memastikan Faris masih mengikuti. Azril berjalan di samping Faris, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ia tidak memaksakan percakapan, hanya sesekali menunjukkan arah dengan dagunya saat Faris tampak bingung di tikungan lorong.

Kantin mulai ramai, tapi tidak sepadat biasanya. Bima memandang sekeliling, mencari tempat kosong. Matanya berhenti di pojok kanan, dekat pohon rindang yang menaungi satu bangku panjang.

"Nah, itu tempatnya. Sepi," Bima menunjuk.

Mereka berjalan ke arah bangku itu. Tapi begitu sampai, mereka melihat seseorang sudah duduk di ujung bangku. Siswa itu menunduk, menyuap bubur ayam dengan gerakan lambat, seperti tidak ingin terlihat.

Elang.

Bima tidak berhenti. Ia langsung duduk di bangku yang sama, di ujung yang berlawanan, lalu menepuk tempat di sampingnya. "Nah, sini duduk. Lega kok bangkunya."

Azril duduk di samping Bima. Faris mengambil posisi paling ujung-paling jauh dari Elang, paling dekat dengan jalan keluar. Bima membuka bungkus nasinya dengan lahap, sementara Azril mulai membuka bekal yang ia bawa dari rumah.

Elang tidak mengangkat kepala. Tangannya terus menyuap makanannya, matanya tertuju pada kotak bekalnya.

Bima mengunyah makanannya dengan suara agak berisik-kebiasaan yang sudah ditegur Azril berkali-kali. Di sela kunyahan, ia berseru, "Enak banget hari ini! Ris, lo makan apa? Itu telur dadar kelihatan enak."

Faris yang baru saja membuka kotak bekalnya tersentak. Ia menulis cepat:

[Biasa aja.]

"Biasa aja katanya, padahal gue liat dari sini udah ngiler." Bima tertawa. "Lo suka telur dadar? Gue juga suka. Dulu mama gue sering bikin—" Ia berhenti. Senyumnya sedikit memudar, tapi cepat ia kembalikan. "Yaudah, kita makan bareng aja."

Azril melirik Bima sekilas. Ia tidak bertanya, tapi dari cara Bima menghabiskan makanannya lebih cepat dari biasanya, Azril tahu ada sesuatu yang tidak ingin Bima bicarakan sekarang.

Faris makan dengan perlahan. Matanya sesekali melirik ke arah Elang yang masih diam di ujung bangku. Ia tidak tahu harus merasa apa-takut? Mungkin. Tapi Elang tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk di sana, makan sendirian, seperti biasa.

Bima menghabiskan nasinya, lalu menyandarkan punggung ke dinding. Ia menatap Elang yang masih menunduk, lalu tersenyum.

"Lang."

Elang berhenti mengunyah. Ia mendongak, alisnya sedikit berkerut.

"Emang enak ya makan bubur ayam gak pake kerupuk?" Bima menyodorkan sisa kerupuk di tangannya.

Elang menatap kerupuk itu. Lalu menatap Bima. "Gue punya lauk sendiri."

"Iya, gue tau. Tapi pake kerupuk lebih enak." Bima tidak menurunkan tangannya. "Coba aja."

Elang terdiam beberapa saat. Lalu, dengan gerakan ragu, ia mengambil kerupuk itu. "Makasih."

"Sama-sama." Bima tersenyum lebar. "Nah, sekarang kita udah resmi jadi temen makan."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tidak menolak ketika Bima mulai bercerita tentang gurunya yang kemarin marah-marah karena ada siswa ketahuan menyontek, atau tentang lapangan belakang yang katanya akan direnovasi bulan depan. Ia hanya mendengarkan, sesekali mengangguk, sesekali melirik ke arah Azril dan Faris yang juga diam mendengarkan.

Azril memperhatikan Elang dari balik kacamatanya. Di kantin kemarin, Elang membelanya dari Marcel. Dan sekarang, Elang duduk di sini, di bangku yang sama, makan bersama mereka meskipun ia tidak berkata banyak. Ada sesuatu di matanya-bukan ketakutan, bukan juga kemarahan. Hanya... kelelahan. Seperti seseorang yang terlalu lama berjalan sendirian.

...~•~•~•~...

Belum masuk lagi. Bima masih duduk bersandar di dinding, perutnya kenyang dan semangatnya sedang meluap-luap. Ia menatap Azril, lalu Faris, lalu berhenti di Elang.

"Eh, ngomong-ngomong," Bima memulai, nada suaranya sedikit lebih bersemangat dari biasanya. "Gue, Azril, nanti habis sekolah mau belajar bareng di rumah Azril. Faris juga mau ikut."

Faris yang sedang merapikan kotak bekalnya menoleh cepat. Matanya bertanya: Eh ada apa ini? Tapi ia tidak menulis apa-apa.

Bima melanjutkan tanpa melihat ekspresi Faris. "Lo ikut, Lang? Kita belajar Bahasa Inggris. Azril jago banget, bisa ngajarin kita."

Elang mendongak. Ekspresinya datar, tapi ada sedikit gerakan di alisnya-seperti terkejut. "Gue?"

"Iya, lo. Siapa lagi yang lagi gue ajak ngomong?" Bima tertawa. "Yuk, ikut aja. Santai kok, di rumah Azril sepi. Gak bakal ada yang ganggu."

Elang terdiam. Tangannya yang memegang kotak bekal berhenti bergerak. Ia menatap Bima, lalu matanya beralih ke Azril, lalu ke Faris yang cepat menunduk saat tertangkap pandang.

"Gue... gak bisa," kata Elang pelan. "Gue ada urusan."

"Urusan apa?"

Elang tidak menjawab.

Bima tidak menyerah. "Urusan lo bisa ditunda gak? Sekali aja, Lang. Gue janji gak bakal lama. Paling satu dua jam."

"Gue..."

"Lo kan juga butuh belajar. Nilai Bahasa Inggris lo gimana? Kemarin pas ulangan dapet berapa?"

Elang menghela napas. "Gue lulus."

"Lulus? Lulus itu berapa? Enam?" Bima tertawa lagi. "Gue aja dapet lima, Lang."

Azril yang dari tadi diam tersenyum kecil. "Empat," katanya pelan.

Bima menoleh cepat. "EH LO DAPET EMPAT? Lo yang jago Bahasa Inggris dapet empat?"

"Gue gak fokus belajar di sekolah yang dulu," Azril menjawab, hampir tidak terdengar oleh yang lainnya. "Tapi gue bisa ngajarin materi yang bener, kok. Yang penting lo semua latihan."

Bima menggeleng-gelengkan kepala. "Anjir, Zril. Lo yang pinter aja bisa dapet empat. Gue makin yakin kita harus belajar bareng. Lang, lo liat sendiri. Kita semua butuh belajar. Jadi lo gak punya alasan buat nolak."

Elang menatap Bima. Cowok di depannya ini berbicara dengan nada bercanda, tapi matanya serius. Seperti benar-benar menginginkan Elang datang. Seperti benar-benar menganggap kehadiran Elang penting.

Elang sudah lama tidak merasa diinginkan.

"Ayolah, Lang," Bima mendesak lagi. Nada suaranya sedikit melunak, tidak sekeras tadi. "Gue tau lo lagi berusaha... yaudah, lo gak usah cerita kalo lo gak mau. Tapi setidaknya, lo bisa belajar bareng kita. Lo bisa... punya teman."

Kata teman membuat Elang menegang.

Ia ingat Marcel. Ia ingat geng Bhayangkara. Ia ingat bagaimana dulu ia punya banyak "teman"-tapi saat ia keluar, semua itu hilang dalam semalam. Seperti ia tidak pernah ada.

Bima berbeda. Bima mengajaknya makan kerupuk. Bima mengajaknya belajar. Bima menatapnya seperti ia bukan monster.

Azril yang dari tadi memperhatikan akhirnya membuka suara. "Lo bisa ikut, Elang. Rumah gue gak jauh dari sini. Sepi, cuma ada gue, adik sama ibu gue." Ia tersenyum kecil. "Gue juga baru kenal Bima sebulan lalu. Tapi dia... baik. Jadi gak usah takut."

Elang menatap Azril. Anak ini yang kemarin dibela Bima, yang tadi membantu Faris bersihin kelas, yang sekarang mengajaknya belajar dengan suara pelan dan tidak memaksa. Anak ini yang bahkan Marcel pun berani ganggu karena dianggap lemah.

Tapi Azril tidak lemah. Tidak selemah yang Elang kira.

Faris yang sedari tadi diam, tiba-tiba menggeser notebook-nya ke arah Elang. Di halaman itu tertulis satu kalimat, dengan tulisan yang rapi meskipun sedikit berantakan:

[Aku juga baru kenal mereka.]

Elang membaca kalimat itu. Ia menatap Faris-anak yang selalu gemetar, selalu memegang notebook, selalu terlihat seperti ingin lari dari mana pun. Tapi sekarang, Faris duduk di sini. Di kantin. Dengan mereka.

Jika Faris bisa...

Bima berdiri, mengulurkan tangan ke arah Elang. "Gue janji, belajar bareng bakal seru. Gak percaya? Coba aja sekali. Kalo lo gak suka, lo gak usah dateng lagi."

Elang menatap tangan Bima. Tangan yang sama yang kemarin mengajaknya berjabat tangan di kantin. Tangan yang sama yang tidak takut padahal tahu siapa Elang dulu.

Perlahan, Elang mengulurkan tangannya.

Tangan Bima menggenggam erat, lalu menjabatnya kuat-tapi tidak menyakitkan.

"Setuju?" tanya Bima.

Elang menghela napas. Sudah lama ia tidak merasa senyaman ini. Sudah lama ia tidak merasa... diterima.

"Iya," katanya akhirnya. "Gue ikut."

Bima tersenyum lebar, hampir seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "MANTAP! Sekarang kita resmi jadi geng belajar. Azril jadi gurunya, Faris jadi anak pinter yang suka gambar, gue jadi murid paling ganteng, dan Elang..." Ia memandang Elang, berpikir sejenak. "Elang jadi bodyguard kita. Kalo ada yang ganggu, lo yang maju."

Elang hampir tersenyum. Hampir. "Gue bukan bodyguard."

"Ya udah, jadi anggota kehormatan. Atau jadi temen yang keliatan sok cool. Terserah, yang penting lo dateng."

Azril tertawa kecil. Faris menunduk, tapi bahunya bergetar sedikit-mungkin karena menahan tawa.

Elang memperhatikan mereka bertiga. Bima yang cerewet, Azril yang pendiam, Faris yang cemas. Kombinasi aneh. Kombinasi yang tidak pernah ia bayangkan akan ia masuki.

Tapi di sini ia sekarang. Duduk di bangku kantin yang sepi, dengan mangkuk bubur ayam yang sudah habis, dan tangan yang baru saja berjabat dengan seseorang yang tidak takut padanya.

Mungkin ini yang namanya awal.

...~•~•~•~...

Bel masuk berbunyi lima belas menit kemudian. Mereka berempat berjalan kembali ke kelas-Bima di depan dengan langkah lebar seperti biasa, Azril di sampingnya, Faris mengikuti di belakang dengan notebook di tangan, dan Elang di paling belakang, menjaga jarak yang cukup.

Di lorong menuju kelas XII IPS 2, mereka berpapasan dengan Aini.

Ketua OSIS itu sedang berjalan cepat dengan setumpuk kertas di tangannya. Begitu melihat rombongan itu, langkahnya terhenti. Matanya bergerak dari Bima, ke Azril, ke Faris-lalu berhenti di Elang.

"Kak?"

Elang tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menunduk.

Aini memperhatikan mereka. Kakaknya berjalan bersama tiga orang lain-bukan teman-teman lamanya dari geng Bhayangkara, bukan juga Marcel. Mereka terlihat... biasa. Seperti teman sekelas pada umumnya.

Dan yang lebih aneh, Elang tidak terlihat tidak nyaman.

Aini tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang muncul di bibirnya. "Lo... mau ke kelas, Kak?"

"Iya," jawab Elang singkat.

"Oke. Hati-hati." Aini melangkah, tapi sebelum terlalu jauh, ia menoleh ke Azril. "Zril."

Azril menoleh. "Iya?"

Aini ragu sejenak, lalu tersenyum. "Besok kamu ada waktu? Aku mau minta tolong. Ada urusan OSIS."

Azril mengangguk meskipun bingung. "Boleh. Besok jam berapa?"

"Nanti aku kabarin." Aini berjalan cepat meninggalkan mereka, tapi di ujung lorong ia sempat menoleh sekali lagi-bukan ke Elang, tapi ke Azril.

Bima yang melihat itu menyenggol lengan Azril. "Wah, Zril. Ketua OSIS nih yang manggil. Lo mau diapain?"

Azril mengernyit. "Dia minta tolong urusan OSIS."

"Iya iya, urusan OSIS atau ada urusan pribadi?" Bima terkekeh, lalu menghindari tangan Azril yang berusaha mencubit lengannya. "Ya ampun, Zril, sensitif amat."

Faris di belakang mereka menunduk, tapi sudut bibirnya terangkat. Elang yang berjalan di paling belakang hanya diam, tapi matanya mengikuti punggung adiknya yang semakin menjauh.

Aini senang. Itu terlihat dari caranya berjalan yang lebih ringan dari biasanya.

Elang tidak tahu apa yang membuat adiknya senang. Tapi untuk pertama kalinya hari ini, ia merasa sedikit lega.

Mungkin, di antara semua kekacauan yang akan ia hadapi nanti di rumah, setidaknya di sekolah ini ada sesuatu yang... layak diperjuangkan.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!