"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Tulen
Loka buru - buru mengancingkan piyama yang dia pakai kemudian membuka pintu kamar mandi ingin menjawab pertanyaan dari mamanya "ma apa yang Bima katakan adalah suatu kebohongan" Sasmi tidak perduli dia mengibaskan tangan kemudian bangkit dari duduknya.
"Kau memang sangat menyebalkan seperti papamu, mama tidak percaya kau lelaki tulen jika belum memberi mama cucu seperti Ganendra dan Digta" Sasmi mengingatkan Loka dengan kedua adiknya yang saat ini sudah memiliki seorang putra dan putri.
"Bulan depan Yanuar juga akan menikah, adik - adikmu sudah akan menikah sementara kau apa akan terus seperti ini ?" Sasmi tidak ada habisnya untuk menyuruh Loka menikah.
"Ma Loka akan sangat merestui mereka untuk menikah terlebih dahulu dari Loka, lagipula pekerjaan Loka sangat beresiko" Loka menghela nafasnya dengan lelah.
Jujur saja dia amat sangat lelah karena beban terhadap pekerjaan dan juga tuntutan dari mamanya yang selalu menyuruh menikah, itulah kenapa membuat Loka lebih suka menjalankan sebuah misi yang jauh dari tempat tinggalnya.
Loka sangat tahu kecemasan yang dirasakan oleh mamanya karena melihat Loka sudah kepala tiga belum juga memiliki seorang istri, tetapi pekerjaan Loka membuatnya selalu takut akan memiliki istri.
Loka tidak mau istrinya nanti selalu cemas menunggu kepulangan dirinya dari tugas yang sedang ia emban "terserah kau saja, mama tidak mau tahu setelah kelahiran anak Digta kau harus segera menikah" perintah mamanya seakan tidak bisa dibantah oleh Loka.
Sasmi membuka pintu kamar Loka, langkahnya terhenti sejenak untuk melanjutkan ucapannya "ingat jika kau tidak memiliki seorang calon istri atau kekasih maka mama yang akan memilihkannya untukmu" Loka melototkan kedua bola mata miliknya kemudian mendengus tidak percaya dengan apa yang mamanya itu katakan.
Loka berdiri didepan kaca besar yang berada didekat lemari pakaian, disana dia berkacak pinggang kemudian melihat sesuatu yang terlihat sedikit menonjol dari balik celana panjang piyamanya itu.
Loka kembali mengingat perkataan Sasmi yang percaya dengan ucapan Bima, Loka menggeleng tidak percaya ingatanya kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu.
Loka teringat mata indah milik salah satu wanita yang dia temui digang sempit yang terkenal dengan prostitusi terbesar di ibu kota, Loka bukan seorang Gay dan tentu saja dia pernah merasakan selakangan seorang wanita.
Namun wanita yang tadi sempat membantunya dari obat sialan yang dicampurkan pada minumanya oleh mucikari, sehingga membuat Loka kehilangan kendali dan meniduri seorang pelacur.
Namun Loka mengingat mata wanita itu mengeluarkan air mata dan Loka tahu bahwa wanita itu baru pertama melakukanya karena tidak berpengalaman seperti wanita malam.
Loka menundukkan kepala sembari menghela nafas lelah, Loka berjalan pelan mendekati ranjang besar miliknya itu ingin beristirahat karena tubuh Loka sudah lelah.
Baru beberapa menit berlalu dan Loka menutup kedua kelopak mata untuk tidur terdengarlah suara dering ponsel pintarnya, membuat Loka kembali membuka mata dan mengusap wajahnya dengan kesal.
"Sialan siapa yang menelfon malam - malam begini" gumamnya sembari berdiri berjalan mencari suara dering ponsel miliknya itu "Bima" gumam Loka lirih kemudian mulai mengangkat telfon dari sahabatnya.
"Halo, apa kau gila menelfon malam - malam seperti ini ?" Bima yang sudah hafal dengan ucapan sahabatnya itu hanya tertawa dan menganggap santai kalimat dingin yang Loka lontarkan padanya.
"Tenang bung, aku hanya menganggu kau tidur bukan menganggumu sedang menanam benih" Loka semakin berdecak kesal "lagipula sejak kapan Asmaraloka menyukai selakangan wanita bukan ?" Loka yang mendengar sahabatnya berbicara menghela nafas sambil mengusap keningnya yang tiba - tiba berdenyut.
"Mamaku hampir percaya dengan ucapanmu itu bodoh" jawaban Loka membuat Bima semakin tertawa terpingkal - pingkal disebrang sana sehingga dengan kesal Loka memutus sambungan telfon mereka.
Tidak berapa lama suara dering ponsel milik Loka kembali terdengar dan lagi - lagi nama Bima yang sedang memanggilnya, Loka mengangkat telfon itu tanpa banyak bicara mendengarkan Bima yang bersuara.
"Okey maafkan aku menganggu istirahatmu tetapi ada informasi penting yang ingin aku beritahu padamu, ini semua tentang Bella dan para anak buahnya" Loka yang mendengar ucapan Bima sudah mulai menyangkut pekerjaan membuat otaknya kembali fokus.