Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.
Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan
Di kantor Dirgantara suasana yang biasanya tenang berubah kacau.
Pintu terbuka dengan tergesa.Joy masuk dengan napas sedikit terburu.
“Tuan!”
Evan yang sedang berdiri di depan jendela langsung menoleh.
“Apa?”
Joy menyerahkan tablet.Wajahnya serius.
“Foto Anda… dan Nona Flora… tersebar di internet.”
Tatapan Evan langsung mengeras.Ia mengambil tablet itu.Dan benar saja layar dipenuhi berita.Foto dirinya dan Flora saat mereka berciuman didalam mobil.
Judul-judul berita mulai bermunculan:
“Skandal Pewaris Dirgantara!”
“Hubungan Terlarang dengan Adik Ipar?”
“Putri Amor Bermain di Belakang Tunangan Adiknya!”
Rahangan Evan mengeras.Aura dingin langsung menyelimuti ruangan.
“Siapa yang menyebarkannya?” suaranya rendah.
Joy menggeleng.“Masih diselidiki, Tuan. Namun dampaknya sudah terlihat… saham kita mulai turun.”
Evan menggeser layar.Grafik merah.
Turun drastis.
“Bukan hanya kita…” lanjut Joy.“Perusahaan Amor juga ikut terdampak.”
Evan terdiam.Tatapannya semakin gelap.
Tiba-tiba ponselnya berdering.Evan langsung mengangkatnya.
“Pulang. Sekarang.”Suara di seberang dingin.
Tidak memberi ruang untuk penolakan.
Telepon terputus.
Evan menatap kosong beberapa detik.Lalu berkata singkat“Siapkan mobil.”
Tak lama Evan sudah tiba di rumah keluarga Dirgantara.
Begitu pintu terbuka suasana langsung terasa berat.Di ruang tengah Hery sudah menunggu.
Wajahnya penuh amarah.
“Evan!”
Satu langkah masuk langsung disambut bentakan.
Evan diam.Dia tahu kenapa ayah nya marah.
Hery melemparkan tablet ke meja.“ Skandal murahan seperti ini—”
Suaranya meninggi."kamu tidak hanya mempermalukan dirimu sendiri, tapi juga keluarga!”
Evan menatapnya.Tenang.Namun dingin.
Hery menarik napas kasar.Lalu berkata dengan tegas“Kita tidak punya banyak waktu.”
Ia menatap Evan lurus.“Untuk meredam semua ini…kamu harus menikah dengan Agnes.”
Kalimat itu jatuh seperti palu.
Evan langsung mengeraskan rahangnya. “Tidak.”
Namun Hery tidak memberi ruang.Tidak ada bantahan!”Suaranya tegas.
“Semua orang sudah tahu kalian bertunangan.Dengan pernikahan kita bisa menutup semua rumor ini.”
Ia menatap Evan tajam.“Pernikahan akan dilakukan… satu minggu lagi.”
Keputusan itu mutlak.
"Pah Aku tidak akan menikah dengan Agnes.”
Suaranya tegas.Tanpa ragu.
Namun Hery yang duduk di kursi utama langsung menatapnya tajam.
“Kamu pikir pernikahan itu soal cinta?”
Suaranya dingin.
Evan terdiam.
“Dalam dunia kita—”lanjut Hery pelan, namun menekan,“cinta tidak pernah jadi prioritas.”
Hery berdiri.Langkahnya perlahan mendekati Evan.“Yang terpenting adalah kepentingan keluarga.”
Tatapan Hery menusuk.“Kamu punya dua pilihan.”Suaranya semakin tegas. “Perusahaan…atau wanita itu.”
Ruangan langsung hening.
Evan mengepalkan tangan.Rahangnya mengeras.
Dalam benaknya wajah Flora terlintas.
Namun Perusahaan yang dibangun keluarganya tidak mungkin dia pertaruhkan.
Ia menarik napas dalam.
Jika perusahaan ini hancur…Dia masih bisa bertahan hidup.tapi keluarga nya akan menderita.
Evan menutup matanya sejenak.Seolah menekan sesuatu di dalam dirinya.
Lalu perlahan ia membuka mata.
Tatapannya berubah.Kembali dingin.
“Aku mengerti.”
Hery mengangguk pelan.Keputusan sudah dibuat.Namun ia tidak tahu bahwa keputusan itu akan menghancurkan satu hati.
Di sisi lain rumah keluarga Amor.
Suasana tidak kalah panas.Lemos duduk di ruang tengah.
Di depannya layar besar menampilkan berita yang sama.Wajahnya gelap.
Di sampingnya Nadira dan Agnes.
Agnes menatap layar dengan mata merah.
Namun bukan karena sedih melainkan marah.
“Aku tidak menyangka…” ucapnya pelan.Kakak sendiri bisa melakukan hal seperti ini.”
Nadira menambahkan dengan nada dingin
“Sudah kubilang dari awal… dia bukan wanita sederhana.”
Agnes menunduk.Namun suaranya bergetar.
“Dia merebut tunanganku…”Kata-katanya seolah penuh luka.
Namun justru menjadi bahan bakar.
Lemos mengepalkan tangan.Tatapannya tajam pada layar.
“Flora…”Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.
Ia berdiri perlahan.Aura dinginnya terasa jelas.
“Dia berani mempermalukan keluarga seperti ini…”
“Pah Evan itu tunangan ku.aku tidak akan membiarkan Kak Flora merebutnya.
Ruangan langsung hening.
Sementara itu di luar sana skandal terus menyebar.
Flora akhirnya pulang.Begitu ia melangkah masuk suasana langsung terasa tidak biasa.
Di ruang tengah Lemos, Nadira, dan Agnes sudah menunggu.Seolah memang menantinya.
Namun Flora hanya melirik sekilas.Wajahnya datar.Tanpa emosi.Ia berjalan melewati mereka.Seolah tidak melihat siapa pun.
Baru beberapa langkah“Berhenti!”
Suara Lemos menggema.
Flora berhenti.Namun tidak menoleh.
“Masih berani kamu pulang?” lanjut Lemos penuh amarah.“Anak durhaka!”
Flora menghela napas pelan.Lalu menoleh.Tatapannya dingin.“Ini rumahku,” jawabnya acuh.“Kalau bukan ke sini… aku harus pulang ke mana?”
Sikap itu justru membuat Lemos semakin marah.Agnes langsung maju selangkah.
Suaranya terdengar lembut namun penuh sindiran.
“Papah… Kak Flora sama sekali tidak merasa bersalah.”
Kalimat itu seperti menyiram bensin ke api.
Wajah Lemos langsung mengeras.“Karena kamu—”Suaranya berat.“—nama keluarga kita dipermalukan!”
Flora mengernyit sedikit.“Apa maksud Papah?”
Tanpa banyak bicara Lemos langsung melempar ponselnya ke arah Flora.
“Lihat sendiri!”
Flora menangkapnya.Lalu menatap layar.
Beberapa foto muncul.Dirinya.Dan Evan.
Flora terdiam. Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.
Namun Nadira tidak membiarkan suasana tenang.Ia langsung menambahkan dengan nada tajam
“Flora… kali ini kamu benar-benar keterlaluan.”
Tatapannya sinis.“Itu tunangan adikmu.Beraninya kamu merebutnya.”
Hening sejenak.
Namun tiba-tiba Flora tertawa kecil.
Suara tawanya pelan.Namun terasa menyindir.“Bukankah aku hanya belajar dari Anda?” ucapnya santai.
Kalimat itu langsung membuat wajah Nadira berubah.
“Kamu...!” bentaknya.
Namun sebelum ia bergerak PLAK!
Tamparan keras dari Lemos mendarat di wajah Flora.Ruangan langsung hening.
Flora sedikit terhuyung.Namun ia tidak jatuh.
Perlahan ia mengangkat wajahnya.
Matanya dingin.Tanpa air mata.
“Tidak tahu aturan!” bentak Lemos.Nadira itu ibumu!”
Flora menatapnya.Lalu tersenyum tipis.
“Apa yang salah dengan ucapanku?” balasnya pelan.
“Bukankah wanita itu juga merangkak ke tempat tidur mu?”
“Flora!” bentak Lemos.
Sementara itu Agnes maju.Wajahnya penuh emosi.Dia memahami satu hal.
“Kamu tidak menyukai Evan!” katanya tajam.
“Kamu hanya ingin membalas dendam!”
Ia menatap Flora.
“Kalau Evan tahu kamu hanya memanfaatkannya…Apa kamu pikir dia masih mau denganmu Dia akan membencimu?”
Flora tertawa kecil.“Apakah dia akan percaya padamu?"Flora menatap nya tajam.Gimana rasanya tunangan mu direbut sama Kakak ipar nya."
Agnes mengangkat tangan ingin menamparnya.namun flora menahan nya dan menampar balik.
Plak...
Flora berkata."Aku belajar dari didikan Ibu mu.oh ternyata begini rasanya jadi pelakor."
Flora tertawa bahagia Lalu tatapannya beralih ke Lemos.“Tamparan ini…”Suaranya rendah.“…akan aku ingat.”
Tanpa menunggu reaksi Flora berbalik.Dan berjalan naik ke atas.
Namun setelah Flora pergi ketenangan perlahan kembali.
Agnes duduk.Wajahnya masih tegang.
Namun kini lebih banyak kemarahan.
“Mah… sekarang kita harus bagaimana?”
Suaranya pelan.
Nadira menatapnya.Tatapannya tajam.Penuh perhitungan.
“Hanya ada satu cara. Kamu yang harus mengakui… bahwa wanita di foto itu adalah kamu.”
Agnes langsung tertegun.“Apa?”Ia menggeleng.
“Lalu… bagaimana dengan Kak Flora dan Evan?Apakah mereka akan setuju?”
Belum sempat Nadira menjawab Lemos sudah lebih dulu bersuara.
“Setuju atau tidak… mereka tidak punya pilihan.”
Keduanya menoleh.Lemos berdiri.
Wajahnya dingin.“Skandal ini sudah membuat perusahaan kita… dan Dirgantara… mengalami penurunan.Untuk menutupnya…”
Tatapannya tajam.“Identitas wanita itu harus diganti menjadi kamu.
Perlahan senyum muncul di bibir Agnes.
Nadira ikut tersenyum tipis Licik.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu memecah suasana.
—
Seorang kepala pelayan masuk dengan sopan.“Tuan… ada tamu dari keluarga Dirgantara.”
Ketiganya langsung saling pandang.Terkejut.
“Suruh masuk,” ucap Lemos.
Tak lama seorang pria berpakaian rapi masuk.
Sikapnya profesional.Ia membungkuk hormat.
“Saya datang sebagai perwakilan keluarga Dirgantara.”
Lalu ia menyerahkan sebuah kartu undangan.
Lemos menerimanya.Membuka perlahan.Isi di dalamnya membuat matanya sedikit melebar.
Undangan. Pertunangan Evan dan Agnes.
Agnes yang melihatnya langsung berdiri.
Wajahnya berubah cerah.
“Benarkah…?” Suaranya penuh kegembiraan.
Ia mengambil kartu itu.Membacanya lagi.
Seolah memastikan itu nyata.
“Papah… ini benar…”Senyum lebar terukir di wajahnya.
Tidak hanya pertunangan tetap berjalan
tapi juga… skandal Flora membuat nya di hujat satu dunia.agnes sangat senang.
Nadira tersenyum puas.“Ini kabar baik.” Suaranya pelan.Namun penuh kemenangan.
“Sekarang…”Tatapannya licik.“Semua orang akan percaya… bahwa wanita di foto itu adalah kamu.”
Lemos ikut tersenyum.Kali ini tanpa menyembunyikan kepuasannya.
“Bagus.”
Ia menutup kartu itu.“Dengan ini…nama keluarga Amor akan tetap bersih.”