No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Suasana Desa Songjia pagi itu terasa berbeda. Sisa-sisa pesta daging babi hutan semalam masih terasa; beberapa pemuda desa masih tertidur pulas di balai desa, dan aroma asap bakaran masih tipis tercium di udara. Namun, bagi Song Yan, udara pagi itu tidak membawa kesegaran. Ada bau karat logam dan deru napas kuda yang tidak asing di penciumannya.
"Yuan-er, berhenti memakan ubi itu. Masuk ke dalam dan bantu ibumu merapikan barang-barang di gudang bawah tanah," perintah Song Yan. Suaranya tidak keras, tapi nada bicaranya dingin, sedingin es di puncak gunung.
Song Yuan, yang sedang asyik mengunyah ubi sambil memainkan lencana kayu barunya, mengerutkan kening. "Baru juga bangun, Yah. Barang apa lagi yang harus dirapikan? Gudang itu kan cuma isinya debu."
"Jangan membantah. Lakukan sekarang!" Song Yan berdiri, tangannya secara refleks memegang gagang parang yang selalu terselip di pinggangnya.
Melihat wajah ayahnya yang berubah kaku—lebih galak dari biasanya—Yuan tidak berani protes. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah. Di dalam, ia menemukan ibunya, Bai Lanyue, sedang terburu-buru memasukkan beberapa gulungan kertas dan dua buah lencana perak ke dalam sebuah kantong kulit kecil.
"Ibu? Kenapa Ibu berkemas? Kita mau pindah?" tanya Yuan bingung.
Lanyue menoleh, wajahnya pucat namun ia berusaha tersenyum. "Hanya berjaga-jaga, Sayang. Masuklah ke lubang di bawah lantai itu. Jangan keluar sampai Ayah atau Ibu memanggilmu, ya?"
Sementara itu, di luar rumah, tiga orang penunggang kuda memasuki gerbang desa. Mereka tidak memakai seragam militer resmi, melainkan jubah abu-abu kusam yang menutupi armor rantai di baliknya. Kuda-kuda mereka terlihat kelelahan, namun mata para penunggangnya liar, menyapu setiap sudut desa dengan tatapan meremehkan.
Langkah kaki Song Yan terdengar mantap saat ia berjalan menuju tengah jalan desa, menghadang ketiga penunggang kuda tersebut sendirian.
"Desa ini tidak menerima tamu hari ini," ucap Song Yan tenang. Ia berdiri tegak, auranya tiba-tiba berubah. Ia bukan lagi seorang petani galak yang hobi menyiksa anaknya, melainkan sesosok gunung tinggi yang tak tergoyahkan.
Salah satu penunggang kuda, seorang pria dengan bekas luka bakar di pipinya, tertawa sinis. "Lama tidak jumpa, Jenderal Song. Siapa sangka sang 'Harimau Perbatasan' sekarang lebih mirip kucing kampung yang mengurus kebun ubi."
Song Yan tidak bereaksi terhadap ejekan itu. "Kalian melanggar perjanjian. Aku sudah melepaskan lencana dan posisiku. Aku sudah mati bagi Ibukota."
"Sayangnya, kaisar baru tidak suka ada 'mayat' yang masih bisa bernapas, apalagi mayat yang membawa rahasia besar," pria itu turun dari kudanya, pedangnya berdenting saat bergesekan dengan sarungnya. "Serahkan lencana itu, dan mungkin kami akan membiarkan penduduk desa yang tidak berguna ini tetap hidup."
Di dalam rumah, Song Yuan mengintip dari celah lantai kayu. Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat ayahnya dikepung. Perasaan bangga yang ia rasakan kemarin setelah membunuh babi hutan tiba-tiba lenyap, digantikan ketakutan yang mencekam.
"Ayah..." bisik Yuan lirih. Tangannya gemetar memegang busur kayu kecilnya.
"Yan-ge!" Bai Lanyue keluar dari rumah, berdiri di samping suaminya. Tangannya memegang belati kecil. Keanggunannya kini berganti dengan keberanian seorang istri prajurit.
"Masuk, Lanyue! Bawa Yuan pergi dari sini!" bentak Song Yan.
"Tidak! Kita sudah lari terlalu jauh, Yan-ge. Hari ini, kita berdiri bersama," jawab Lanyue tegas.
Pria dengan luka bakar itu memberi isyarat kepada dua rekannya. Dari arah perbukitan, muncul puluhan bayangan hitam lainnya yang mulai mengepung desa. Penduduk desa yang mulai terbangun berteriak histeris saat melihat rumah-rumah mereka mulai dibakar oleh obor yang dilemparkan para pengepung.
"Bantai semuanya. Jangan sisakan satu saksi pun," perintah si pemimpin dengan dingin.
Denting pedang pertama pecah. Song Yan bergerak secepat kilat. Parang tuanya, yang biasanya digunakan untuk memotong kayu, kini membelah udara dengan presisi yang mematikan. Dalam satu gerakan, salah satu penyerang jatuh dengan leher terbasuh darah.
"Yuan-er! Lari melalui terowongan belakang! Jangan pernah menoleh ke belakang!" teriak Song Yan di tengah dentingan senjata.
Yuan membeku. Ia melihat ayahnya bertarung seperti iblis, menahan gempuran lima orang sekaligus demi memberinya waktu. Ia melihat ibunya mulai dikepung. Ini bukan lagi latihan. Ini adalah awal dari mimpi buruk yang akan mengubah takdirnya selamanya.
Sore yang indah kemarin terasa seperti ribuan tahun yang lalu. Kini, yang tersisa hanyalah asap hitam yang mulai menutupi langit Desa Songjia dan bau darah yang mulai menggenangi tanah.
"IBUUU! AYAAAH!" jerit Yuan. Suaranya tenggelam di antara gemuruh api yang mulai melalap atap rami rumah mereka.
Lanyue menoleh untuk terakhir kalinya. Matanya yang biasanya lembut kini berkaca-kaca, memancarkan permohonan yang begitu dalam. "Lari, Yuan-er! Ingat aroma melati itu! Jadilah akar yang kuat!"
Tepat saat itu, sebuah tombak melesat dari arah kegelapan hutan, menembus bahu Song Yan. Sang mantan Jenderal itu tersungkur satu lutut, namun ia tidak menyerah. Dengan raungan yang menggetarkan bumi, ia mematahkan gagang tombak di bahunya dan kembali mengayunkan parang, menebas kaki kuda musuh hingga terjungkal.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Desa Songjia yang damai kini berubah menjadi neraka di atas bumi. Xiao Hu, teman bermain Yuan, terlihat berlari keluar dari rumahnya yang terbakar sebelum sebuah anak panah menembus punggungnya. Yuan melihat semuanya. Ia melihat teman-temannya, tetangganya, dan dunianya hancur hanya dalam hitungan menit.
"Tangkap bocah itu! Dia membawa lencananya!" teriak si pria luka bakar.
Melihat musuh mulai mendekati lubang persembunyiannya, insting yang ditempa Song Yan selama ini akhirnya mengambil alih tubuh Yuan. Ia tidak lagi menangis seperti anak kecil. Dengan tangan gemetar namun gerakan yang pasti, ia menarik tali busur kayu kecilnya.
Syuut!
Anak panah kayu itu melesat, menancap tepat di tenggorokan salah satu prajurit yang hendak masuk ke rumah. Prajurit itu tersedak darah, matanya melotot tidak percaya bahwa seorang bocah bisa membunuhnya.
"Yuan-er... pergi..." suara Song Yan terdengar parau di tengah dentingan logam.
Yuan menggigit bibirnya sampai berdarah, merasakan perih yang tidak ada apa-apanya dibanding sesak di dadanya. Ia memutar tubuh, merangkak masuk ke terowongan sempit di bawah gudang tanah. Ia berlari dalam kegelapan, mendengar suara teriakan ibunya dan raungan ayahnya yang semakin menjauh.
Saat ia keluar dari ujung terowongan yang berada di pinggir sungai, Desa Songjia sudah menjadi lautan api yang merah membara. Langit sore yang harusnya indah kini tertutup jelaga hitam.
Yuan berdiri di tepi sungai, tempat yang sama di mana ia kemarin membersihkan daging babi hutan dengan penuh tawa. Kini, air sungai itu membawa hanyut serpihan kayu yang terbakar dan sisa-sisa kehidupan desanya.
"Secara logika..." Yuan berbisik dengan suara yang dingin, suaranya bukan lagi milik anak sepuluh tahun. "Kalian tidak hanya membakar desa. Kalian baru saja membangunkan naga."
Ia meremas lencana kayu pemberian ayahnya yang kini terasa dingin. Song Yuan menatap api yang melahap rumahnya untuk terakhir kalinya sebelum ia berbalik dan menghilang ke dalam kepekatan Hutan Larangan.
Malam itu, Desa Songjia rata dengan tanah. Tidak ada lagi ubi bakar. Tidak ada lagi suara asahan parang. Yang tersisa hanyalah seorang yatim piatu dengan busur di tangan dan dendam yang akan membakar seluruh kekaisaran.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏