Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Keesokan paginya, suasana rumah Pratama terasa lebih lengang dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada lagi tamu yang datang silih berganti, tidak ada lagi lantunan doa yang memenuhi setiap sudut ruangan. Hanya tersisa keheningan dan duka yang belum benar-benar pergi.
Di ruang tamu, semua orang sudah berkumpul.
Tuan Hendra dan Nyonya Ratih duduk berdampingan di sofa utama, wajah keduanya masih menyimpan kelelahan yang sama. Di seberang mereka, Bu Hana duduk sambil menggendong Melodi. Bayi kecil itu tampak tenang dalam pelukannya, sesekali bergerak kecil seolah mencari kehangatan yang sudah tidak lagi sama.
Arsyi duduk di samping ibunya, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Matanya masih sembab, namun ia berusaha terlihat tegar.
Hari ini, mereka akan pulang. Meninggalkan rumah itu dan semua kenangan yang terlalu berat untuk dibawa.
“Hari ini kami pamit, Pak, Bu,” ucap Bu Hana pelan, suaranya masih serak. Ia menatap Melodi sejenak sebelum melanjutkan, “Sudah terlalu lama kami di sini…”
Nyonya Ratih mengangguk pelan. “Iya, Bu. Kami mengerti, dan terima kasih sudah membantu selama ini.”
Bu Hana tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca-kaca. Tangannya mengusap lembut kepala Melodi. “Anak ini … kuat sekali,” gumamnya. “Persis seperti ibunya…”
Kalimat itu membuat suasana kembali hening. Tak ada yang berani menimpali. Arsyi menunduk, menahan sesuatu di dalam dadanya yang terasa sesak.
Sementara itu, Harsa berdiri tidak jauh dari sana, bersandar di dekat jendela. Sejak tadi ia tidak banyak bicara. Hanya diam, memperhatikan tanpa benar-benar terlibat.
“Melodi nanti … bagaimana, Sa?” tanya Bu Hana pelan, akhirnya memecah keheningan.
Harsa menoleh. “Saya akan cari pengasuh,” jawabnya singkat.
Kalimat itu terdengar biasa.
Arsyi langsung mengangkat wajahnya, menatap Harsa sejenak, lalu kembali menunduk. Ada sesuatu di dalam hatinya yang terasa tidak nyaman, tapi ia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Bu Hana mengangguk pelan, meski raut wajahnya tampak ragu. “Kalau itu keputusan kamu…”
Belum sempat percakapan berlanjut, suara televisi yang menyala sejak tadi tiba-tiba menarik perhatian mereka.
“Seorang pengasuh bayi tega menghilangkan nyawa bayi yang diasuhnya sendiri…”
Suara pembawa berita itu terdengar jelas di seluruh ruangan.
Semua orang sontak menoleh ke arah televisi. Layar menampilkan wajah seorang wanita dengan ekspresi dingin, diiringi rekaman kejadian yang membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri.
"Diduga karena emosi dan tekanan, pelaku melakukan tindakan kekerasan yang berujung pada kematian bayi tersebut…”
Nyonya Ratih menutup mulutnya perlahan. Wajahnya langsung pucat. “Ya Tuhan…” bisiknya lirih.
Bu Hana memeluk Melodi sedikit lebih erat secara refleks, seolah melindunginya dari sesuatu yang tak terlihat.
Arsyi menatap layar itu dengan napas tertahan. Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung bajunya sendiri.
Sementara Harsa hanya diam saja.
Nyonya Ratih menoleh cepat ke arah Harsa. “Sa…” panggilnya, suaranya bergetar. “Kamu dengar itu, kan?”
Harsa tidak langsung menjawab dan dia masih menatap televisi. Berita itu terus berlanjut, memperlihatkan detail yang semakin membuat hati tak tenang.
“Sa,” ulang Nyonya Ratih, kali ini lebih tegas. “Kamu yakin mau menyerahkan Melodi ke pengasuh?”
Harsa akhirnya menoleh. Tatapannya datar, tapi jelas menyimpan sesuatu.
“Tidak semua pengasuh seperti itu, Bu.”
“Memang tidak semua,” sahut Nyonya Ratih cepat. “Tapi kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang kita percayai.”
Bu Hana ikut berbicara, suaranya pelan namun penuh kekhawatiran. “Anak sekecil itu … tidak bisa melawan, tidak bisa bicara … kalau terjadi sesuatu…” Ia tidak melanjutkan kalimatnya namun semua orang mengerti maksudnya.
Harsa terdiam.
Tatapannya perlahan beralih ke Melodi yang masih berada dalam gendongan Bu Hana.
Arsyi yang sejak tadi diam akhirnya bersuara pelan, hampir seperti bisikan. “Selama ini … aku yang jaga dia…”
Semua menoleh ke arahnya.
Arsyi menunduk, namun melanjutkan, “Aku tahu mungkin aku tidak sempurna … tapi aku tidak akan pernah…” suaranya sedikit bergetar, “tidak akan pernah menyakiti dia.”
Nyonya Ratih menatap Harsa dalam. “Kamu lihat sendiri, Sa. Selama ini siapa yang paling dekat dengan Melodi.”
Harsa tidak menjawab.
Suasana ruang tamu masih dipenuhi sisa ketegangan yang belum mereda sejak berita di televisi itu berakhir. Tak ada yang benar-benar melanjutkan percakapan sebelumnya. Semua seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Melodi masih berada dalam gendongan Bu Hana. Bayi itu tertidur tenang, kontras dengan orang-orang di sekitarnya yang diliputi kegelisahan.
Nyonya Ratih menarik napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara. “Kalau begini terus, kita tidak bisa hanya mengandalkan waktu,” ucapnya pelan, namun cukup tegas untuk membuat semua orang kembali fokus.
Ia menatap Harsa dalam-dalam. “Menikahlah dengan Arsyi … sampai Melodi berusia satu tahun.” Kalimat itu jatuh begitu saja.
Semua orang langsung terdiam.
Harsa mengernyit, jelas tidak menyangka arah pembicaraan itu akan sejauh ini. Sementara Arsyi langsung menegang di tempat duduknya.
Nyonya Ratih melanjutkan, suaranya lebih lembut namun penuh pertimbangan. “Setelah Melodi satu tahun, Ibu dan Papa akan mengadopsinya. Saat itu, kamu bisa kembali menjalani hidupmu seperti biasa.”
Tuan Hendra mengangguk pelan, mendukung. “Untuk sementara ini, kami memang belum bisa fokus merawat bayi. Kamu tahu sendiri pekerjaan kami yang harus bolak-balik ke Singapura.”
Nyonya Ratih kembali menatap Harsa. “Kalau kamu tidak keberatan … biarkan sementara Melodi ikut Bu Hana dan Arsyi. Setidaknya dia ada yang benar-benar menjaganya.”
Ruangan itu kembali hening. Harsa menatap ibunya lama. Rahangnya mengeras, jelas menahan sesuatu. Lalu ia menggeleng pelan.
“Tidak!”
Nyonya Ratih sedikit terkejut. “Harsa, dengarkan dulu—”
“Saya tidak setuju Melodi tinggal jauh dari saya,” potong Harsa, kali ini lebih tegas. “Dia anak saya.”
“Lalu bagaimana?” tanya Tuan Hendra. “Kamu sendiri bilang mau pakai pengasuh, sementara risikonya sudah jelas.”
Harsa terdiam sejenak.
“Aku bisa menikahi Arsyi.” Semua orang membeku.
Arsyi langsung menoleh cepat ke arahnya, matanya melebar tak percaya.
Harsa melanjutkan dengan nada datar, seolah itu keputusan yang rasional. “Kalau hanya untuk satu tahun … tidak masalah. Arsyi bisa tinggal di sini, menjaga Melodi.” Kalimat itu terdengar seperti solusi.
Arsyi bangkit berdiri.
“Tidak!” Suaranya lirih, tapi tegas.
Semua menoleh padanya.
“Aku tidak mau,” ulangnya, kali ini lebih tegas.
Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha tetap berdiri tegak. “Meskipun demi Melodi … aku tidak mau mempermainkan pernikahan.”
Kata-kata itu terasa begitu kuat.
“Aku tahu Kak Nadin ingin yang terbaik untuk anaknya,” lanjut Arsyi, suaranya mulai bergetar. “Tapi itu bukan berarti … kita bisa menjadikan pernikahan sebagai solusi sementara.”
Harsa menatapnya.
Ada sesuatu dalam tatapan itu antara terkejut dan tersentuh.
“Ini bukan permainan,” ucap Harsa pelan.
“Justru itu,” sahut Arsyi cepat. “Karena ini bukan permainan … aku tidak bisa melakukannya.” Air matanya jatuh.
“Tolong jangan paksa aku berada di posisi yang bukan milikku,” lanjutnya lirih.
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Bu Hana yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. “Ibu juga tidak setuju,” ucapnya pelan namun tegas.
Arsyi menoleh, sedikit terkejut.
“Ibu tidak mau posisi Nadin digantikan oleh siapa pun … apalagi oleh adiknya sendiri,” lanjut Bu Hana.
Arsyi terdiam, tangannya mengepal perlahan.
“Ibu…” suaranya hampir tak terdengar. Namun, Bu Hana tidak menatapnya. Seolah keputusan itu sudah bulat.bSeolah tidak ada ruang untuk memahami perasaannya. Arsyi sadar sesuatu, bahwa sejak awal dia tidak pernah benar-benar dipilih.
Sementara itu, Harsa menatap semua orang satu per satu.
“Aku tidak akan memaksa,” ucapnya akhirnya, suaranya kembali datar. “Tapi aku juga tidak akan menyerahkan anakku ke orang lain.”
Ia menatap Arsyi sekilas.
“Termasuk kamu.” Kalimat itu membuat hati Arsyi sedikit bergetar.
"Kalau kamu mau rawat Melodi, menikah adalah solusi." Final ucapan Harsa, dia yang menolak, dia juga yang akhirnya kekeh mau menikah, setelah melihat berita pagi ini.
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂