Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Seseorang yang perlu dicari.
'UNTUK PUTRIKU.'
Dua kata yang muncul sesaat setelah layar komputer menyala membuat Lea membeku. Tangannya gemetar saat ia menyentuh mouse, menggerakkannya dengan hati-hati untuk mengklik file yang muncul. Sayangnya, membuka file itu tak semudah yang ia kira. File itu membutuhkan password untuk bisa dibuka.
Lea berpikir secara obsesif, menekan kombinasi angka yang terlintas di pikirannya.
Tanggal ulang tahunnya. Akses ditolak.
Tanggal ulang tahun kedua orang tuanya. Akses ditolak.
Tanggal pernikahan kedua orang tuanya. Akses ditolak.
Hembusan napas kasar Lea terdengar, mencoba menenangkan diri. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer, lalu melipat kedua tangan. Berpikir. Otaknya bermain, membayangkan bagaimana pola pikir seorang konsultan bisnis yang ternyata menyembunyikan harta karun yang baru saja ia temukan. Namun, mendadak semua buntu.
Lea bangun dari duduknya, melangah keluar untuk mengamati sekali lagi apa saja yang ada di dalam ruangan itu. Otaknya sebagai ahli racun bekerja, berjalan menuju ruangan berdinding kaca dan melihat semua yang ada di dalamnya, hingga pandangannya terhenti pada satu-satunya kotak kaca yang memiliki label tulisan tangan di bagian luar dan memiliki beberapa tabung kaca di dalamnya.
Manchineel.
Lea membaca sekali lagi. Dua kali, bahkan ketiga kalinya. Ia tidak salah membaca. Tangannya bergerak cepat melepaskan label tulisan itu, merobeknya.
Manchineel, adalah spesies tanaman yang sangat beracun, bahkan masuk dalam jenis paling beracun di dunia, tetesan air yang jatuh dari daunnya saja dapat mengumpulkan phorbol dan menyebabkan melepuh pada kulit jika menyentuh pohon ini. Daun dan buahnya menyerupai apel, kadang dikenal sebagai apel pantai, namun menjadi tanaman pembunuh.
Pertanyaannya: mengapa mendiang kedua orangnya menyimpan sampel tanaman itu dan memberinya label sementara sampel lain tidak diberi label?
Dia membuka tangannya yang berisi label tulisan yang baru saja ia robek, menatap remasan kertas kecil itu sejenak, lalu kembali ke ruang komputer sebelumnya dengan ide yang menjadi kemungkinan sebagai password.
"Manchineel ..." Lea mengetik kombinasi huruf yang mungkin dipikirkan kedua orang tuanya sambil menggumamkan satu pesan yang sengaja mereka tinggalkan.
Manzanilla de la muerte (apel kecil kematian).
Klik. Terbuka.
Kedua mata Lea membelalak. "Apakah mereka sebenarnya ahli racun atau ilmuwan? Tapi kenapa mereka tidak pernah mengatakan hal ini padaku? Kenapa mereka menyimpan rahasia ini?"
Lea menggeleng, mengesampingkan sementara keterkejutan yang belum bisa ia cerna, saat netranya menemukan data, foto serta video di dalam file yang ia buka.
Data audit sempurna, data riset tanpa cela, satu foto kedua orang tuanya yang mana sang ibu tengah mengendong seorang anak perempuan berusia kisaran dua tahun, satu video, serta sebuah pesan yang berisi arahan untuk menemui seseorang.
Lea membaca secara acak data yang ada, menemukan hampir semua isi dari data tersebut merujuk pada satu hal yang tidak asing baginya: Sistem saraf manusia.
Tangan Lea kembali menggerakkan mouse, beralih membuka pesan berisi arahan untuk menemui seseorang, membacanya perlahan, dan mendapatkan kesimpulan tentang tempat yang harus ia datangi.
"Arena pertarungan bebas bawah tanah."
Lea membaca pesan itu secara berulang, memastikan ia tidak salah membaca.
"Kenapa Ayah dan Ibu memintaku datang ke tempat seperti itu? Siapa yang harus kutemui? Dan untuk apa?"
.
.
.
Pagi hari di mansion tempat Angkasa tinggal. Aroma kopi hitam pekat menguar saat seorang wanita berseragam maid melangkah cepat membawa nampan dengan secangkir kopi hitam tanpa gula di atasnya ke tempat dimana majikannya sedang duduk menatap layar tab.
"Silakan, Tuan." kata maid sopan, menyuguhkan cangkir berisi kopi di meja tepat di depan Angkasa duduk.
Angkasa tidak menoleh, tangannya terulur mengangkat cangkir dari tempatnya, mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya untuk menghirup aromanya, lalu menyesap cairan hitam itu.
Satu detik ... Dua detik ... Cangkir porselen itu diletakkan kembali ke tempatnya dengan sedikit dihentakkan.
"Ganti," ucap Angkasa datar tanpa menatap maid yang kini menunduk dengan wajah hampir menangis. Pasalnya, itu adalah kopi keenam yang sudah maid itu buat
"B-baik," maid menjawab sambil membungkukkan badan, menarik kembali cangkir kopi dari meja, mundur selangkah, lalu berbalik pergi untuk membuat kopi baru dengan wajah pasrah bercampur frustasi.
Langkah kaki seseorang mendekat setelah punggung maid menghilang. Marco, datang dengan membawa sebuah map coklat gelap di tangan, lalu membungkukkan badan saat ia berdiri di samping majikannya.
"Tuan, Nona Lea sudah keluar dari rumah sakit kemarin," lapor Marco.
Jari tangan Angkasa berhenti menggulir layar, wajahnya terangkat, lalu menoleh ke arah bawahannya.
"Kemarin?" dahi Angkasa berkerut tipis.
"Benar." Marco mengangguk. "Tak lama setelah Nona sadar, Nona memilih pulang."
"Maksudmu, dia keluar dari rumah sakit di malam hari?" tanya Angkasa dengan suara datar.
"Benar, Tuan," Marco kembali mengangguk.
"Laporan medisnya?" tanya Angkasa, kembali menatap layar tab di tangannya.
"Kondisi Nona Lea stabil, hanya membutuhkan istirahat untuk pemulihan. Menurut aturan rumah sakit, seharusnya Nona Lea keluar siang ini, tapi Nona Lea sendiri yang memaksa untuk keluar tadi malam," terang Marco.
Angkasa mengangguk singkat. "Apa yang kau bawa kali ini?"
Marco gegas menyodorkan map coklat gelap di tangannya yang segera diterima Angkasa, kemudian dibuka.
Langkah ragu maid menyela di tengah keheningan, meletakkan secangkir kopi baru di meja dengan dentingan lembut, lalu berbalik pergi setelah Angkasa memintanya pergi menggunakan isyarat jari.
"Tuan, mengenai Nona Lea ..."
"Ada apa dengannya?" potong Angkasa cepat tanpa menoleh, tangannya masih sibuk membuka lembar demi lembar hasil inspeksi salah satu anak perusahaannya.
"Perihal Nona Lea tenggelam di danau, itu bukan kecelakaan. Melainkan ada seseorang yang sengaja mendorongnya," ungkap Marco. "Dan pria yang datang menemuinya di ruang rawat saat itu, dia adalah karyawan dari salah satu anak perusahaan Anda."
Angkasa menutup map di tangannya dengan satu hentakan. "Itu artinya, yang mencelakai bocah itu adalah orang yang tahu jika dia tidak bisa berenang," ucapnya lebih kepada diri sendiri.
"Siapa dia?" tanya Angkasa.
"Samuel Elgantara," jawab Marco.
. . .
. . .
To be continued...
smangaat