[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
retak...
Setelah menghabiskan siomay mereka, Amu, Yupi, dan [y/n] memutuskan untuk kembali ke kelas sebelum bel pelajaran berikutnya berbunyi. Namun, langkah [y/n] mendadak terhenti saat merasakan getaran kuat di saku jaket varsity-nya. Sebuah nada dering yang sangat ia kenali memecah keheningan koridor.
[y/n] melirik layar ponselnya. Nama "Ibu" berkedip di sana. Seketika, raut wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi kaku.
"Eh... gua angkat telfon dulu ya..." ucap [y/n] kepada Amu dan Yupi. Suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menutupinya dengan senyum tipis.
"Kenapa nggak di kelas aja, [y/n]? Bentar lagi bel, lho," sahut Yupi heran.
"Nggak apa-apa, takut berisik soalnya penting banget. Lu duluan aja, nanti gua nyusul!" [y/n] kemudian pergi menuju kamar mandi yang letaknya agak jauh dari keramaian kelas. Padahal, dia bisa saja mengangkat telepon itu di kelas yang masih kosong, tapi dia tidak ingin siapa pun mendengar apa yang akan keluar dari seberang telepon.
Begitu sampai di dalam kamar mandi, [y/n] segera masuk ke salah satu bilik dan mengunci pintunya. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol hijau.
"Halo... Bu?" bisik [y/n] lirih.
"HEH! MANA DUIT?! LU KEMANA AJA SIH?!" Suara teriakan serak dari seorang wanita langsung menyambar telinga [y/n]. Bunyi dentingan botol kaca yang beradu terdengar jelas di latar belakang. "Gue pusing! Botol gue habis, cepet kirim duit atau gue datengin sekolah lu sekarang!"
[y/n] memejamkan mata erat-erat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Bu, aku kan baru pindah sekolah... aku belum punya uang saku lebih. Nanti sore aku cari kerja sampingan, ya? Tolong jangan ke sekolah..."
"HALAH! ANAK NGGAK GUNA LU! SAMA AJA KAYAK BAPAK LU YANG BRENGSEK ITU!"
Klik.
Sambungan diputus sepihak. [y/n] menyandarkan kepalanya di pintu kayu bilik kamar mandi yang dingin. Isakannya pecah, tapi ia membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak keluar. Rasa sesak itu kembali lagi, rasa tidak dicintai yang selama ini ia telan bulat-bulat sendirian.
Ternyata, dunia [y/n] tidak sebiru rambutnya yang cantik. Dunianya abu-abu, sama seperti Ariel.[y/n] menyandarkan kepalanya di pintu bilik kamar mandi yang dingin. Napasnya memburu, dadanya sesak. Dia tahu ibunya nggak main-main soal ancaman datang ke sekolah.
Kalau sampai wanita itu muncul dengan aroma alkohol dan pakaian berantakan, tamat sudah hidup [y/n] di SMA Pelita. Pintu "kehidupan normal" yang baru ia buka sebulan ini akan tertutup selamanya.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, [y/n] membuka aplikasi Dana di ponselnya.
Saldo: Rp150.000.
Itu uang tabungan terakhirnya. Uang yang dia simpan susah payah buat makan siang minggu depan dan ongkos angkot. Tapi sekarang, dia nggak punya pilihan.
Transfer... Masukkan nominal... Rp150.000.
Begitu tombol 'Kirim' ia tekan dan notifikasi berhasil muncul, [y/n] merasa seolah separuh nyawanya ikut hilang. Saldonya kini menunjukkan angka nol. Kosong. Sama seperti perutnya yang tiba-tiba melilit karena stres.
"Semoga ini cukup buat bikin Ibu diam," bisik [y/n] lirih, sambil menghapus air mata yang sempat lolos ke pipinya.
[y/n] menarik napas panjang, merapikan kuncir rambutnya, dan membasuh wajahnya di wastafel. Dia menatap cermin, mencoba memaksakan senyum 'aman' miliknya kembali muncul. Begitu dia merasa sudah cukup tenang, dia membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
Namun, baru dua langkah, jantungnya hampir copot.
Ariel berdiri di sana. Bersandar di tembok koridor yang sepi, tepat di samping pintu kamar mandi perempuan.
Dia nggak pakai earphone kali ini. Tangannya sibuk memutar-mutar korek api perak, tapi matanya menatap lurus ke arah [y/n].
Tatapannya dingin, seolah bisa menembus topeng yang baru saja [y/n] pasang.
"Lama banget di dalem. Abis latihan drama?" tanya Ariel ketus. Suaranya rendah, tapi terdengar tajam di koridor yang sunyi itu.
[y/n] tertegun, berusaha tetap tenang.
"Hah? Enggak... tadi cuma... ada urusan keluarga bentar lewat telfon."
Ariel berdecak, dia melangkah mendekat. Jarak mereka cuma satu meter sekarang. "Urusan keluarga atau urusan transfer duit?
Seketika, wajah [y/n] memucat. Dia denger?
"Bukan urusan lu," jawab [y/n] cepat, mencoba berjalan melewati Ariel.
Tapi Ariel nggak membiarkannya lewat begitu saja. Dia sengaja menghalangi jalan [y/n] dengan lengannya yang kekar. "Muka lu pucat, tangan lu gemeteran, dan lu baru aja buang duit buat orang yang bahkan nggak peduli lu makan apa besok."
Ariel menatap mata cokelat [y/n] dalam-dalam. "Jangan sok kuat di depan gue. Gue udah hafal bau-bau orang yang 'hancur' kayak lu."