menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Pagi itu suasana kantor pemasaran sudah ramai bahkan sebelum jam kerja benar-benar dimulai. Beberapa pegawai terlihat berkumpul di dekat meja Rara sambil berbisik-bisik penuh semangat. Tumpukan brosur dan laporan penjualan yang biasanya memenuhi meja kerja malah dibiarkan begitu saja demi membahas satu hal yang jauh lebih penting bagi mereka.
Ulang tahun Andika.
Shinta yang baru datang sambil membawa segelas kopi langsung menghentikan langkahnya saat mendengar nama pria itu disebut berkali-kali. Rasanya seperti semesta memang sedang gemar mempermainkannya akhir-akhir ini. Setelah pertengkaran mereka, sekarang malah muncul acara ulang tahun kejutan. Hidup memang suka memilih cara paling melelahkan untuk menguji kesabaran manusia.
“Shinta!” panggil Rara sambil melambaikan tangan. “Sini cepat!”
Shinta memaksakan senyum lalu berjalan mendekat.
“Ada apa?”
“Kita mau bikin pesta kejutan buat ulang tahun Andika nanti malam!” ujar Rara penuh semangat. “Kamu ikut, kan?”
Shinta sedikit terdiam.
Di sekeliling mereka beberapa pegawai tampak antusias membahas dekorasi, kue ulang tahun, dan makanan yang akan dibawa nanti malam. Bahkan Deni sudah sibuk mencatat siapa yang bertugas membeli lilin dan siapa yang harus membawa minuman.
Sementara Shinta malah merasa dadanya semakin sesak.
“Memangnya ulang tahun Andika hari ini?” tanyanya pelan.
“Iya,” jawab Mita. “Hari ini dia genap dua puluh sembilan tahun”
Shinta hanya tertawa kecil hambar.
Tentu saja dia tidak lupa.
Dulu dia selalu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk Andika tepat tengah malam. Bahkan pernah rela begadang hanya untuk membuat video ucapan sederhana yang isinya foto-foto mereka. Manusia memang makhluk aneh. Bisa berubah dari seseorang yang paling ditunggu pesannya menjadi orang yang bahkan sulit ditatap.
“Shinta?” Rara kembali memanggilnya. “Kamu ikut bantu dekorasi, ya?”
“Iya... nanti lihat saja.”
Jawaban menggantung itu membuat Rara sedikit heran.
Belakangan ini hampir semua orang di kantor mulai menyadari perubahan hubungan Shinta dan Andika. Biasanya mereka sering bercanda bersama bahkan makan siang berdua. Sekarang keduanya hanya berbicara seperlunya tentang pekerjaan.
Itu pun dengan nada datar seperti dua orang asing yang kebetulan berada di ruangan sama.
Mita mendekat sambil berbisik pelan, “Kalian berantem, ya?”
Shinta langsung tersenyum cepat.
“Tidak ada apa-apa.”
“Kok sekarang dingin begitu?”
“Cuma sibuk saja.”
Jawaban standar manusia saat hidupnya berantakan tapi malas menjelaskan. Sebuah tradisi sosial yang terus dipertahankan umat manusia sejak dahulu kala.
Untungnya Mita tidak bertanya lebih jauh.
Tak lama kemudian Andika datang ke kantor sambil membawa beberapa map laporan. Begitu melihat pria itu masuk, suasana langsung berubah biasa seolah tidak ada yang sedang merencanakan pesta kejutan diam-diam.
Andika mengernyit curiga.
“Kenapa kalian diam semua?”
“Tidak kenapa-kenapa,” jawab Deni terlalu cepat.
“Andika,” sahut Rara sambil tersenyum lebar, “nanti jangan langsung pulang, ya.”
“Memangnya kenapa?”
“Kita mau nongkrong.”
Andika tampak malas mendengarnya.
“Malas. Besok kerja.”
“Sekali-sekali santai kek,” protes Deni.
Andika menghela napas lalu berjalan menuju mejanya. Tatapannya sempat bertemu dengan Shinta beberapa detik.
Namun seperti beberapa minggu terakhir, keduanya segera membuang pandang.
Shinta pura-pura sibuk membuka laptop walau jantungnya justru berdegup semakin cepat. Hubungan mereka benar-benar berubah. Tidak ada lagi tatapan hangat atau senyum kecil diam-diam.
Yang tersisa hanya canggung.
Dan rasa sakit yang belum selesai.
Hari berjalan cukup sibuk. Telepon klien terus berdatangan sementara beberapa pegawai keluar masuk ruang meeting. Namun di sela pekerjaan, pembicaraan tentang pesta kejutan tetap berlanjut diam-diam.
Menjelang sore, semuanya mulai bersiap.
Deni berdiri sambil menepuk tangan.
“Oke semuanya dengar. Nanti aku dan anak-anak cowok bakal bawa Andika ke kafe dulu. Kalian langsung ke rumahnya buat siapin pesta.”
“Siap!” jawab Rara penuh semangat.
Kemudian gadis itu langsung menoleh pada Shinta.
“Kamu ikut sama aku nanti.”
Shinta langsung panik dalam hati.
Datang ke rumah Andika berarti bertemu ayah pria itu. Dan jika ayah Andika tanpa sengaja membahas masa lalu mereka, semuanya bisa kacau.
Shinta belum siap kalau rekan-rekan kantor tahu dirinya mantan kekasih Andika.
Belum siap mendengar berbagai pertanyaan melelahkan.
Belum siap melihat reaksi Andika.
“Aku...” Shinta mencoba mencari alasan. “Kayaknya nanti nyusul saja.”
“Kenapa?”
“Perutku sakit.”
Rara langsung tampak khawatir.
“Sakit? Parah?”
“Tidak kok. Mungkin masuk angin.”
“Tapi kamu tahu rumah Andika?”
Shinta hampir refleks menjawab tahu karena dulu dia terlalu sering datang ke sana. Untung otaknya masih bekerja sebelum mulutnya menghancurkan semuanya.
“Nanti kirim lokasi saja.”
Rara akhirnya mengangguk.
“Jangan lama-lama, ya.”
Shinta hanya tersenyum kecil.
Dalam hati dia sudah tahu dirinya tidak akan datang.
Sore hari setelah jam kerja selesai, Deni dan beberapa pegawai pria mulai menjalankan rencana mereka.
“Andika ayo ikut,” ujar Deni sambil menarik lengan pria itu.
“Mau ke mana lagi?”
“Kafe.”
“Aku mau pulang.”
“Tidak boleh.”
Andika menghela napas panjang.
“Kalian ini kenapa sih?”
“Teman baik itu harus meluangkan waktu bersama,” jawab Deni sok bijak.
“Andika,” sahut Bagas sambil tertawa, “sekali-sekali jangan jadi manusia membosankan.”
“Aku capek.”
Namun protes Andika tidak ada gunanya. Teman-temannya malah menyeretnya keluar kantor secara paksa.
Sementara itu para pegawai wanita segera bersiap menuju rumah Andika.
Rara bahkan terlihat sangat antusias membawa kantong berisi dekorasi dan lilin ulang tahun.
“Cepat-cepat nanti keburu Andika pulang!”
Mereka akhirnya pergi bersama meninggalkan kantor.
Sedangkan Shinta tetap duduk di kursinya beberapa saat setelah semuanya pergi. Kantor yang tadinya ramai kini terasa sunyi.
Ia menatap layar ponselnya lama.
Ada kontak Andika di sana.
Jarinya sempat bergerak ingin mengetik ucapan ulang tahun. Namun pada akhirnya dia kembali mengunci layar ponsel tanpa mengirim apa pun.
Lucu sekali. Dulu dia bisa bicara berjam-jam dengan pria itu. Sekarang sekadar mengetik “selamat ulang tahun” saja terasa sulit.
Sementara itu di rumah Andika, suasana mulai ramai.
Rara mengetuk pintu rumah dengan semangat.
Tak lama kemudian pintu terbuka dan ayah Andika muncul dengan ekspresi bingung.
“Eh? Anak-anak kantor Andika?”
“Iya Om!” jawab Rara ceria. “Kami mau bikin pesta kejutan buat Andika.”
Ayah Andika tampak kaget beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebar.
“Wah, boleh-boleh. Masuk saja.”
Mereka semua segera masuk membawa berbagai barang.
Rumah itu terasa hangat dan nyaman. Beberapa pegawai langsung mulai menghias ruang tamu dengan balon dan pita ulang tahun. Ada juga yang sibuk menata makanan di meja.
Ayah Andika ikut membantu menggantung dekorasi sambil sesekali tertawa melihat tingkah anak-anak muda itu.
“Andika pasti kaget,” ujar beliau.
“Harusnya sih begitu, Om,” jawab Deni lewat panggilan video. “Kami masih tahan dia di kafe.”
“Kasihan juga anak itu dipaksa nongkrong.”
“Tidak apa-apa Om, demi ulang tahun.”
Semua tertawa.
Di sudut ruangan Rara tiba-tiba menyadari sesuatu.
“Eh, Shinta belum datang?”
“Iya juga,” sahut Mita.
“Mungkin masih sakit perut,” jawab yang lain.
Ayah Andika tampak memperhatikan nama itu beberapa detik namun tidak mengatakan apa-apa.
Sementara itu di kafe, Andika mulai kesal karena teman-temannya terus menahan dirinya.
“Kalian sebenarnya mau apa?”
“Tidak ada.”
“Kenapa dari tadi pesan makanan terus?”
Deni langsung menyodorkan menu.
“Karena hidup penuh luka jadi kita butuh kopi.”
“Aku pulang saja.”
“Tidak boleh.”
Andika menyipitkan mata.
“Kalian aneh.”
Deni dan Bagas langsung saling pandang panik saat ponsel Deni berbunyi.
Pesan dari Rara.
“Sudah siap. Bawa Andika pulang sekarang.”
Deni langsung berdiri.
“Nah ayo pulang.”
Andika semakin curiga.
“Kenapa sekarang malah buru-buru?”
“Karena malam semakin malam.”
“Kalimatmu tidak membantu.”
Namun akhirnya mereka semua kembali menuju rumah Andika.
Sesampainya di depan rumah, Andika mengernyit melihat lampu rumah mati.
“Ayah sudah tidur?”
“Masuk saja dulu,” ujar Deni sambil mendorongnya.
Begitu pintu terbuka...
“SELAMAT ULANG TAHUN!”
Lampu langsung menyala bersamaan.
Andika tampak terkejut melihat ruang tamunya penuh dekorasi dan rekan-rekan kantor yang tersenyum lebar sambil membawa kue ulang tahun.
Beberapa detik pria itu hanya berdiri diam.
Lalu akhirnya dia tertawa kecil sambil menggeleng.
“Kalian ternyata kerjaannya begini.”
“Terharu tidak?” tanya Rara.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
“Sedikit lebih dari lumayan.”
Semua langsung tertawa.
Rara dan Mita membawa kue ulang tahun mendekat. Lilin angka dua dan sembilan menyala terang di atasnya.
“Cepat tiup lilinnya!” seru Bagas.
Andika menatap semua orang di sekelilingnya.
Tatapannya sekilas seperti mencari seseorang.
Namun dia tidak menemukan orang itu di sana.
Meski begitu akhirnya dia tetap tersenyum lalu meniup lilin ulang tahunnya diiringi tepuk tangan meriah.
“Selamat ulang tahun, Andika!”
“Semoga cepat nikah!”
“Semoga bonusnya ditraktir!”
“Semoga jangan galak terus!”
Suasana langsung penuh tawa.
Ayah Andika kemudian mendekat lalu memeluk putranya erat.
“Selamat ulang tahun, Nak.”
Andika tersenyum kecil.
“Makasih, Yah.”
“Tidak terasa sudah dua puluh sembilan tahun.”
“Andika tua,” celetuk Deni.
“Kamu juga sama,” balas Andika cepat.
Mereka kembali tertawa.
Di tengah keramaian itu, Andika kembali melirik sekeliling rumah.
Namun tetap tidak menemukan Shinta.
Sementara di tempat lain, Shinta duduk sendirian di halte sambil menatap jalanan malam.
Ponselnya kembali menyala menampilkan foto-foto pesta yang dikirim Rara di grup kantor.
Ada foto Andika yang sedang meniup lilin.
Ada foto semua orang tertawa bersama.
Dan ada senyum Andika yang terlihat bahagia.
Shinta tersenyum kecil meski dadanya terasa sesak.
Akhirnya dia mengetik satu pesan singkat.
“Selamat ulang tahun. Semoga bahagia selalu.”
Pesan itu dikirim tepat sebelum dia mematikan layar ponselnya dan menatap langit malam.
Kadang menjaga jarak adalah satu-satunya cara mempertahankan rahasia dan perasaan sekaligus. Manusia memang rumit. Sedikit cinta saja bisa membuat semuanya menjadi kacau seperti benang kusut yang ditarik terlalu keras.