Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 4. Selembar Foto USG
Bulir-bulir embun masih bergelayut manja di permukaan daun. Mereka seakan enggan melepaskan pelukannya yang akan membuat mereka jatuh di hamparan bumi. Harum aroma hujan semalam juga masih menguar. Menciptakan kesegaran bagi manusia yang akan memulai aktivitasnya di pagi hari ini.
Kelopak mata Rengganis perlahan terbuka saat anak-anak sinar mentari pagi mulai menembus jendela kaca kamarnya. Ia menggeser tubuhnya dan memilih untuk bersandar di head board ranjang.
Butuh waktu sedikit lama untuk bisa kembali meraih kesadaran penuh. Hingga, manik mata Ganis tertuju pada lantai kamar. Di mana pakaian miliknya dan suami berserakan di sana. Senyumnya mengembang kala teringat akan sesuatu yang terjadi setelah ia dan Krisna melaksanakan sholat subuh beberapa waktu yang lalu.
"Mas Krisna benar-benar ganas di ranjang!"
Ganis tersipu malu kala teringat permainan ranjangnya bersama sang suami beberapa saat yang lalu. Sebuah permainan hasrat yang begitu panas dan ganas sampai-sampai membuat Ganis kewalahan mengimbangi permainan Krisna. Seperti pelampiasan hasrat yang terpendam karena sudah dua minggu mereka tidak bertemu.
Ganis mengedarkan pandangannya ke tiap penjuru kamar. Hingga pandangannya tertuju pada jam dinding yang menempel di sudut kamar.
"Astaghfirullah, jam delapan? Mas Krisna. Aku belum menyiapkan sarapan untuknya!"
Masih sedikit diselimuti oleh rasa kantuk, Rengganis turun dari ranjang. Ia harus cepat-cepat menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami. Ia kenakan piyama yang berserak di lantai dan bergegas turun ke bawah. Ketika melintas di ruang makan, langkah kaki Rengganis justru terhenti. Ia dibuat melongo akan hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Selamat pagi Sayang, kamu sudah bangun?" sambut Krisna sembari membawa satu gelas susu hangat.
"Loh Mas, kamu masak?"
Rengganis sedikit keheranan melihat sang suami yang sibuk di dapur. Lelaki itu sudah rapi dengan pakaian kerjanya namun masih menyempatkan diri untuk masak.
"Aku tidak masak, Sayang. Aku hanya membuatkan sandwich dan susu hangat untukmu." Krisna menarik salah satu kursi makan. "Ayo Sayang kita sarapan sama-sama."
Ganis tersenyum lebar melihat sikap sang suami yang penuh dengan perhatian ini. Salah satu perhatian kecil namun benar-benar bisa membuatnya bahagia menjadi seorang istri.
"Sini aku suapin! Buka mulutnya. Aaaaa...."
Ganis membuka mulut, menerima suapan sandwich yang dibuat oleh Krisna. Perlahan, indera perasa milik Ganis dimanjakan oleh rasa nikmat sandwich yang dibuat oleh sang suami.
"Bagaimana Sayang? Enak?"
"Enak Mas, enak banget."
"Syukurlah kalau kamu suka, Sayang. Sandwich ini sebagai permintaan maafku karena semalam aku sudah membuatmu menunggu. Aku khawatir kamu kecewa dan marah, Sayang."
Ganis tersenyum tipis. Ia raih tangan Krisna dan ia genggam dengan erat.
"Bagaimana bisa aku kecewa dan marah jika melihat sikapmu yang manis seperti ini Mas? Aku memang sempat merasa kecewa karena kamu seakan mengabaikan hari yang sangat penting bagi pernikahan kita, tapi itu semua terhapus dengan sikapmu yang begitu manis seperti ini."
Krisna yang kini menciumi buku-buku jemari Ganis. "Sekali lagi aku minta maaf Sayang. Aku janji, kejadian seperti semalam adalah untuk pertama dan terakhir kali. Besok-besok ketika menjelang hari anniversary kita, aku usahakan untuk ada di Jogja."
"Tidak apa-apa Mas. Santai saja. Oh iya, bagaimana kantor cabangmu yang ada di Magelang? Lancar semua kan?" tanya Ganis di sela-sela kunyahannya.
"Alhamdulillah lancar semua Sayang. Kita bekerjasama dengan pabrik konveksi yang ada di sekitar Magelang, jadi untuk pengiriman, mereka gunakan jasa ekspedisi kita."
"Alhamdulillah kalau begitu Mas. Aku bersyukur karena Allah melimpahkan begitu banyak rahmat untuk keluarga kita."
"Iya Sayang, aku juga sangat bersyukur."
"Oh iya Mas, kemarin aku datang ke panti dan di sana aku bertemu dengan pak Dirman. Kata pak Dirman dia sempat melihatmu di salah satu pusat perbelanjaan di Magelang dan katanya dia melihat di samping kemudimu ada seorang wanita."
Uhukkk... uhukkkk... Uhukkk....
Mendengar berita yang disampaikan oleh Ganis, tiba-tiba saja membuat Krisna tersedak kopi yang tengah ia teguk. Sebuah berita yang ia anggap bisa mengancam keberlangsungan sebuah rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat.
Astaga.. Mengapa dunia ini serasa sempit sekali? Sampai ada orang yang mengenal Ganis melihatku pergi bersama Dinda di pusat perbelanjaan.
"Aduh Mas, kok sampai tersedak seperti itu sih? Pelan-pelan dong."
"Ehem.... Ehemmm..." Krisna mencoba untuk mengatur kembali napasnya. "Mana ada aku berada di pusat perbelanjaan, Sayang? Setiap hari aku selalu disibukkan dengan pekerjaan di kantor cabang, jadi aku tidak pernah ada waktu untuk pergi ke pusat perbelanjaan."
"Jadi pak Dirman salah lihat ya Mas? Tapi katanya mobilnya juga sama persis dengan mobil milikmu?" sambung Ganis menyampaikan apa yang diucapkan oleh Dirman.
"Aku yakin pak Dirman salah lihat, Sayang. Lagipula yang punya mobil seperti milikku kan banyak, tidak hanya aku saja."
Ganis mengangguk-anggukkan kepala. Ia merasa apa yang diucapkan oleh Krisna sangat masuk akal.
"Benar juga ya Mas. Pak Dirman bisa jadi memang salah lihat."
"Sudahlah Sayang, kamu tidak perlu memikirkan sesuatu yang memang tidak seharusnya kamu pikirkan. Di Magelang aku bekerja keras untuk memajukan bisnis turun temurun keluargaku, tidak ada waktu untuk melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu."
Ganis tersenyum simpul dengan hati yang terasa begitu hangat. Ucapan Krisna benar-benar membuatnya percaya jika lelaki yang menjadi suaminya ini adalah lelaki yang sangat setia.
"Iya Mas, aku percaya padamu. Lagipula sudah sepuluh tahun kita menjalani biduk rumah tangga. Aku yakin kamu tidak akan sampai hati merusak keutuhan rumah tangga yang selama ini sudah kita bangun sama-sama dengan sebuah kebohongan."
Jantung Krisna tiba-tiba berdegup kencang mendengar ucapan Ganis. Ucapan istrinya ini seakan menjadi tamparan keras untuknya. Ia pun hanya bisa tersenyum kecut dan tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.
"Betul Sayang. Keutuhan rumah tangga kita terlalu mahal jika harus aku tukar dengan kebohongan."
"Iya Mas, aku percaya padamu."
***
Dengan langkah tergesa-gesa, Ganis menuruni anak tangga. Ia teringat jika hari ini ada pesanan kue yang lumayan banyak yang akan diambil di jam dua siang. Ia harus cepat-cepat tiba di toko kue miliknya untuk ikut mempersiapkan segala sesuatu bersama karyawan di sana.
"Bu Ganis, apa ada pakaian kotor di kamar? Saya mau nyuci."
Pertanyaan Maryati membuat Ganis menepuk jidatnya sendiri. Ia ingat jika pakaian kotor yang ada di kamar belum ia bawa turun ke laundry room.
"Astaghfirullah, aku lupa, Bu. Tunggu sebentar ya, aku ambilkan dulu."
"Baik Bu."
Ganis kembali menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya. Ia ambil pakaian-pakaian kotor yang ada di dalam keranjang. Sebelum ia keluar dari kamar, pandangannya tertuju pada kemeja yang menggantung di belakang pintu.
"Mas Krisna kebiasaan, pakaian kotor tidak langsung ditaruh di keranjang," ucapnya sembari berdecak dan mengambil kemeja kotor di balik pintu.
Pluk!
"Eh, apa itu?"
Ganis sedikit keheranan melihat ada sesuatu yang terjatuh dari saku kemeja milik Krisna. Tanpa pikir panjang ia pungut sesuatu itu dan ia tatap lekat. Dahinya mengernyit melihat selembar foto yang tidak asing di penglihatannya.
"Ini kan foto hasil USG. USG milik siapa ini?"
Ganis membaca dengan seksama semua tulisan yang ada di dalam foto USG itu.
"Rumah Sakit Harapan Bunda. Nyonya Dinda Larasati 27 tahun."
Kedua bola mata Ganis semakin terbelalak sempurna namun tiba-tiba matanya terasa memanas hingga membentuk bulir-bulir bening di sudut matanya. Tak memerlukan waktu lama, bulir-bulir bening itu menetes membasahi wajah ketika ia bisa memahami apa yang ada di dalam foto USG itu.
"Usia kehamilan lima bulan. Siapa wanita bernama Dinda Larasati ini? Dan mengapa foto USG miliknya ada di saku kemeja mas Krisna? Apakah dia selingkuhan mas Krisna?"
.
.
.