Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Rumah terasa lebih sunyi sejak hari itu. Sejak map hasil pemeriksaan itu. Sejak pertanyaan yang dijawab terlalu lambat. Dan sejak Celsi mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Rangga masih sama.
Masih pulang.
Masih bertanya sudah makan atau belum.
Masih sesekali membawa camilan.
Masih tidur di sampingnya.
Masih memanggilnya "Sayang".
Tapi sekarang…
Celsi mulai memperhatikan hal-hal kecil. Rangga lebih sering memegang ponsel. Lebih sering tersenyum sendiri. Lebih sering bilang kerja. Dan lebih sering diam.
Padahal dulu mereka cerita apa saja. Mungkin karena hasil tes itu. Mungkin Rangga juga sedih. Celsi mencoba berpikir baik.
Sampai siang itu.
Ponselnya berbunyi. Nama yang muncul membuatnya sedikit lebih cerah. Vena. Sepupunya.
Celsi mengangkat.
"Halo?"
Suara Vena terdengar antusias.
"Kak."
"Gimana Ven?"
"Aku mau ke Bandung."
Celsi langsung duduk tegak.
"Hah? Serius?"
"Iya."
Celsi tertawa.
"Kapan?"
"Ini udah di jalan."
Celsi senang.
"Yaudah ke rumah aja. Atau aku jemput aja? Kamu naik apa?"
Vena diam sebentar. "Nanti ada yang jemput kok. jadi mungkin ke sana agak sorean. Gimana, Kak?"
"Ohh, udah ada yang jemput? Kamu ada kenalan orang sini? Oke, deh, aku tunggu ya."
Vena menjawab pelan.
"Iya."
Begitu mendapat kabar, Celsi langsung menghubungi Rangga.
"Mas! Nanti Vena mau ke sini. Mungkin nginep."
Namun, jawaban dari Rangga lama. Hingga agak siang baru dibalas, itupun hanya singkat.
"iya."
Aneh, apa Celsi sudah salah? Atau Rangga yang memang sudah berubah lebih dingin sekarang?
Dua jam kemudian. Bel berbunyi. Celsi membuka pintu dengan semangat. Dia tau itu pasti Vena. Adik sepupunya sendiri. dia langsung tersenyum begitu mendapati sosok itu di sana.
"Vena!"
Vena berdiri sambil membawa koper kecil. Tetap cantik. Tetap ceria. "Kak Celsi!"
Celsi langsung memeluk. "Kangen."
Vena tertawa kecil. "Kangen juga."
Celsi menarik koper masuk.
"Ayo masuk, aku udah masak enak buatmu. Macem-macem."
Vena masuk sambil melihat sekitar rumah.
"Oh ya? Niatnya sih mau kasih kejutan."
Celsi tersenyum.
"Emang terkejud banget aku, Ven. Tadi aku udah ngabarin mas Rangga. Tapi dia kayaknya sibuk banget."
Vena diam sepersekian detik. Lalu tersenyum.
"Oh. Iyalah, pasti. Kan kerja, Kak."
Celsi tidak sadar. Dia terlalu senang. Dia menyiapkan kamar tamu.
Membuat teh.
Mengobrol.
Tentang Jogja.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tapi beberapa menit kemudian Vena tiba-tiba berdiri. Lari ke kamar mandi. Suara muntah terdengar.
Celsi langsung panik.
Dia menyusul.
"Vena? Kamu nggak papa?"
Vena keluar. Wajahnya pucat.
Celsi memegang dahinya.
"Demam?"
Vena menggeleng.
"Nggak."
"Kamu masuk angin?"
Vena diam. Lalu tersenyum kecil.
"Kayaknya iya."
Tapi Celsi melihat.
Tatapan itu.
Aneh.
Seperti menyimpan sesuatu.
.
.
Malam itu, Rangga pulang. Vena dan Celsi lagi duduk di ruang tengah sambil nonton tv.
"Itu mas Rangga. Bentar ya," kata Celsi seraya berdiri dan berlari ke depan.
Begitu Rangga masuk rumah, lelaki itu membawa buket bunga, satu besar, satu kecil.
"apa ini mas?"
"Bunga, buat istri tersayang dong."
Senyum Celsi melebar. menerima bunga itu dengan hati yang hangat. Dia lalu masuk ke dalam.
Begitu masuk, "Dapat bunga dari mas Rangga. Bentar ya, mau nyimpen," kata Celsi.
Vena mengangguk.
"Ohz iya. Ada Vena, ya." Rangga tampak sedikit kaget. Lalu dia mengulurkan bunga yang hanya satu biji ke sepupu Celsi itu. "Nih. Tadi nggak ada kembalian. Buat kamu aja," katanya.
Celsi sempat tercenung.
"Makasih, Mas Rangga," kata Vena. Lalu melirik Celsi. "Enggak papa kan, Kak?"
Celsi tersenyum. "Ah, itu kan cuma satu, lagian tadi katanya cuma kembalian," batinnya.
"Iya, nggak papa."
.
.
.
Mereka makan malam bersama. Dan sepanjang makan, suasana lebih hidup. Vena banyak bercerita dan lebih ceria. Celsi juga lebih senang karena ada Vena. Beberapa waktu lalu suasana yang terasa dingin, kini jadi lebih hangat
Malam berjalan. Tapi sekitar jam sebelas, Celsi terbangun. Rasanya tenggorokan kering.
"Loh, mas Rangga kemana? apa ke kamar mandi?"
Dia keluar kamar. Tak ingin terlalu mengabaikan.
Rumah gelap. Saat berjalan ke dapur… dia mendengar suara.
Pelan.
Dari teras belakang. Celsi berhenti. Suara orang bicara. Dia mendekat. Dan membeku. Rangga berdiri di sana bersama Vena.
Celsi tidak langsung keluar. Dia hanya mendengar. Suara Rangga.
"Kamu gimana?"
Sunyi.
Lalu suara Vena. "Nggak papa, mas. Tapi aku udah periksa."
Jantung Celsi berdetak lebih cepat. Rangga bicara lagi. "Udah? Gimana hasilnya?"
Vena tertawa kecil.
"Aku hamil, Mas."
Celsi diam.
Tidak bergerak.
Tidak bernapas.
"Anak, Mas."
Celsi membeku. Rangga diam.
Dan saat itu…
gelas di tangan Celsi jatuh.
PRANG.
Keduanya langsung menoleh.
"Celsi?!"
Rangga langsung menegang. seperti maling yang sudah ketahuan pemiliknya.
"Kak?"
Begitupun dengan Vena.
"Cel, kamu sejak kapan di situ?" Rangga mendekat hendak menyentuh, namun, Celsi menepis.
wanita itu mundur selangkah, dia masih tak bisa percaya. Suami yang dia percaya, dan sepupu yang dia sambut baik, ternyata main di belakangnya.
"Vena... Hamil? Anak Mas?" tanyanya dengan suara terbata.
Rangga diam.
"JAWAB, MAS!"
Rangga coba menyentuh tangan istrinya, namun Celsi tepis lagi.
"Benar dia hamil?"
Vena menarik napas dalam, "Iya, Kak. Aku hamil."
Celsi tertawa penuh luka.
"Anak mas Rangga. Kak Celsi terima atau tidak. Itu kenyataannya."
Plak!
"celsi!"
Rangga memekik.
Plak!
Rangga juga ikut kena tampar Celsi.
"Tega kalian!"
Air mata Celsi jatuh juga. "Tega kamu mas, hianati aku kayak gini! Sama sepupuku sendiri!"
"Si..."
"Aku pikir kamu setia, Mas. Aku pikir kamu mencintai aku."
Celsi mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Lalu dia teringat dengan bunga semalam. hatinya semakin sakit bagai ditusuk ribuan jarum.
"Sejak kapan? Sejak kapan kalian berhubungan sampai Vena hamil begini?"
"Taun lalu, Kak." Vena yang menjawab.
"Ven!"
"Mas, Kak Celsi sudah tau. Tak perlu disembunyikan lagi."
Tahun lalu?
Celsi ingat, tahun lalu, dia ada pertemuan keluarga. Lalu Vena yang baru pulang pecah ban. Dan ia sendiri yang minta Rangga menjemput Vena di jalan. Ia pikir kasian juga, dia tak bisa karena sibuk dengan acara hajatan. Namun, Celsi sama sekali tak terpikir jika akan berakhir seperti ini.
Celsi tertawa, "sejak tahun lalu aku dibohongi. Aku dicurangi? Tega kalian! Aku percaya sama kalian! Teganya kalian menghianati ku!"