Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maximilian Kesiangan
"Kenapa kelemahan kamu tidak keren, Lange?" goda Milly saat mereka menikmati acara minum kopi usai makan malam.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa memiliki alergi seperti itu," jawab Collin sambil menunduk.
Milly cekikikan melihat wajah Collin auto berubah saat ditanyakan soal alerginya. "Apakah kedua orang tua kamu ada yang alergi?"
"Ibu saya. Beliau alergi kucing tapi tidak anjing tertentu ... Hanya poddle yang bisa dipelihara karena bulunya tidak rontok," jawab Collin.
"Memangnya alergi menular atau genetik?" tanya Mahreen ke ibunya.
"Sebenarnya, alergi tidak bisa menular ke orang lain. Alergi adalah respons sistem kekebalan tubuh seseorang yang spesifik terhadap zat tertentu atau alergen, bukan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Apakah genetik? Ya, alergi adalah kondisi yang bisa diturunkan secara genetik. Namun, yang diwariskan bukanlah jenis alerginya, melainkan kecenderungan atau bakat tubuh untuk mengembangkan reaksi alergi. Artinya, jenis alergi yang dimiliki anak bisa saja berbeda dari orang tuanya. Kebetulan di kasusnya Lange, ibunya punya alergi ke kucing tapi tidak ke anjing tertentu. Apakah kamu alergi dengan jenis anjing lain, seperti Husky, Alaskan Malamute, Samoyed atau King Charles Spaniel yang bulunya tebal?" Milly menatap Collin.
"Tidak Yang Mulia. Saya tidak alergi dengan bulu anjing. Hanya bulu dan kucingnya," jawab Collin.
"Seberapa parah?" tanya Malik.
"Hanya bersin-bersin." Collin merasa dirinya menjadi pengawal yang tidak kompeten akibat ada alergi.
"Yang penting kamu sedia obat Dekongestan atau Antihistamin. Karena bisa menghambat gejala alergi dan melegakan hidung yang tersumbat," ucap Milly.
"Aku lupa kalau kamu seorang dokter, Sayang," cengir Malik sambil menelpon seseorang.
"Pak Malik, Anda minta dijewer?" Milly melirik judes ke suaminya.
Malik hanya tersenyum manis.
"Abi telepon siapa?" tanya Mahreen.
"Maxi. Kemana sih anak itu? Besok bisa terlambat kita!" gerutu Malik. "Awas kalau besok bangun kesiangan! Abi potong uang jajannya!"
Collin menoleh ke arah Mahreen. "Apakah Prince Maximilian susah dibangunkan?"
"Paling susah!" jawab Mahreen. "Makanya kita sebal kalau mau pergi Mas Maxi nggak bareng sama kita. Pasti bakalan kesiangan."
Collin mengangguk. Ternyata mau pangeran mau putri, tetap saja ada anomalinya.
"Kalau Maxi tidak bangun?" Milly menatap Malik.
"Uang jajan dipotong tujuh puluh lima persen!" balas Malik judes.
Collin melongo. Astaga.
***
Keesokan paginya, apa yang dikhawatirkan Malik dan Milly kejadian. Maximilian kesiangan bangun dan baru tiba di bandara dua jam dari jadwal yang ditentukan. Maximilian yang sedang menyelesaikan program masternya, hanya meringis saat Malik memutuskan untuk memotong uang jajannya.
Di dalam pesawat, Mahreen hanya geleng-geleng melihat kakaknya datang sambil garuk-garuk kepala. Namun mata coklat Maximilian terkunci ke arah pria asing yang duduk di belakang kursi adiknya.
"Siapa itu Marning?" tanya Maximilian yang langsung minta kopi ke pramugari.
Malik dan Milly pun duduk di kursi mereka sambil meminta teh herbal demi mengurangi rasa jengkel ke putra sulung mereka.
"Ini pengawal baru aku. Collin Lange. Lange, ini kakakku Prince Maximilian tukang molor dan hobinya bikin Abi emosi jiwa," ucap Mahreen membuat Maximilian mendelik.
"Aku capek buat tesis tahu!" sungut Maximilian yang langsung mengulurkan tangannya. Collin menyambutnya. "Apakah adikku tidak membuat masalah?"
"So far aman, My Prince," jawab Collin sopan.
"Kamu orang British?" tanya Maximilian sambil duduk di sebelah Mahreen dan memakai sabuk pengamannya. Begitu juga Collin yang duduk di kursi belakang.
"Half British half Irish," sahut Mahreen.
Maximilian menoleh karena tahu, dulu Mahreen pernah bilang ingin punya pria Irlandia karena jatuh cinta pada Colin Farrell saat menonton filmnya.
Mahreen pun mendelik. Don't! Just don't say anything!
"Begitu ya. Tabah deh dengan adikku," seringai Maximilian.
Mahreen hanya mengalihkan pandangannya dari kakaknya yang dikenal jahil. Collin memperhatikan bahwa ada sesuatu diantara keduanya namun alih-alih kepo, dia hanya menjawab, "Saya akan tabah My Prince."
***
Muscat Oman
Rombongan Bahrain menjadi rombongan terakhir yang datang di acara pernikahan royal antara Princess Ariella Al Sharif dan Prince Akarsana bin Ismail. Tentu saja Malik tidak enak dengan Eren karena mereka sangat terlambat! Dan semua gara-gara Maximilian kesiangan bangun!
Beruntung saat mereka datang ke istana Al Sharif, Ariella baru mau duduk di sebelah Akarsana sebelum ijab kabul. Malik dan Milly lalu dipersilakan duduk di kursi kehormatan sebagai tamu undangan resmi kerajaan. Mahreen sendiri memilih duduk di belakang dokter Lucky dan Daisy.
Kedua kakaknya itu menoleh saat tahu Mahreen baru datang. Wajah dokter Lucky tampak bingung karena keluarga Bahrain bisa terlambat.
"Kok kamu bisa terlambat?" bisik Daisy.
"Mas Maxi bangun kesiangan! Padahal sudah ditelpon Abi. Itu kalau pengawalnya nggak guyur air, nggak bangun dia!" cengir Mahreen.
"Masa segitu kebonya?" tanya dokter Lucky dengan berbisik juga.
"Oom Lucky nggak tahu saja kalau mas Maxi sudah kebluk! Gempa bumi bisa nggak bangun dia!" sungut Mahreen.
Dokter Lucky dan Daisy lalu melihat seorang pria tampan tapi wajahnya tampak dingin, berdiri di belakang Mahreen. Mata abu-abunya tidak lepas memperhatikan sekelilingnya.
"Siapa itu Mahreen?" tanya Daisy.
"Pengawal baru aku. Namanya Collin Lange." Mahreen menoleh ke arah Collin yang tetap waspada. "Keren kan? Dia macam CCTV."
Dokter Lucky menyipitkan matanya. "Bukannya mirip Probe robotnya Adudu di Boboiboy?" ucapnya asal dan Mahreen mengeplak bahunya.
"Papanya Kenzie tuh ya!" desis Mahreen sebal.
***
Usai pesta, Collin tetap berdiri dengan sikap siaga hingga Kenneth datang menghampirinya. Bibirnya tersungging senyuman jahil membuat Collin melengos.
"Tahu kan Maxi tukang molor," bisik Kenneth sambil memberikan minuman ke Collin dengan cara tidak kentara.
"Payah adikmu itu," jawab Collin sambil minum.
"Besok kamu akan ke Bahrain bersama keluarga Mahreen. Awasi saja di sana. Aku yakin akan ada pembunuhan lagi." Kenneth menyesap minumannya dan melihat ke area pesta. Tampak ayahnya sedang asyik mengobrol dengan para iparnya.
"Wanita berambut pirang ya Ken?" bisik Collin. "Mahreen berambut pirang dan tidak terlihat wanita Bahrain. Rata-rata wanita Bahrain berambut hitam atau Brunette."
"Iya. Rambut Mahreen itu pirang alami, beda dengan Ariella yang memang dicat. Tolong jaga adikku ...." Kenneth melihat Mahreen asyik tertawa bersama dengan Kayleen Ferguson dan Hana Akihiro Sankara. "Apapun, tolong jaga adikku dan cari pembunuhnya."
"Aku punya licence to kill?" tanya Collin.
"Granted ( disetujui ) oleh Oom Malik," jawab Kenneth sambil berjalan meninggalkan Collin.
Collin tersenyum smirk. "Yes Boss!"
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Ghost Detective Season 4 insyaallah launching tanggal 22 Juni 2026. Ditunggu ya
#eh