Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.
Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.
pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.
tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.
tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....
karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 30 : Tunangan
*Ep 30 : TUNANGAN*
_Subuh. Jam 3 pagi. Kamar loteng rumah Paman Marsel._
Gelap. Cuma ada cahaya bintang masuk dari celah jendela kayu. Dingin Kalimantan nyusup lewat sela-sela selimut.
Indry kebangun duluan. Kebiasaan. Jam 3, waktunya doa. Dia pelan-pelan mau lepas pelukan Zaki. Tapi nggak bisa.
Zaki nggak mau lepas. Tangannya melingkar kuat di pinggangnya. Napasnya masih hangat di tengkuk.
“Zak… lepas dulu. Aku mau doa.” suara Indry pelan, takut bangunin Meta yang tidur di pinggir.
Zaki cuma gumam, suaranya serak karena baru bangun: “5 menit lagi, Sayang.”
Tangan Zaki turun sedikit, ngusap punggung Indry pelan. Reaksi biologis cowok yang semalaman peluk ceweknya. Nggak bisa bohong.
Indry ngerti. Jantungnya langsung nggak beraturan.
“Zaki…” bisiknya pelan, setengah menegur setengah pasrah.
Zaki buka mata. Gelap, tapi dia tau di depannya Indry. Wajah yang 15 tahun dia jaga di doa.
Dia angkat kepala, kecup kening Indry. Lama.
“Cuma kening ya,” bisik Zaki. “Biar kamu kuat doa.”
Tapi Indry nggak kuat.
Zaki turunin kecupan ke pelipis. Ke pipi. Hangat. Hati-hati. Kayak takut pecah.
Indry pejamkan mata. Napasnya ketahan.
“Jangan… nanti kebablasan,” bisiknya.
Zaki berhenti pas di bibir. Jaraknya cuma 1 senti.
“1 detik aja,” bisik Zaki. “Biar aku inget rasanya kamu.”
Ciuman itu jatuh. Pelan. Dalam. Nggak terburu-buru.
Indry balas pelan. Tangannya nyengkeram kaos Zaki.
Dunia di luar hilang. Cuma ada napas, detak jantung, dan rasa yang 15 tahun ditahan.
3 detik.6 detik. 1 menit. Cukup buat bikin kepala panas. dibawah sana atmosfer berubah. ada yang bangun tapi bukan orang.
Zaki mundur duluan. Dahi nempel dahi.
“Maaf,” bisiknya. “Aku nggak kuat liat kamu deket gini.” "apalagi empukya terasa banget sayang, kamu makin montok ya itunya.. sini dekep erat dulu ya.. gak sabar banget sayang halalin kamu. kita buat sebelasan main bola ya"
ya kan bobo nya gak pake daleman yaaakkk
Indry senyum kecil. Pipinya merah walau gelap.
“Kamu gila ya,” bisiknya.
Zaki ketawa pelan. “Iya. Gila kamu.” nafas Zaki menyapu leher Indry, Cup. Cup. Cup
"dikit sayang... "
Di pinggir, Meta mendengkur pura-pura nggak denger. Tapi dadanya naik turun. Dia tau. Dia denger semua. Tapi dia tutup muka pakai bantal.
“Gue hantu. Gue nggak ada. Lanjut aja,” gumam Meta pelan.
Zaki dan Indry ketawa tertahan.
Indry lepas pelukan. Berdiri. Ambil mantila.
“Jam 3.30. Aku doa dulu. Kamu baring aja. Jangan ikut bangun.”
Zaki angguk. Tatap Indry yang jalan ke sudut kamar, berlutut di lantai kayu.
Dari belakang, Zaki liat punggung Indry. Rapuh. Tapi kuat.
“Aku janji,” bisik Zaki. “Nggak akan sakitin punggung itu.”
_Pagi hari. Jam 6. Kampung Bisomu sudah riuh._
Hari ini pertunangan akan dilangsungkan malam hari. Pukul 19.00.
Tapi persiapan sudah jalan sejak subuh. Rumah Paman Marsel jadi pusat kegiatan.
Halaman depan dipasang tenda biru-putih. Dekorasi hanya di depan saja, sederhana namun cantik dengan bunga bunga dan Tulisan di dindingnya Happy Engagement, pita merah,dan lampu lampu. Balon balon.
Meja panjang prasmanan disamping Kiri dan kanan. Tikar Kerosah di gelar.
Speaker gede dites. “Tes 1 2 3… suaranya sampe ke kali!”
Bagian paling sibuk? Dapur dan halaman belakang.
Ibu-ibu kampung udah mulai kerja dari jam 5.
Ada yang ngumbut batang sawit. Dipotong, diambil umbut mudanya. Sayur paling enak buat orang Dayak.
Ada yang kupas nangka muda. Harumnya nyengat.
Ada yang bersihin rebung. Ada yang parut kelapa.
Ada yang potong babi. Ada yang cabut bulu ayam.
Asap dapur mengepul ke mana-mana. Bau rempah, bau daging, bau kayu bakar.
Mama Zaki nggak mau diem. Dia bantu bikin Martabak manis berbagai toping Ratusan buah nanti dipotong-potong rapi.
“Biar ada rasa rumah buat Zaki,” katanya.
Nenek Maria ngajarin. “Bagus. Nanti anak cucu kamu juga harus tau ini.”
Di sudut, ibu-ibu ngobrol pelan.
“Zaki sama Indry beda agama ya?”
“Iya. Tapi anaknya baik. Katanya anaknya ikut Katolik.”
“Syukur lah. Yang penting saling hormat.”
“Betul. Daripada ribut terus. Liat tuh, keluarga mereka kompak.”
Di depan, kehebohan lain.
Meta dandan dari jam 7 pagi. Makeup tebal, baju kebaya merah.
“Gue harus cantik! Siapa tau besok gue dilamar juga!”
Mr Bule nggak kalah. Pakai kemeja batik biru, rambut disisir rapi.
“Alex nervous. Like my own wedding,” katanya.
Ogah ketawa: “Bule mau tunangan? Sama siapa? Sama ayam panggang itu?”
Semua ketawa.
Carel, Paul, Mauba juga sibuk. Baju batik couple sudah disiapin. Warna coklat tua, motif dayung.
“Ini pesanan Zaki 2 bulan lalu,” kata Indry sambil pegang baju.
Zaki nggak ngomong apa-apa. Cuma tatap Indry lama.
Indry salah tingkah. “Kenapa?”
Zaki: “Cantik.”
Indry: “Kamu juga ganteng.”
Keduanya salah tingkah. Meta yang liat langsung mual. “Udah ah! Gue eneg!”
_Sore hari. Jam 16.00. Persiapan final._
Pasangan Zaki-Indry sudah dandan.
Baju batik couple warna coklat tua. Indry sanggul rendah, bunga kamboja di telinga. Zaki rambut disisir rapi, wangi cologne yang Fresh.
Mereka berdiri depan kaca.
Indry: “Kamu ganteng banget hari ini.”
Zaki: “Kamu lebih. Kayak pengantin.”
Indry pipi merah. “Belum.”
Zaki: “Sebentar lagi.” peluk dari belakang.
Indry :"gak usah cium cium sayang, ntar luntur makeup nya. "
Di luar, tenda sudah penuh. Warga datang rame banget. semua pengen turut hadiri kebehagian keluarga ini.
Ketua RT, Kepala Dusun, Kepala Desa, Pengurus Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama sudah duduk bersila.
Paman Marsel mondar-mandir. “Kopi! Kopi buat tamu! Jangan sampe kering!”
Mc malam ini? Paman Indry sendiri, Pak Markus. Suaranya berat, wibawa.
“Semua siap?” tanyanya ke kru.
“Siap, Pak!”
_Jam 19.00. Acara dimulai._
Lampu sorot nyala. Musik Dayak pelan mengiringi.
Indry dan Zaki duduk berdampingan di depan.
Di samping mereka: Ibu Zaki, Paman Marsono, Pak Haji Ustman.
Di belakang: keluarga besar, duduk melantai di atas tikar. Nggak ada kursi VIP. Semua sama.
Pak Markus, MC, berdiri. Suaranya menggema.
“Adil ka Talino, bacuramin ka Saruga, Ba sengat Ka Jubata!”
Hadirin jawab serempak: “Arus! Arus! Arus!”
Pak Markus lanjut:
“Tutuh nya tiop, Akal nya Midop. Rina bukudua Tompo Linua, Rina Bupoyo, Tompo Roto.”
Hadirin: “Surua Tompo!”
Suasana khidmat. Kampung hening. Cuma ada suara jangkrik dan Mc saja.
Lalu masuk acara sambutan.
Setiap yang berbicara nanti akan dituangkan tuak segelas. Minum dalam satu teguk. Hadirin mengucapkan: “Tereeee Tereee Tereeee” bersama.
Paman Marsel mewakili keluarga Andre
Berdiri. Tuang tuak. Minum satu teguk. “Tereeee!”
“Warga Bisomu, keluarga besar Andre-Betari. Hari ini kami menerima tamu dari Tegal, Jawa. Mereka datang jauh, menyeberang pulau. Paman mau tanya: apa maksud dan tujuan kalian datang ke kampung ini?”
Pihak Zaki menjawab
Pak Haji Ustman berdiri sebagai ARA .Suaranya tenang.
“Kami datang dengan niat baik. Zaki, anak kami, hendak melamar Indry, anak dari alm.Pak Andre dan alm. Ibu Betari. Indry, apakah kamu menerima Zaki sebagai calon suamimu?”
Semua mata ke Indry.
Indry berdiri. Tangan gemetar. Tatap Zaki.
“Saya menerima, Pak Haji.”
Suara tepuk tangan. “Tereeee!” Indry menyambut segelas Tuak dan minum.
Pak Haji Ustman serahkan seserahan. 12 talam. Kain sarung, skincare, perhiasan, kue Tegal, baju adat Dayak, perhiasan dan segala macamnya.
Ibu Zaki ikut maju. Air mata nggak bisa ditahan.
Simbol menerima
Pengurus adat maju. Beri keranjang rotan ke Zaki.
“Terima. Ini tanda seserahan diterima. Hubungan kalian sudah diikat.”
Zaki dan Indry saling pasang cincin. Polos. Ukiran “Z-I” di dalam.
Tepuk tangan pecah. “Tereeee Tereeee Tereeee!”
Semua angkat gelas Tuak dan minum.
Makna adat
Pengurus adat berdiri lagi.
“Seserahan melambangkan kesiapan pria menjaga, melindungi, mengayomi, menghormati, menyayangi wanita yang dipilihnya kelak jadi istri. Pertunangan adalah pengikat sebelum pernikahan resmi dilaksanakan. Pasangan ini tidak boleh lagi dipinang orang lain. Jika ada yang melanggar janji tunangan ini, akan dikenakan sanksi adat, baik pria maupun wanita.”
Wejangan agama
Pak Ino sebagai Pemimpin umat kampung maju.
“Untuk pemberkatan Katolik, kalian harus daftar ke paroki. Siapkan surat baptis, surat keterangan belum menikah, kursus pranikah. Jaga diri sebelum resmi. Tubuh adalah bait Allah.”
Zaki dan Indry angguk. Saling genggam tangan di bawah meja pendek depan mereka.
Acara inti selesai.
Ditutup ibadat syukur bersama. Pak Ino pimpin doa. Semua khusyuk. Zaki pejamkan mata. Doa pertamanya sebagai tunangan Indry.
_Makan bersama._
Hidangan pembuka dijejerkan: kue guni legendaris khas kampung, lemang, tuak, arak, es kelapa.
Baru lah makan besar.
Meja prasmanan panjang. Ayam panggang, ikan pepes, sayur pakis, Martabak, kue cucur.
Karna ramai, disiapin 4 meja prasmanan. Antrian panjang. Tapi nggak ada yang ngomel. Semua ketawa.
Sambil nunggu antrian, musik lembut diputar.
Momen foto-foto jalan terus. Kakek Laban foto sama Zaki. Nenek Maria foto sama Indry. Mr Bule foto sama semua ibu-ibu.
“Cheese! Terima kasih sudah terima saya di keluarga ini!” kata Mr Bule.
Ibu-ibu ketawa. “Ganteng! Bawa ke Tegal ya!”
Setelah makan, musik ganti. Gendang Dayak mulai.
Semua orang menari. Zaki ajak Indry. Indry malu-malu.
“Jangan malu sayang. Ini pesta kita,” bisik Zaki.
Mereka menari. Pelan. Saling pandang.
Meta dan Mr Bule paling heboh. Goyang sampai keringetan.
Pak Ustadz goyang kalem di sudut. “Yang penting diterima,” katanya sambil ketawa.
Jam 12 malam. Jam 1. Jam 2.
Orang tua mulai pulang. Anak muda masih nari.
Zaki dan Indry duduk di teras. Capek. Tapi bahagia.
Indry: “Besok badan sakit semua.”
Zaki: “Tapi hati lega sayang.”
Indry sandarkan kepala di bahu Zaki.
“ kita udah resmi. Tunangan.”
Zaki: “Iya. Nggak ada yang bisa pisahin kita lagi.”
Jam 3 pagi. Acara bubar.
Zaki dan Indry masuk kamar. Lelah.
Tapi sebelum tidur, Zaki pegang tangan Indry.
“Besok pagi kita doa bareng ya. Sebagai tunangan.”
Indry angguk. “Iya.”
Malam itu, kamar loteng sunyi.
Tapi di dalamnya, dua hati resmi terikat.
*Penutup*
Zaki peluk Indry dari belakang.
“Selamat malam, tunanganku.”
Indry balas peluk.
“Selamat malam, calon suamiku.”
Lampu teplok dipadamkan.
Besok, mereka bangun sebagai pasangan yang sudah diikat adat dan keluarga.
aku siap. Tuhan tau