Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembuktian igris
Tanya Zarmit dengan nada tinggi dan sinis, ia memandang tajam ke arah Igris. Gadis itu hanya tertunduk dan senyum tipis. Zarmit yang berdiri tepat di tengah mereka mengeluarkan aura matahari nya. Ia melakukan itu untuk memberikan tekanan dasyat kepada cucu dan menantunya di sana.
"Bagaimana kau membuktikan jika apa yang di katakan ayahmu itu benar?" Tekannya lagi.
Pertanyaan itu keluar seperti ancaman dari mulut Zarmit. Ia menyeringai sinis. Dalam hatinya berkata " tak akan mungkin kau bisa membangkitkan orang mati sekalipun itu dewa,"
Suasana menjadi hening sesaat. Serasa angin pun tak berani lewat di antara mereka. Sunyi. Tiba-tiba suata lirih pelan memberanikan diri berucap.
"Kakek ... apa kakek ingin aku menggunakan darah ku untuk membangkitkan dewa dewi yang sudah mati?" Tanya Igris polos. Sontak Zarmit mebalikan badan menatap tajam ke arah nya.
Difty resah dengan jawaban polos sang anak. Namun dia tak dapat berkata kata. Ketakutannya membuatnya bungkam tanpa suara.
"Jika aku bisa melakukan nya, apa kakek akan menerima ku juga ayah dan ibu?" Tambah Igris meyakinkan. Ia tersenyum sambil mengatakan itu.
Zarmit mendekat ke arah cucunya itu. Ia menggandeng tangan Igrisia yang mungil. Menatap matanya dengan tajam. Penuh keraguan tapi penasaran.
"Kau sungguh bisa?" Jawabnya dengan nada penekanan. "Jika kau bisa, maka aku akan melakukan ikrar dewa dan mengangkat mu menjadi pewaris sah kerajaan dewa matahari ini." Jawab Zarmit serius tapi penuh kebohongan.
Igris mengangguk pelan dengan kepolosan nya.
"Igris, apa kau sungguh sungguh dengan ucapan mu barusan?" Tanya ibunya cemas.
"Jika kau tidak bisa melakukan nya, kakek mu akan membunuh mu saat itu juga," ucap nya pelan sambil merangkul igris.
"Ayah, jangan membebani anak kecil dengan tanggung jawab yang mustahil, mana mungkin pasukan dewa yang telah lama mati bisa di bangkitkan," sela Oden membela anak nya.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan kehebatan anak mu ini? Darah emas miliknya bisa menyembuhkan apapun,"
"Ya, tapi membangkitkan orang mati itu mustahil. Bahkan dewa kematian tidak diberikan kekuatan untuk menghidupkan kembali yang telah mati. Kita tidak di berikan kekuatan untuk mengendalikan kematian dan kehidupan,"
"Bukannya kau sendiri yang mengatakan Kekuatannya mengalahkan ke lima alam? Jika dia benar-benar hebat dan memiliki kekuatan alam semesta seharusnya itu mudah." Tantang Zarmit dengan suara keras menggelegar.
"Tapi ayah,," sela Oden.
" Tapi jika dia tidak bisa, aku akan memberikan hukuman yang tak pernah kalian bayangkan. Pertama, kau sudah melanggar perjanjian ke dua alam. Dewa dan peri tidak boleh menikah. Peri itu hanya pelayan dewa, sebagai penyembuh di medan perang. Tidak ada majikan yang memberikan tempatnya ke pada pelayan. Ke dua, selama perang besar kau malah asik bercinta dan tak ikut militer para dewa melawan iblis dan manusia yang mengusik kerajaan kita, lau kau malah menerobos alam spiritual. Yang ke tiga, kau membesarkan anak hasil darah silang yang tidak tau apakah itu bencana atau benar-benar anugerah. Dari semua kesalahan mu, kau akan di hukum dengan pantas, Oden. " jelas Zarmit tegas.
Di hadapan semua para dewa yang menghadiri ruangan sidang itu. Suara Zarmit bergemuruh bergetar. Oden tak dapat berkata-kata lagi. Semua pembelaan nya terasa kosong ketika kesalahan nya di ungkit di depan dewan dewa. Bahkan panatua dewa pun ikut membenarkan perkataan Zarmit. Teriakan kebencian para dewa bersautan menambah cekamnya suasana di ruangan itu.
"Ayah, aku akan mencobanya," ucap pelan igris sambil tersenyum memegang tangan ayahnya.
"Aku harus membuktikan kepada kakek, kalau aku pantas menyandang gelar dewi," timpa nya lagi.
Oden dan Difty hanya mengangguk pelan dan lesu. Ketakutan dan cemas menggerogoti jiwa mereka. Bagai berdiri di ujung pedang. Jika terlalu banyak bergerak akan terjatuh dan mati. Namun jika tak bergerak akan di tebas dengan pedang itu sendiri. Oden dan Difty tak yakin putri mereka sanggup membuktikan hal mustahil itu. Walaupun dewa dan dewi memiliki kekuatan maha dasyat. Namun mereka tetap makhluk yang memiliki daya roh tertentu. Mereka tetap bisa mati dengan berbagai alasan. Entah itu usia mereka yang telah mencapai batas, atau mati karena di bunuh oleh pusaka dewa sendiri.
Tak lama kemudian, Zarmit membawa igris ke dasar langit yang berada tepat di bawah kerjaan dewa. Di sana lah alam kematian berada. Lokasinya tepat menjadi alam pemisah antara dewa dan alam lain. Tumpukan mayat para dewa menggunung akibat perang yang terjadi. Dewa dan dewi yang mati di sana tergolong memiliki kekuatan tingkat lima. Tak begitu kuat, namun jika di bandingkan dengan manusia mereka lebih hebat. Yang bisa membunuh dewa hanya lah pusaka mereka sendiri. Itulah tombak emas dewa matahari yang berhasil di curi oleh Hermes si raja manusia.
Igris menatap pelan tumpukan mayat itu. Ia meminta agar di pisahkan antara dewa dan dewi. Dia meminta agar mayat baru dan lama di pisahkan. Karena yang telah mati lama tidak akan bisa di bangkitkan, jiwa mereka telah kembali ke alam roh spiritual. Setelah mayat itu berjejer rapi bak ikan sarden di atas piring, igris mulai mendekat dan berada tepat di tengah-tengah. Dewan dewa dan panatua dewa yang melihat dari kejauhan mencemooh dan melontarkan kata-kata pedas. Mereka tak percaya, mereka memandang sinis dan merendahkan.
Zarmit dengan sombongnya berkata... "hahahahhaha ... jika kau benar-benar bisa melakukannya, artinya kau benar-benar anugerah bagi semua alam. Tapi, jika sebaliknya ... " katanya terputus.
"Aku akan membuktikan kemampuan ku kakek," jawab Igrisia penuh keyakinan.
Igris menyatukan kedua telapak tangannya, perlahan keluar sinar matahari merah dari tubuhnya. Pola akar merah menutupi wajah dan tubuh kecilnya. Seketika tubuhnya di selimuti api yang membara. Pundaknya keluar sayap perlahan, sayap putih peri bergaris-garis corak emas kian membentang. Tubuhnya perlahan naik ke udara. Sayap Igris semakin membesar seolah mampu menampung alam sekitar dan memeluk dunia. Mata yang memandang kini berubah takjub. Belum pernah ada sayap dewa atau peri yang mampu menyelimuti alam. Zarmit senyum sinis.
Hiaaaaaaaaaa. .... teriak Igris mengeluarkan semua kekuatan dalam dirinya. Langit biru menjadi merah. Alam berguncang. Sambaran petir saling menabrak. Gemuruh kilat saling beradu. Kobaran api dalam tubuhnya kian membesar. Igris menoreh kan pisau kecil ke telapak tangan nya. Titisan darah merah keemasan dari goresan itu perlahan keluar. Darah nya berubah menjadi lautan yang seketika itu menenggelamkan tumpukan mayat di bawah kakinya. Igris kembali menyatukan kedua tangannya. Keluar lagi cahaya biru dan hijau dari tubuhnya. Sayap peri putih itu berubah menjadi merak hijau yang luar biasa indah. Setiap helai bulu merak itu terbang menyentuh mayat yang tergeletak di sana.
Pada saat yang sama, tiba-tiba cahaya putih keluar dari tumpukan mayat itu. Bulu-bulu merak menyerap ke dalam tubuh mereka. Igris menyentikan jari "bangun," perintahnya tegas!. Perlahan tumpukan mayat di sana membuka mata. Ada yang langsung berdiri. Melompat, dan keheranan.
Wujud igris kembali seperti semula, menjadi sosok peri putih ke emasan. Perlahan ia turun dari langit yang tinggi. Sementara tumpukan mayat di sana perlahan bangun. Jiwa mereka kembali, raga yang dulu hancur akibat perang kini kembali seolah baru di lahirkan. Satu persatu dewa dewi di sana bangkit dari kematian. Mereka keheranan. Masing-masing mereka bertanya satu sama lain,
"Bukankah kita sudah mati?"
"Ya benar, aku terkena cambukan pedang dewa dan mati di balik reruntuhan." Ucap seorang dewa yang baru bangun dari tidur panjangnya.
"Syukurlah kalian semua kembali seperti semula," ucap Igris terharu. Ia berjalan mendekat ke arah para dewa yang masih kebingungan. Banyak di antara mereka yang masih tak percaya. Sementara dewan dewa dan raja Zarmit yang menyaksikan langsung keajaiban itu tertegun diam. Mereka masih tak menyangka ada kekuatan dasyat yang bisa mengendalikan kematian.
"Kakek, aku sudah membuktikan pada mu. Sekarang saat nya kau menepati janji!" Ujar Igris sambil terbang mendekat ke arah kakeknya.
"Hahahaha .... tentu saja, ikutlah ke ruang istana," jawab Zarmit bangga sambil merangkul pundak Igris.
Kemudian mereka berjalan menuju aula istana. Tanpa basa basi Zarmit menepati janjinya akan menerima kembali anak dan menantunya itu. Ia memberikan ikrar pengangkatan dewa. Saat ini Igris benar-benar di akui sebagai seorang dewi alam. Nama bharata yang ia sandang mencerminkan keanggunan, kekuatan dari keturunan dewa yang agung. Tak akan ada lagi orang yang berani mempertanyakan silsilah darahnya.
"Mulai saat ini, cucuku, Igrisia Devalona Bharata resmi menjadi dewi di alam dewa. Dia memiliki kekuatan yang maha dahsyat yang tak di miliki siapapun. Aku perintahkan kalian semua untuk tunduk dan menghormati nya layak nya seorang dewi agung. Mulai sekarang, Igris yang akan memegang kendali penuh alam dewa. Besok, kita akan mengadakan upacara pengangkatan, dia yang akan menggantikan ku menjadi raja para dewa," ujar nya memberikan pengumuman di dalam aula sidang.
Suara bisik-bisik para dewa di sana jelas terdengar. Ketidak puasan mereka dengan keputusan Zarmit memancing kecemburuan. Kenapa tidak? Itu hal wajar. Seorang dewi muda tiba-tiba di angkat menjadi pewaris sah. Saudara-saudara Oden yang merupakan para dewa tingkat dua merasa tak puas. Mereka mengepalkan tangan geram namun tak ada yang berani bicara.
"Oden, kembalilah di kediaman mu dulu. Masuk lah ke istana matahari di sebelah barat. Istirahat lah, kalian pasti lelah," ucap Zarmit lembut.
"Baik ayah," jawabnya.
Sementara oden dan keluarganya meninggalkan ruang istana, raja Zarmit memanggil beberapa dewan dewa dan panatua dewa ke ruang sidang. Ia membubarkan kumpulan dewa lain dan meminta mereka pergi. Tinggallah di sana raja Zarmit dan beberapa orang yang kekuatan nya tak bisa di remehkan. Rata-rata mereka adalah dewa tingkat dua yang memiliki posisi dan kekuatan dasyat. Mereka menggelar rapat rahasia.
Sementara itu di sisi lain, oden dan keluarganya di sambut hangat oleh para dayang yang menjadi pelayan di istana matahari. Mereka di suguhi makanan enak dari alam peri. Meja makan penuh dengan sajian berbagai hidangan. Ketiganya duduk puas. Namun kegelisahan Difty tak dapat di sembunyikan lagi.
"Ada apa istriku?" Tanya oden sambil menyuap buah ke dalam mulutnya.
"Oden, entah kenapa hatiku terasa gelisah. Aku tak percaya dewa Zarmit yang terkenal keras akan semudah itu menerima anak kita,"
"Apa yang membuat mu ragu? Igris sudah membuktikan kemampuannya di hadapan dewa dewa, ayah tak mungkin melanggar janji yang ia buat. Walau pun ayahku sifatnya keras, tapi dia adalah orang yang memegang janji. Baginya kata-kata adalah lambang kehormatan,"
"Karena itu aku semakin takut," timpa Difty menyela.
"Apa kau tidak curiga? Semudah itu dewan dewa menyetujui penobatan Igris? Kita baru saja kembali, dan langsung di berikan pengampunan,"
Braaakkk ... oden menepuk meja dan berdiri membelakangi istrinya.
"Apa yang kau khawatirkan?" Teriaknya keras.
"Kau sungguh tidak percaya pada ayahku. Apakah bagimu hanya peri yang takkan pernah berbohong dan selalu berbuat baik,"
"Bukan begitu,"
"Kita sudah mendapatkan hak kita kembali. Kau di terima sebagai menantu kerajaan dewa. Sebelumnya tidak ada dewa yang menikahi bangsa lain. Kau satu-satunya di alam dewa yang memiliki keberuntungan itu,"
"Karena itu aku menjadi takut! Bagaimana jika ini hanya konspirasi dari dewan dewa?"