NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Hari pernikahan

Suasana di dalam kamar hotel bernuansa off-white itu terasa dingin. Padahal suhu AC di kamar itu sudah disetel dalam kondisi normal. Namun, suasana seakan mendukung perasaan yang sedang Laura alami.

Di depan cermin besar, Laura duduk mematung. Gaun pengantinnya sudah melekat sempurna—sebuah mahakarya minimalis berbahan silk radzimir tanpa payet berlebih, hanya potongan off-shoulder yang tegas namun elegan.

“Saya merasa terhormat karena mendapat kesempatan untuk merias calon istri dari keluarga Gardapati.” Perias itu berbicara ringan, menatap hasil riasannya yang sangat cocok di wajah kliennya.

Laura hanya tersenyum tipis sebagai respon. Matanya menatap lurus pantulan dirinya dengan tatapan kosong.

“Wajah Anda terlihat tegang, Nona. Anda benar-benar gugup ya?” Penata rias itu terkekeh ringan. Berusaha mencairkan suasana agar kliennya merasa rileks.

“Ah.. ya.. mungkin.” Laura membalas dengan kikuk.

Penata rias itu tersenyum simpul sambil kembali merapikan helaian rambut Laura. “Wajar kok, setiap pengantin pasti merasakan gugup. Tapi setelah ini saya yakin Anda akan merasakan bahagia karena menjadi anggota baru di keluarga Gardapati. Itu keinginan banyak wanita di kota ini. Anda sangat beruntung!”

“Beruntung? Keberuntungan itu hanya milik ayah tiriku. Dia menukar kebahagiaanku demi kebahagiaan dirinya sendiri.” Gumamnya di dalam hati.

“Nah! Sudah. Anda benar-benar sempurna!” pekik senang penata rias tersebut. Ia merasa senang dengan hasil jari jemarinya.

Klek!

Pintu terbuka. Ayah Laura masuk dengan senyum lebar, namun matanya tidak benar-benar melihat kegelisahan putrinya.

“Kamu benar-benar cantik, nak.” Ayah Laura menatap puas. Ia berjalan mendekat, terdiam menatap pantulan tubuh putrinya di depan cermin. “Benar-benar sempurna,” pujinya kembali.

Pria dewasa itu menundukkan tubuhnya. Mendekatkan bibirnya tepat di telinga Laura.

“Tersenyumlah, nak. Jangan membuat kekacauan dalam acara ini. Atau ayah akan benar-benar marah, hm? Tersenyumlah seakan-akan kamu memang bahagia dengan pernikahan ini. Kamu anak yang patuh 'kan?” bisiknya penuh ancaman tanpa memperdulikan tubuh Laura yang semakin menegang.

Pria dewasa tersebut kembali menegakkan tubuhnya. Ia tersenyum sambil mengusap kedua bahu putrinya memberikan semangat.

“Putriku sudah siap, bukan?” bertanya kepada si penata rias.

“Ya, Tuan. Nona sudah siap.”

“Acara akan di mulai sebentar lagi. Pastikan calon pengantin wanita benar-benar terlihat sempurna. Aku tidak ingin mempermalukan calon besan-ku.”

Penata rias itu membungkuk patuh. “Tentu saja, Tuan, saya berusaha keras untuk itu. Saya pastikan para tamu undangan akan terpesona oleh pengantin wanita.” Balasnya menggebu-gebu.

Ayah Laura hanya mengangguk lalu kembali keluar dari kamar itu.

Di tempatnya, Laura menarik napas dalam-dalam, tangannya tampak gemetar saat meremas gaunnya. Ia mencoba mengabaikan gemuruh di dadanya yang terasa lebih menyesakkan daripada korset yang ia kenakan. Di luar sana, musik string quartet mulai terdengar, menandakan waktu eksekusi telah tiba.

“Tidak apa Laura, kamu cukup pintar bersandiwara. Hanya tersenyum, itu bukan hal sulit.” Laura mencoba menguatkan hatinya. Membisikkan hal yang sama berulang kali agar gemuruh di dadanya terasa tenang.

“Dalam kondisi ini, aku benar-benar merindukanmu, Ibu.”

***

Laura berdiri di ambang pintu ballroom hotel yang megah, menatap lorong panjang yang menuju ke altar. Di ujung sana, bayangan Gaharu yang duduk di kursi roda terlihat samar. Jantungnya berdebar kencang, setiap detaknya terasa seperti pukulan palu yang menghantam jiwanya.

​“Siap, nak?” tanya ayahnya dengan suara lembut, mengulurkan tangannya. Terlihat palsu.

​Laura menatap ayahnya, lalu menatap kembali ke altar. Ia mengangguk pelan, meskipun hatinya terasa begitu berat. Ia melangkah maju, kakinya terasa kaku dan sulit digerakkan. Setiap langkah yang diambilnya terasa seperti berjalan di atas bara api.

Di sepanjang lorong, ratusan tamu undangan berjajar, menatap Laura dengan pandangan yang beragam. Ada yang mengagumi kecantikannya, ada yang menatapnya sinis, ada juga yang menatap dengan penuh tanda tanya.

“Apakah pernikahan ini sebuah perjodohan? Aku tidak pernah mendengar berita jika Tuan Gaharu memiliki pasangan.”

“Pasti! Umurnya sudah cukup untuk menikah. Namun, sepertinya para wanita berpikir dua kali untuk menikah dengan pria cacat.”

“Heh! Paling juga dia mengincar hartanya. Secarakan keluarga Gardapati keluarga terkaya di kota ini.”

“Wah! Dia terlihat cantik dan murni.”

“Cantik, namun binar matanya terlihat sedih.”

“Cih! Untuk apa sedih? Menikah dengan keluarga konglomerat harusnya senang 'kan?”

Bisikan-bisikan itu jelas sekali Laura dengar. Langkahnya kian memberat. Ia dapat merasakan ratusan pasang mata memperhatikan setiap langkahnya. Ia merasa risih dan tidak nyaman.

Bolehkah ia lari?

Sedangkan di sudut lain, beberapa wartawan sibuk mengabadikan momen tersebut dengan kamera mereka. Cahaya lampu kilat (flash) kamera menerangi ballroom yang sedikit temaram, menciptakan kilatan-kilatan cahaya yang menyilaukan.

“Pernikahan konglomerat ini pasti akan menjadi berita utama besok,” kata seorang wartawan pria pada rekannya.

“Tentu saja,” jawab rekannya sambil terus membidikkan kameranya. “Tuan Gaharu, sang pewaris tunggal keluarga kaya raya, menikahi seorang gadis polos yang murni. Ini adalah berita yang sangat menarik.”

Di kejauhan, di atas altar, Gaharu duduk diam di kursi rodanya. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Ia menatap sosok gadis yang akan menjadi calon istrinya berjalan mendekat, seolah menanti momen yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Laura akhirnya sampai di depan altar. Ia berdiri di hadapan Gaharu, yang duduk diam di kursi roda. Keduanya saling menatap, meskipun tatapan mereka terasa dingin dan tanpa perasaan. Tidak ada kata atau sapaan hangat, hanya lemparan tatapan dingin yang Gaharu berikan.

Penghulu mulai membacakan ijab pernikahan. Suara penghulu terdengar jauh dan tak terdengar di telinga Laura. Ia hanya bisa menatap bayang-bayang di lantai marmer, seolah mencari jawaban atas kegelisahannya.

Saat Gaharu mengucapkan ijab kabul telinganya terasa berdenging. Dadanya mendadak sesak. Tangannya nampak bergetar hebat, bibirnya bergetar pelan.

Sadar tidak sadar, bibir pria di depannya menyentuh keningnya. Singkat dan terasa dingin, itulah akhir singkat dari akad yang akan mengikat mereka berdua.

Suara riuh tepukan tangan terdengar dari setiap penjuru ruangan. Dan tepat saat itu, satu tetes air mata berhasil lolos dari kelopak mata cantiknya.

“Ini bukan pernikahan impianku,”

***

Di balik kemegahan ballroom yang bermandikan cahaya keemasan, Laura berdiri membeku seperti patung porselen yang indah namun rapuh. Meskipun pemberkatan suci baru saja usai dan jemarinya kini dilingkari cincin yang sama dengan milik Gaharu, matanya tidak memancarkan binar pengantin pada umumnya.

Di tengah riuhnya tepuk tangan dan alunan musik klasik yang memenuhi ruangan, ada kekosongan yang dalam di balik senyum sopan yang ia paksakan setiap kali lampu kilat kamera menyambar ke arah mereka.

Di bawah panggung, suasana begitu kontras. Para tamu undangan tampak bersukacita, bergerak lincah di antara meja-meja bundar yang dipenuhi hidangan mewah.

Aroma rib-eye panggang dan saus truffle menguar di udara, memicu tawa dan obrolan hangat di antara kerumunan yang sibuk mengisi piring mereka. Antrean di depan stan makanan penutup terlihat mengular, mencerminkan kesuksesan pesta yang dirancang dengan biaya yang tidak sedikit itu.

Satu per satu tamu mulai menaiki undakan menuju pelaminan untuk memberikan selamat. Setiap jabat tangan yang diterima Laura terasa seperti beban tambahan yang menghimpit dadanya.

Setiap ucapan doa dan harapan baik dari para tamu terasa seperti ironi yang pahit. Di tengah kemeriahan yang diatur sedemikian rupa untuk merayakan “cinta”, Laura justru merasa sedang merayakan kehilangan atas kebebasan dan keinginan hatinya sendiri.

“Kau cukup baik memainkan sandiwara, istri.” Gaharu memulai pembicaraan. Ia sedikit menekan kata terakhirnya.

Laura melirik ke arah Gaharu yang duduk diam di sisinya—pria yang kini menjadi suaminya namun terasa begitu jauh dari sosok yang ia impikan untuk menghabiskan sisa hidup bersama.

“Aku melakukannya demi ayahku, demi keluargaku.”

Pria di sampingnya balas menatap, dingin. “Jangan terlalu berharap pada pernikahan ini!” ucapnya tegas penuh penekanan.

“Tentu saja,” sahut Laura pendek, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang getir. "Harapanku sudah mati tepat saat aku melangkah menuju altar tadi."

Gaharu mendengus, matanya kembali menatap lurus ke arah kerumunan tamu yang bersorak. “Bagus. Pastikan pikiran itu tetap ada di kepalamu. Pernikahan ini hanya untuk menjaga reputasi, bukan untuk bermain rumah tangga yang manis."

"Aku tahu batasan kita, Tuan," balas Laura tanpa menoleh, “Anda tidak perlu khawatir.”

***

Jangan lupa untuk memberikan dukungan, terimakasih!

Selamat membaca!

Minggu, 15 Maret 2026

Published : Jum'at 20 Maret 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!