Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.
Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.
Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.
Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.
Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Balasan Bagi Pengintip
Malam di panti asuhan memanglah terasa sunyi dan mendukung bagi siapapun yang ingin meluruskan punggung mereka untuk beristirahat. Namun sayangnya, kesejukan angin malam dan gerimis hujan di luar justru membuat Yue Xin semakin tidak bisa tidur.
Duduk di beranda kayu yang sudah lapuk di beberapa bagian, dengan satu lutut ditekuk ke dada dan tangan menggantung di sisi. Sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Tidur bukanlah sesuatu yang mudah bagi seseorang yang tumbuh di tumpukan sampah, di mana setiap suara bisa berarti bahaya dan setiap keheningan bisa berarti jebakan.
Tanpa dia panggil, Mu Ling keluar dari dalam dengan membawa dua cangkir teh yang masih mengepulkan uap. Satu cangkir disodorkan ke arah Yue Xin, satu lagi dipegang sendiri.
"Matamu masih terjaga. Apa kau sedang menanti hantu?" tanya Mu Ling dengan nada gurau yang hambar.
"Sulit bagiku untuk memejamkan mata di tempat yang belum kukenal baunya," jawab Yue Xin tanpa menoleh.
Mu Ling pun duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. "Gubuk ini tidak memiliki taring untuk melukaimu. Begitu pula dengan anak-anak di dalam sana. Mereka hanya jiwa-jiwa malang yang mencari suaka."
Sedangkan Yue Xin tidak menjawab. Lagipula baginya sebuah kepercayaan memanglah bukan sesuatu yang bisa dibangun dalam satu malam.
Mu Ling menghirup tehnya pelan. “Sebenarnya… Aku ingin bertanya sesuatu padamu . Tapi jangan khawatir, kau tidak wajib untuk menjawabnya.”
“Aku tidak keberatan.”
“Yue Xin, kenapa kau memilih jalan ini?”
Yue Xin tidak menjawab langsung. Matanya menatap kegelapan di antara pepohonan, tempat di mana Huang Shen menghilang beberapa waktu lalu.
Lagi-lagi ingatannya tentang gurunya timbul tanpa permisi. Pria tua dengan janggut putih yang tidak pernah terurus, dengan tangan yang selalu gemetar tapi tetap bisa memegang pedang lebih mantap dari siapa pun. Pria yang menemukannya di tumpukan sampah ketika dia masih terlalu kecil untuk mengingat namanya sendiri. Yang mengajarinya memegang pedang, juga yang memberinya nama Yue Xin setelah namanya sendiri terlupakan, yang mengajarinya bahwa pembunuh yang baik tidak punya ingatan.
Tapi gurunya sendiri punya terlalu banyak ingatan, dan ingatan itu sekarang sedang memakannya dari dalam.
Sakit yang tidak bisa disembuhkan dengan pil biasa karena membutuhkan obat langka yang hanya tumbuh di pegunungan utara, sedangkan harganya setara dengan tiga misi tingkat Berbahaya. Itulah sebabnya Yue Xin menerima perintah gurunya untuk menguji Huang Shen. Bukan karena penasaran. Tapi karena dia butuh uang.
“Aku berutang pada seseorang,” Yue Xin akhirnya menjelaskan. “Sedangkan di dunia ini, utang nyawa tak bisa dilunasi hanya dengan seuntai doa."
Lantas Mu Ling urung bertanya lebih lanjut. Cukup tahu bahwa di balik setiap pilihan, ada alasan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Alhasil momen keheningan mereka berbuah semangat baru di balik tatapan Yue Xin yang kini mengepalkan kedua tangannya di atas paha.
“Aku akan pergi tidur,” ucap Yue sembari melangkah masuk. “Terima kasih minumannya.”
Sementara Mu Ling masih menatapnya cemas dari ambang pintu sebelum dia membereskan cangkir-cangkir itu.
Petir menyambar ketika Xiao Feng keluar dari kamarnya untuk pergi ke kamar Yue dengan mata masih setengah terpejam, rambut awut-awutan, dan baju yang kancingnya salah satu terlepas. “Yue Xin? Kau sudah tidur? Aku ingin meminjam lilin, perutku sakit.”
Namun tidak ada jawaban di balik kamar yang pintunya terbuka sedikit itu. Begitu Xiao Feng masuk, tidak ada seorang pun di ruangan itu selain jendela kamar yang terbuka sempurna.
“Astaga.” Xiao Feng pun mengerutkan dahi. “Ke mana dia malam-malam begini?”
Adapun Yue Xin bergerak cepat. Tubuhnya yang ramping itu mendarat seringan bulu di halaman, lalu menghilang ke arah timur bak bayangan yang ditelan malam. Ia tidak membutuhkan jejak kaki untuk mencari Huang Shen, karena instingnya sebagai pemburu telah mengunci arah utara dengan pasti, dan dia tidak ingin menyia-nyiakan itu. Ini semua demi gurunya.
Kembali ke kediaman bangsawan yang penuh kemelut. Huang Shen masih mematung di balik dinding tipis, menyaksikan pemandangan yang memuakkan.
Zhao Yuan, bangsawan tambun dengan kumis tipis yang tampak seperti aus arang di wajahnya itu, sedang melampiaskan nafsu kepada seorang wanita. Setiap hembusan nafasnya menyerupai kerbau yang dipaksa membajak sawah di musim kemarau. Sementara jemari pendeknya mencengkeram pinggang sang wanita hingga meninggalkan bekas merah yang kontras di atas kulit yang pucat.
Huang Shen sebenarnya bisa saja mengambil patung kuda emas itu lalu pergi secepat kilat untuk mengakhiri misi. Namun, ia teringat perkataan Xin Jielong, jika Zhao Yuan adalah sampah yang membusuk di tengah kemewahan, melenyapkannya adalah bentuk pembersihan dunia dari parasit.
Tatkala tangan Huang Shen nyaris merengkuh patung kuda emas itu, sebuah sensasi dingin yang menyengat menyentuh lehernya. Itu adalah sisi datar bilah pedang yang diletakkan dengan kemantapan seorang ahli.
"Jangan bergerak, atau kau akan kehilangan kepalamu sebelum sempat berkedip," suara berat dan dingin berbisik tepat di telinganya.
Tentu saja Huang Shen mematung. Gerbang di dadanya tidak bereaksi karena predator di belakangnya ini telah menyatu dengan apa yang mereka sebut sebagai” kesunyian”. Layaknya ular yang melilit leher, setiap tarikan napas terasa seperti permohonan izin untuk hidup.
Sosok itu sendiri mengenakan jubah dari kulit binatang dengan bulu serigala yang melingkari leher. Wajahnya tertutup topeng besi berukir iblis yang menyeringai mengerikan. Lalu dari balik lubang topeng, terpancar tatapan yang dingin, sedingin es di puncak pegunungan.
Pembentuk Jiwa? Atau mungkin lebih tinggi? batin Huang Shen penuh waspada.
Dengan satu gerakan eksplosif, Huang Shen memutar tubuhnya. Pedang pinjaman dari Xin Jielong berbenturan keras saat menangkis serangan balik sang pria bertopeng. Percikan api terpancar untuk menerangi ruangan dalam sekejap mata.
Karena ruangan yang sempit, pertarungan itu pun menjadi sangat brutal. Meja kayu jati berukir naga hancur terbelah, kursi berkaki giok pun ambyar menjadi serpihan, dan lemari cendana pecah hingga perhiasan di dalamnya berhamburan bak hujan permata.
Adapun pria bertopeng itu bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Setiap tebasannya adalah perhitungan matematis, sementara Huang Shen mengandalkan naluri liar yang telah diasah berbagai pertarungan hidup dan mati.
Sedangkan di sudut ruangan, Zhao Yuan yang setengah telanjang menjerit bagai babi yang hendak disembelih. "Pengawal! Pengawal!! Dasar keparat! Di mana kalian semua? Bantulah teman besarmu!"
Wanita yang tadi bersamanya telah lari tunggang-langgang sembari menjerit histeris, tanpa peduli dengan apapun disekitarnya.
Kemudian di waktu yang sama, Huang Shen menemukan celah. Sang pria bertopeng melakukan ayunan yang sedikit terlalu lebar. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata, Huang Shen menusukkan bilahnya. Tepat mengenai dada kiri.
Pria bertopeng itu mundur sempoyongan, darah merembes dari balik jubah bulunya, meski ia tetap berdiri gagah dengan lutut yang mulai mati rasa.
"Bakatmu sungguh menyimpang," desis pria bertopeng itu.
Tapi Huang Shen tak pernah membuang kata-kata. Ia lebih memilih untuk menyambar patung kuda emas itu dan menyimpannya di balik jubah. Sementara dari luar terdengar derap langkah kaki pengawal seperti guntur yang mendekat.
Huang Shen pun melesat menuju jendela, siap menghilang ke dalam pelukan malam. Namun, tatkala matanya melirik ke pelataran bawah, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di bawah pucatnya cahaya bulan, Yue Xin tampak berlutut dengan tangan terikat erat oleh tali rami hingga kulitnya lecet kemerahan. Di sampingnya, dua pengawal berjubah hitam memegang bahunya dengan kasar.
"Tuan! Kami menemukan penyusup ini sedang mengintip dari loteng!" teriak salah satu pengawal ke arah jendela. "Apa yang harus kami lakukan pada tikus kecil ini?"
Zhao Yuan keluar ke balkon dengan jubah yang belum terkancing sempurna. Wajahnya yang memerah padam karena amarah kini menyeringai keji.
"Tangkap pria di jendela itu hidup-hidup! Aku ingin mereka berdua memohon kematian di hadapanku!" teriak Zhao Yuan histeris. "Akan kuberikan emas setinggi tubuh kalian jika berhasil meringkusnya!"