Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Kedalam Dunia Arsen
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya, meskipun tidak ada yang benar-benar berubah di dalam kamar kecil itu; Nayra tetap bangun di waktu yang hampir sama, tetap duduk di tepi ranjang dengan rambut sedikit berantakan, dan tetap meraih ponselnya tanpa berpikir panjang, seolah tubuhnya sudah hafal ritme yang terbentuk beberapa minggu terakhir.
Layar menyala.
“Udah bangun?”
Nayra menatap pesan itu lebih lama dari biasanya. Tidak langsung tersenyum. Tidak juga menghela napas seperti kemarin-kemarin, dia hanya… diam untuk sesaat.
“Balas gak?” suara Sinta terdengar pelan.
Nayra menoleh, “Iya." Namun tangannya tidak langsung bergerak. Setelah beberapa detik, baru kemudian ia mengetik. “Udah.”
Balasan datang seperti biasa.
“Sarapan.”
Nayra menghela napas kecil. Namun kali ini ia tidak protes, dan mengeluh juga tidak mendengus seperti biasanya.
“Kamu makin tenang ya sekarang,” kata Sinta sambil duduk.
Nayra mengangguk pelan.
“Capek kalau dipikirin terus.”
Sinta menatapnya. “Jadi kamu milih… jalanin aja?”
Nayra tidak langsung menjawab. Ia berdiri, meraih handuknya. "Aku milih lihat dulu.”
Sinta tersenyum tipis. “Perkembangan bagus.”
Hari itu Nayra tidak menyangka akan berubah jadi sesuatu yang lebih besar dari biasanya. Semua terasa normal saat ia berjalan ke kampus, duduk di kelas, dan mencoba fokus pada materi yang disampaikan dosen. Namun pikirannya tetap terbagi. Antara kuliah dan dunia lain yang mulai terbuka didepannya.
Saat kelas selesai, ponselnya bergetar. “Udah selesai?”
Nayra menatap layar sebentar.
“Udah.”
Balasan datang. “Aku jemput.”
Nayra terdiam. Biasanya ia akan langsung menjawab “iya” atau “gak usah”.bNamun kali ini ia merasa ragu.
“Kenapa?” tanya Sinta.
Nayra menoleh. “Kalau aku ikut dia…”
Sinta mengangkat alis.
"Aku bakal masuk ke dunia itu lagi.”
Sinta tidak langsung menjawab.
“Dan?” tanyanya pelan.
Nayra menarik napas. “Aku belum yakin aku siap.”
Sinta menatapnya lebih dalam.
“Na…”
“Iya?”
“Kamu gak akan pernah siap kalau cuma berdiri di luar.”
Nayra terdiam.Kalimat itu, menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Beberapa detik kemudian, ia mengetik.
“Iya.”
Mobil itu sudah menunggu di depan gerbang kampus saat Nayra keluar.
Namun perasaan Nayra tidak biasa. Ia berjalan mendekat dan membuka pintu lalu masuk.
Arsen sudah di dalam. “Capek?” tanyanya.
“Lumayan.”
Arsen mengangguk kecil.
“Lapar?”
Nayra ragu sejenak. “…sedikit.”
Arsen langsung menyalakan mesin. “Aku ajak makan.”
Nayra menatap ke depan tapi tidak menolak. Mobil melaju.
Namun arah yang mereka tuju,
bukan tempat biasa.
“Ini bukan jalan ke restoran yang kemarin,” kata Nayra.
“Iya.”
“Mau ke mana?”
Arsen melirik sekilas.
“Kantor.”
Nayra langsung menoleh.
“Kantor?”
Arsen mengangguk.
“Ada kerjaan sebentar.”
Nayra menegang.
“Terus aku?”
“Bersamaku.”
Nayra menggenggam tasnya.
“Arsen…”
“Iya?”
“Aku… gak cocok di tempat kayak gitu.”
Arsen tidak langsung menjawab. “Kamu cuma nemenin.”
“Tapi orang-orang di sana…”
Arsen menarik napas pelan.
“Aku ada. Jangan khawatir”
Kalimat itu, lagi. Tapi entah kenapa, kali ini tidak langsung menenangkan Nayra.
Gedung itu berdiri tinggi, modern dan elegan.
Nayra menatap dari dalam mobil saat mereka berhenti. “Serius?” gumamnya.
Arsen keluar lebih dulu. Lalu membuka pintu untuk Nayra.
“Turun.”
Nayra ragu, namun tetap keluar.
Langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Begitu mereka masuk, suasana langsung berubah. Lantai mengkilap.
Orang-orang berpakaian rapi.
Suara langkah yang teratur.
Beberapa orang langsung menunduk sedikit saat melihat Arsen.
“Selamat siang, Pak.”
“Siang, Pak.”
Nayra langsung menunduk sedikit. “Aku gak nyaman…” bisiknya pelan.
Arsen melirik. “Tenang.”
Mereka masuk ke lift dan pintu segera tertutup.
Nayra menatap angka yang bergerak naik. “Arsen…”
“Iya?”
“Aku boleh nunggu di luar aja?”
Arsen menatapnya. “Kenapa?”
“Aku ngerasa semua orang melihatku.”
Arsen terdiam beberapa detik. “Biarkan saja.”
Nayra menggeleng. “Aku belum bisa.”
Lift berhenti. Pintu terbuka. Lantai atas. Lebih sepi. Lebih eksklusif.
Arsen berjalan keluar. Nayra mengikuti.bBeberapa karyawan di sana menoleh. Namun tidak banyak bicara.
“Masuk sini,” kata Arsen membuka pintu ruangan. Ruangannya luas. Bersih. Minimalis.
Nayra masuk perlahan.
“Duduk,” kata Arsen.
Nayra duduk di sofa dengan sikap terlihat kaku.
“Akubcuma sebentar,” lanjut Arsen.
Nayra mengangguk. “Iya.”
Arsen duduk di meja kerjanya.
Mulai membuka beberapa dokumen.
Nayra melihat sekeliling,
terlalu berbeda dari hidupnya.
Beberapa menit kemudian,pintu diketuk.
“Masuk.”
Pintu terbuka dan Livia masuk.
“Arsen,” sapa Livia. Lalu matanya beralih ke Nayra. Ada jeda kecil. “Oh… kamu di sini.” Nada suaranya tetap halus, namun terasa tajam.
Nayra mengangguk kecil.
Livia tersenyum tipis. “Udah mulai terbiasa ya?”
Nayra tidak langsung menjawab.
Arsen menyela. “Ada apa?”
Livia langsung fokus.
“Meeting dimajuin.”
Arsen mengangguk. “Oke.”
Namun sebelum keluar, Livia berkata pelan, “Lingkungan ini gak mudah.” Ia menatap Nayra sebentar. “Harus kuat."Lalu pergi dan pintu tertutup.
Nayra menunduk. “Dia bener.”
Arsen menatapnya. “Apanya?”
“Ini gak mudah.”
Arsen tidak membantah. Beberapa detik hening.
“Na…”
Nayra mengangkat kepala.
“Apa kamu mau pulang?”
Nayra terdiam dan Ia melihat ruangan itu lagi, lalu melihat Arsen setelah itu menggeleng pelan, “enggak.”
Arsen sedikit terkejut.
“Aku tunggu.”
To be continued 🙂🙂🙂