Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Itu bukan pertanyaan yang bisa Amelia jawab dengan kata ‘tidak’, tapi merupakan sebuah ajakan yang harus Amelia ikuti. Jadi, Amelia menjawab Anna dengan, “Tentu saja.”
Amelia melangkah bersisian dengan Anna sambil mendorong stroller Emi. Emi sangat girang ketika berjalan-jalan di taman, apalagi stroller itu juga digantungi krincingan yang membuat Emi makin semangat bermain sendiri. Jemari motok Emi berusaha meraih kerincingan warna-warni yang berbunyi itu. Ketika Emi berhasil menggapai kerincingan, terdengar suara kekehan. Jika kerincingan terlepas Emi akan berusaha untuk meraihnya kembali.
“Emi terlihat bersemangat,” ujar Anna.
Mereka menghentikan langkah di dekat meja besi di tengah taman. Lokasi itu berada dekat dengan kamar yang Amelia tempati.
“Emi selalu bersemangat ketika pergi ke luar. Setiap pagi aku membawanya jalan-jalan jika cuaca cerah. Dia akan sangat senang dan juga kelelahan. Setelah pulang ke rumah, dia langsung tidur setelah dimandikan, dan hanya bangun jika kelaparan.”
Anna duduk di kursi besi sehingga Amelia mengikuti. Stroller Emi diletakkan di tengah. Namun, Emi terlihat tidak peduli, gadis kecil itu sibuk bermain sendiri.
“Mendengar ceritamu, Emi sepertinya sangat mudah diasuh,” ujar Anna. “Tapi aku tahu mengurus bayi tidak pernah mudah. Menjadi seorang ibu tidak pernah mudah.”
Amelia mengerti kalimat terakhir Anna bermakna ganda. “Pasti tidak mudah membesarkan dua putra di saat bersamaan.”
“Kalau diingat-ingat sekarang, saat itu memang tidak mudah, tapi aku punya Simon dan Sandra yang membantuku. Terutama Sandra, dia terbukti sangat membantu padahal saat itu dia begitu muda dan tidak punya pengalaman mengurus bayi.” Anna mengenang masa lalu. Bercerita beberapa hal lucu saat merawat Caelan dan Henry kecil.
“Sebenarnya, aku ingin minta maaf padamu,” ucap Anna. Kisah mengenai masa kecil Caelan sudah usai, berganti dengan obrolan yang Amelia tunggu.
“Anna-“
“Biarkan aku menyelesaikannya.”
Amelia menuruti Anna, ia diam dan mendengarkan kata-kata Anna.
“Soal semalam benar-benar membuatku malu dan merasa bersalah. Kau pasti sangat tidak nyaman harus berhadapan dengan Keluarga Wetson semalam.”
Amelia menjawab dengan anggukan. “Aku tidak menyangka akan menghadiri acara makan malam yang diadakan untuk menjodohkan Caelan dan Clara. Jika tahu, aku tidak akan datang. Tapi, Anna, kau yang mengundangku. Apa ada maksud lain dari semua ini?” Amelia langsung menanyakan hal yang menjadi pikirannya sejak tadi malam.
“Minggu lalu, kau terlihat seperti mendukungku untuk menjalin hubungan dengan Caelan, tapi kau juga mengundangku di acara makan malam yang diatur untuk menjodohkan Caelan.”
Anna menatap Amelia dengan rasa bersalah. “Kuakui, ini semua kesalahanku,” ujar wanita itu.
“Coba jelaskan, Anna,” kata Amelia. “Jika kau memang tidak setuju dengan hubunganku dengan Caelan, maka-“
“Bukan seperti itu,” Anna langsung memotong kalimat Amelia. “Begini, sejak dulu aku punya harapan Clara akan menjadi bagian keluarga. Harapan yang sebenarnya tidak bisa terwujud, sebab baik Caelan maupun Henry menganggap Clara sebagai adik.”
Anna menghela napas sebelum melanjutkan. “Dua minggu lalu, Clara kembali dari luar negeri. Melihatnya lagi setelah sekian lama dan situasi Caelan saat itu yang masih sendiri menimbulkan sebuah rencana di kepalaku. Saat itu, aku tidak tahu mengenai hubunganmu dan Caelan.”
“Saat itu, aku dan Caelan memang belum punya hubungan spesial,” Amelia menanggapi.
“Tetap saja, keputusanku tidak bijak. Ketika Joan mengatakan ingin menjodohkan Clara dan Caelan, aku setuju. Kami mengatur rencana untuk mempertemukan mereka. Harusnya minggu lalu, tapi aku dan Simon mendengar tentang Emi, dan makan malam itu dibatalkan.”
Lagi-lagi Anna menghela napas dan mengambil jeda sesaat. “Saat bertemu denganmu dan Emi, melihat kedekatan Caelan denganmu, betapa antusiasnya putraku saat bersama kalian, aku jadi lupa dengan janji pada Joan. Waktu itu, aku hanya berpikir kalau kalian berdua sangat cocok bersama. Kupikir akhirnya akan punya menantu. Jadi, aku mendukung hubungan kalian dan memperlihatkan persetujuanku.”
Anna meringis. “Bodohnya, aku lupa pada Joan. Yah, aku mencoba menghubunginya beberapa hari terakhir, tapi mereka sekeluarga sedang di luar kota. Aku tidak menyangka mereka datang tadi malam, dan tidak mungkin mengusir tamu yang sudah sampai ke depan pintu.”
Penjelasan panjang Anna membuat Amelia mengerti kalau wanita itu hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya menikah. Sedikit egois memang, tapi memang sering dilakukan oleh seorang ibu ketika anaknya sudah memasuki usia menikah. Apalagi sudah ada calon yang diharapkan menjadi menantu.
“Aku sudah menjelaskan pada Keluarga Weston. Jadi, jangan khawatir mengenai hubunganmu dan Caelan, aku dan Simon memberikan restu dan dukungan kami sepenuhnya.”
Amelia lega, meskipun ia bukan calon menantu yang diharapkan Anna, tapi setidaknya ibunya Caelan itu tidak menolaknya.
“Terima kasih sudah bicara denganku,” ucap Amelia.
Anna tersenyum lega. “Aku yakin kau dan Emi bisa membawa kebahagiaan ke dalam hidup Caelan dan keluarga kami.”
Setelah kembali dari jalan-jalan pagi, Amelia memandikan Emi. Setelahnya, Anna mengambil alih pengasuhan Emi, menidurkan sang cucu pertama sambil duduk mengobrol dengan Amelia.
Amelia terlalu asyik mengobrol dengan Anna sehingga tidak menyadari Caelan muncul di pintu kamar. Pria itu bersandar di ambang pintu sambil memerhatikan tiga wanita di dalam kamar.
“Caelan, kapan kau datang?” Amelia langsung menghampiri Caelan saat menyadari kehadiran pria itu.
“Cukup lama untuk mendengar Mama menceritakan kisah heroikku ketika menyelamatkan Henry yang tenggelam di kolam renang. Cerita yang sudah diulang jutaan kali,” jawab Caelan.
“Tidak sebanyak itu,” protes Anna.
“Iya, aku saja baru mendengarnya dua kali,” Amelia membela Anna.
Caelan menyipitkan mata pada Amelia. “Apa yang kulewatkan? Kapan kalian jadi begitu akrab?”
Amelia dan Anna tertawa.
“Mama, kau tidak akan mengambil Amelia dariku, kan? Dia ini calon istriku,” ujar Caelan dramatis yang membuat tawa Amelia makin kencang.
“Amelia itu calon menantuku,” sahut Anna tidak mau kalah.
“Aku yang membawanya ke rumah ini.” Caelan masih mendebat.
“David yang mengantarnya.”
“David asistenku, dia melakukan hal itu sesuai perintah.”
“Tetap saja bukan kau yang membawa Amelia dan Emi kemari. Kau bahkan mengabaikan mereka selama seminggu.”
Caelan terdiam. Tidak ada balasan yang bisa dikeluarkan oleh pria itu. Saat Caelan menoleh pada Amelia untuk meminta bantuan, Amelia hanya mengangkat bahu.
Caelan mengela napas, lalu berkata dengan pasrah, “Aku memang tidak bisa mengalahkan Mama.” Caelan menghampiri dan mencium pipi Anna. “Terima kasih dan maaf,” ucapnya.
“Nah, untuk apa itu?” tanya Anna.
“Terima kasih sudah mengizinkanku bersama Amelia,” jawab Caelan.
“Dan maafnya?”
Caelan menatap Amelia. Hanya mereka berdua yang paham mengapa Caelan meminta maaf.
“Ada lah pokoknya,” jawab Caelan yang membuat Anna penasaran.
Anna terlihat ingin bertanya lagi, tapi wanita itu urung membuka mulut. Anna memilih menggendong Emi, lalu meletakkan gadis kecil itu ke tempat tidur. Kemudian Anna berpamitan, meninggalkan Amelia dan Caelan.
“Jadi sudah berbaikan dengan ibuku?” Caelan bertanya setelah Anna pergi.
“Kami bahkan tidak bertengkar,” jawab Amelia. “Hanya sedikit kesalahpahaman.”
“Papa bicara denganku setelah kalian pergi, kurasa isinya hampir sama dengan yang dikatakan Mama padamu,” ujar Caelan.
“Itu sebabnya kau minta maaf pada ibumu?”
“Aku sempat marah pada ibuku, jadi harus minta maaf.”
“Anak baik,” puji Amelia sambil menepuk-nepuk kepala Caelan.
“Mana hadiahku?” pinta Caelan.
“Eh?”
“Bukankah setiap perbuatan baik akan diberi hadiah?” Caelan mendesak.
Amelia menelengkan kepala. Memandangi Caelan sambil memikirkan hadiah yang tepat untuk kekasihnya itu. Setelah memutuskan, Amelia bergerak mendekati Caelan dan memberikan ciuman di pipi pria itu.
Caelan tersenyum senang. “Aku juga akan memberimu hadiah.” Kemudian Caelan mendaratkan ciuman di bibir Amelia. Ciuman pertama yang manis.