Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERFERENSI DAN RESOLUSI
Auditorium utama RS Medika Utama dipenuhi oleh para praktisi medis dari berbagai negara. Aroma kopi mahal dan antiseptik bercampur dengan gumam diskusi teknis. Di barisan tengah, Kania duduk dengan setelan blazer merah marun yang tajam, memangku Arlo yang tampak tenang mengenakan earmuff kecil untuk meredam kebisingan.
Di atas panggung, Devan tampak begitu berwibawa. Jas dokternya disetrika sempurna, kacamatanya memantulkan cahaya lampu panggung, dan postur tubuhnya kembali ke mode "Dokter Bedah Saraf Legendaris". Di sebelahnya, Sarah berdiri dengan gaun formal berwarna abu-abu mutiara, memegang pointer laser dengan percaya diri.
"Terima kasih, dr. Sarah, atas paparan mendalam mengenai teknik neuroendoskopi terbaru," suara Devan menggema di ruangan melalui mikrofon. "Kita akan membuka sesi tanya jawab."
Selama sesi tersebut, Kania memperhatikan dinamika di atas panggung. Sarah sesekali melirik Devan dengan senyum yang hanya bisa dipahami oleh orang yang memiliki sejarah masa lalu. Ada semacam interferensi emosional yang mencoba masuk ke dalam frekuensi profesional mereka. Namun, Devan tetap pada posisinya: dingin, presisi, dan sangat berjarak.
Setelah acara selesai, kerumunan mulai bubar menuju area coffee break. Devan turun dari panggung dan langsung melangkah menuju Kania, mengabaikan beberapa kolega yang ingin menyapanya.
"Bagaimana? Apa asisten kecil saya bosan?" tanya Devan sambil mengelus pipi Arlo.
"Arlo pinter banget, Dok. Dia kayaknya tahu Papanya lagi jadi pusat perhatian," jawab Kania, mencoba tetap santai meski matanya melirik Sarah yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Devan, Kania," sapa Sarah dengan nada yang jauh lebih lembut daripada saat mereka terakhir bertemu di apartemen. "Lama tidak bertemu. Dan ini... Arlo?"
Sarah menatap bayi di pangkuan Kania. Ada kilatan kerinduan atau mungkin penyesalan yang melintas cepat di matanya sebelum ia kembali tersenyum profesional. "Dia memiliki mata ibunya, tapi dagu ayahnya yang keras kepala."
"Terima kasih, dr. Sarah. Selamat atas presentasinya," jawab Kania dengan sopan santun yang terjaga.
"Kania, boleh aku bicara sebentar dengan Devan? Hanya soal detail riset yang tadi belum sempat dibahas di panggung," pinta Sarah.
Kania menatap Devan. Devan mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa semuanya terkendali. "Hanya lima menit, Kania. Tunggu saya di kafe lobi."
Di sudut auditorium yang mulai sepi, Sarah menatap Devan lekat-lekat. "Kamu benar-benar berubah, Dev. Kamu melepaskan jabatan kepalamu demi hidup yang... domestik ini?"
"Hidup ini tidak 'domestik', Sarah. Hidup ini 'lengkap'. Sesuatu yang tidak pernah saya pahami saat kita masih bersama dulu," jawab Devan tenang.
"Aku sering bertanya-tanya, apakah jika dulu aku sedikit lebih seperti Kania, kita akan berakhir seperti ini?" suara Sarah merendah.
Devan menggeleng perlahan. "Masalahnya bukan pada dirimu, Sarah. Tapi pada kita. Kita adalah dua kutub yang sama-sama ingin memimpin dunia. Sementara Kania... dia adalah dunia tempat saya ingin pulang. Riset yang kamu tanyakan tadi, saya rasa kita bisa mendiskusikannya lewat email resmi rumah sakit. Saya harus menemani istri dan anak saya makan siang."
Devan berbalik tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Sarah yang akhirnya menyadari bahwa tidak ada lagi ruang untuk interferensi apa pun di dalam hidup Devan.
Di kafe lobi, Kania sedang menyuapi Arlo dengan biskuit bayi saat Devan datang.
"Sudah selesai urusan risetnya?" tanya Kania, sedikit menggoda.
"Sudah. Diagnosa akhirnya: Sesuatu yang sudah selesai tidak perlu dibedah ulang," jawab Devan sambil menarik kursi di sebelah Kania.
"Dok, aku mau tanya jujur," Kania meletakkan biskuitnya. "Dokter nyesel nggak? Maksudku, lihat dr. Sarah sesukses itu di luar negeri, sementara Dokter sekarang harus bagi waktu antara ganti popok dan konsultasi?"
Devan mengambil tangan Kania, mengecup punggung tangannya di depan publik kafe rumah sakit—sebuah tindakan yang sangat tidak "Devan" di masa lalu. "Kania, kesuksesan Sarah diukur dengan tepuk tangan di auditorium tadi. Kesuksesan saya diukur dengan tawa Arlo saat saya pulang kerja, dan kenyataan bahwa saya bisa melihatmu bangun tidur setiap pagi. Itu adalah resolusi tertinggi dalam hidup saya."
Kania tersenyum lebar, rasa insecure yang sempat menghantuinya hilang seketika. "Oke, kalau gitu... karena Dokter sudah jadi moderator yang hebat, hadiahnya adalah: sore ini Dokter yang mandiin Arlo dan aku mau tidur siang tanpa gangguan."
"Diterima. Tapi dengan syarat," Devan mendekatkan wajahnya ke telinga Kania. "Malam ini, kita harus memesan martabak keju ekstra besar. Saya butuh asupan kalori setelah menghadapi interferensi masa lalu."
Kania tertawa renyah, menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. Mereka semua melihat "Dokter Es" yang legendaris itu kini sedang tertawa lepas, menggendong anaknya, dan menatap istrinya dengan binar mata yang tidak akan pernah ditemukan dalam buku anatomi mana pun.
Perjalanan mereka mungkin masih akan menemui banyak sinyal distraksi lainnya, tapi di RS Medika Utama hari itu, semua orang tahu: dr. Devan Dirgantara sudah menemukan obat paling mujarab untuk hatinya, dan nama obat itu adalah keluarga.