Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah dengan keheningan yang menenangkan. Setelah berbincang cukup lama dengan Fahrizal di teras, Syahira memilih menghabiskan waktu dikamarnya.
Buku buku kuliah masih tergeletak di meja belajar, tetapi untuk malam ini, pikirannya belum benar benar siap kembali tenggelam dalam tumpukan teori.
Ia duduk ditepi tempat tidur, memandangi langit malam dari jendela yang sedikit terbuka. Angin berhembus lembut, membawa aroma tanah dan dedaunan. Entah mengapa, akhir akhir ini hidupnya terasa berubah dengan begitu cepatnya.
Begitu banyaknya hal yang datang tanpa sempat ia persiapkan, memaksanya belajar untuk memahami perasaan yang selama ini ia abaikan.
Ponselnya pun bergetar pelan diatas meja. Sebuah pesan masuk. siapa lagi kalau bukan dari si indigo Kaizan yang apapun yang ia tebak selalu benar adanya sesuai fakta yang dialami oleh orang yang ia tebak, termasuk Syahira.
Syahira mengernyitkan dahinya sebelum meraih ponselnya. "Masih bangun?." senyum tipis muncul di wajahnya. Singkat, sederhana tapi yang entah kenapa cukup membuat suasana hatinya terasa lebih ringan. Ia mengetik balasan singkat.
"Masih. Ada apa?" balasan itu datang nyaris seketika. "nggak ada, cuma mau memastikan ada orang yang hari ini nggak terlalu keras sama dirinya sendiri."
Syahira terkekeh pelan, rupanya Kaizan masih mengingat percakapan mereka pagi tadi. Ia bersandar pada kepala ranjang, membalas dengan jari jari yang bergerak lebih santai.
"Laporan sementara masih aman komandan."
"Jiah elah komandan ga tuh,..baguslah pertahankan,
Dan obrolan ringan itu berlanjut tanpa terasa. tentang tugas kuliah, dosen dosen yang kadang sulit ditebak hingga candaan Kaizan yang selalu berhasil membuat Syahira tersenyum. Tidak ada topik yang terlalu berat. Akan tetapi justru itu yang membuatnya nyaman.
Setelah sekian lama dan untuk pertama kalinya, Syahira merasa ada seseorang yang hadir tanpa menuntut apapun darinya. Seseorang yang tidak memaksanya sebagaimana adanya
Diluar sana, malam semakin larut namun di dalam kamar itu sebuah pertemanan perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih hangat dari suatu yang bahkan belum berani diberi nama oleh keduanya.
Keesokan harinya, sebuah pesan masuk ke ponsel
Feryal saat ia sedang merapikan buku-bukunya. Nama yang muncul dilayar membuatnya terdiam sejenak.
Pesan itu singkat, hanya menanyakan kabarnya dan mengabarkan bahwa ibunya akan berada di jakarta selama beberapa hari untuk urusan pekerjaan. Namun entah mengapa, hati Feryal bergetar saat membacanya. Seolah semesta sedang memberinya kesempatan yang selama ini belum ia beranikan untuk ambil.
Sudah lama ia menyimpan banyak pertanyaan di dalam hati. Tentang keyakinan, tentang pilihan hidup, juga tentang kisah masa lalu kedua orang tuanya yang selama ini hanya ia pahami dari potongan potongan cerita.
Malam harinya, setelah cukup lama menimbang. Feryal akhirnya memberanikan diri membalas pesan itu. Ia mengajak ibunya bertemu esok sore disebuah kafe yang tenang. Tak butuh waktu lama hingga balasan datang.
"Tentu, sayang. Mama juga ingin bertemu denganmu."
Feryal menatap layar ponselnya beberapa saat. Ada rasa gugup yang perlahan merambat. Tetapi juga kelegaan. Untuk pertama kalinya ia merasa siap mendengar langsung sudut pandang ibunya bukan untuk mencari mana yang benar ataupun yang salah untuk memahami.
Karena terkadang, sebelum seseorang benar benar memilih jalannya sendiri, ia perlu terlebih dahulu memahami dari mana ia berasal.
Siang itu, Feryal memilih sebuah kafe yang tenang di sudut kota. Tempat dengan jendela besar yang menghadap jalan, dimana cahaya matahari masuk dengan lembut, menciptakan suasana hangat dan akrab. Ia datang lebih dulu duduk sambil memainkan cangkir teh dihadapannya, mencoba menenangkan debar jantung yang terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.