Kakak tertua yang NGGA PEKA-an banget sama kasih sayang yg diberi orang sekitarnya dan dia cuma tau memberi tanpa sadar kalau dia juga butuh disayangi.
Momen momen bahagia terjadi di desa itu, sampai ketika kembali ke kota malah ada kejadian yang GONG banget...
Penasaran gimana ceritanya? Skuy pantau terus :v
JADWAL UPDATE :
Everyday.... (kalo ngga sakit / ada halangan) :v
12.00 WIB & 16.00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xingyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bocah di Balik Kabut
Udara dingin lereng Gunung Gede menusuk hingga ke tulang, membuat Arifin (18) merapatkan jaket denimnya yang mulai lembap oleh embun pagi. Ia berdiri di depan sebuah rumah panggung tua milik almarhum neneknya yang sudah bertahun-tahun tidak terawat.
Arifin baru saja lulus SMA, dan alih-alih merayakan kelulusan bersama teman-temannya di Jakarta, ibunya justru mengirimnya ke sini.
"Arifin, ada 'sesuatu' yang ditinggalkan nenekmu di sana. Ibu tidak bisa ke sana sekarang. Tolong lihat kondisinya, ya?"
Itu kata ibunya sebulan yang lalu. Arifin mengira "sesuatu" itu adalah kebun teh yang terbengkalai atau mungkin kucing tua. Tapi, saat ia melangkah ke halaman belakang yang berbatasan langsung dengan hutan pinus, ia mendengar suara dahan patah.
Krak!
Arifin menoleh cepat. Di balik semak-semak lebat, ia melihat sepasang mata tajam yang bersinar di tengah remang kabut.
"Siapa di sana?" seru Arifin. Suaranya sedikit bergetar.
Bukannya jawaban, sesosok bayangan kecil tiba-tiba melesat keluar. Itu bukan hewan. Itu adalah seorang anak laki-laki. Rambutnya gondrong tak beraturan, penuh ranting dan daun kering. Ia tidak memakai baju, hanya celana pendek kumal yang robek di sana-sini. Yang paling mengejutkan adalah kakinya yang telanjang, penuh luka goresan namun tampak kokoh menginjak tanah yang dingin.
"Hei! Tunggu!" Arifin mencoba mendekat.
Anak itu menggeram—suara rendah yang keluar dari tenggorokannya seperti seekor kucing hutan yang merasa terancam. Ia bersiap lari kembali ke dalam hutan.
"Tunggu, jangan takut! Aku... aku cucunya Nek Salamah. Aku yang punya rumah ini," ujar Arifin pelan, mencoba menenangkan. Ia mengeluarkan sebungkus roti sobek dari tas kecilnya. "Kamu lapar?"
Anak itu berhenti. Hidungnya kembang-kempis, mengendus aroma roti dari kejauhan. Matanya yang liar perlahan menatap wajah Arifin. Ada rasa ingin tahu di sana, tapi kewaspadaannya jauh lebih besar.
"Namaku Arifin," ucap Arifin sambil meletakkan sepotong roti di atas tunggul kayu, lalu ia mundur beberapa langkah. "Siapa namamu?"
Anak itu diam membeku. Setelah merasa aman, ia menerjang roti itu dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia memakannya dengan rakus, seolah-olah belum makan selama berhari-hari.
"Namanya Ren," tiba-tiba sebuah suara berat muncul dari belakang Arifin.
Seorang laki-laki tua, tetangga sebelah rumah neneknya, muncul sambil memikul kayu bakar. "Dia anak yang dibesarkan di hutan oleh orang gila di atas bukit sana. Sejak orang gila itu meninggal, dia berkeliaran sendiri. Nenekmu dulu sering memberinya makan, makanya dia sering datang ke sini."
Arifin menatap anak bernama Ren itu dengan iba. Ren sekarang sedang menjilati sisa selai cokelat di jarinya, masih menatap Arifin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ren?" panggil Arifin lembut.
Anak itu tersentak mendengar namanya dipanggil. Ia menatap Arifin cukup lama, seolah sedang mencoba merekam wajah pemuda di depannya itu ke dalam ingatannya. Tanpa sepatah kata pun, Ren berbalik dan menghilang ke dalam rimbunnya pohon pinus secepat kilat.
Arifin menghela napas panjang, menatap tangannya yang tadi sempat gemetar. "Jadi, ini 'sesuatu' yang Ibu maksud?" gumamnya. "Bocah liar?"
Arifin tidak tahu, bahwa musim panas ini akan menjadi awal dari segalanya.
...----------------...
Sudah tiga hari sejak pertemuan pertama itu, dan Ren selalu muncul di waktu yang sama: saat matahari tepat di atas kepala. Ia tidak pernah mendekat ke teras, hanya berjongkok di balik pohon nangka besar di sudut halaman, mengawasi Arifin yang sedang menjemur kasur tua peninggalan neneknya.
Arifin berpura-pura sibuk, meski sudut matanya terus memantau bocah itu. "Ren, sini," panggil Arifin tanpa menoleh.
Tidak ada jawaban. Ren hanya memiringkan kepalanya, rambutnya yang kotor menutupi sebagian wajahnya.
Arifin masuk ke dalam rumah dan keluar membawa sebuah piring seng berisi nasi hangat dan sepotong ikan asin goreng. Aromanya terbawa angin, langsung menuju hidung Ren. Arifin meletakkan piring itu di undakan tangga teras, lalu ia sendiri duduk agak jauh, di kursi rotan yang sudah reyot.
"Makan di sini. Jangan lari ke hutan lagi," ucap Arifin lembut.
Ren bergerak ragu. Ia merangkak pelan, gerakannya lebih mirip predator daripada manusia. Begitu sampai di depan piring, ia tidak menggunakan sendok. Ia menciduk nasi itu dengan tangan kosong dan melahapnya dengan rakus.
"Pelan-pelan... nggak akan ada yang ambil," gumam Arifin. Ia merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil dibiarkan hidup seperti ini di zaman sekarang?
Setelah piring bersih, Ren tidak langsung pergi. Ia menatap Arifin dengan rasa ingin tahu yang lebih berani. Arifin memanfaatkan momen itu. Ia mengambil handuk bersih dan sabun batang yang baru dibelinya dari warung bawah.
"Ren, kamu bau. Bau matahari, bau tanah... bau hutan," kata Arifin sambil tersenyum tipis. "Sini, abang mandikan."
Ren langsung waspada begitu mendengar kata "mandi". Ia mundur dua langkah, giginya sedikit menyeringai. Air adalah hal asing baginya kecuali air hujan atau sungai yang dingin.
"Nggak sakit, kok. Segar. Lihat," Arifin menyiramkan sedikit air dari gayung ke tangannya sendiri. "Dingin, kan?"
Ren menatap air yang jatuh ke tanah. Ia tampak bimbang. Arifin tidak memaksa. Ia hanya meletakkan gayung itu dan mendekat perlahan, setapak demi setapak. Saat jarak mereka tinggal satu meter, Arifin bisa mencium aroma tubuh Ren yang asam dan kotor.
Arifin mengulurkan tangan, kali ini bukan untuk memberi makan, tapi untuk menyentuh. "Boleh?" bisiknya.
Ren membeku. Saat jemari Arifin yang halus menyentuh puncak kepala Ren yang kasar dan penuh kotoran, bocah itu gemetar hebat. Ia belum pernah disentuh dengan kelembutan seperti itu. Biasanya, orang-orang desa akan melemparinya batu jika ia ketahuan mencuri jemuran atau makanan.
Sentuhan Arifin hangat. Berbeda dengan hawa gunung yang menggigit.
Ren tidak kabur. Ia justru memejamkan mata, membiarkan telapak tangan Arifin mengusap kepalanya perlahan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang liar, Ren merasakan sesuatu yang disebut rasa aman.
"Nah, gitu..." Arifin tersenyum lega. "Besok kita coba pakai air, ya?"
Ren hanya mengeluarkan suara dengkuran halus dari hidungnya, sebuah tanda bahwa ia mulai menerima kehadiran Arifin.
Tanpa mereka sadari, di langit yang cerah itu, takdir sedang menghitung mundur hari-hari sebelum semuanya direnggut dari ingatan Arifin.
#BERSAMBUNG