Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 9.
Malam turun cepat.
Evelyn sedang membaca saat pintu dibuka tanpa banyak suara, Raja Alexander masuk.
“Yang Mulia, kamu sering datang tanpa izin sekarang,” kata Evelyn tanpa menoleh.
Raja Alexander mendekat. “Dan kau tidak pernah menolak.”
Evelyn menutup bukunya, menatap Raja. “Karena aku ingin tahu… tujuanmu.”
Raja Alexander berhenti di depannya, ia merendahkan tubuhnya hingga wajahnya hanya beberapa centi jauhnya dari Evelyn. Namun wanita itu tidak menghindar
“Aku ingin melihatmu lebih jelas, tadi… kau terlalu jauh.”
Evelyn tersenyum tipis. “Dan sekarang?”
Raja Alexander mengangkat tangan, jarinya menyentuh dagu Evelyn. Mengangkatnya sedikit, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam matanya.
“Sekarang… aku bisa melihat dengan jelas.”
Nafas mereka terasa dekat, tapi tidak ada yang menghindar.
“Kau berubah,” lanjut Alexander pelan. “Dan aku tidak tahu… apakah itu hal baik atau berbahaya.”
Evelyn tidak mengalihkan tatapan. “Kalau berbahaya… kenapa Yang Mulia tetap datang padaku?”
“Karena kau semakin menarik.” Raja Alexander tersenyum tipis.
Pria itu mempersempit jarak di antara mereka, nafasnya menyentuh wajah Evelyn. Tatapan pria itu turun ke bibir sang ratu, seolah hendak menutup jarak yang tersisa.
Namun sebelum itu terjadi, Evelyn membuka suara tanpa mundur sedikit pun. “Akan tetapi, Yang Mulia. Ketertarikan… bisa berubah menjadi ancaman.”
Alexander tersenyum tipis, bahkan lebih mendekat sedikit lagi dan hampir tak ada jarak antara mereka. “Dan ancaman… bisa menjadi kekuatan.”
Beberapa detik, tidak ada yang bergerak. Lalu Alexander mundur, sengaja memberi jarak.
“Aku akan sering datang,” katanya.
Evelyn mengangkat alis. “Sebagai raja?”
“Sebagai seseorang yang tidak ingin kehilangan hal menarik.” Raja Alexander berkata dengan suara rendah, ia pun berbalik pergi.
Setelah pintu tertutup, Evelyn tidak langsung bergerak, tangannya menyentuh dagunya... tempat tadi disentuh.
Senyum tipis muncul. “Pria berbahaya…”
Keesokan harinya...
Istana kembali tenang, namun di luar tembok istana sesuatu mulai bergerak. Di ruang tertutup, Sophia duduk bersama seorang pria tua. Wajahnya tajam, pakaiannya sederhana. Namun aura kekuasaan pemerintah pria itu terasa jelas.
“Jadi… ratu masih hidup.” Suara pria itu dingin.
Sophia menunduk. “Hamba sudah mencoba.”
“Namun gagal.”
Hening.
“Dia tidak seperti sebelumnya,” lanjut Sophia. “Dia memiliki sesuatu…”
Pria itu menyipitkan mata. “Dan raja?”
Sophia diam sejenak sebelum menjawab. “Raja Alexander... mulai tertarik padanya.”
Ruangan menjadi lebih dingin.
“Itu akan menjadi masalah.” Pria tua itu berdiri. “Kita tidak bisa membiarkan ratu mendapatkan dukungan raja… dan rakyat.”
Sophia mengangkat kepalanya. “Apa perintah Anda selanjutnya?”
Pria itu menatap selir Shopia dengan pandangan dalam. “Kalau istana tidak bisa menjatuhkannya, kita gunakan sesuatu diluar istana.”
Sophia sedikit terdiam, namun matanya perlahan berubah. “Pemberontakan?”
“Bukan, tapi tekanan.” Pria itu tersenyum tipis, ia berjalan mendekat. “Ganggu distribusi pangan, naikkan harga di pasar... buat rakyat tidak puas.”
“Dan salahkan semaunya pada ratu.” Sophia mengerti.
Pria tua itu mengangguk. “Jika rakyat mulai membencinya, bahkan raja pun... tidak bisa melindunginya.”
Di sisi lain...
Evelyn sedang melihat laporan dari Bernard.
“Harga gandum naik?”
Bernard mengangguk. “Distribusi terganggu, beberapa pedagang menahan stok.”
Evelyn menyipitkan mata.
“Ini bukan kebetulan, Bernard. Mulai sekarang… kita percepat rencana kita.”
Bernard terdiam. “Yang Mulia… ini bisa jadi konflik besar.”
Evelyn menatap jendela, pandangannya mengarah ke kota, tatapannya dingin. “Kalau mereka ingin bermain di luar istana, aku akan menang di sana juga.”
Di kejauhan, angin bertiup lebih kencang. Permainan tidak lagi hanya di dalam tembok. Sekarang, seluruh kerajaan mulai terlibat. Dan perang yang sebenarnya… baru saja dimulai.
Malam turun tanpa suara.
Langit gelap, tanpa bulan.
Waktu terbaik untuk sesuatu yang tidak boleh terlihat.
Di paviliun Sophia, tidak ada lampu terang. Hanya satu lilin kecil menyala di meja. Cahayanya redup, namun cukup untuk memperlihatkan wajah Sophia yang dingin.
Seorang pria berpakaian hitam berlutut di depannya, wajahnya tertutup.
Tubuhnya diam seperti bayangan.
“Targetnya jelas?” tanya Sophia pelan.
“Selir Clara.”
Sophia tersenyum dingin. “Bunuh diam-diam. Jangan ada keributan, dan jangan ada jejak.”
“Dipahami, Nyonya.” Pria itu menunduk lebih dalam.
Sophia mengambil sesuatu dari laci, sebuah jarum tipis dengan ujung yang mengilap.
“Gunakan ini! Sekali tusuk… cukup.”
Pria itu menerimanya, lalu pergi menghilang dalam bayangan.
Sophia menatap kosong ke arah pintu. “Langkah kecil, untuk menghancurkan ratu.”
Di paviliun Clara...
Lampu masih menyala, Clara belum tidur. Ia duduk di depan meja, membaca catatan kecil. Namun pikirannya tidak fokus. Sejak insiden racun, dirinya bukan lagi orang biasa... Ia adalah target.
Clara menarik nafas pelan, lalu berjalan menuju jendela. Ia membukanya sedikit, udara malam yang dingin masuk. Tetapi ada sesuatu yang tidak biasa, matanya menyipit.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara penjaga.
Tidak ada langkah pelayan.
Instingnya berteriak, bahaya!
Clara mundur satu langkah, tanpa suara. Dan tepat saat itu, bayangan bergerak. Seorang pria muncul dari balik tirai, tangan penyusup itu langsung bergerak. Jarum mengarah ke leher Clara, tapi wanita itu sudah siap.
Ia melempar kursi ke arah pria itu. “Siapa—!”
Akhirnya, serangan pertama pada Clara gagal. Pria itu tidak bicara, ia hanya bergerak lagi. Clara mundur, namun ruangannya sempit dan tak ada banyak tempat untuk lari. Jarum itu hampir menyentuh...
BRAK!
Pintu terbuka, penjaga masuk.
“Berhenti!”
Pria itu langsung berbalik, dia tidak melawan. Ia melompat ke jendela, menghilang dalam gelap. Clara terjatuh ke lantai, nafasnya berat. Ia masih hidup, tadi... hanya selangkah lagi dari kematian.
...*****...
Keesokan paginya, kabar itu sampai ke seluruh istana. Percobaan pembunuhan pada Clara.
Di aula kecil, Evelyn berdiri diam.
Mendengarkan laporan Bernard. “Penyerang tidak tertangkap.”
Evelyn tidak terkejut.
“Senjatanya?”
“Jarum beracun.”
“Bagaimana keadaannya?”
“Selamat, Yang Mulia.”
Evelyn mengangguk. “Bagus.”
Hening sejenak.
Bernard terlihat ragu-ragu. “Yang Mulia… apakah ini kebetulan?”
“Tentu saja bukan, ini langkahnya yang berikutnya.”
Bernard mengerti. “Selir Sophia.”
Beberapa jam kemudian, Evelyn mengunjungi Clara. Sang selir duduk di ranjang, wajahnya masih pucat. Saat melihat Evelyn, ia langsung bangkit.
“Yang Mulia—”
“Duduklah...” Evelyn mendekat. “Bagaimana perasaanmu?”
“Baik,” jawab Clara dengan senyum tipis.
Evelyn menatapnya. “Semalam bukan kebetulan.“
“Saya tahu.”
“Dan mereka akan mencoba lagi,” lanjut Evelyn.
Clara tidak panik. “Kalau begitu… kita harus bergerak lebih dulu.”
“Mulai sekarang… kau tidak sendirian.”
Clara menatap Evelyn, ada kepercayaan penuh dalam matanya.
Setelah keluar dari paviliun Clara, Evelyn berdiri di taman belakang. Angin berhembus pelan, ia menutup mata untuk masuk ke ruang ajaib. Di sana ia bergerak cepat, mengambil beberapa benda.
Serbuk.
Obat.
Dan sesuatu yang lain... perangkap.
Keesokan harinya, rumor baru menyebar.
“Selir Clara masih lemah…”
“Dia tidak dijaga ketat…”
Informasi itu, disengaja.
Malam berikutnya, bayangan kembali bergerak. Penyerang yang sama, masuk ke paviliun Clara dengan lebih hati-hati. Namun kali ini, ruangan tidak kosong.
Saat ia melangkah...
Klik.
Perangkap aktif, asap tipis menyebar. Pria itu terkejut, gerakannya melambat. Dan sebelum ia bisa kabur, penjaga muncul. Ia ditangkap tanpa keributan.
Di hadapan Evelyn, pria itu berlutut.
“Siapa yang mengirimmu?”
Tak ada jawaban.
Evelyn mengangguk. “Tidak masalah kau bungkam.”
Ia melirik Bernard. “Cari jalurnya.”
Bernard mengerti, tidak butuh pengakuan. Jejak selalu ada, dan mereka akan menemukannya.
Pagi itu, aula dipenuhi orang.
Para selir.
Para pelayan.
Para kasim.
Semua dipanggil.
Di tengah-tengah, seorang kasim berlutut. Tubuhnya gemetar, dialah mata-mata. Orang dalam, yang memberi informasi pada Sophia.
Evelyn duduk di atas singgasana, wajahnya sangat tenang.
“Sudah berapa lama kau mengkhianati istana?”
Kasim itu menangis. “Hamba… hanya diperintah…”
Evelyn tidak tertarik, suaranya sangat dingin saat bicara lagi. “Siapa?!”
Kasim itu terdiam, ia ketakutan. Tapi semua sudah jelas, Evelyn berdiri.
“Pengkhianatan... adalah dosa yang tidak ditoleransi!“ Evelyn melangkah turun dari singgasana, ia berdiri di depan kasim mata-mata itu. “Potong lidahnya, dan usir dari istana!”
Semua orang membeku.
“Jangan! Saya mohon ratu...!“ Kasim itu menjerit-jerit.
Tidak ada yang berani membantah, hukuman dijalankan. Kini, semua orang benar-benar mengerti. Ratu sekarang... tidak akan pernah memberi ampun.
Di barisan selir, Sophia berdiri diam. Wajahnya tenang, sorot matanya dingin. Ini bukan sekadar hukuman, tapi peringatan. Untuk semua orang, termasuk dirinya.
Evelyn kembali ke tempat duduknya, tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Siapa pun yang bermain di belakangku, akan berakhir sama!”
Seorang pelayan menyampaikan laporan, Raja Alexander hanya tersenyum tipis seolah sudah menduganya.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili